Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DENDAM CINTA SANG MAFIA

DENDAM CINTA SANG MAFIA

Kehidupan seorang wanita biasa berubah drastis saat ia masuk ke dunia mafia yang kelam. Terpikat oleh pesona bos kriminal yang sangat berbahaya, ia terjebak dalam pusaran gairah mematikan dan aksi balas dendam yang brutal. Di tengah konflik berdarah ini, ia dipaksa menghadapi dilema batin yang hebat. Kini, ia harus memilih antara mengikuti kata hatinya untuk terus mencintai sang mafia atau tetap memegang teguh prinsip moralitasnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari-hari setelah pertemuannya dengan Leon, Naya merasa hidupnya mulai berubah. Pikiran tentang Leon terus mengganggu dirinya. Pria itu muncul di benaknya pada saat-saat tak terduga-di tempat kerja, saat ia pulang, bahkan dalam mimpinya. Semakin ia mencoba melupakan, semakin sulit baginya untuk tidak memikirkan Leon.

Ada sesuatu tentang dirinya yang tak bisa diabaikan. Sikapnya yang dingin, cara bicaranya yang tenang namun penuh misteri, dan tatapan mata yang seolah bisa menembus dirinya membuat Naya tergila-gila. Tapi ia juga tahu, perasaan itu tidak sepenuhnya normal. Ada peringatan halus di dalam dirinya, suara kecil yang berbisik bahwa pria ini bukanlah orang yang aman untuk didekati.

Beberapa hari kemudian, Leon menghubunginya. "Kita bertemu di kafe dekat hotel pukul 7. Aku harap kau datang." Pesannya singkat, tapi penuh keyakinan. Naya menatap layar ponselnya sambil ragu, tetapi tanpa disadari, tangannya sudah mengetik balasan: "Baik."

Malam itu, Naya tiba di kafe seperti yang dijanjikan. Ia mengenakan gaun sederhana namun anggun, sedikit lebih rapi daripada biasanya. Di sudut kafe, Leon sudah duduk dengan tenang, mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya. Wajahnya terlihat sama memikat seperti malam pertama mereka bertemu, namun ada sesuatu yang lebih dalam, lebih kelam di balik sorot matanya.

"Naya," sapanya, tatapan matanya langsung mengunci pada dirinya. "Aku senang kau datang."

Naya tersenyum tipis, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang. "Aku penasaran kenapa kamu mengundangku."

"Karena aku ingin mengenalmu lebih baik," jawab Leon tanpa basa-basi, "dan mungkin juga karena aku ingin kau mengenalku."

"Aku sudah tahu sedikit tentangmu," ucap Naya, mencoba membuka pembicaraan dengan ringan. "Tapi aku merasa masih banyak yang kamu sembunyikan."

Leon mengangguk pelan. "Benar. Ada banyak hal tentangku yang mungkin lebih baik tidak kau ketahui. Tapi aku tak ingin berbohong padamu, Naya. Dunia tempatku berasal bukanlah tempat yang mudah atau indah."

Naya merasakan hawa dingin menyelimuti dirinya. "Apa maksudmu?"

Leon diam sejenak, memandang Naya dengan tatapan tajam. "Aku menjalankan bisnis yang mungkin tidak kau setujui. Ada sisi gelap dalam hidupku, Naya. Sesuatu yang tidak bisa kubagikan begitu saja. Dan jika kau terlibat denganku, kau juga akan terseret ke dalamnya."

Naya menggigit bibirnya, mencoba mencerna kata-kata Leon. Di satu sisi, ketakutan mulai merayap di benaknya. Leon tidak pernah memberikan banyak detail, tapi dari caranya berbicara, jelas bahwa dia bukan sekadar pengusaha biasa.

"Kau... mafia?" Naya akhirnya bertanya, suaranya hampir tak terdengar.

Leon menghela napas, senyumnya tipis namun penuh arti. "Sebutan itu sudah sering kudengar, tapi ya, kau bisa menyebutnya begitu."

Naya terdiam, hatinya bergetar mendengar pengakuan itu. Sebagian dari dirinya ingin segera berdiri dan pergi. Tapi entah mengapa, ia tetap duduk di sana. Mungkin karena pesona Leon, atau mungkin karena rasa penasaran yang membara di dalam dirinya.

