Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Delapan Tahun Menjadi Istri Rahasia

Delapan Tahun Menjadi Istri Rahasia

Clara berharap kehamilannya mengakhiri rahasia pernikahan delapan tahunnya dengan David. Namun, penolakan keras David justru memicu konflik fisik yang fatal hingga Clara kehilangan salah satu janinnya. Sadar hanya menjadi pengganti, Clara yang semula lembut berubah dingin dan menuntut cerai. Kini, David harus menghadapi kehancuran rumah tangganya dan rasa bersalah mendalam saat melihat istrinya tak lagi peduli pada hubungan mereka yang penuh kepalsuan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Ruang sidang itu megah, dengan dinding panel kayu gelap dan langit-langit tinggi yang menambah kesan formalitas. Bau kertas lama bercampur dengan aroma disinfektan, menciptakan suasana yang kaku dan mencekam. Hari itu adalah hari pertama persidangan perceraian David Alexander dan Clara Wijaya. Media sudah menunggu di luar, bagai serigala lapar mengendus mangsa. Meskipun David telah berusaha keras membendung informasi, berita tentang gugatan cerai pengusaha muda itu, yang melibatkan tuduhan KDRT dan perselingkuhan, mulai menyebar bagai api di media sosial.

David duduk di sisi kanannya, di samping pengacaranya, Pak Surya. Wajahnya tegang, sorot matanya lelah. Ia mengenakan setelan jas mahal, namun aura percaya dirinya yang dulu begitu terpancar, kini digantikan oleh kegelisahan yang nyata. Sesekali ia melirik ke sisi kiri ruangan, tempat Clara duduk.

Clara, di sisi lain, tampak seperti patung. Ia mengenakan setelan blus sutra berwarna krem dan rok pensil hitam, rambutnya ditata rapi, dan wajahnya dipulas riasan tipis yang menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya. Perutnya yang mulai membuncit sedikit terlihat di balik blusnya, sebuah pengingat nyata akan alasan utama semua kehancuran ini. Ia duduk tegak, bahunya ditarik ke belakang, memancarkan ketenangan yang aneh, nyaris menakutkan. Di sampingnya, Sarah Wijaya, pengacaranya, sesekali membisikkan sesuatu, dan Clara hanya mengangguk tanpa ekspresi. Tidak ada sedikit pun jejak ketakutan atau keraguan di wajahnya. Hanya ada dinginnya tekad.

Hakim memasuki ruangan, dan semua orang berdiri. Setelah formalitas pembukaan, Sarah Wijaya, pengacara Clara, berdiri untuk menyampaikan pernyataan pembuka. Suaranya jelas, lugas, dan penuh keyakinan.

"Yang Mulia Hakim, dan hadirin sekalian," Sarah memulai, suaranya memenuhi ruangan. "Klien kami, Nyonya Clara Wijaya, mengajukan gugatan cerai terhadap Tuan David Alexander atas dasar kekerasan dalam rumah tangga yang fatal dan ketidaksetiaan yang terus-menerus selama delapan tahun pernikahan yang disembunyikan."

David mendengus pelan, namun Pak Surya menahannya dengan tatapan peringatan.

"Delapan tahun," Sarah melanjutkan, nadanya menekankan setiap kata. "Delapan tahun Nyonya Clara hidup dalam bayangan, sebagai istri yang tidak diakui, menelan semua janji kosong tentang pengakuan publik. Ia menanggung semua itu karena cinta dan kepercayaan yang tulus kepada suaminya. Namun, cinta dan kepercayaan itu dihancurkan secara brutal, bukan hanya oleh perselingkuhan berulang yang dilakukan Tuan Alexander, tetapi puncaknya, oleh tindakan kekerasan yang mengerikan yang dilakukan Tuan Alexander terhadap klien kami, yang menyebabkan Nyonya Clara harus kehilangan salah satu dari dua janin kembar yang ia kandung."

Suara-suara berbisik mulai terdengar di ruang sidang. Anggota pers, yang duduk di barisan belakang, mulai menulis dengan cepat. David mengepalkan tangannya di bawah meja. Tuduhan itu... begitu telanjang dan menyakitkan.

