
Derai Kasih Syafana
Bab 3
"Iya. Ayahku tadi pulang dari kerjaan nya, pulang-pulang dia memanggilku dengan sebutan perawan tua sambil marah-marah. Aku yang mendengar perkataan Ayah pun akhirnya terbangun dan menemuinya. Beliau tambah marah dan pertengkaran pun terjadi."
"Lalu kamu nggak apa kan?"
"Ayah tiriku memukulku dengan sebilah kayu dan langsung melempar vas bunga ke arahku untung lemparan itu meleset. Aku semakin tidak kuat saja dengan prilakunya." ucap Syafana dengan kesalnya.
Arman pun berfikir dengan cepat. Ia tiba-tiba mengatakan dengan serius di depan Syafana
"Bagaimana kalau kita memajukan tanggal pernikahan kita?
"Apa? Yang benar saja mas kan semua sudah diatur dari mulai tanggal nya sudah kita daftarkan di KUA. Jadi mana bisa kita majukan lagi sih mas!"
"Ya tapi kan aku nggak mau lihat kamu di bentak-bentak terus sama ayah tirimu Syafa, aku nggak terima calon istriku diperlakukan seperti itu!" sambung Arman seolah tidak terima dengan perkataan Syafana.
"Pokoknya setelah menikah kita harus pindah rumah mas!"
"Iya kamu kan bisa tinggal di kontrakanku. Itu juga rumahmu mulai sekarang barang-barangmu pindahkan semua ke kontrakanku biar nanti setelah menikah kamu bisa langsung pindah." ucap Arman dengan seriusnya.
Matanya pun tak berhenti memandang wajah cantik calon istrinya nya itu.
"Atau kalau kamu mau kita cari rumah yang lebih besar lagi. Aku bisa menyewa rumah yang lebih besar kalau kamu mau."
"Kita dikontrakan itu dulu aja Mas. Lagian Kita tidak punya banyak waktu dengan kesibukan kita berdua di kantor. Aku nggak apa kok harus tinggal di kontrakan yang penting kita tinggal berdua!" jawab Syafana.
Mereka berdua pun saling pandang memandang. Merasakan cinta yang tumbuh dalam hati keduanya. Syafana senang sekali memandangi wajah Arman yang begitu tampan.
"Kalau begitu bawa saja kunci rumahku. Jadi kamu bisa memindahkan barangmu sewaktu-waktu."
"Oke baiklah mas. Terimakasih ya!" ucap Syafana dengan bahagia meski rumah yang ditinggali Arman hanya kontrak tetapi Syafana sangat bahagia. Ia merasa impian nya selama ini hampir terwujud menikah dan memiliki rumah sendiri walau hanya kontrakan tetapi itu sudah lebih dari cukup untuknya.
Wajahnya pun kini berubah. Senyum sumringah menghiasi sudut bibirnya kesedihannya kini ia buang jauh-jauh tatkala mereka pun sampai di toko emas untuk membeli cincin perkawinan.
Setelah memilih-milih beberapa pilihan yang cocok di jari manis Syafana. Ia pun akhirnya terjerat oleh satu model cincin klasik yang manis pilihannya pun jatuh pada cincin emas dengan berat 3.5 gram tersebut.
"Apa kamu suka?" tanya Arman dengan bahagianya.
"Suka sekali mas. Terimakasih ya ini sudah lebih dari cukup buatku."
Melihat wajah Syafana yang begitu bahagia membuat hati Arman pun ikut bahagia. Ia mencoba untuk membahagiakan wanita yang kini akan menjadi Istrinya tersebut.
Setelah selesai memilih dan membayar cincin emas tersebut mereka pun akhirnya pulang dan berjalan kembali memasuki mobil Syafana.
"Mas kalau nanti malam aku mulai memindahkan barang-barangku sedikit demi sedikit ke kontrakan mas gimana?" pinta Syafana.
"Lo jangan sekarang Syafa. Ini kan sudah jam 7 malam memangnya kamu nggak capek besok aja ya. Ini nanti kunci kontrakan mas kamu bawa aja biar besok kamu bisa memindahkan barangmu ke kontrakan mas." ucap Arman sambil tersenyum bahagia.
Arman pun mengelus kepala Syafana sambil mengatakan "Kamu cantik sekali Syafana. Seperti mimpi rasanya bisa menikah denganmu." sambung Arman dengan bahagianya.
Mereka berdua pun akhirnya pulang dan seperti biasa Syafana selalu mengantar Arman pulang ke kontrakan nya.
