
Demi Selingkuhan, Kakak Rela Mengorbankan Kami
Bab 4
Semoga memikirkan semua kenangan di masa lalu, Willy mau selamatkan ibuku.
Kepala pelayan yang berdiri di samping, orang yang sudah melihatku tumbuh besar sejak kecil, akhirnya tak tega juga.
“Pak Willy, mohon maaf, tapi sebaiknya kamu bawa orang untuk periksa ke rumah mereka. Nona Kiana nggak akan berbohong soal hal seperti ini.”
Willy terlihat ragu sejenak. Aku langsung mengambil kesempatan itu dan bersujud.
Membenturkan dahi ke lantai yang dingin dan terdengar bunyi gedebuk.
“Kumohon, kumohon selamatkan ibuku!”
Akhirnya, dengan nada yang masih dingin, Willy berkata,
“Aku bawa pasukan dan lihat ke rumahmu.”
“Tapi, Kiana, kalau ternyata semua ini hanya sandiwara yang kamu rancang sendiri, aku pastikan kamu akan menanggung akibatnya.”
Aku langsung mendongak, cahaya harapan menyala di mataku.
Tak peduli bagaimana pun, yang penting dia mau pergi!
Dia memanggil beberapa pengawal, tapi tepat saat itu, ponselnya berdering.
Itu panggilan dari kakak.
Willy melirik ke arahku, lalu menekan tombol pengeras suara.
Suara kakakku terdengar santai dan dingin dari balik telepon,
“Kiana nggak mencarimu, ‘kan? Jangan percaya omongannya. Barusan ada yang pakai ponsel ibu meneleponku, bahkan mengancamku mau membunuhnya, memang konyol sekali.”
Seluruh tubuhku seakan membeku, darah di nadiku terasa berhenti mengalir.
Aku tak menyangka, kakak yang dulu bilang akan melindungiku seumur hidup bisa begitu dingin dan kejam,
Hanya demi seorang wanita, dia tega menutup mata terhadap kondisi ibu dan mengabaikan semua permohonanku.
Amarah dan ketakutan bercampur jadi satu, aku pun berteriak ke arah ponsel,
“Jack! Kamu sudah gila?! Harus tunggu kami mati dulu baru kamu mau percaya?! Padahal kamu pernah lihat sendiri betapa parahnya kondisiku dan ibu waktu itu!”
Dia malah tertawa dingin, “Itu semua hanya trikmu untuk merebut kekuasaan!”
“Aku sudah tanya pada Bibi Siti di rumah, katanya semuanya aman-aman saja.”
“Kamu itu manusia licik dan kejam, aku nggak akan tertipu lagi kali ini.”
“Kalau sampai terjadi sesuatu pada ibu, itu murni salahmu sendiri!”
Aku benar-benar terpuruk.
Padahal Bibi Siti sudah cuti pulang kampung seminggu yang lalu, mana mungkin dia tahu keadaan di rumah?!
Baru saja aku mau membantah, tapi langsung terdengar panggilan terputus ‘tut tut’ yang tersisa.
Ekspresi Willy pun berubah menjadi muram, dia menatapku tajam dan berkata,
“Jadi kamu benar-benar bohong?! Cepat! Patahkan kakinya, biar dia tahu rasa!”
Beberapa pengawal mendekat, siap menahanku.
Aku menahan rasa sakit di kaki, menggertakkan gigi dan berteriak, “Kalian berani?! Kalau ayahku pulang nanti, nggak akan kulepaskan kalian semua!”
Para pengawal saling melirik dan tampak ragu.
Willy malah tertawa dingin, lalu mengambil tongkat baseball di dekatnya.
Dia melangkah ke arahku, berdiri tegap dengan tatapan sinis dan penuh ejekan.
“Mereka nggak berani, tapi aku berani.”
Aku menatapnya dengan putus asa, semua kelembutan yang dulu pernah dia berikan, kini terasa seperti mimpi yang palsu.
Aku tak percaya dia benar-benar akan menyakitiku.
Aku ketakutan dan mundur perlahan, tapi dia malah menendangku hingga jatuh ke lantai.
Perutku terasa nyeri hebat, bahkan belum sempat menarik napas, tongkat itu sudah menghantam kakiku yang sudah terluka.
“Aaaaa!”
Aku menjerit keras, tubuhku gemetar hebat. Rasa sakitnya luar biasa hingga nyaris membuatku pingsan.
Namun, Willy hanya berdiri di sana dengan tatapan dingin.
“Ini akibatmu sudah membohongiku.”
Tiba-tiba, ponselku berdering.
Willy memungutnya, bibirnya menyunggingkan senyuman menyindir.
“Coba kita lihat, siapa lagi yang menelepon kali ini.”
“Halo, ini dengan Nona Kiana yang melapor polisi?”
“Kami sudah sampai di rumahmu, para pelaku kabur saat terjadi perlawanan. Kondisi ibumu sangat buruk, harus segera dibawa ke rumah sakit.”
Anda Mungkin Juga Suka





