Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dendam dan Hasrat Liar

Dendam dan Hasrat Liar

Alyssa Hartanto bertekad membalas dendam pada Damian Valente, pengusaha yang menghancurkan keluarga dan bisnis orang tuanya. Dengan identitas samaran, ia menyusup ke kediaman Damian sebagai asisten pribadi demi menjalankan misi penghancuran. Namun, rencana Alyssa goyah saat kebencian mendalam tersebut perlahan berubah menjadi gairah yang tak terduga. Kini, ia terjebak dalam dilema antara menuntaskan dendam masa lalu atau menyerah pada cinta yang mulai tumbuh.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan harinya, Alyssa terbangun dengan perasaan campur aduk. Pertemuan singkatnya dengan Damian malam sebelumnya masih segar dalam ingatannya. Wajah tampan dan senyum licik pria itu terbayang di benaknya. Meskipun hatinya penuh dengan kebencian, ada sesuatu yang membuatnya penasaran.

Setelah membersihkan diri dan sarapan sederhana, Alyssa menuju ke klub malam Elysium untuk pergantian shiftnya. Dalam perjalanan, dia terus memikirkan langkah selanjutnya. Dia harus mencari cara untuk lebih dekat dengan Damian, mungkin mendapatkan akses ke kehidupan pribadinya.

Di klub, suasana masih sepi karena baru saja dibuka. Alyssa berjalan menuju loker dan mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan. Tia, rekannya yang baik hati, menyambutnya dengan senyuman.

“Alyssa, kamu baik-baik saja? Kamu terlihat sedikit pucat,” kata Tia dengan perhatian.

Alyssa tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah. Malam tadi cukup melelahkan.”

Tia mengangguk. “Ya, aku tahu. Damian Valente benar-benar membuat suasana klub lebih hidup, ya? Semua orang tampaknya sibuk melayaninya.”

Alyssa hanya tersenyum, tidak ingin menunjukkan terlalu banyak emosi. Dia tahu dia harus menjaga rencananya tetap rahasia.

Malam semakin larut, dan Elysium mulai ramai dengan pengunjung. Musik berdentam keras, lampu-lampu neon berwarna-warni menari di udara, menciptakan suasana yang hidup dan energik. Alyssa terus melayani tamu-tamu dengan senyum di wajahnya, meskipun pikirannya terus berputar mencari cara untuk mendekati Damian lagi.

Sekitar tengah malam, Damian Valente muncul di pintu masuk klub. Penampilannya yang elegan dan karisma yang memikat langsung menarik perhatian banyak orang. Alyssa memperhatikannya dari kejauhan, merasakan detak jantungnya semakin cepat.

Damian berjalan menuju meja VIP yang telah disiapkan untuknya. Seperti malam sebelumnya, dia dikelilingi oleh beberapa pengawal pribadinya. Alyssa mengambil napas dalam-dalam, memutuskan untuk mengambil langkah berani. Dia mengambil nampan berisi minuman dan menuju meja Damian.

“Selamat malam, Damian. Ini minuman yang Anda pesan,” kata Alyssa dengan suara lembut namun tegas, berusaha menunjukkan sikap profesional.

Damian mengangkat alisnya, tampak terkejut melihat Alyssa lagi. “Oh, kamu lagi. Terima kasih.”

Alyssa tersenyum dan meletakkan minuman di meja. “Apakah ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?”

Damian mengamati Alyssa dengan tatapan tajam, seolah mencoba membaca pikirannya. “Sebenarnya, ada yang bisa kamu bantu. Aku membutuhkan seseorang untuk mengurus beberapa hal pribadi di luar klub ini. Tertarik?”

Jantung Alyssa berdetak lebih cepat. Ini adalah kesempatan yang dia tunggu-tunggu. “Tentu, saya akan senang membantu.”

Damian tersenyum tipis. “Bagus. Besok pagi, temui aku di alamat ini.” Dia menyerahkan kartu nama kepada Alyssa dengan alamat rumahnya.

Alyssa mengambil kartu itu dengan tangan gemetar. “Baik, saya akan berada di sana.”

Malam itu berakhir dengan perasaan berdebar di dada Alyssa. Dia tahu ini adalah langkah besar menuju rencananya untuk membalas dendam. Namun, ada perasaan lain yang mulai tumbuh di hatinya, sesuatu yang dia belum bisa pahami sepenuhnya.

