
Dendam Dalam Ikatan Suami Istri
Bab 3
Zara menghabiskan hari-harinya dalam kebingungan dan kebisuan. Setiap kali ia mencoba mencari celah untuk memahami suaminya, Rayyan Arkan Devantara, pria itu selalu menutup semua kemungkinan dengan tatapan dingin dan sikap penuh dominasi. Namun, satu hal semakin jelas-Rayyan menyimpan sesuatu. Ada misteri yang mengikat pernikahan mereka, sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kesepakatan bisnis keluarganya.
Malam itu, Zara memutuskan untuk tidak tinggal diam. Ia tahu, jika terus menjadi boneka dalam permainan ini, ia akan kehilangan dirinya sepenuhnya. Dengan napas tertahan, ia melangkah keluar dari kamarnya, menyusuri koridor rumah megah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Cahaya lampu redup menerangi dinding marmer yang dingin, menciptakan bayangan panjang yang semakin menambah suasana menegangkan.
Ketika ia hampir mencapai ruang kerja Rayyan, suara rendah yang tajam membuat langkahnya terhenti.
"Aku tidak peduli bagaimana caranya. Aku ingin semuanya tetap terkendali."
Zara menahan napas. Suara itu jelas milik Rayyan, namun nada bicaranya lebih gelap dari biasanya, penuh perintah dan ancaman tersembunyi.
"Tidak ada yang boleh tahu, terutama dia."
Jantung Zara berdetak lebih cepat. 'Dia?' Apakah yang dimaksud adalah dirinya?
Tanpa berpikir panjang, Zara berjongkok di dekat pintu, mencoba menangkap lebih banyak percakapan. Namun, sebelum ia sempat mendengar kelanjutannya, suara sepatu yang mendekat memaksanya mundur ke bayangan gelap di dekat pilar.
Rayyan melangkah keluar dari ruangannya dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya. Mata tajamnya menelusuri koridor, seolah ia merasakan keberadaan seseorang yang menguping. Zara berusaha menahan napasnya, tubuhnya menempel erat pada dinding marmer yang dingin.
Untuk sesaat, waktu terasa berhenti. Namun, Rayyan akhirnya melanjutkan langkahnya, meninggalkan koridor dengan tatapan penuh rahasia.
Zara menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang sedang terjadi-sesuatu yang tidak ingin Rayyan ia ketahui.
Keesokan harinya, Zara memutuskan untuk menguji batas suaminya. Ia masuk ke ruang makan lebih awal dari biasanya, tempat Rayyan biasanya menikmati sarapannya sendiri. Namun, saat ia tiba, pria itu sudah ada di sana, duduk dengan tenang sambil membaca koran.
"Pagi," ujar Zara dengan suara datar.
Rayyan mengangkat tatapannya sekilas, kemudian kembali fokus pada korannya. "Pagi."
Zara mengambil tempat duduk di seberangnya, menatap pria itu lekat-lekat. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?"
Rayyan menurunkan korannya perlahan. Tatapannya berubah tajam, seolah sedang menilai seberapa jauh Zara berani masuk ke dalam wilayahnya.
"Apa maksudmu?" tanyanya, nada suaranya tetap dingin.
Zara menggenggam sendoknya erat. "Aku mendengar percakapanmu semalam," ucapnya pelan tapi tegas. "Siapa yang tidak boleh tahu? Apa yang sedang kau rencanakan?"
Untuk pertama kalinya, wajah Rayyan berubah ekspresi. Ia menatap Zara dengan sorot mata berbahaya, seolah perempuan itu baru saja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.
"Kau terlalu banyak bertanya, Zara," ujar Rayyan, suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan yang menekan. "Dan itu bukan kebiasaan yang baik untuk istri seorang Devantara."
Zara menegakkan punggungnya, menolak untuk menunjukkan rasa takut. "Jika kau tidak ingin aku bertanya, maka jangan buat aku penasaran."
Rayyan menyeringai tipis, senyum penuh makna yang membuat Zara merasakan ketegangan di udara semakin meningkat. Ia bersandar di kursinya, seolah menikmati permainan ini.
"Kau ingin tahu rahasia, Zara?" Rayyan mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Baik. Tapi ingat, setiap rahasia yang kau ketahui, ada harga yang harus kau bayar."
Zara menelan ludah, namun ia tidak mundur.
"Aku siap membayarnya."
Rayyan mengangkat alisnya, jelas tidak menduga jawaban itu. Sejenak, keheningan menggantung di antara mereka sebelum Rayyan akhirnya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi samar.
"Kita lihat saja nanti," gumamnya sebelum kembali membaca korannya, seolah percakapan mereka barusan tidak pernah terjadi.
Tapi Zara tahu lebih baik.
Ini bukanlah akhir. Ini baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam dan berbahaya. Sesuatu yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Anda Mungkin Juga Suka