Sarah melanjutkan dengan menjelaskan secara rinci malam kejadian. Ia memaparkan laporan medis, kesaksian paramedis yang membawa Clara ke rumah sakit, dan bukti-bukti lain yang dikumpulkan. Ia bahkan menyertakan rekaman suara dari percakapan telepon yang diyakini David sebagai miliknya, di mana ia terdengar sedang berbicara dengan wanita lain, membahas rencana perjalanan, atau hal-hal pribadi yang seharusnya hanya ia bicarakan dengan Clara. Entah bagaimana Clara bisa mendapatkan rekaman-rekaman itu, David tidak tahu. Pikiran tentang Clara yang diam-diam mengumpulkan bukti selama ini membuat bulu kuduknya merinding. Ia menyadari, Clara bukan wanita polos yang ia kenal. Clara adalah sosok yang licik dan sangat cerdik.

Ketika giliran Pak Surya, pengacara David, tiba, ia mencoba meredakan situasi. "Yang Mulia, kami mengakui adanya pertengkaran yang terjadi malam itu. Namun, ini adalah insiden yang tidak disengaja, sebuah reaksi spontan akibat tekanan emosional. Tuan Alexander sangat menyesali kejadian itu dan telah meminta maaf berkali-kali kepada Nyonya Clara. Mengenai tuduhan ketidaksetiaan, itu hanyalah kesalahpahaman. Tuan Alexander adalah seorang pebisnis yang sering bertemu dengan banyak klien wanita, dan itu bisa disalahartikan."

"Lalu mengapa Tuan Alexander tidak pernah mengakui pernikahannya selama delapan tahun, Pak Surya?" Sarah menyela, nadanya tajam. "Apakah itu juga kesalahpahaman?"

Pak Surya tergagap sedikit. "Itu... itu adalah keputusan bersama, Yang Mulia, demi menjaga privasi dan fokus pada karier Tuan Alexander yang sedang berkembang."

Clara mengangkat kepalanya, pandangannya menembus David. David merasa seolah jutaan mata menghakiminya. Argumen Pak Surya terdengar lemah, bahkan di telinganya sendiri.

Setelah pernyataan pembuka, Clara dipanggil ke kursi saksi. Ia berjalan perlahan, dengan langkah tenang dan mantap. David menatapnya, ada perpaduan rasa takut dan kekaguman yang aneh. Wanita ini, yang ia remehkan, kini berdiri di hadapannya sebagai penuntut utama, siap menghancurkan segalanya.

Sarah memulai dengan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana Clara dan David bertemu, bagaimana hubungan mereka berkembang, dan mengapa pernikahan mereka dirahasiakan. Clara menjawab dengan suara yang jelas, tenang, dan tanpa emosi. Ia menceritakan setiap detail, setiap janji palsu, setiap pengkhianatan yang ia rasakan.

"Nyonya Clara," Sarah bertanya, suaranya lembut namun kuat. "Bisakah Anda menceritakan apa yang terjadi pada malam kejadian kekerasan itu?"

Clara menarik napas dalam, matanya menatap kosong ke depan, seolah melihat kembali kejadian mengerikan itu. "Saya memberanikan diri memberitahu David tentang kehamilan saya. Saya pikir, dengan adanya anak, ia akan akhirnya mengumumkan pernikahan kami. Namun, reaksinya... ia menyebut kehamilan itu sebagai bencana. Ia marah, ia membentak saya. Saya bilang saya ingin bercerai. Lalu, ia... ia kehilangan kendali. Ia mencekik saya, mengguncang saya, dan saya terjatuh, kepala saya membentur meja. Setelah itu, semuanya gelap."

Ruang sidang hening. Beberapa orang terdengar terisak. David menatap Clara, wajahnya pucat pasi. Ia ingin berteriak, mengatakan itu tidak seperti itu, ia tidak sengaja. Tapi kata-kata Clara terdengar begitu meyakinkan, begitu nyata.

"Dan apa yang Anda rasakan ketika mengetahui Anda kehilangan salah satu janin Anda?" Sarah bertanya, suaranya sedikit bergetar, memancing emosi.

Clara mendongak, matanya yang dingin bertemu dengan mata David. "Saya merasa hancur. Seperti sebagian dari jiwa saya dicabut. Saya mengandung kembar, David. Dua nyawa mungil yang tumbuh di rahim saya. Dan karena kekejamannya, saya kehilangan salah satunya." Ia berhenti sejenak, suaranya nyaris berbisik. "David telah membunuh anak saya."