***

Keesokan paginya, Alyssa tiba di alamat yang diberikan Damian. Rumah mewah itu tampak megah dan elegan, dengan taman yang indah dan penjagaan ketat di gerbang. Alyssa merasa sedikit gugup, tetapi dia tahu dia harus tetap tenang dan fokus pada tujuannya.

Seorang penjaga mengantarnya masuk ke dalam rumah, menuju ruang tamu yang luas. Alyssa duduk di sofa mewah, menunggu dengan sabar. Tak lama kemudian, Damian muncul dengan senyum ramah di wajahnya.

“Selamat datang, Alyssa. Terima kasih telah datang,” kata Damian sambil duduk di hadapannya.

Alyssa tersenyum sopan. “Terima kasih telah mengundang saya, Damian. Apa yang bisa saya bantu?”

Damian mengamati Alyssa dengan tatapan tajam, seolah mencoba mengukur kesungguhan niatnya. “Aku membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya untuk mengurus beberapa hal pribadi. Kamu tampaknya cukup cakap dan dapat diandalkan. Apakah kamu bersedia bekerja untukku?”

Alyssa mengangguk tanpa ragu. “Tentu, saya siap membantu apa pun yang Anda butuhkan.”

Damian tersenyum puas. “Bagus. Mulai hari ini, kamu akan bekerja sebagai asisten pribadiku. Aku akan memberimu tugas-tugas yang memerlukan kepercayaan dan ketelitian.”

Alyssa merasa lega dan bersemangat. Ini adalah langkah besar menuju rencananya. “Terima kasih atas kepercayaannya, Damian. Saya tidak akan mengecewakan Anda.”

Hari-hari berikutnya, Alyssa mulai bekerja sebagai asisten pribadi Damian. Tugas-tugasnya beragam, mulai dari mengatur jadwal pertemuan, mengurus korespondensi, hingga menemani Damian dalam acara-acara bisnis. Meskipun dia merasa semakin dekat dengan Damian, dia tidak pernah melupakan tujuannya yang sebenarnya.

Suatu hari, Damian meminta Alyssa untuk menemaninya dalam perjalanan bisnis ke Bali. Alyssa melihat ini sebagai kesempatan emas untuk lebih mengenal Damian dan mencari celah untuk melaksanakan rencananya. Mereka berdua terbang ke Bali dengan jet pribadi Damian, menikmati pemandangan indah pulau itu dari ketinggian.

Di Bali, mereka menginap di villa mewah yang terletak di tepi pantai. Alyssa merasa terpesona dengan keindahan tempat itu, tetapi dia tetap fokus pada misinya. Damian menghabiskan sebagian besar waktunya dalam pertemuan bisnis, sementara Alyssa mengurus logistik dan kebutuhan lainnya.

Suatu malam, setelah pertemuan bisnis yang panjang, Damian mengajak Alyssa untuk makan malam di tepi pantai. Mereka duduk di meja yang dikelilingi oleh lilin-lilin romantis, mendengarkan suara ombak yang menghantam pantai.

“Terima kasih sudah menemani aku dalam perjalanan ini, Alyssa. Kamu sangat membantu,” kata Damian dengan suara lembut.

Alyssa tersenyum. “Senang bisa membantu, Damian. Tempat ini sangat indah.”

Damian mengangguk. “Ya, Bali memang menakjubkan. Kadang-kadang, aku merasa ingin meninggalkan semua ini dan tinggal di tempat seperti ini selamanya.”

Alyssa terkejut mendengar kata-kata Damian. “Tinggalkan semua ini? Maksudmu bisnis dan kehidupan di Jakarta?”

Damian menghela napas panjang. “Ya, kadang-kadang aku merasa lelah dengan semua kekacauan dan tekanan. Aku ingin hidup lebih tenang, jauh dari semua persaingan dan kebencian.”

Alyssa merasakan sesuatu yang berbeda dalam diri Damian. Dia melihat sisi manusiawi yang selama ini tersembunyi di balik topeng pria kejam itu. “Aku mengerti. Hidup di bawah tekanan pasti tidak mudah.”

