
Demi Selingkuhan, Kakak Rela Mengorbankan Kami
Bab 2
“Dan satu lagi, bilang ke Kiana hentikan semua trik murahan itu. Aku nggak akan tertipu lagi.”
Mendengar ucapan itu, hatiku langsung terasa membeku.
Ternyata kakakku juga bereinkarnasi?! Tapi kenapa dia bisa mengira ini semua hanya kebohonganku?
Padahal di kehidupan sebelumnya, dia sendiri yang menyaksikan bagaimana para penjahat itu menyiksa aku dan ibu.
Kenapa di kehidupan ini dia jadi sedingin ini?
Hanya karena wanita bernama Mia itu bilang,‘Kiana sengaja’?
Langkah kaki seseorang terdengar semakin berat, mendekat ke arah pintu.
Tak lama kemudian, pintu digedor semakin keras dan suara gesekan lemari yang diseret di lantai terdengar nyaring menusuk telinga.
Kami hanya bisa terpaku melihat pertahanan lemari itu semakin melemah, hingga, “Plak!”
Salah satu sudut lemari pecah dihantam keras, menimbulkan celah besar yang langsung terbuka di depan mataku dan ibu.
Suara tawa rendah dan serah terdengar dari luar, “Ternyata kalian sembunyi di sini.”
Aku berdiri di depan ibu, perlahan mundur ke arah ranjang.
Menatap celah di pintu yang mulai terbuka dan menyodorkan cahaya, perasaan tak berdaya karena tangan kosong membuat keningku basah oleh keringat dingin.
Lalu, pintu pun ditendang terbuka. Suara gesekan kaki lemari yang menyeret lantai menjerit seperti rel kereta api yang tergesek keras.
Sepasang sepatu bot kotor melangkah masuk.
“Kalian pikir bisa selamat hanya dengan menahan pintu? Aku bukan orang yang sabar bermain petak umpet.”
Pria itu menyeringai sinis, tatapannya menyapu sekeliling ruangan.
Tubuhku membeku di tempat, menatap pisau mengilap di tangannya. Pantulan cahaya menyinari jari-jarinya yang kotor dan hitam.
Tatapannya berhenti padaku, penuh nafsu dan menjijikkan, seperti lidah ular yang menjilat kulit, “
“Lumayan juga, nggak kusangka ada nona secantik ini di sini.”
Ibu berteriak sekuat tenaga, “Jangan sentuh dia!”
Aku menggertakkan gigi, menahan rasa putus asa yang menggeladak di dada, lalu menoleh ke ibu dan berbisik pelan,
“Bu, apapun yang terjadi nanti, kamu jangan ikut campur.”
“Ibu mundur, ada trampolin di luar jendela. Loncat ke bawah bisa mengurangi benturan.”
“Lalu ibu lari ke rumah sebelah, rumah Keluarga Phoin. Cari Willy dan suruh dia bawa orang untuk selamatkan aku.”
Pria itu sudah semakin dekat sambil menggoyangkan pisaunya, waktu kami hampir habis.
Lagipula, di kehidupan sebelumnya aku juga sudah pernah disiksa. Di kehidupan ini, bagaimanapun caranya aku harus melindungi ibu.
“Kiana, ibu nggak mungkin tinggalkan kamu!”
Aku mencengkeram pergelangan tangan ibu sekuat tenaga.
“Tolong dengarkan aku, bu. Ibu harus loncat dan lari secepat mungkin ke rumah Keluarga Pholin. Selama ibu selamat, semuanya masih ada harapan.”
Saat itu juga, pria itu mendorong lemari ke samping dan maju mendekat ke arah kami.
“Bu, cepat loncat!” bisikku panik.
Namun, ibu malah melesat ke depan dan menyerbu pria itu.
Dia memeluk lengannya erat-erat dan berusaha menyeretnya mundur.
“Kiana! Cepat loncat! Cepat pergi! Ibu nggak akan biarkan mereka menangkapmu!”
Suaranya tersendat oleh isak tangis, tapi terdengar penuh ketegasan.
“Ibu!”
Aku menjerit ketakutan.
Dan di depan mataku sendiri, pria itu mengayunkan tangannya dan menusukkan pisau itu tepat ke punggung ibu!
Seketika, cairan merah menyala seolah langsung menyerbu masuk ke dalam pikiranku, menghancurkan semua logika dan ketenanganku.
Ibu terengah-engah menahan sakit, tapi tetap memeluk pinggang pria itu erat-erat, sambil menangis dan berteriak,
“Cepat lompat! Kiana! Cepat! Jangan ragu-ragu lagi!”
Seluruh darah dalam tubuhku rasanya membeku, tapi naluri untuk bertahan hidup terasa seperti reaksi otomatis.
Melawan secara langsung jelas bukan pilihan tepat. Aku berlari ke jendela dan tanpa ragu melompat ke bawah.
Saat mendarat, trampolin memantulkan tubuhku kuat-kuat dan rasa sakit yang menusuk tiba-tiba menjalar dari pergelangan kaki hingga ke betis.
Anda Mungkin Juga Suka