Kata-kata itu bergema di ruang sidang. David merasa seperti ditusuk ribuan jarum. Rasa bersalah menghantamnya dengan kekuatan yang luar biasa, membuatnya mual. Ia mengepalkan tangan, menunduk, tidak sanggup lagi menatap Clara. Ia tahu, kata-kata itu akan terus menghantuinya seumur hidup.

Ketika Pak Surya mendapat giliran untuk menyilangkan Clara, ia berusaha keras untuk menggoyahkan kesaksiannya.

"Nyonya Clara, apakah benar Anda dan Tuan Alexander sering bertengkar sebelum insiden itu?"

"Setiap pasangan pasti bertengkar, Tuan Pengacara. Tapi tidak pernah sampai pada kekerasan fisik seperti itu," jawab Clara tenang.

"Anda mengatakan Tuan Alexander mencekik Anda. Apakah ada bukti fisik lain selain laporan medis yang menyatakan Anda cedera kepala? Apakah ada memar di leher Anda?"

Clara mengangkat bahu. "Saat itu saya tidak berpikir untuk mencari bukti memar di leher. Saya panik, saya sakit, saya hanya ingin anak saya selamat."

"Jadi, ini hanya kesaksian Anda yang tidak didukung bukti lain untuk bagian mencekik?" Pak Surya menekan.

Sarah Wijaya segera menyela. "Yang Mulia, pertanyaan ini bersifat spekulatif dan mencoba meragukan kesaksian yang sudah jelas."

Hakim mengangguk. "Keberatan diterima. Lanjutkan, Pak Surya."

Pak Surya mencoba strategi lain. "Nyonya Clara, bukankah Anda sendiri yang mengajukan gugatan cerai? Bukankah itu berarti Anda tidak ingin melanjutkan pernikahan ini sejak awal?"

Clara tersenyum tipis, senyum yang dingin. "Saya ingin melanjutkan pernikahan ini jika David mengakui saya. Saya ingin anak saya memiliki ayah yang bangga padanya. Tetapi ketika saya menyadari bahwa saya hanyalah rahasia yang tidak penting, dan bahwa David bisa melakukan kekerasan seperti itu, saya tahu saya harus pergi. Demi diri saya, dan demi anak saya yang masih hidup."

Kesaksian Clara berlanjut selama berjam-jam, setiap detail yang ia sampaikan, setiap kalimat yang ia ucapkan, seolah-olah mengukir luka baru di hati David. Clara tidak menangis, tidak menjerit. Ia hanya berbicara dengan suara datar, namun dengan setiap kata, ia melukiskan gambaran David sebagai pria yang kejam, egois, dan tidak berperasaan.

Setelah Clara, beberapa saksi lain dipanggil, termasuk dokter yang merawat Clara, perawat yang melihat kondisinya, dan bahkan beberapa teman Clara yang bersaksi tentang bagaimana Clara selalu tampak murung dan menyembunyikan pernikahannya. Sarah Wijaya membangun kasus yang sangat kuat, menunjukkan pola penipuan, pengabaian, dan akhirnya kekerasan yang dilakukan David.

Ketika giliran David dipanggil ke kursi saksi, ia merasa lumpuh. Kakinya terasa berat, jantungnya berdebar kencang. Ia duduk di sana, di tempat yang sama persis seperti Clara, namun ia tidak memiliki ketenangan yang sama.

Pak Surya memulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk menggambarkan David sebagai seorang pebisnis yang sibuk, seorang pria yang berjuang keras untuk keluarganya, dan bahwa insiden itu hanyalah sebuah kesalahan yang tidak disengaja.

"Tuan Alexander," Pak Surya bertanya, "Bisakah Anda jelaskan mengapa pernikahan Anda dengan Nyonya Clara tidak diumumkan secara publik?"

David mengambil napas dalam-dalam. "Itu... itu demi karier saya, Pak Surya. Saya sedang membangun perusahaan, dan saya tidak ingin kehidupan pribadi saya mengganggu fokus publik. Kami berdua sepakat untuk menjaga privasi."

"Benarkah begitu, Tuan Alexander?" Sarah Wijaya menyela, berdiri untuk menyilangkan David. Suaranya terdengar merendahkan. "Nyonya Clara bersaksi bahwa ia tidak pernah menyepakati hal itu. Ia bersaksi bahwa ia selalu mendambakan pengakuan sebagai istri Anda. Siapa yang harus kami percaya?"

David merasa terpojok. "Saya... saya bersumpah kami sepakat."