Damian menatap Alyssa dengan tatapan dalam. “Kamu benar, Alyssa. Aku selalu merasa harus menjadi kuat dan tak tergoyahkan. Tapi, terkadang aku ingin merasakan kebebasan dan ketenangan.”

Percakapan mereka berlanjut hingga malam semakin larut. Alyssa merasa ada ikatan yang tumbuh di antara mereka, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hubungan profesional. Namun, dia tetap menjaga jarak emosional, mengingat tujuan utamanya.

***

Setelah kembali dari Bali, hubungan Alyssa dan Damian semakin dekat. Damian semakin sering mengandalkan Alyssa untuk tugas-tugas penting, dan Alyssa semakin mengenal sisi lain dari Damian yang tidak diketahui banyak orang. Namun, di balik kedekatan itu, Alyssa tetap berpegang teguh pada niat balas dendamnya.

Suatu hari, Alyssa menemukan sebuah dokumen penting di kantor Damian. Dokumen itu berisi informasi tentang akuisisi perusahaan kecil, termasuk perusahaan keluarganya yang dihancurkan oleh Damian. Alyssa merasa marah dan sedih sekaligus, tetapi dia tahu dia harus tetap tenang.

Dia menyimpan salinan dokumen itu dengan hati-hati, berencana untuk menggunakannya sebagai bukti dalam rencananya. Namun, perasaannya semakin rumit. Di satu sisi, dia ingin menghancurkan Damian sebagai bentuk balas dendam, tetapi di sisi lain, dia merasa ada sesuatu yang lebih dalam yang mengikat mereka berdua.

Suatu malam, Alyssa tidak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai emosi yang saling bertentangan. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman rumah Damian, mencoba menenangkan dirinya.

Di tengah malam yang tenang, Alyssa mendengar suara langkah kaki. Dia berbalik dan melihat Damian berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan bingung.

“Alyssa, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Damian dengan suara lembut.

Alyssa terkejut. “Aku… tidak bisa tidur. Aku hanya mencoba menenangkan diri.”

Damian mendekat, wajahnya terlihat

lebih lembut dari biasanya. “Aku mengerti. Aku juga sering merasa sulit tidur.”

Mereka berdua duduk di bangku taman, merasakan angin malam yang sejuk. Damian memandang bintang-bintang di langit, seolah mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya.

“Alyssa, apakah kamu pernah merasa bahwa hidup ini terlalu rumit?” tanya Damian dengan suara lirih.

Alyssa mengangguk. “Ya, aku sering merasa begitu. Terkadang, aku merasa hidup ini penuh dengan kebencian dan penderitaan.”

Damian menghela napas panjang. “Aku tahu perasaan itu. Aku telah melakukan banyak hal yang mungkin tidak bisa dimaafkan. Tapi, aku selalu berharap bisa menemukan kedamaian.”

Alyssa merasakan ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Dia mulai melihat Damian bukan sebagai musuh, tetapi sebagai manusia yang juga mengalami kesakitan dan penderitaan. Namun, dia tahu bahwa dia tidak bisa begitu saja melupakan tujuan utamanya.

“Damian, apakah kamu pernah merasa menyesal atas apa yang telah kamu lakukan?” tanya Alyssa dengan suara bergetar.

Damian terdiam sejenak, lalu menatap Alyssa dengan tatapan serius. “Ya, aku menyesal. Aku menyesal telah menghancurkan banyak hal demi ambisiku. Tapi, aku tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.”

Alyssa merasa hatinya berdebar. Ini adalah momen yang dia tunggu-tunggu. “Damian, aku ingin kamu tahu sesuatu. Perusahaan keluargaku adalah salah satu yang kamu hancurkan.”

Damian terkejut. “Apa? Alyssa, aku tidak tahu…”

Alyssa menatap Damian dengan mata berkaca-kaca. “Ibuku meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh stres. Ayahku… dia bunuh diri karena tidak bisa menanggung beban itu. Aku kehilangan segalanya karena kamu.”

Damian terlihat terpukul oleh kata-kata Alyssa. “Alyssa, aku… aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sangat menyesal.”

Alyssa merasakan campuran antara kebencian dan empati dalam dirinya. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi perasaan ini. “Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu, Damian. Tapi, aku ingin kamu tahu bahwa aku datang ke sini untuk membalas dendam.”

