
Derai Kasih Syafana
Bab 2
Syafana lalu berlari sekencang mungkin saat mendengar sang ayah benar-benar emosi. Vas bunga di ayunkan tepat di samping tubuhnya.
Brakk! Pyar! Dengan suara lantang vas bunga itu terlempar dan pecah menghantam tembok. Untung saja lemparan itu meleset jauh dari tubuh Syafana. Allah masih melindunginya.
Syafana pun terus berlari menuju ke garasi. Ia berhasil mengendarai mobil CRVnya dan bergegas meninggalkan rumah yang mengerikan itu. Meninggalkan sang ayah tiri yang semakin brutal kepadanya.
Dengan nafas yang ngos-ngosan Syafana terus menyetir mobilnya melaju memecah kemacetan Ibu kota Jakarta. Ia berhasil lepas dari jerat maut. Jantungnya benar-benar berdetak tak karuan kaki dan tangannya masih bergetar mengingat kejadian menyeramkan tadi.
Itulah yang membuat Syafana ingin segera pergi dari rumahnya. Dengan menikah Ia akan bisa mudah melepaskan diri dari cengkraman sang ayah tiri. Syafana pun terus membawa mobilnya ke arah kota Jakarta.
Syafana yang telah trauma dengan kejadian pagi tadi tak berani pulang ke rumahnya saat ini. Ia pun terpaksa berangkat ke kantor sambil memakai baju seadanya.
Jam telah menunjukkan pukul 16.00 sore. Ia telah selesai dengan pekerjaan di kantornya dan waktu yang pas untuk menjemput Arman, calon suami Syafana.
Ia akan menembus kemacetan ibukota kembali untuk menjemput sang empunya hati. Perjalanan ke kantor Arman sekitar 25 menit dari kantor Syafana.
Sesampainya di depan kantor Syafana pun melihat Arman sudah berdiri menunggunya.
"Mas Arman?" panggil Syafana dengan lembutnya.
Memantik gelora hati yang begitu menggeliat dalam relung hati Syafana dengan memanggil nama sang empunya hati. Saat Syafana bertemu dengan Arman ia bisa melupakan lara hatinya dengan sang ayah.
Mendengar seorang wanita cantik menjemputnya membuat Arman seorang laki-laki muda berusia 28 tahun itu pun bahagia tak kepalang. Ia lalu menoleh ke arah pemilik suara lembut yang menggetarkan hatinya itu, suara yang menemaninya 5 bulan belakangan ini.
Cinta Syafana dan Arman begitu sederhana, hingga getaran cinta itu pun muncul dihati keduanya dan mereka pun memutuskan untuk menikah 3 hari lagi.
"Hay Syafana. Aku disini menunggumu!" ucap Arman dengan senyuman mengembang di bibirnya.
Laki-laki yang telah berdiri di depan perusahaan Valerindo corps yang menjabat sebagai asisten CEO. Dia mendapatkan jabatan itu berkat promosi yang diberikan Vania kepada atasannya yang tak lain adalah keluarga Vania sendiri.
"Maaf aku baru datang mas. Ayo masuk kita berangkat." jawab Syafana dengan lembutnya.
"Eh lo udah dijemput tuh Man?" ucap Hanafi dengan tawa bahagia.
"Iya nih gue duluan ya!" jawab Arman sembari tersenyum melihat ke arah teman-teman nya.
"Cie mau malam mingguan nih ye!" sambung Leo ikut menggoda Arman yang sudah terjebak malu tersebut.
Wajah Arman memerah ia tersipu malu tatkala teman-temannya menggodanya.
"Ah kalian ini bicara apa sih aku mau mengantar Syafana pergi mencari cincin pernikahan." jawab Arman dengan bahagianya.
Senyum di wajahnya tak memungkiri bahwa ia sedang kasmaran. Arman pun lalu berjalan memasuki mobil Syafana dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Meninggalkan teman-temannya yang berdiri di sampingnya.
Melihat ada Leo dan Hanafi yang berdiri bersama dengan Arman, Syafana pun mengucapkan salam dengan ramahnya.
"Selamat sore Mas Leo, selamat sore Mas Hanafi." sapa syafana dengan senyuman manis.
Syafana adalah perempuan cantik yang sangat menjaga penampilannya dia selalu memakai baju yang sopan di kantor dan menggunakan hijab yang panjang menutupi dadanya.
"Selamat sore juga mbak Syafana." jawab mereka berdua serempak.
"Gue duluan ya, bye!" ucap Arman dari dalam mobil.
"Gimana mas lancar kerjanya hari ini?" tanya Syafana membuka obrolan dengan manisnya.
mobil mereka pun terus melaju meninggalkan perusahaan Valerindo corps memecah kemacetan ibu kota.
