Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dendam Mengubur Cinta

Dendam Mengubur Cinta

Tujuh tahun merajut kasih tidak mencegahku meninggalkan Deon saat dia dipenjara demi berpaling pada sahabatnya. Setelah bebas, Deon memaksaku menikahinya untuk membalas dendam. Di balik pernikahan yang dikira harmonis, ia menyiksaku dengan membawa wanita lain, termasuk adikku, ke ranjang kami. Deon tidak tahu bahwa aku rela menyusup ke markas mafia dan menukar organ tubuhku demi mendapatkan bukti untuk membersihkan namanya, tepat di saat sisa hidupku kini hampir habis.
Bab
Bagikan

Bab 4

Melihat tatapan jijik dari Deon, Griselle menarik sudut bibirnya dan berkata, "Kalau begitu ... terima kasih atas doamu."

Naomi yang berada di samping langsung menggandeng lengan Deon dan berkata manja, "Kak Deon, jangan marah karena Kak Griselle, nanti malah merusak kesehatanmu sendiri."

"Coba lihat, hari ini cuacanya bagus sekali, bagaimana kalau kita keluar jalan-jalan, ya?"

Deon mengalihkan pandangannya ke Naomi dan ekspresinya seketika melunak. "Baiklah, aku akan ke garasi ambil mobil, kamu tunggu di sini," ucapnya lembut sambil merangkul pinggangnya.

Begitu selesai berbicara, dia langsung berbalik dan pergi tanpa ragu, lalu menutup pintu menuju garasi dengan sangat keras.

Brak!

Suara keras yang mengikuti, menghancurkan sisa ketenangan yang berusaha dipertahankan Griselle.

Naomi berjalan santai mendekatinya. Sikap manis yang tadi ditunjukkannya telah hilang.

"Aku tahu, kamu nggak mau dia tahu soal penyakitmu, jadi nggak usah terima kasih padaku, ya. Tadi itu memang sudah seharusnya dilakukan seorang adik," katanya sambil mengedipkan mata dengan penuh kemenangan, lalu melenggang pergi.

Mendengar suara deru mobil sport yang melaju menjauh di luar jendela, Griselle tersenyum pahit dan mengerahkan seluruh tenaga untuk berdiri.

Darah yang terus mengalir dari tubuhnya membuat seluruh tubuhnya terasa dingin menggigil, seolah-olah jiwanya sendiri sudah tidak lagi tertambat dan bisa lepas dari tubuhnya kapan saja.

Griselle mengulurkan tangan, menghapus darah di sudut bibirnya, lalu menggertakkan gigi dan menyeret tubuhnya kembali ke kamarnya dengan perlahan-lahan.

Setelah meminum obat, rasa sakit di tubuhnya perlahan mereda. Akhirnya, dia pun jatuh tertidur karena tidak mampu lagi menahan rasa lelah yang luar biasa. Sejak hari itu, nafsu makan Griselle mulai menurun drastis. Dia hampir tidak bisa makan apa pun.

Sementara itu, dalam beberapa hari berikutnya, Deon dan Naomi seperti sepasang anak kembar yang selalu muncul bersama di hadapannya dengan terang-terangan.

Griselle memandang dingin ke arah Naomi dan Deon yang tampak begitu mesra, seolah melihat dirinya di masa lalu. Kebahagiaan dan kehidupan tanpa beban seperti itu ... seluruh hati dan matanya hanya tertuju pada satu orang.

'Baguslah,' pikirnya. Setelah dirinya tiada, dua orang yang paling dia pedulikan bisa terus menjalani hidup bersama dengan bahagia hingga akhir hayat mereka.

Setelah beristirahat di rumah selama beberapa hari, Griselle kembali ke rumah sakit untuk mengambil obat. Namun baru saja keluar rumah, tiba-tiba beberapa pria asing muncul dari gang kecil.

Aura mereka begitu kasar dan mencurigakan, jelas sekali mereka bukan orang baik.

"Kalian siapa?" Griselle mengernyit menatap mereka dengan penuh kewaspadaan.

Salah satu dari mereka melangkah maju dan menatapnya dengan dingin dari atas ke bawah. "Kamu Griselle?"

Tatapan mata Griselle sedikit berubah, firasat buruk muncul dalam benaknya. Benar saja, detik berikutnya pria itu melambaikan tangan. "Bawa dia pergi!"

"Mmph ...."

Pandangan Griselle gelap seketika. Saat dia tersadar kembali, tubuhnya telah terikat erat pada pagar kolam renang, dengan air dingin yang mengelilinginya. Melihat dari sekeliling, tempat ini tampaknya adalah sebuah pabrik tua yang sudah lama terbengkalai.

