
Delapan Tahun Menjadi Istri Rahasia
Bab 2
Suasana di rumah mewah David dan Clara telah berubah menjadi kuburan es, bahkan lebih dingin dari sekadar dingin. Setiap sudut, setiap celah, seolah menyimpan cerita bisu tentang kebahagiaan yang terenggut dan mimpi yang hancur. Clara bergerak di dalamnya seperti bayangan, tanpa suara, tanpa jejak emosi yang terlihat. Dulu, rumah ini adalah sarang kehangatan, tempat tawa dan bisikan mesra bergaung. Sekarang, yang ada hanyalah keheningan menusuk, sesekali dipecahkan oleh suara piring beradu di dapur atau derit pintu kamar.
Sejak ia kembali dari rumah sakit, Clara telah membangun dinding tak kasat mata di sekelilingnya. Dinding itu terbuat dari rasa sakit, kekecewaan, dan kebencian yang mendalam. David mencoba menembusnya, setiap hari, dengan usaha yang terasa semakin sia-sia. Ia membawakan sarapan ke tempat tidur, meskipun Clara hanya menyentuhnya sedikit. Ia mencoba memulai percakapan di meja makan, yang selalu berakhir dengan keheningan canggung atau jawaban singkat yang dingin dari Clara.
"Clara, bagaimana tidurmu semalam?" David bertanya suatu pagi, saat mereka duduk di meja makan yang panjang dan dingin. Aroma kopi yang baru diseduh tidak mampu menghangatkan suasana.
Clara tidak mendongak dari cangkir tehnya. "Baik."
"Aku... aku sudah mengatur jadwal untuk kita ke konselor pernikahan. Mungkin kita bisa bicara dengan seseorang, Clara. Mungkin itu bisa membantu kita melewati ini." Suara David penuh harapan, atau lebih tepatnya, keputusasaan.
Clara meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati, pandangannya tajam menembus David. "Untuk apa, David? Untuk membicarakan bagaimana kau menghancurkan hidupku? Untuk membicarakan bagaimana kau membunuh salah satu anakku? Kau pikir konselor bisa mengembalikan itu semua?" Nada suaranya datar, namun ada kekuatan yang mengerikan di baliknya, kekuatan yang membuat David merinding.
David tersentak, wajahnya memucat. Kata-kata "membunuh anakku" selalu menghantamnya seperti palu godam, menghidupkan kembali adegan mengerikan malam itu. Ia memalingkan wajah, tidak sanggup menatap mata Clara yang penuh tuduhan. "Aku... aku tidak bermaksud, Clara. Itu kecelakaan. Aku panik, aku marah..."
"Panik? Marah?" Clara tertawa kecil, tawa yang tak mengandung sedikit pun humor, justru terdengar seperti geraman. "Orang yang panik tidak akan mencekik istrinya sampai pingsan. Orang yang marah tidak akan membuat istrinya kehilangan nyawa bayi tak berdosa. Kau adalah monster, David. Dan aku tidak akan pernah melupakannya."
Setelah itu, Clara bangkit dari meja tanpa menyelesaikan sarapannya, meninggalkan David sendirian dalam keheningan yang menyesakkan. David menatap punggung Clara yang menjauh, rasa bersalah menggerogotinya semakin dalam. Ia tahu Clara benar. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk perilakunya malam itu. Ia telah kehilangan kendali, dan akibatnya adalah kehancuran yang tak dapat diperbaiki. Ia merindukan Clara yang dulu, Clara yang patuh, Clara yang lembut, Clara yang mencintainya tanpa syarat. Tapi Clara itu sudah mati, terkubur di bawah puing-puing kekejaman David.
David mencoba segala cara untuk memperbaiki keadaan. Ia menawarkan untuk mengumumkan pernikahan mereka, bahkan mengadakan konferensi pers mendadak untuk membersihkan namanya dan mengakui Clara di hadapan publik.