"Apakah Anda memiliki bukti tertulis dari kesepakatan itu, Tuan Alexander?"

David terdiam. Tentu saja tidak.

"Baik. Mari kita beralih ke malam kejadian. Tuan Alexander, Anda mengakui adanya pertengkaran dengan Nyonya Clara. Bisakah Anda ceritakan apa yang terjadi setelah Nyonya Clara menyatakan ingin bercerai?"

David ragu. Ia tahu ini adalah momen krusial. Ia harus meyakinkan hakim bahwa ia tidak sengaja. "Saya... saya marah, Nyonya Pengacara. Saya tidak bisa menerima perkataannya. Saya memegang tangannya, saya ingin menahannya, saya ingin ia berpikir ulang. Saya... saya tidak tahu bagaimana ia bisa jatuh. Saya tidak pernah berniat menyakitinya. Saya panik."

Sarah menatapnya dengan tatapan meragukan. "Tuan Alexander, laporan medis menyatakan Nyonya Clara mengalami cedera kepala akibat benturan keras. Apakah memegang tangan bisa menyebabkan cedera sefatal itu?"

David menggeleng. "Saya tidak tahu. Saya... saya tidak melihatnya jatuh dengan jelas. Itu sangat cepat."

"Tuan Alexander, apakah Anda tahu Nyonya Clara sedang mengandung kembar saat itu?" Sarah bertanya, nadanya dingin dan menusuk.

David terdiam. Ia menatap Clara, yang kini menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. "Saya... saya tidak tahu. Saya tidak pernah diberitahu."

"Tidak tahu?" Sarah tertawa sinis. "Padahal Nyonya Clara bersaksi bahwa ia memberitahu Anda tentang kehamilannya sebelum insiden itu. Dan Anda justru menyebutnya bencana. Apakah Anda ingat mengatakan itu, Tuan Alexander?"

David merasakan keringat dingin mengucur di punggungnya. Ia ingat. Ia ingat setiap kata yang keluar dari mulutnya malam itu. "Saya... saya sedang tertekan, Nyonya Pengacara. Ada masalah bisnis besar. Saya... saya tidak berpikir jernih."

"Jadi, Anda sedang tertekan, dan respons Anda adalah menyebut kehamilan istri Anda sebagai bencana, lalu melakukan kekerasan fisik padanya hingga ia kehilangan salah satu janinnya? Apakah itu yang ingin Anda katakan kepada pengadilan, Tuan Alexander?"

David merasa tenggorokannya tercekat. Ia tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menatap Clara, yang wajahnya masih tak berekspresi, namun matanya memancarkan kepuasan yang samar. David menyadari, setiap argumennya, setiap pembelaannya, justru membuat dirinya semakin terpojok. Clara telah menyiapkan perang ini dengan sempurna, dan David, dalam kebutaannya, tidak melihatnya datang.

Persidangan berlangsung selama beberapa minggu. Setiap hari, detail-detail mengerikan terungkap. Bukti-bukti yang dikumpulkan Clara, dengan bantuan Sarah Wijaya, sangat teliti dan menghancurkan. Rekaman telepon David dengan wanita lain, pesan singkat yang bersifat pribadi, bahkan laporan detektif swasta yang menyertainya, semuanya disajikan tanpa ampun. Reputasi David yang dulu cemerlang, kini tercoreng parah. Berita tentang persidangan ini menjadi santapan empuk media, dengan judul-judul sensasional yang merendahkan David.

Perusahaan David mulai terpengaruh. Investor mulai menarik diri, saham perusahaannya anjlok. Proyek-proyek besar yang semula ia harapkan akan membawa perusahaannya ke puncak, kini terancam gagal. Tekanan dari Clara, persidangan yang berlarut-larut, dan kehancuran reputasi, membuat David berada di ambang batas.

Suatu malam, David pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Ia menemukan Clara duduk di ruang tamu, sedang menonton berita di televisi. Berita utama adalah tentang persidangan mereka. Wajah David terpampang di layar, diikuti dengan komentar-komentar negatif tentang dirinya.

"Kau senang sekarang, Clara?" David bertanya, suaranya serak karena wiski. "Kau senang melihatku hancur?"

Clara tidak mengalihkan pandangannya dari televisi. "Ini baru permulaan, David. Ini baru sedikit dari apa yang harus kau rasakan."