"Hati-hati dijalan ya Syafa. Kalau ada apa-apa beritahu aku. Kalau ayahmu masih marah hubungi aku dan akan ku temui dia." ucap Arman seolah tak terima dengan perlakuan ayah tiri Syafana.
"Baiklah terimakasih ya mas. Aku akan pulang sekarang."
Arman pun lalu turun dari mobil CRV milik Syafana sambil mencium kening wanita yang akan menjadi istrinya itu.
Sementara itu ada seorang wanita cantik yang menunggu kedatangan Arman dengan santainya itu pun beranjak dari duduknya. Ia menunggu di sebelah kontrakan Arman tanpa sepengetahuan Syafana. Melihat kedatangan Vania yang sexy itu membuat Arman menelan salivanya.
"Loh Vania kok disini?" tanya Arman dengan halusnya.
"Iya aku menunggumu. Ada yang ingin aku katakan padamu." jawab Vania dengan santainya.
Arman pun bingung kenapa tiba-tiba Vania mau menemuinya sampai ke kontrakan nya. Tanpa pikir panjang Arman pun mengajak Vania untuk memasuki kontrakannya.
"Ah baiklah kalau begitu ayo masuk maaf kalau kontrakanku kecil."
"Tidak masalah tapi ini bersih sekali ya? ini kamu sendiri yang membersihkan?" tanya Vania.
Sambil melihat sekeliling ruangan kontrakan yang tidak terlalu besar itu mereka berdua pun mengobrol banyak hal.
"Silahkan duduk aku ambilkan minum dulu ya." ucap Arman.
Arman pun berjalan memasuki dapur menuju ke kulkas untuk mengambil minuman. Hatinya mulai dipenuhi rasa bimbang.
Setelah Arman keluar dari dapur Ia pun berjalan menuju ke ruang depan menemui Vania betapa kagetnya Arman melihat Vania menutup pintu depan tanpa dikunci.
"Lo Vania kenapa pintunya ditutup?"
"Iya biar nggak ada yang lihat." jawab Vania dengan suara datar.
Vania pun lalu beranjak dari duduknya dan mendekati Arman laki-laki yang berwajah tampan itu. Semakin mendekat dan semakin dekat Vania pun lalu memegang punggung Arman seolah akan memeluknya.
Arman pun menelan salivanya lagi. Jantungnya bergetar tak karuan manakala tubuh sexy Vania bersentuhan dengan tubuhnya.
"Wah Vania apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini tolong minggirlah." pinta Arman dengan gugup.
Arman seakan tak bisa menahan godaan Vania yang menyerangnya duluan. Kaki Arman pun mundur selangkah dan badan nya Ia condongkan ke belakang tetapi tangan lembut Vania telah melingkari pinggangnya.
Seakan mengunci ruang gerak Arman. Ia pun benar-benar tergoda oleh godaan duniawi yang sangat berat untuk Arman hindari.
"Tolong jangan begini!" pinta Arman lirih.
Arman mulai takut jika Vania berbuat diluar batas. Tetapi dalam hati Ia tak memungkiri kalau hatinya masih mencintai Vania.
"Aku hanya ingin mencoba ini denganmu." ucap Vania.
Vania adalah janda beranak 1. Vania memang dikenal sebagai wanita yang berani jika dengan laki-laki. Rumornya Ia adalah seorang wanita penggoda dan benar saja kini giliran Arman yang masuk jebakan godaan tubuh indah Vania.
Dengan memakai baju kemeja yang begitu ketat serta dibalut dengan rok dibawah lutut membuat penampilan Vania begitu menggoda. Membuat siapapun laki-laki yang dekat dengan nya dibuat panas olehnya.
"Kamu mau kan menemaniku sejam atau dua jam!" pinta Vania sambil menatap mata Arman dengan seriusnya.
Tatapan mata yang membuyarkan dunia Arman. Membuat Arman pun tidak bisa menolak pesona wanita cantik yang terus memeluknya erat.
"Tolong minggirlah, aku tidak bisa seperti ini." pinta Arman mulai tidak nyaman dengan Vania.
Vania pun tersenyum licik sembari berkata "Jadilah milikku!" sambil terus menatap Arman dengan tatapan liar.
"Aku tidak akan meninggalkanmu meski kamu akan menikah dengan Syafana. Hubungan kita sudah terlalu jauh Arman."
"Kamu yakin mau bertahan denganku?" tanya Arman dengan seriusnya.
"Jelas lah. Kamu kan cinta pertamaku."
"Kalau begitu ikutlah denganku ke kamarku!" Ajak Arman sambil menggendong tubuh Vania dan membawanya menuju kamarnya.
Anda Mungkin Juga Suka