"Aku sudah bicara dengan tim humasku, Clara. Kita bisa mengumumkannya besok. Aku akan bicara tentang bagaimana kita telah menikah selama delapan tahun, bagaimana kita ingin menjaga privasi, dan sekarang kita siap berbagi kebahagiaan ini dengan dunia," David menjelaskan, mencoba terlihat meyakinkan.
Clara hanya menatapnya dengan tatapan kosong, nyaris muak. "Untuk apa, David? Untuk menyelamatkan mukamu di hadapan publik? Kau pikir itu bisa mengubah apa pun? Kau pikir aku peduli lagi tentang pengakuanmu?"
"Tapi Clara, ini yang selalu kau inginkan, bukan? Pengakuan! Aku melakukannya untuk kita!" David memohon, frustrasi mulai merayapi dirinya.
Clara tersenyum sinis. "Terlambat. Jauh, jauh terlambat. Dulu, mungkin itu akan berarti segalanya bagiku. Tapi sekarang? Sekarang itu hanya sampah. Sama seperti janji-janji kosongmu yang lain."
Setiap penolakan Clara adalah pukulan telak bagi ego David. Ia merasa dirinya benar-benar kehilangan pegangan. Ia, David Alexander, pria yang terbiasa mengendalikan segalanya-bisnisnya, karyawannya, bahkan kehidupan pribadinya-kini tak berdaya di hadapan istrinya sendiri. Wanita yang selama ini ia anggap lemah dan patuh, telah berubah menjadi sosok yang kebal terhadap segala rayuan dan ancamannya.
Clara menghabiskan sebagian besar waktunya di kamarnya, yang kini terasa seperti benteng pribadinya. Ia membatasi interaksi dengan David seminimal mungkin. Bahkan saat David mencoba masuk ke kamar untuk berbicara, Clara akan menguncinya. David merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.
Suatu sore, David melihat Clara berbicara di telepon di ruang tamu. Suara Clara rendah, hampir berbisik, namun ada ketegasan yang David tidak kenali. "Ya, aku ingin yang terbaik. Aku tidak peduli berapa biayanya. Aku ingin memastikan dia kehilangan segalanya. Setiap sen."
Jantung David mencelos. Ia tahu Clara sedang berbicara tentang dirinya. Clara sedang mencari pengacara untuk gugatan cerainya, dan ia menginginkan kehancuran total bagi David. Rasa dingin merayapi punggung David. Ia menyadari betapa seriusnya Clara. Ini bukan lagi sekadar ancaman, ini adalah perang yang Clara nyatakan.
Malam harinya, David mencoba menghadapi Clara lagi. Clara sedang membaca buku di sofa, wajahnya tenang namun matanya penuh dengan kedinginan yang menusuk.
"Clara, aku dengar tadi kau bicara di telepon," David memulai, suaranya berusaha terdengar tenang.
Clara mengangkat alisnya, pandangannya tidak bergeser dari buku. "Lalu?"
"Kau... kau benar-benar ingin melakukan ini? Gugatan cerai? Kau ingin menghancurkan aku?" Suara David mulai bergetar.
Clara menutup bukunya, meletakkannya di pangkuan. Ia menatap David lurus di mata, tatapannya begitu tajam hingga David merasa seperti sedang dihakimi. "Kau sudah menghancurkan dirimu sendiri, David. Aku hanya memastikan kau menuai apa yang kau tabur. Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup tenang setelah semua yang kau lakukan padaku? Setelah kau membunuh anakku?"
David mencengkeram kepalanya, frustrasi dan putus asa. "Clara, aku sudah minta maaf berkali-kali! Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi! Aku benar-benar menyesal!"
"Penyesalanmu tidak akan mengembalikan anakku," balas Clara datar. "Dan penyesalanmu tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka di hatiku."
"Tapi kita punya satu anak lagi, Clara! Anak kita yang masih hidup! Kau tidak memikirkan dia? Kita harus menjaga keluarga ini tetap utuh demi dia!" David mencoba memprovokasi, berharap kata-kata itu akan menyentuh sisi keibuan Clara.