"Kenapa kau memberitahuku semua ini?" tanyanya dengan suara bergetar. "Kau bisa saja menyembunyikannya."

"Karena aku ingin jujur padamu, Naya. Aku ingin kau tahu risiko yang kau hadapi jika terus bersamaku. Aku tidak bisa menjanjikanmu kehidupan yang normal atau aman. Dunia di sekitarku penuh bahaya, pengkhianatan, dan kekerasan."

Naya memandang Leon dalam-dalam. Mata pria itu penuh dengan kesungguhan, seolah-olah ingin melindunginya sekaligus menantangnya untuk menerima kenyataan. "Lalu, kenapa aku?"

"Karena kau berbeda. Kau membuatku merasa... manusiawi. Dalam dunia gelapku, kau seperti cahaya," jawab Leon, suaranya rendah namun penuh emosi yang dalam. "Tapi aku juga tahu bahwa dengan mendekat padamu, aku bisa membahayakanmu."

Kata-kata Leon membuat Naya semakin bingung. Hatinya terombang-ambing antara rasa takut dan keinginan untuk tetap dekat dengan pria ini. Pesonanya begitu kuat, bahkan ketika ia tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil bersama Leon bisa membawanya ke dalam bahaya.

"Aku tidak tahu apakah aku bisa menjalani hidup seperti itu," Naya berkata jujur, matanya berkabut dengan rasa ragu.

Leon menatapnya dengan lembut, namun ada kegelapan di matanya. "Aku tidak akan memaksamu. Kau bebas memilih. Tapi jika kau memilih untuk tetap bersamaku, kau harus siap menghadapi semua itu."

Naya terdiam. Ia tahu Leon tidak mengada-ada. Dunia mafia adalah dunia yang penuh bahaya, dan cinta kepada pria seperti Leon akan mengorbankan banyak hal. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja.

"Aku belum tahu," kata Naya akhirnya, "Tapi aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, Leon. Aku ingin mengerti siapa dirimu."

Leon tersenyum samar, seolah sudah menduga jawabannya. "Kau akan mengetahuinya, Naya. Tapi semakin kau mengenal diriku, semakin besar risiko yang kau ambil."

Malam itu, Naya meninggalkan kafe dengan hati yang semakin bimbang. Di satu sisi, Leon telah memperingatkannya dengan jujur tentang bahaya yang mengintai. Namun di sisi lain, pesona Leon terlalu kuat untuk diabaikan. Dan meskipun ia tahu ada sisi gelap dalam diri Leon yang bisa menghancurkannya, Naya tak bisa mengelak dari daya tarik pria itu.

Tanpa sadar, ia sudah melangkah lebih jauh ke dalam dunia Leon-sebuah dunia yang penuh dengan pesona berbahaya.

Malam semakin larut ketika Naya melangkah keluar dari kafe. Hawa malam yang sejuk seharusnya menenangkan pikirannya, tetapi justru membuatnya semakin resah. Percakapan dengan Leon berputar-putar di benaknya. Ia tahu, pesona Leon seperti pisau bermata dua-menggoda, tapi bisa melukai dengan dalam.

Tiba-tiba, suara mobil mendekat, membuat Naya terhenti. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.

Kaca jendela perlahan turun, dan Leon menatapnya dari dalam mobil dengan ekspresi yang tenang.

"Naya, biar kuantar pulang," katanya tanpa memberikan ruang untuk penolakan.

Naya ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. Meskipun ada peringatan di dalam benaknya, ia tak bisa menolak tawaran itu. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil, suasana terasa lebih tegang. Naya duduk diam, sementara Leon mengemudi dengan tenang. Mereka tak berbicara selama beberapa menit, hanya terdengar suara mesin mobil dan gemericik hujan yang tiba-tiba turun.

Setelah beberapa saat, Leon memecah kesunyian. "Apa yang kau pikirkan?"

Naya terdiam sesaat, menatap ke luar jendela. "Aku masih memikirkan apa yang kau katakan tadi. Tentang dunia gelapmu."

Leon mengangguk, matanya tetap fokus pada jalan. "Aku tak akan memaksamu untuk menerima semuanya. Tapi kau perlu tahu bahwa dunia ini bukan tempat bagi orang-orang yang lemah."