David berjalan mendekat, oleng sedikit. "Kau telah mengambil segalanya dariku! Reputasiku, bisnisku... bahkan hidupku!"

Clara akhirnya menoleh, matanya berkilat dingin. "Kau yang mengambilnya dariku, David. Kau mengambil delapan tahun hidupku. Kau mengambil anakku. Jangan berani-beraninya kau mengeluh, David. Kau sendiri yang menciptakan neraka ini."

Mendengar kata-kata itu, David merasakan kemarahan yang membara. Tapi kali ini, ia tahu ia tidak bisa melakukan apa pun. Clara bukan lagi wanita yang bisa ia kendalikan. Ia adalah tembok yang tak bisa ditembus. Ia adalah cerminan dari kehancuran yang David sebabkan.

Beberapa hari kemudian, di persidangan, tiba saatnya putusan dibacakan. Ruang sidang penuh sesak. Udara terasa berat, penuh ketegangan. David duduk di kursinya, jantungnya berdegup tak karuan. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ia telah melihat semua bukti yang disajikan, mendengar semua kesaksian. Ia tahu ia kalah.

Hakim membuka berkas di hadapannya, dan mulai membacakan putusan. Suaranya formal dan tegas.

"Setelah mempertimbangkan semua bukti dan kesaksian yang diajukan di persidangan, pengadilan memutuskan bahwa gugatan cerai yang diajukan oleh Nyonya Clara Wijaya terhadap Tuan David Alexander diterima sepenuhnya."

Suara-suara berbisik langsung memenuhi ruangan. David merasa dunianya runtuh. Ia resmi bercerai.

"Pengadilan juga menemukan Tuan David Alexander bersalah atas tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan cedera fisik serius pada Nyonya Clara Wijaya, dan yang lebih parah, menyebabkan Nyonya Clara Wijaya kehilangan salah satu janinnya."

David menundukkan kepala. Rasa malu dan rasa bersalah yang tak tertahankan membanjiri dirinya.

"Sehubungan dengan hal tersebut, pengadilan memutuskan bahwa hak asuh penuh atas anak yang sedang dikandung oleh Nyonya Clara Wijaya diberikan sepenuhnya kepada Nyonya Clara Wijaya. Tuan David Alexander tidak memiliki hak kunjungan, kecuali jika ada persetujuan tertulis dari Nyonya Clara Wijaya di kemudian hari."

Hati David mencelos. Hak asuh penuh? Ia tidak akan bisa melihat anaknya? Ini adalah hukuman terberat baginya. Ia tidak hanya kehilangan istrinya, tetapi juga kesempatan untuk menjadi ayah bagi anak yang masih hidup. Ia menatap Clara, yang masih duduk tegak, tanpa reaksi. Clara telah menang.

"Selain itu," Hakim melanjutkan, "Tuan David Alexander diwajibkan untuk membayar tunjangan anak yang sangat besar, serta kompensasi atas penderitaan fisik dan emosional Nyonya Clara Wijaya. Dan yang paling penting, Nyonya Clara Wijaya berhak atas 50% dari total aset perusahaan yang dimiliki oleh Tuan David Alexander."

David tersentak. 50% dari total aset perusahaan? Itu akan menghancurkan perusahaannya! Itu akan melumpuhkannya! Ia telah kehilangan segalanya.

Putusan itu dibacakan hingga selesai. David hanya bisa mendengarkannya, tubuhnya terasa dingin. Ia menatap Clara sekali lagi. Mata Clara yang dulu penuh cinta, kini memancarkan kemenangan yang dingin dan tak terbantahkan. Ia telah berhasil menghancurkan David, persis seperti yang ia inginkan.

Setelah Hakim mengetuk palu, ruang sidang langsung riuh. Juru kamera dan wartawan berusaha masuk, berteriak-teriak meminta pernyataan. Pak Surya segera menarik David keluar dari kerumunan, melindungi dirinya dari serbuan media.

David tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berjalan, lunglai, merasa kosong. Ia telah kehilangan segalanya. Reputasinya hancur, perusahaannya terancam, dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan anak-anaknya. Ia telah membangun kerajaannya di atas kebohongan dan pengkhianatan, dan kini, kerajaannya telah runtuh.

Di sisi lain, Clara keluar dari ruang sidang dengan kepala tegak. Ia dikelilingi oleh pengacaranya, Sarah Wijaya, dan beberapa staf. Ia tidak menanggapi pertanyaan wartawan, namun senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirnya. Ia telah mendapatkan keadilan. Ia telah mendapatkan balas dendamnya.