Namun, mata Clara hanya berkilat tajam. "Justru karena dia, David. Karena anakku yang satu ini, aku harus pergi darimu. Aku tidak ingin dia tumbuh dalam lingkungan yang penuh kebohongan dan kekerasan. Aku tidak ingin dia memiliki ayah yang seperti kau."
Kata-kata itu menghantam David seperti pukulan keras. Ia merasa dihina, direndahkan. Ia adalah seorang pebisnis sukses, pria yang dihormati, namun di mata istrinya sendiri, ia hanyalah monster yang tidak layak menjadi ayah.
Seiring berjalannya hari, David merasa dirinya semakin tertekan. Tekanan dari Clara yang dingin dan tak acuh, ditambah dengan tekanan pekerjaan yang menumpuk, mulai memakan dirinya. Ia sering melewatkan makan, tidurnya tidak nyenyak, dan wajahnya terlihat semakin pucat dan lelah. Rekan-rekan kerjanya mulai memperhatikan perubahannya. David yang dulu bersemangat dan penuh energi, kini sering melamun dan mudah marah.
Suatu pagi, di kantor, asisten David, Sandra, mengetuk pintu ruangannya. "Tuan David, ada panggilan dari pengacara Nyonya Clara. Mereka ingin menjadwalkan pertemuan awal."
David menghela napas berat. "Katakan aku sibuk."
"Mereka bersikeras, Tuan. Mengatakan ini adalah masalah mendesak."
David tahu ia tidak bisa menghindar selamanya. Ia harus menghadapi kenyataan ini. "Baiklah. Jadwalkan sore ini. Sendiri saja." Ia tidak ingin pengacaranya ikut campur dulu. Ia masih menyimpan secercah harapan bahwa ia bisa membujuk Clara untuk berubah pikiran.
Pertemuan itu berlangsung di sebuah kantor pengacara yang mewah dan modern. Clara sudah duduk di sana, di samping seorang wanita paruh baya berambut perak yang memancarkan aura ketegasan dan kecerdasan. Wanita itu adalah Sarah Wijaya, salah satu pengacara perceraian terbaik di kota. David duduk di seberang mereka, sendirian.
Sarah membuka percakapan dengan nada formal. "Tuan Alexander, terima kasih sudah hadir. Nyonya Clara telah mengajukan gugatan cerai atas dasar KDRT dan ketidaksetiaan. Selain itu, Nyonya Clara juga menuntut hak asuh penuh atas anak yang sedang dikandungnya, serta tunjangan yang signifikan."
David menegang. KDRT? Ketidaksetiaan? Ia tidak pernah berselingkuh secara fisik, meskipun ia tahu ia telah berlaku tidak setia secara emosional dengan menyembunyikan pernikahannya. Tapi KDRT... itu adalah hal yang sangat serius.
"KDRT? Itu kecelakaan! Aku tidak pernah berniat menyakitinya!" David membela diri, menatap Clara.
Clara tidak membalas tatapannya. Sarah-lah yang menjawab. "Tuan Alexander, Nyonya Clara memiliki laporan medis lengkap yang menunjukkan cedera kepala dan pendarahan hebat akibat kekerasan fisik. Selain itu, ada saksi mata di rumah sakit yang melihat kondisi Nyonya Clara saat dibawa masuk. Dan yang lebih parah, kehamilan Nyonya Clara adalah kembar, dan akibat insiden itu, salah satu janinnya meninggal dunia. Itu adalah bukti yang sangat kuat untuk kasus KDRT yang fatal."
David merasa darahnya berdesir dingin. Ia tahu itu, ia tahu Clara kehilangan satu janin. Tapi mendengar pengacara itu mengatakannya dengan begitu gamblang, dengan penekanan pada kata "meninggal dunia" dan "fatal", membuat semua rasa bersalah itu kembali menghantamnya seperti gelombang pasang. Ia melirik Clara, yang kini menatapnya dengan tatapan kosong, tanpa belas kasihan.