Naya menoleh, menatap Leon dengan tajam. "Kau pikir aku lemah?"

Leon tersenyum tipis, tapi ada keseriusan dalam matanya. "Aku tidak pernah meremehkanmu, Naya. Justru sebaliknya. Kau kuat, lebih dari yang kau sadari. Tapi kuat saja tidak cukup untuk bertahan dalam dunia yang kujalani."

"Kau mengatakannya seperti aku harus memilih untuk bertahan hidup," Naya menjawab dengan nada tak percaya.

"Karena itulah kenyataannya," balas Leon cepat. "Dunia mafia bukan sekadar soal kekayaan dan kekuasaan. Ini soal bertahan. Dan kadang, kau harus melakukan hal-hal yang tak terbayangkan hanya untuk tetap hidup."

Naya menggigit bibirnya, merasakan ketegangan yang semakin merayap ke dalam dirinya. Kata-kata Leon penuh dengan kesan ancaman, seolah-olah ia telah memberikan peringatan terakhir sebelum Naya benar-benar tenggelam ke dalam dunia yang ia sendiri tak bisa pahami.

"Aku mengerti kalau kau ingin melindungiku, tapi..." Naya menghela napas dalam-dalam, "Kenapa aku? Kenapa kau ingin aku terlibat dalam duniamu?"

Leon menatapnya sejenak sebelum kembali fokus ke jalan. "Aku tidak ingin kau terlibat, tapi aku tidak bisa menahan diri. Kau membuatku merasakan sesuatu yang sudah lama hilang. Sesuatu yang nyata."

Naya terdiam mendengar pengakuan itu. Ada kejujuran dalam suara Leon yang sulit dijelaskan. Di balik kedinginan dan pesona gelapnya, ada sisi manusiawi yang selama ini tersembunyi.

"Apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya, Leon?" tanya Naya tiba-tiba, suaranya nyaris berbisik.

Leon tampak terkejut dengan pertanyaan itu. Bibirnya tersenyum, tapi tatapan matanya menjadi lebih suram.

"Cinta... bukan hal yang biasa dalam hidupku, Naya. Aku tidak bisa mengizinkan diri untuk merasakannya. Terlalu banyak risiko. Terlalu banyak hal yang bisa hilang."

"Tapi sekarang?" desak Naya, matanya mencari jawaban di wajah Leon.

Leon terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab. "Sekarang, kau membuatku meragukan semua itu."

Kata-kata itu membuat Naya merasa aneh. Seolah-olah dia adalah kekuatan yang mampu mengubah sesuatu yang selama ini tak tersentuh oleh siapa pun. Tapi bersamaan dengan itu, ada perasaan takut. Jika bahkan Leon, dengan semua kekuatannya, mulai merasa goyah, apa yang akan terjadi pada mereka?

"Kau sadar ini semua tidak masuk akal, kan?" Naya berkata pelan, hampir tertawa sarkastis pada dirinya sendiri. "Aku seharusnya lari sejauh mungkin darimu. Kau adalah bahaya."

Leon tertawa kecil, tapi tawanya terdengar getir. "Ya, kau benar. Aku bahaya. Tapi kau di sini, di dalam mobil ini bersamaku."

"Kau menarikku seperti gravitasi," Naya mengaku tanpa bisa menahan diri lagi. "Dan itu yang paling menakutkan. Aku tahu seharusnya aku menjauh, tapi aku tidak bisa."

Leon menoleh padanya, kali ini tatapannya lebih lembut. "Aku juga tidak bisa menjauh darimu, Naya. Itu sebabnya kita di sini."

Mereka terdiam, membiarkan kata-kata itu menggantung di udara. Hujan semakin deras di luar, tetapi di dalam mobil, suasana terasa begitu intim, seolah-olah hanya ada mereka berdua di dunia ini.

Namun, di balik keheningan itu, Naya tahu bahwa apa yang baru saja mereka akui satu sama lain adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap dan rumit. Cinta ini tidak akan sederhana, dan setiap langkah ke depan hanya akan membawa mereka lebih dalam ke dalam bahaya yang mengintai.