Damian terdiam, wajahnya penuh dengan rasa bersalah. “Alyssa, aku tahu aku tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi, aku berjanji akan melakukan apa pun untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanku.”

Alyssa merasakan air mata mengalir di pipinya. Dia tidak tahu harus bagaimana melanjutkan hidupnya dengan semua perasaan ini. Namun, satu hal yang dia tahu pasti, perjalanannya dengan Damian baru saja dimulai.

—-

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Atasanku Menggodaku
7.8
Menghadapi atasan genit adalah tantangan besar, namun situasi menjadi kacau dalam novel Atasanku Menggodaku. Saat rapat berlangsung, sang bos miliarder tidak sengaja menguasai sebuah remote yang dapat mengontrol hasrat sang karyawan. Bukannya berhati-hati, ia justru menyetel alat tersebut ke tingkat maksimum. Tindakan fatal ini seketika memicu sensasi luar biasa yang membuat sang karyawan benar-benar tidak bisa menahan diri lagi di hadapan atasannya.
Sampul Novel Baby Daddy
8.2
Bastian Cokro, CEO F&B berusia 30 tahun, diterpa isu miring mengenai kemandulan yang membuatnya tetap melajang. Sementara itu, Eva Sania adalah penyiar berita sukses yang menikmati hidup bebas bersama pasangan FWB-nya. Namun, dunianya jungkir balik saat sang ibu memberikan perintah tak terduga. Alih-alih mendesak Eva untuk menikah, ibunya justru meminta Eva segera memiliki anak tanpa perlu mencari suami. Kini, pencarian pria sehat untuk membuahinya pun dimulai.
Sampul Novel CEO 1 Miliar Won
9.5
Kim Liu, pengacara muda yang selalu berbakti, terpaksa menyetujui perjodohan demi ibunya yang sakit parah. Ia menikah dengan Jung Jisung, CEO TJ Group yang kaya namun trauma akibat penculikan masa kecil. Meski awalnya dingin dan penuh rumor, Jisung perlahan luluh oleh ketulusan Liu. Namun, pernikahan rahasia mereka diguncang oleh kebencian ibu mertua, gangguan mantan kekasih Liu, serta intrik Song Minseo yang ambisius. Bisakah cinta tumbuh di tengah rahasia dan tekanan harta?
Sampul Novel Hari Pernikahanku Menjadi Kematian Ibuku
8.5
Hari pernikahan impian berubah menjadi tragedi kelam dalam novel romantis miliarder Hari Pernikahanku Menjadi Kematian Ibuku. Di saat sang ibu mengembuskan napas terakhir akibat syok karena Ezra mengganti pengantinnya dengan Naila, Ezra justru menuntut pernikahan tetap berjalan. Menolak perintah kejam itu, sang protagonis memilih pergi membawa jasad ibunya. Di tengah duka, ia harus menyaksikan kemesraan Ezra dan Naila yang memamerkan hubungan mereka tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Sampul Novel My Lovely Angel
8.1
Renata terpaksa menikahi Dafa, seorang duda kaya dengan dua anak, demi mengakhiri ejekan perawan tua dan paksaan kencan buta dari ibunya. Di sisi lain, CEO Dafa Hutama hanya menyetujui pernikahan ini karena desakan anak-anaknya yang menginginkan ibu baru. Meski Renata hadir, Dafa masih terjebak kenangan mendiang istrinya, Arin. Akankah pernikahan tanpa cinta ini bertahan saat hati sang suami masih terkunci rapat untuk wanita masa lalunya?
Sampul Novel Samuel Sang Pewaris
8.9
Samuel Lino Galaxi memilih kabur dari rumah dan menyamar sebagai Sam, seorang petugas kebersihan, demi menghindari tekanan keluarga. Hidupnya penuh penderitaan karena terus dihina oleh kekasihnya yang berselingkuh. Namun, saat sang ayah datang menjemput, Sam memutuskan berhenti bersembunyi. Ia bangkit mengambil takhta sebagai pewaris tunggal Galaxi Group yang sangat disegani, siap membalas dendam kepada semua orang yang dulu pernah merendahkan martabatnya.