"Mengenai ketidaksetiaan," Sarah melanjutkan, tanpa memberi David waktu untuk mencerna. "Kami memiliki bukti kuat bahwa Tuan Alexander telah menjalin hubungan dekat dengan beberapa wanita lain selama delapan tahun pernikahan Anda, meskipun Anda tidak pernah mengakui Nyonya Clara sebagai istri Anda di depan publik. Ini termasuk bukti foto, rekaman percakapan telepon, dan kesaksian dari beberapa pihak."
David merasa lemas. Bagaimana Clara bisa mendapatkan semua itu? Ia selalu sangat berhati-hati. Kecurigaan muncul di benaknya. Mungkinkah Clara selama ini mengumpulkan bukti? Mungkinkah Clara sudah tahu tentang hubungannya dengan wanita lain, meskipun David mengira ia menyembunyikannya dengan rapi?
"Nyonya Clara menuntut tunjangan finansial yang mencakup kompensasi atas penderitaan emosional dan fisik, dukungan anak yang sangat tinggi, serta bagian yang signifikan dari aset-aset perusahaan Anda," Sarah menyimpulkan, nadanya lugas dan tanpa kompromi.
David tidak bisa menahan diri lagi. Ia menatap Clara, suaranya tercekat. "Clara, kau tidak bisa melakukan ini! Kau akan menghancurkan segalanya! Kita bisa bicarakan ini! Aku akan memberikanmu apa pun yang kau mau, tapi jangan hancurkan perusahaanku!"
Clara akhirnya berbicara, suaranya rendah dan penuh dendam. "Kau menghancurkan hidupku, David. Kau menghancurkan anakku. Sekarang giliranmu untuk merasakan apa itu kehancuran. Aku ingin kau kehilangan segalanya. Aku ingin kau merasakan penderitaan yang sama persis seperti yang aku rasakan."
David melihat api di mata Clara, api yang dulu ia kira sudah padam. Api itu kini membakar, lebih kuat dari sebelumnya. Ia melihat tekad yang tak tergoyahkan. David tahu, Clara serius. Ini bukan gertakan. Clara akan melumpuhkannya.
Sarah mengakhiri pertemuan itu dengan memberikan David setumpuk dokumen hukum. "Saya sarankan Anda segera mencari pengacara terbaik, Tuan Alexander. Kasus ini akan menjadi sangat rumit."
Keluar dari kantor pengacara itu, David merasa dunia berputar. Ia tidak pernah membayangkan Clara akan menjadi sekuat ini, sekejam ini. Ia telah meremehkannya, menganggapnya hanya sebagai wanita lemah yang akan selalu patuh. Kini, ia harus membayar mahal untuk kesalahannya.
David segera menghubungi pengacaranya sendiri, seorang pria tua berpengalaman bernama Pak Surya. Pak Surya mendengarkan ceritanya dengan ekspresi serius, sesekali mengangguk.
"Ini kasus yang sangat berat, David," kata Pak Surya setelah David selesai berbicara. "Bukti KDRT dengan kematian janin adalah tuduhan yang sangat serius, bisa berujung pada konsekuensi pidana selain perdata. Dan bukti ketidaksetiaan itu... Nyonya Clara sepertinya sudah merencanakan ini dengan sangat matang."
"Maksud Anda, dia sudah tahu semua ini? Tentang wanita lain, tentang semuanya?" David bertanya, suaranya frustrasi.
"Kemungkinan besar begitu," jawab Pak Surya. "Wanita tidak sebodoh yang kita kira, David. Mereka seringkali lebih jeli daripada yang kita duga. Dan ketika mereka merasa dikhianati, mereka bisa menjadi sangat berbahaya."
Kata-kata Pak Surya menghantam David. Clara memang jeli. Clara memang berbahaya. David telah menciptakan monster dari wanita yang paling mencintainya. Dan kini, monster itu akan kembali menghantuinya.