Naomi berdiri di tepi kolam, menatapnya dari atas dengan senyum di wajahnya. "Kakak sudah sadar?" Naomi tersenyum. "Kebetulan sekali, Kak Deon juga sebentar lagi akan sampai."

Griselle menatapnya tajam. "Kamu menculikku? Kamu nggak takut Deon tahu?"

"Dia nggak akan tahu," jawab Naomi sambil tertawa manja dan melangkah masuk ke kolam. "Soalnya aku juga korban, 'kan?"

"Coba tebak, Kak Deon bakal selamatin siapa duluan?"

Begitu Deon tiba di lokasi, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok yang terikat di dalam kolam. Griselle hanya meliriknya sekilas, lalu memalingkan wajah, seolah menatapnya sedetik lebih lama pun terasa menjijikkan.

Sementara itu, Naomi sudah menangis tersedu-sedu. "Kak Deon, tolong aku ... aku takut sekali ...."

Mata Deon tampak gelap dan serius. Dia mengangkat koper di tangannya dan berkata, "Uangnya sudah kubawa. Nggak kurang satu sen pun."

"Sekarang, apa aku sudah boleh bawa mereka pergi?"

Pimpinan para penculik memberi isyarat dengan matanya. Seketika, salah satu anak buahnya maju untuk menerima koper tersebut dan menyerahkannya ke hadapan sang pemimpin.

Setelah menghitung uang di dalamnya, sang pimpinan penculik mengangguk puas. "Tentu saja boleh kamu bawa. Tapi, kamu cuma boleh bawa satu orang."

Deon langsung menegakkan tubuhnya dan menggertakkan gigi. "Apa maksudmu?"

Orang itu menelusuri pandangannya ke arah ketiga orang itu, lalu berkata dengan nada mengejek, "Nggak ada maksud apa-apa. Hanya saja aku kesal melihatmu bisa punya dua wanita sekaligus. Aku penasaran, dari dua wanita cantik ini, siapa yang lebih berarti di hatimu?"

Tanpa merasa ragu sedikit pun, Deon mengulurkan tangan ke arah Naomi. "Aku pilih dia."

Griselle menatap Deon. Mulutnya terasa pahit oleh rasa darah yang tiba-tiba memenuhi rongga mulutnya. Griselle mengira dirinya sudah tidak peduli lagi. Namun kenapa, dadanya masih terasa sakit?

"Griselle, kondisi tubuh Naomi kurang sehat. Aku harus bawa dia pergi dulu." Terdengar suara Deon yang dalam dan berat. "Sejak kecil kamu sudah lebih kuat dari dia, kamu pasti bisa bertahan lebih lama. Aku ... aku akan segera kembali."

Begitu selesai berbicara, dia langsung mengangkat Naomi ke dalam pelukannya dan bergegas pergi. Griselle tersenyum. Namun semakin lama dia tersenyum, setitik air mata menetes dari sudut matanya.

Deon tidak tahu, tubuhnya sudah lama hancur. Dia tidak akan sanggup menahan lebih banyak penderitaan lagi. Akan tetapi, tidak masalah jika dia tidak tidak apa-apa. Dengan begitu, Deon bisa terus membencinya.

Ketika Griselle mati nanti, mungkin Deon tidak akan merasa sedih sedikit pun.

Griselle menunduk menatap bagian dadanya. Padahal, ini adalah akhir yang dia inginkan, tapi kenapa tetap terasa menyakitkan?

Pimpinan penculik melangkah ke arahnya dan menjepit rahangnya, lalu memaksa memasukkan sebuah pil ke dalam mulutnya. "Jangan salahkan aku ya, Bu Griselle. Semua ini perintah dari Bos ...."

Namun sebelum dia sempat bertindak lebih jauh, anak buahnya tiba-tiba berlari masuk dengan wajah panik. "Gawat, Bos! Polisi datang!"

Pria itu mendecakkan lidahnya kesal, lalu memberi perintah, "Lupakan saja, tugas kita juga sudah selesai. Cepat kita pergi, biarkan saja dia!"

Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Griselle berusaha meronta. Tali yang mengikatnya akhirnya sedikit mengendur. Akan tetapi, tenaganya sudah benar-benar habis.

Air mulai masuk lewat hidung dan mulutnya dan tubuhnya dilanda kelemahan yang tak terlukiskan. Apakah ... akhirnya dia akan mati sekarang?

Sayang sekali, kematiannya begitu menyakitkan. Bahkan tubuhnya kemungkinan besar tidak bisa digunakan untuk donor. Harapan terakhirnya untuk berkontribusi pada dunia ini pun tampaknya akan sia-sia.

Griselle tersenyum getir dan menutup matanya dengan lemah sembari menanti ajal datang menjemput. Dalam kesadarannya yang mulai memudar, dia seolah mendengar suara serak dari kejauhan.

