
Derita Istri Penurut
Bab 3
Bagas tertawa lepas yang tengah berada jauh disana, ketika menikmati alunan musik yang menghentakkan badannya. Seakan pertanda bahwa dia sedang dihinggapi rasa gembira. Mata dari Bagas terlihat sudah merah menyala, akibat minuman alkohol dan ada beberapa wanita yang berada di pinggirnya.
Botol minuman pun nampak berserakan di atas meja beserta puntung rokok. Suara renyah menggoda dan tubuh seksi dari wanita tersebut sungguh membuat tergoda para lelaki hidung belang. Di tambah bau parfum yang wanginya menyengat khas wanita malam, seakan menambah betah berlama-lama untuk menikmati malam panjang.
___
"Bro! Dari sini mau pindah ke pub lain tidak?" tanya teman dari Bagas yang ketika berucap sama tercium bau alkohol yang menyengat.
"Pulang ke mes saja, kepalaku pusing." jawab Bagas sambil memegang keningnya yang terasa pusing akibat minum alkohol yang berlebihan.
Ocehan dari mulut Bagas terdengar tidak jelas dan seakan membuat para wanita yang tengah menggoda Bagas mepet terus memeluknya, karena Bagas terlihat mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
Sang teman langsung menarik tubuh Bagas dan dengan cepat mengambil uang yang tengah berada di tangan Bagas. Sang teman tidak mau jika para wanita tersebut mengambil semua uang yang di pegang oleh Bagas sekarang.
"Ayo! Kita kembali ke tempat mes," ucap sang teman yang bernama Hendra.
Di dalam mobil nampak Bagas ngoceh terus akibat minuman keras yang di teguknya terlalu banyak. Bagas kemudian merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celananya. Terlihat dia menelepon sang istri.
____
{"Halo, Ma--! Ini Papa perjalanan pulang. Buka pintunya!"} ucapnya seakan tidak nyambung, padahal dia pulang ke tempat mes bukan ke rumah Arini sang istri.
Terdengar di sambungan telepon Bagas ngomong tidak karuan dan ngoceh tidak jelas yang mengakibatkan di sebrang sana Arini dihinggapi rasa curiga dan tanya atas kelakuan sang suami.
Tiba-tiba Hendra sang teman merebut ponsel dari Bagas karena obrolan bagas dan sang istri sudah tidak nyambung.
Tut...
Tut...
Sambungan telepon terputus.
___
Nampak Arini mengernyitkan dahinya seakan bingung dengan kejadian barusan karena dia baru saja bangun tidur ketika mendengar bunyi suara telepon dari Bagas.
"Apakah Mas Bagas sedang mabuk!" batin Arini berkata dengan penuh curiga.
Arini pun nampak gelisah seakan tidak bisa meneruskan tidurnya lagi karena masih teringat dengan kejanggalan ketika menerima telepon yang baru saja dia terima dari sang suami.
Arini pun dihinggapi rasa penasaran. Kemudian dia mencoba menghubungi Bagas kembali. Tapi sia-sia ponselnya mati sepertinya ponsel Bagas tidak aktif.
_____
Keesokan harinya.
Terdengar pagi sekali Bagas menelepon Arini. Nampak seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa dengan kejadian semalam dan dari cara bicara Bagas pun terdengar normal
"Apa aku semalam.bermimpi!" batin Arini penuh tanya.
Arini pun dihinggapi rasa penasaran, lalu dia pun menanyakan kejadian semalam ketika sang suami menelepon. Terdengar Arini seperti mengintrogasi sang suami. Bagas pun terdengar tidak terima jika sang istri seakan memojokkan dia.
"Aku semalam tidur, mungkin aku sedang bermimpi dan aku menelepon kamu atau sambungan telepon ke pijit." alasan Bagas kepada Arini seakan sulit di mengerti.
Bagas pun kemudian menanyakan uang kalung mengapa sampai sekarang belum di transfer ke dia, padahal Bagas sedang butuh. Uang Bagas semalam habis dipake untuk bersenang-senang dan memberikan uang tips kepada wanita malam.
Arini pun berdalih kepada Bagas, dia belum sempat menjual kalung tersebut dan baru hari ini dia akan menjualnya. Arini hari ini mau menjual kalung sekalian mau menginap di rumah Ibunya karena jarak toko emas dan rumah sang Ibu sangat dekat.
