
Dendam Sang Pewaris Genius
Bab 3
Yuvina melangkah keluar dari kediaman Keluarga Eldrian, tatapannya perlahan tertuju pada jalan yang sunyi dan kosong. Meskipun rasa sakit masih terasa dalam dadanya, rasa ringan yang aneh tumbuh dalam dadanya.
Saat merenungkan tahun yang dihabiskannya bersama Keluarga Eldrian, dia menyadari betapa menyesakkannya keberadaan dirinya di sana. Didorong oleh hasrat yang mendalam akan kehangatan keluarga, dia rela membelenggu keinginannya sendiri, berharap untuk mendapatkan sedikit kasih sayang mereka.
Sedihnya, yang dia hadapi hanyalah sikap apatis dan tuntutan yang tiada henti.
Yuvina melemparkan pandangan terakhir ke arah kediaman itu, dindingnya memancarkan kemegahan yang angkuh, bukti bisu kebanggaan aristokrat.
"Mari kita lihat berapa lama kehebatan kalian akan bertahan tanpa kehadiranku," gerutu Yuvina dengan pelan, sambil memalingkan kepala. Saat dia melangkah menuju kebebasan barunya, sebuah suara tiba-tiba menghentikannya.
"Nona Yuvina, kamu sungguh penuh kejutan."
Yuvina berbalik. Di hadapannya, dipandu oleh seorang pengawal, ada seorang pria yang duduk di kursi roda.
Wajahnya sangat tampan—lekuk wajahnya yang tajam mencolok, kehadirannya dengan mudah menguasai cahaya di sekitarnya meskipun posisinya sedang duduk.
Namun, dia adalah seorang pria yang cacat. Kecacatan ini telah menyebabkan Desi mencemoohnya, sehingga memaksa Keluarga Eldrian untuk membawa Yuvina kembali dan menggantikan Desi dalam perjodohan dengannya.
"Tuan Muda Arya, apa maksudmu?" Suara Yuvina terdengar tajam, matanya menyipit dengan intensitas nyata, menunjukkan bahaya yang akan segera terjadi.
Arya Gandhi, dengan sedikit mengangkat alis, menatapnya dengan ekspresi ingin tahu. "Aku harus mengakui, aku terkejut. Aku tidak menyangka kamu yang biasanya lemah dan penurut, akan memperlihatkan sisi yang begitu hebat. Itu sungguh tidak terduga."
"Apakah kamu mengawasiku?" Nada bicara Yuvina menjadi semakin dingin, tangannya mengepal pelan saat dia mempersiapkan diri menghadapi konfrontasi apa pun yang mungkin terjadi.
Tidak merasa terganggu dengan pertanyaan itu, Arya memberi isyarat dengan gerakan halus agar pengawalnya mempertahankan posisi mereka. "Menganggapmu sebagai tunanganku, aku rasa wajar saja jika aku tertarik dengan urusanmu, tidakkah kamu setuju?"
"Ya," aku Yuvina, melembutkan postur tubuhnya saat dia melangkah mendekati Arya. "Tapi apakah kamu benar-benar siap menerimaku sebagai tunanganmu? Aku ingat betul sikapmu sebelumnya terhadapku—agak meremehkan, bahkan mendekati menghina."
"Itu di masa lalu," jawab Arya, suaranya terhenti saat dia menatap tajam ke arah Yuvina, yang tatapannya tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kerentanan. Pada saat ini, dia merasakan perubahan dalam diri Yuvina, seolah-olah wanita itu adalah orang yang sama sekali berbeda. "Sekarang aku yakin kamu memang cocok berdiri di sampingku."
Senyum Yuvina menari-nari tertiup angin malam, rambutnya berkibar bagaikan benang sutra. Senyumnya, meski cantik, tampak sangat dingin. "Tuan Muda Arya, langsung saja ke intinya. Apa sebenarnya tujuanmu?"
Arya mengangkat alis, merasa tertarik. Perubahan yang dialami wanita itu bahkan lebih signifikan dari apa yang dibayangkannya. "Mari kita buat kesepakatan," usulnya dengan lancar.
"Baiklah, lanjutkan," desak Yuvina, matanya menatapnya dengan sikap tenang dan mantap.
"Kamu telah memutus hubungan dengan Keluarga Eldrian. Begitu Kori kembali, dia tidak akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja." Suara Arya terdengar rendah dan menawan. "Aku berada dalam posisi untuk melindungimu dari reaksi keras mereka dan menawarkan dukungan yang kamu perlukan untuk mengejar ambisimu. Kamu membenci mereka sekarang, 'kan? Kamu ingin membalas dendam, benar?"
Mata Yuvina menyipit, secercah pengakuan berkelebat dalam dirinya. Arya telah menembus topengnya. Keluarga Eldrian berasumsi bahwa membawanya kembali merupakan suatu tindakan amal. Namun, dia akan membuktikan bahwa mereka salah. Dia akan menunjukkan kepada mereka betapa bodohnya mereka dan betapa besar kekayaan dan kemakmuran yang telah mereka lewatkan.
"Dan apa yang kamu inginkan?" tanyanya dengan suara tenang.
"Ayo, kita daftarkan pernikahan kita besok."
Perkataan Arya membuat Yuvina tertegun sejenak, tetapi kemudian bibirnya membentuk senyuman. "Sepakat."
Anda Mungkin Juga Suka