Beberapa hari berikutnya, berita tentang gugatan cerai David Alexander, pengusaha muda yang sedang naik daun, mulai menyebar di kalangan terbatas. Meski belum dipublikasikan secara luas, gosip mulai beredar di kalangan pebisnis dan sosialita. David merasa pandangan mata orang-orang di kantornya berbeda. Ada bisikan-bisikan, tatapan kasihan, atau bahkan tatapan menghakimi. Reputasinya mulai tercoreng, bahkan sebelum kasusnya dimulai di pengadilan.
David mencoba fokus pada pekerjaannya, tapi pikirannya selalu melayang ke Clara. Ia memikirkan semua yang telah ia lakukan, semua janji yang ia ingkari, semua penderitaan yang ia sebabkan. Ia melihat Clara yang sekarang-dingin, kejam, dan penuh kebencian-dan ia tahu bahwa ia adalah penyebabnya. Rasa bersalah yang menggerogoti semakin kuat, menelannya dalam-dalam.
Suatu malam, David tidak bisa tidur. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil sebotol wiski dari lemari bar, dan menuangkannya ke dalam gelas. Ia duduk di ruang tamu yang gelap, ditemani kesunyian dan pikiran-pikirannya yang berpacu. Ia memikirkan kembali delapan tahun pernikahannya dengan Clara. Delapan tahun yang ia sembunyikan, delapan tahun yang ia anggap remeh.
Clara selalu ada di sana. Selalu mendukungnya, selalu merawatnya, selalu menunggunya pulang. Clara tidak pernah mengeluh, tidak pernah menuntut. Ia selalu tersenyum, bahkan saat David tahu ia telah menyakitinya. Clara adalah fondasi yang kokoh di tengah kehidupannya yang penuh gejolak. Dan David, dalam kebutaannya akan ambisi, telah menghancurkan fondasi itu.
Ia telah mengejar bayangan kesuksesan, mengorbankan hal yang paling berharga. Ia telah menipu Clara, berbohong padanya, dan akhirnya, melukainya secara fisik dan emosional hingga batas yang tak termaafkan. Rasa sesal yang mendalam mencengkeram hatinya. Ia ingin waktu bisa diputar kembali. Ia ingin bisa memperbaiki semuanya. Tapi ia tahu, itu mustahil.
David menatap gelas wiskinya, pantulan cahaya lampu jalan dari luar jendela berkedip di permukaannya. Ia melihat wajahnya sendiri, dipenuhi bayangan dan keputusasaan. Ia telah menciptakan nerakanya sendiri. Dan neraka itu, kini, mulai menelan dirinya hidup-hidup.
Di sisi lain rumah, di kamarnya yang terkunci, Clara sedang membelai perutnya yang mulai membesar. Ada kehangatan di sana, harapan kecil yang masih bertahan di tengah badai. Anak ini, satu-satunya yang tersisa, adalah alasannya untuk tetap kuat. Ia adalah satu-satunya cahaya di kegelapan yang diciptakan David.
Air mata Clara tidak lagi menetes. Ia telah kehabisan air mata untuk David. Kini, yang ada hanyalah tekad baja. Ia akan melindungi anak ini dengan seluruh kekuatannya. Dan ia akan memastikan David membayar harga yang setimpal. Bukan hanya untuk dirinya, bukan hanya untuk anak yang hilang, tetapi juga untuk setiap tetes air mata dan setiap detik kesakitan yang ia rasakan selama delapan tahun di balik bayangan.
Clara memejamkan mata, membayangkan hari ketika David akan berdiri di hadapan pengadilan, reputasinya hancur, kekayaannya terkikis. Itu adalah satu-satunya hal yang memberinya kekuatan untuk melanjutkan. David telah menyalakan api di dalam dirinya. Dan api itu, kini, akan membakar habis semua yang menghalanginya.
Ia telah melalui neraka, dan ia telah kembali. Ia adalah wanita baru, seorang ibu yang patah hati namun tak tergoyahkan. David telah menghancurkannya, namun juga telah menempanya menjadi sesuatu yang lebih kuat, lebih keras, dan lebih berbahaya. Perang telah dimulai, dan Clara bersumpah, ia akan menjadi pemenangnya.
Anda Mungkin Juga Suka