"Griselle ...."

Deon akhirnya datang dan berhasil menyelamatkannya dari kolam.

"Griselle, bangun! Sadarlah!" Deon melepaskan tali yang masih melilit tubuhnya dengan panik, lalu menepuk-nepuk pipinya.

Namun begitu Griselle terlepas dari ikatan, hal pertama yang dia lakukan adalah merangkul Deon erat-erat. "Aku menderita sekali ... tolong aku ...." Napasnya memburu dan mulutnya mengeluarkan suara erangan yang menggoda.

Deon mengarahkan senter ke wajahnya dan langsung menyadari ada yang tidak beres. Mata Griselle terpejam, kesadarannya juga mulai memudar. Tubuhnya panas membara dan terlihat sangat tersiksa.

"Griselle, kamu tahu aku siapa?" tanya Deon dengan suara parau.

Griselle tidak peduli lagi dengan apa pun. Yang dia tahu hanya tubuhnya seperti akan meledak. Tanpa ragu, dia meraih kerah baju Deon dan menariknya keras-keras.

"Aku tahu. Kamu adalah ... Deon-ku."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong
8.0
Aldric dan Keira terikat pernikahan kontrak demi kepentingan finansial keluarga. Setelah dua tahun penuh kepura-puraan, Aldric memilih bercerai demi mantan kekasihnya, tanpa tahu Keira pergi dalam keadaan mengandung. Lima tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali di sebuah kota kecil. Aldric terkejut melihat anak laki-laki yang sangat mirip dengannya. Kini, ia harus memilih antara menebus kesalahan masa lalu atau kehilangan keluarga kecilnya selamanya.
Sampul Novel Crazy Maid ( Indonesia )
8.5
Felicity Jolicia Addison, gadis manja yang tak pernah menyentuh dapur, terpaksa menyamar menjadi Cia. Demi jet pribadi impian, ia menjalankan misi sang ayah menjadi pelayan Jerrald Nataniel Mendez, pengusaha jet asal Spanyol. Jerrald frustrasi menghadapi ketidakbecusan Cia yang bahkan hampir membakar dapur saat memasak air. Meski dicap gila karena kepolosan dan sifat borosnya, interaksi unik antara majikan arogan dan maid amatir ini justru memicu benih asmara.
Sampul Novel Demi Anak, Kuterima Hinaan Mertua
8.7
Keira terpuruk setelah perusahaannya nyaris bangkrut dan tunangannya berkhianat demi wanita kaya. Di tengah keputusasaan, ia melarikan diri ke kelab malam hingga mabuk berat. Takdir buruk membawanya terbangun di ranjang yang sama dengan Aksel Sanjaya, CEO dingin di kantornya sendiri. Kini, Keira dan Aksel terjebak dalam konsekuensi rumit akibat satu malam tragis tersebut. Bagaimana mereka menghadapi perubahan hidup yang tidak terduga ini?
Sampul Novel Istri Polos sang Milyarder
8.6
Hidup Cantika hancur saat seseorang tak bertanggung jawab membuatnya gagal membayar biaya medis ayahnya. Demi melunasi utang rumah sakit, ia terpaksa menjadi istri kedua seorang milyarder dan setuju mengandung anaknya. Namun, impian akan pernikahan indah sirna saat realita berubah menjadi penderitaan layaknya neraka. Akankah gadis polos ini tetap bertahan dalam siksaan tersebut, atau justru memilih melarikan diri dari sang suami demi kebebasannya?
Sampul Novel Menikahi Ceo
8.7
Arga adalah CEO yang belum pernah jatuh cinta hingga ia bertemu Raisya, siswi SMA tangguh yang hidup bersama kakaknya. Ketidaksengajaan di depan rumah membawa Raisya terus menggoda Arga hingga benih asmara tumbuh. Namun, hubungan unik ini terputus saat Raisya kuliah ke luar negeri dan melupakan Arga. Saat kembali, Arga ternyata sudah bertunangan. Akankah cinta gila mereka bersemi kembali, atau Arga justru memilih tetap setia pada tunangannya?
Sampul Novel Meninggalkan Pengkhianatan Maut, Merangkul Kehidupan Baru
7.9
Sepuluh tahun pengabdian pupus saat Bramanta memilih menikahi Hana di altar yang kurancang. Demi selingkuhannya, ia tega memaksaku donor darah, membiarkan kucingku mati, hingga nyaris menenggelamkanku. Puncaknya, ia membiarkanku sekarat akibat syok anafilaksis demi menolong drama Hana. Sadar nyawaku terancam oleh pengkhianatannya, aku menerima tawaran ayah untuk menjalani pernikahan kontrak dengan CEO Arga Hadinata. Di titik nadir ini, aku memilih bangkit bersama pria baru.