
Dendam Putri Liar Sang CEO
Bab 3
Alisha POV:
Aku duduk di kursi penumpang mobil mewah Rehan. Perjalanan terasa sunyi, tapi keheningan itu tidak membuatku nyaman. Aku masih merasakan sisa-sisa ketakutan dari insiden tadi. Aku menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi Jakarta yang menjulang. Aku merasa asing di kota ini, meskipun ini adalah tempat kelahiranku.
Rehan melirikku sesekali, tapi tidak berkomentar. Dia mengerti bahwa aku tidak ingin berbicara. Dia membiarkanku dengan pikiran-pikiranku sendiri. Aku bertanya-tanya, mengapa dia selalu muncul di saat aku paling membutuhkan bantuan? Apakah ini kebetulan, atau takdir?
Kami tiba di sebuah kompleks apartemen mewah. Aku mengenali tempat itu. Itu adalah salah satu properti milik Sukarno Corp. Rehan membawaku ke salah satu unit penthouse. Interiornya modern dan elegan, dengan pemandangan kota yang menakjubkan.
"Kau bisa tinggal di sini selama yang kau mau," katanya lembut. "Ini tempat yang aman."
Aku menatapnya. "Kenapa kau melakukan ini?"
Dia tersenyum tipis. "Anggap saja sebagai investasi."
Investasi? Aku mengerutkan kening. Apa yang bisa ia dapatkan dariku? Aku tidak punya apa-apa.
Dia melihat keraguan di mataku. "Kau cerdas, Alisha. Aku melihatnya. Keluarga Wangsadinata terlalu bodoh untuk melihat bakatmu."
Kata-katanya mengejutkanku. Tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padaku sebelumnya. Semua orang hanya melihat "putri liar" dan aib keluarga.
"Aku akan menyiapkan kamar tamu untukmu," katanya, lalu berjalan melewati lorong.
Aku mengikutinya. Ini bukan pertama kalinya aku di apartemennya. Aku pernah berada di sini, untuk pertemuan bisnis formal, beberapa tahun yang lalu. Aku ingat betapa mengesankannya tempat ini. Namun, kali ini, rasanya berbeda. Aku bukan lagi Alisha Wangsadinata yang sombong, yang datang dengan kepala tegak. Aku adalah Alisha yang hancur, yang membutuhkan bantuan.
"Ini kamarmu," katanya, membuka pintu. Kamar itu luas dan nyaman, dengan tempat tidur berukuran king dan kamar mandi pribadi.
"Tidak, aku tidak bisa," kataku. Ada sesuatu yang mengganjal. Aku tidak ingin terlalu dekat dengannya, terlalu nyaman. Itu terlalu berbahaya.
Dia menatapku dengan bingung. "Kenapa?"
"Aku hanya butuh sofa," kataku. "Aku tidak bisa tidur di ranjang itu." Aku tahu itu terdengar konyol, tapi aku tidak bisa menjelaskan perasaanku. Aku tidak ingin menjadi beban, atau terlalu bergantung.
Dia mengangkat bahu. "Baiklah, jika itu maumu. Tapi kau harus makan dulu."
Aku mengangguk. Perutku sudah bergejolak sejak tadi.
Malam itu, aku tidur di sofa, di ruang tamu. Aku tidak bisa memejamkan mata. Otakku terus berputar, memikirkan Fahreza, Elok, dan ayahku. Aku merasa seperti boneka yang dimainkan oleh semua orang.
Keesokan paginya, aku terbangun karena bau kopi yang harum. Rehan sudah bangun, menyiapkan sarapan. Ia meletakkan sepiring nasi goreng dan telur mata sapi di depanku.
"Makanlah," katanya.
Aku mulai makan, perlahan. Rasanya lezat. Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku makan makanan enak seperti ini.
"Fahreza Murni," kataku tiba-tiba, tanpa berpikir.
Rehan menatapku. "Ada apa dengannya?"
"Kau tahu tentang Elok Danusastro?" aku bertanya, langsung ke intinya.
Dia mengangguk. "Ya. Rumornya, mereka bertunangan."
Jantungku berdebar kencang. Jadi, rumor itu benar.
"Apa kau tahu latar belakang keluarga Elok?" tanyaku.