Namun, di balik kemenangan itu, ada luka yang tak akan pernah sembuh. Luka kehilangan salah satu anaknya, luka delapan tahun pengkhianatan. David memang hancur, namun kehancuran Clara tidak akan pernah bisa sepenuhnya pulih. Ia telah memenangkan pertempuran, tetapi perang di hatinya masih panjang. Ia harus hidup dengan kehilangan itu, namun kini, ia akan hidup sebagai wanita bebas, tanpa bayang-bayang David, dan dengan satu tujuan tunggal: membesarkan anaknya yang tersisa, jauh dari monster yang pernah ia cintai.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Kembar Milik Hot CEO
8.8
Kehidupan Amber sebagai putri konglomerat runtuh seketika hingga ia terpuruk. Di tengah keputusasaan, sebuah kesalahan fatal terjadi saat ia mabuk dan tak sengaja masuk ke kamar hotel Julian Kingston, pria berkuasa yang dikenal sangat kejam. Empat tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Amber kini memiliki anak kembar yang merupakan darah daging Julian. Terjebak dalam situasi rumit, mampukah Amber menghadapi tuntutan sang CEO dingin tersebut?
Sampul Novel Baby Daddy
8.2
Bastian Cokro, CEO F&B berusia 30 tahun, diterpa isu miring mengenai kemandulan yang membuatnya tetap melajang. Sementara itu, Eva Sania adalah penyiar berita sukses yang menikmati hidup bebas bersama pasangan FWB-nya. Namun, dunianya jungkir balik saat sang ibu memberikan perintah tak terduga. Alih-alih mendesak Eva untuk menikah, ibunya justru meminta Eva segera memiliki anak tanpa perlu mencari suami. Kini, pencarian pria sehat untuk membuahinya pun dimulai.
Sampul Novel Dia Tidak Tahu Identitas Istrinya Sampai Mereka Bercerai
8.5
Lima tahun silam, Bettina Rowe menyelamatkan nyawa Asher Lambert hingga ia kehilangan kemampuan untuk mengandung. Karena Asher mengaku enggan memiliki keturunan, Bettina terkejut saat suaminya mendadak ingin menggunakan jasa ibu pengganti. Asher memilih Betsy Sugden, mahasiswi yang berwajah mirip Bettina, demi mendapatkan ahli waris. Tanpa Asher sadari, Bettina sudah membulatkan tekad untuk bercerai tepat saat rencana itu diutarakan padanya.
Sampul Novel Diculik Untuk Menjadi Ibu
9.2
Alina Daryanov adalah wanita karier ambisius yang hidup tanpa cinta. Usai kecelakaan tragis saat badai, ia terbangun di samping Ivan Vasiliev, konglomerat yang menjadikannya istri kedua. Alina ternyata diculik untuk menjadi ibu pengganti bagi pasangan kaya yang putus asa. Kini ia terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh manipulasi dan rahasia gelap. Alina harus memilih: tunduk pada tekanan hidup baru atau berjuang melawan permainan besar demi kebebasannya.
Sampul Novel Dimanjakan suami kontrak
9.1
Terikat trauma pengkhianatan yang sama, aku dan seorang duda kaya sepakat menjalani pernikahan kontrak tanpa cinta. Rencanaku sederhana: melahirkan, menerima bayaran, lalu pergi demi masa depan adikku. Namun, takdir menyeretku ke pusaran konflik para penguasa. Saat aku bersikeras bahwa aku bukan siapa-siapa baginya, dia justru mengikatku dalam pernikahan sungguhan. Kini, di tengah ancaman yang mengincar, sang suami kontrak justru menjadi pelindung utamaku.
Sampul Novel Istri Bayaran Untuk Bos Galak
8.9
Keinginan Devan untuk memiliki Cecil kembali berujung pada ancaman yang sangat ekstrem. Meski masa kontrak mereka telah berakhir, Devan menolak melepaskan wanita itu begitu saja. Dalam suasana penuh tekanan, sang bos yang angkuh bersumpah akan menghamili Cecil agar ia tak bisa pergi lagi. Cecil yang ketakutan mencoba memohon, namun Devan justru semakin terobsesi untuk mengikatnya melalui kehadiran seorang anak demi mempertahankan hubungan mereka.