"Alhamdulillah lancar. Ternyata aku baru tahu kalau kenaikan jabatanku karena dipromosikan oleh Vania. Pemilik Valerindo corps ternyata masih keluarga Vania." ucap Arman dengan bahagianya.
"Oh begitu ya mas. Hebat ya bisa bawa mas jadi asisten CEO. Oh iya dia tau kita mau nikah?" tanya Syafana.
"Iya dia tahu, aku cerita banyak tentang rencana pernikahan kita." ucap Arman dengan bahagianya.
"Benarkah lalu apa reaksinya mas?" tanya Syafana lagi. Ia seakan penasaran dengan jawaban Arman yang seolah begitu mengidolakan Vania.
"Iya aku mengatakan kepadanya kalau kita akan cari cincin pernikahan lalu dia mengatakan padaku kalau mau cari cincin pernikahan beli di Jacob Jewelry. Disitu katanya bagus-bagus cincinnya soalnya itu langganan dia biasanya beli cincin." ucap Arman dengan semangatnya.
Seolah perkataan Vania itu membuat hatinya berbunga-bunga. Syafana pun mulai resah mendengar cerita Arman mungkinkah Vania menaruh hati kepada calon suaminya.
"Oh ya? Benarkah? wah seru sekali sepertinya, lalu Mas Arman bicara apa lagi dengan Vania?" tanya Syafana lagi.
Raut wajahnya yang semula berbinar kini berubah kecut. Syafana terus memancing Arman agar bercerita tentang Vania.
"Ya biasalah ngobrolin masalah kerjaan juga katanya dia mau bantu kita kalau kita kebingungan mencari souvenir pernikahan. Dia bisa dimintai tolong jadi di bawah santai aja sayang!" ucap Arman tidak ingin membuat Syafana marah.
Melihat raut wajah calon istrinya yang berubah kecut membuat Arman pun berhati-hati dalam perkataan nya.
"Kamu marah ya? Jangan marah Syafana, toh dia juga teman kantorku bukan siapa-siapa. Kamu juga kenal kan sama Vania? Jadi kamu nggak perlu marah ya?" Pinta Arman sambil memegang tangan kiri Syafana yang asyik menyetir itu.
"Ah ya nggak lah, nggak mungkin aku marah aku kan kenal dia!" ucap Syafana dengan gaya bicara yang cuek.
"Kamu nggak suka ya aku cerits tentabg Vania?" duga Arman.
"Tidak mas! Aku cuma tidak suka saja mendengarnya," protes Syafana lirih.
"Aku kemarin ketemu sama Mas Indra." ucap Syafana mengalihkan pembicaraan.
"Apa? Lalu dia bilang apa?"
"Nggak banyak. Dia cuma cerita kalau hubungan nya dengan Anisa sudah selesai. Mereka berpisah karena beda prinsip. Jadi susah untuk menentukan arah dan tujuan hubungan mereka." ucap Syafana dengan seriusnya.
Syafana pun melontarkan pertanyaan ultimatum. "Mas Arman serius kan mau menikah denganku? Atau mas hanya sekedar menikah dan selesai begitu saja?"
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Kamu itu jangan suka menuduhku yang tidak-tidak. Buat apa aku menikahimu kalau aku tidak serius. Buang-buang waktuku saja!" jawab Arman ketus.
"Ya kan aku tanya Mas. Aku rasa akhir-akhir ini Mas Arman sering tidak jawab telponku. Mas memangnya sesibuk itu ya?"
"Kan aku sudah bilang kerjaanku di kantor banyak. Sudahlah jangan berdebat. Aku tidak mau bertengkar denganmu!" jawab Arman dengan ketusnya.
Gemercik rintik hujan membasahi mobil Syafana seperti hatinya. Rintik hujan itu pun kian masuk membasahi relung hatinya karena persiapan pernikahannya semakin dekat tetapi terasa semakin rumit.
"Kok wajah kamu gitu sih sayang? Kamu marah ya?" tanya Arman yang penasaran melihat Syafana bermuka datar.
"Ya nggak gitu Mas semua persiapan pernikahan mulai cari WO, make up, foto prewed semuanya hingga cari cincin pun aku yang memikirkan sendiri!" jawab Syafana dengan kesalnya.
"Ya kan aku sibuk kerja kamu kan tahu sendiri aku berangkat kerja jam berapa pulang jam berapa. Sekarang aku bisa menemanimu cari cincin aja udah bagus kan? Sudahlah Syafana aku tidak mau berdebat denganmu!"
Syafana pun hanya diam. Ia terus menyetir mobilnya dengan kencangnya.
"Aku tadi pagi bertengkar dengan Ayahku!"
"Apa? Kenapa lagi memangnya?" tanya Arman penasaran.
Anda Mungkin Juga Suka