Rehan menatapku dengan mata serius. "Aku baru saja menemukan beberapa informasi menarik. Keluarga Danusastro, mereka tidak seperti yang terlihat. Ayah Elok, dia punya beberapa koneksi yang gelap. Dan penculikan Fahreza sepuluh tahun lalu..."
Dia berhenti. Aku menatapnya, mendesaknya untuk melanjutkan.
"Ada bukti baru. Rekaman CCTV dan laporan keuangan yang menunjukkan bahwa penculikan itu... mungkin direkayasa," katanya, suaranya rendah. "Dan Elok... ia terlibat."
Duniaku berputar. Jadi, Fahreza telah dibodohi? Semua ini adalah kebohongan? Rasa marah dan sakit kembali melanda. Fahreza, yang selalu membela Elok karena "hutang nyawa," telah dipermainkan. Dan aku... aku telah menjadi korban dari kebohongan ini.
"Jadi, Fahreza adalah korban kebohongan itu, bukan?" tanyaku, suaraku dipenuhi sarkasme. "Dan aku, aku hanyalah korban dari korbannya."
Rehan tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan kasihan.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku, dengan nada dingin. "Apakah kau akan membantunya? Menyelamatkannya dari wanita manipulatif itu?"
Dia menghela napas. "Alisha, Fahreza adalah pria dewasa. Dia harus menyadari sendiri kebenaran ini."
"Atau kau hanya ingin melihatnya hancur?" aku membalas, mataku menyipit. "Itu akan membuat Murni Group lebih mudah ditaklukkan, bukan?"
Rehan tidak menyangkal. Dia hanya menatapku dengan tatapan kosong.
Sebuah ide melintas di benakku, pikiran yang gelap dan kejam. Aku bisa menghancurkan mereka semua. Ayahku, Fahreza, Elok. Aku bisa menggunakan Rehan. Aku bisa menggunakan kekuatanku, kecerdasanku, untuk balas dendam.
"Jangan libatkan dirimu terlalu dalam, Alisha," katanya, seolah membaca pikiranku. "Fahreza adalah pria yang berbahaya."
"Dan aku? Aku jauh lebih berbahaya," aku membalas, senyum tipis terukir di bibirku. Ini adalah awal dari permainanku. Aku akan membuat mereka semua membayar.
Aku mengangguk pelan. "Aku mengerti. Aku akan menjaga jarak. Aku tidak akan mencampuri urusan Fahreza dan Elok." Aku berbohong. Aku tidak akan menjaga jarak. Aku akan menyeret mereka semua ke neraka bersamaku.
Aku bangkit dan berjalan ke kamar tamu. Aku mengunci pintu. Aku ingin sendirian. Aku ingin merencanakan.
Aku duduk di lantai, bersandar di dinding. Perasaan kosong itu kembali. Aku telah memberikan segalanya untuk Fahreza, dan ia membalasku dengan pengkhianatan. Ia memilih wanita yang memanipulasinya, wanita yang membangun kebahagiaannya di atas kebohongan.
Aku mencoba menenangkan diri, tapi hatiku sakit. Aku merasa seperti pecundang. Aku merasa tidak berharga. Semua cinta yang kuberikan, semua kesetiaan, semuanya sia-sia.
Dulu, aku selalu bermimpi memiliki hubungan yang normal, yang tulus. Aku ingin seseorang yang mencintaiku tanpa syarat, yang tidak akan pernah meninggalkanku. Aku ingin seseorang yang akan berdiri di sisiku, tidak peduli apa pun. Tapi Fahreza... ia bukan orang itu.
Ia adalah seorang pengecut yang terjebak dalam jaring kebohongan. Dan aku, aku adalah orang bodoh yang jatuh cinta padanya. Aku merindukan pelukannya, sentuhannya, bahkan bisikannya yang dingin. Aku merindukan malam-malam di penthouse, ketika aku bisa berpura-pura bahwa kami adalah satu-satunya di dunia.
Kini, semua itu telah hilang. Hancur berkeping-keping. Aku melihat kembali pada diriku, Alisha Wangsadinata yang rapuh. Sudah cukup. Aku tidak akan lagi menjadi korban. Aku akan menjadi predator.
Anda Mungkin Juga Suka