Saat mobil berhenti di depan apartemen Naya, Leon menatapnya sekali lagi. "Kau masih punya waktu untuk berpikir, Naya. Tapi begitu kau memutuskan, tidak ada jalan kembali."

Naya menatap Leon dalam-dalam, merasakan ketegangan yang luar biasa di dadanya. Ia tahu Leon tidak bercanda. Pilihannya malam ini akan menentukan segalanya.

"Aku butuh waktu," ucap Naya akhirnya, suaranya hampir bergetar.

Leon mengangguk pelan, kemudian meraih tangannya dengan lembut. "Ambil waktu sebanyak yang kau butuhkan. Tapi ingat, aku tidak akan menunggu selamanya."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Leon melepaskan tangannya dan Naya keluar dari mobil. Saat ia melangkah ke pintu apartemennya, hujan yang turun membasahi wajahnya, tapi tidak cukup untuk meredakan badai di dalam hatinya.

Di belakangnya, mobil Leon melaju pergi, meninggalkan jejak ketidakpastian yang semakin dalam di dalam diri Naya. Pesona berbahaya Leon telah memenjarakan hatinya, dan kini, ia harus memilih apakah akan mengikuti perasaannya atau berlari dari bahaya yang semakin mendekat.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DANCING WITH DESTINY
8.2
Jane Miles adalah dokter andal yang sangat mencintai kehidupan damainya. Namun, kecelakaan tragis di masa lalu membuatnya menderita Amnesia Retrograde, hingga seluruh ingatannya terkunci rapat. Keadaan berubah total saat Rafael Klein muncul dan memaksa masuk ke dunianya. Pria itu mengacaukan segalanya demi satu tujuan: menuntut Jane menerima takdir sebagai pewaris tunggal klan Klein yang berkuasa. Kisah romansa dewasa ini penuh dengan konflik dan rahasia masa lalu.
Sampul Novel Dendam Sang Pewaris Genius
9.7
Yuvina kembali ke keluarganya sebagai pewaris sah yang terabaikan. Meski telah menyerahkan identitas dan karyanya demi saudari angkatnya, ia justru dibalas dengan pengabaian. Kecewa, Yuvina memutus ikatan emosional dan bangkit sebagai sosok jenius. Kini ia menguasai bela diri, medis, desain, serta delapan bahasa. Dengan kekuatan barunya, ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun di keluarga itu meremehkannya lagi. Dendam sang pewaris kini dimulai.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Kamu Milikku (Hasrat Gila bersamamu)
9.4
Pesta ulang tahun Thania berubah menjadi petaka saat ia diculik dan menyaksikan kedua orang tuanya dihabisi. Kini, ia terperangkap sebagai tawanan pemuas nafsu seorang bos mafia yang sangat sadis. Di tengah penderitaannya, Thania harus memutar otak untuk menaklukkan hati pria kejam tersebut. Akankah ia berhasil memikat sang mafia agar membantunya mengungkap konspirasi besar di balik kehancuran keluarganya, atau justru terjebak selamanya?
Sampul Novel Membongkar Kedok Tunangan Mafiakuku
8.0
Tunanganku, seorang bos mafia, menyiksaku dan mencuri desain kasinoku demi jabatan. Ia berencana menikahiku hanya untuk membungkamku lewat sumpah keluarga, sementara selingkuhannya, Olivia, mengambil alih karyaku. Lebih kejam lagi, mereka sengaja menggugurkan bayiku. Setelah dipermalukan di depan umum, cintaku berubah jadi dendam. Aku mengirim bukti kejahatannya sebagai kado pernikahan, lalu kabur ke Singapura untuk bersekutu dengan musuh terbesarnya. Perang baru saja dimulai.
Sampul Novel Merebut Istri Yang Kau Sakiti
8.2
Naila, gadis salihah berusia 21 tahun, terjebak dalam pernikahan pahit dengan Daffa, anggota geng motor berperilaku buruk. Meski menderita akibat sikap kasar suaminya, Naila memilih bertahan dan menganggapnya ujian Tuhan. Ketabahan ini menarik simpati Raihan, teman kuliahnya yang bertekad menyelamatkan Naila dari hubungan beracun tersebut. Namun, apakah bantuan Raihan akan membebaskan Naila atau justru memicu masalah baru yang lebih berbahaya bagi mereka?