_____
"Cepat! Pagi ini kamu pergi ke toko emas nya, jangan sampai kayak kemarin, aku nunggu uang dari kamu," titah Bagas terdengar kesal.
Arini hanya mengucap kata iya, dan dia pun nampak menutup sambungan teleponnya karena beralasan setelah mandi, dia akan secepatnya pergi ke toko emas.
TING!
Tiba-tiba pesan muncul dari Novi yang mengatakan. Apakah jadi Arini pergi ke Ibunya, dan dia akan siap mengantar dengan sepeda motornya. Arini pun tidak menolak ajakan dari sahabatnya itu.
{"Aku mau mandi dulu dan kamu langsung masuk ke rumah. Anakku Aura sedang nonton televisi,"} balas pesan Arini.
Arini pun nampak mengambil handuk yang menggantung di jemuran belakang. Setelah itu dia berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
_____
Tin!
Tin!
Suara klakson sepeda motor membuyarkan pandangan Aura yang sedang sibuk menonton televisi. Anak kecil itu kemudian berlari kecil menghampiri suara sepeda motor yang datang memasuki halaman rumahnya.
Aura nampak tersenyum renyah tatkala melihat kedatangan sahabat Mamanya datang.
"Nov, bentar ya, aku pakai baju dulu," Arini nongol di balik pintu kamar dengan masih memakai handuk yang melilit di badannya.
Tatapan Novi lekat ke leher sahabatnya itu. Dia begitu teliti dengan detail setiap inci tubuh dari Arini. Dalam batin Novi berkata, kemanakah kalung yang setia melilit di leher jenjang Arini.
Novi sedikit kepo dan dia pun berpikir nanti setelah Arini keluar kamar pasti akan menanyakan kalung itu.
Sebelum mandi tadi Arini telah membuka kalung tersebut untuk dia simpan di dalam dompet karena agar pas nanti di jual tidak perlu lagi repot untuk membukanya.
____
Ceklek..!
Pintu terbuka lebar dan terlihat sosok Arini yang terlihat memakai pakaian yang sopan yaitu baju gamis dengan kerudung senada yang menutup dadanya.
"Gimana aku mau nanya masalah kalungnya, lehernya tertutup," batin Novi.
Novi pun seakan mengurungkan niatnya untuk lebih serius menanyakan perihal masalah kalung tersebut kepada sahabatnya tersebut.
"Nov, sebelum ke rumah Ibuku, antar aku ke toko emas. Aku mau menjual kalungku," Arini terlihat menghela napas perlahan, seakan tidak ada keikhlasan di raut wajahnya akan menjual kalung itu.
"Terjawab sudah semua dan aku tidak perlu bertanya kalung itu kemana," batin Novi.
Tapi Novi masih dihinggapi rasa penasaran mengapa sahabatnya itu akan menjual kalung. Padahal kalung tersebut baru dibelinya dan ketika membeli kalung tersebut di antar oleh Novi.
____
"Kenapa kamu jual kalung itu?" tanya Novi kepada Arini dengan ragu takut sang sahabat tersinggung dengan pertanyaannya.
"Mas Bagas suruh jual. Katanya uangnya akan dia pakai untuk buat proyek," jawab Arini singkat.
Novi mengernyitkan dahi seakan tidak percaya kalau hasil penjualan kalung akan di gunakan Bagas untuk keperluan proyek kerjanya. Terlihat muka dari Novi penuh tanya dan rasa tidak percaya.
"Sudah kamu jangan mikir macam-macam sama suamiku," Arini nampak kesal.
Arini pun berlalu keluar dengan membawa sang anak dengan di ikuti oleh Novi dari arah belakang.
___
"Kamu yakin, Mas Bagas akan gunakan uang tersebut untuk urusan pekerjaan?" penuh curiga Novi ketika bertanya tatkala berada di halaman rumah sebelum menaiki sepeda motornya.
Sontak Arini matanya melotot seperti dihinggapi rasa kesal. Dia berpikir mengapa sahabatnya itu seakan mencampuri urusan rumah tangga orang lain.
"Kamu kenapa ikut campur!" sindir Arini dengan mata mendelik.
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





