
Dekapan Gairah Mafia Kejam
Bab 2
Lorenzo menarik Isabella lebih dekat, meskipun suasana hening, hawa di sekitar mereka terasa semakin panas. Isabella bisa merasakan ketegangan dalam tubuhnya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Keduanya hanya saling menatap, seolah-olah kata-kata tidak diperlukan lagi.
Lorenzo mendekatkan wajahnya, hampir bisa merasakan napas Isabella yang terburu-buru. Ia tidak berkata apa-apa, tapi gerakan tubuhnya mengisyaratkan bahwa ia sudah tidak sabar lagi. Tangannya bergerak ke belakang tubuh Isabella, memeluknya dengan kasar dan menariknya lebih rapat ke tubuhnya.
Isabella menahan napas saat Lorenzo mengalihkan pandangannya ke bibirnya. Dirasakan tubuhnya seolah terperangkap dalam tarikan yang tak bisa ditolak.
"Kau akan tahu apa yang aku inginkan, Bella," ujar Lorenzo pelan, suaranya dalam dan penuh tekanan.
Isabella menggigit bibirnya, berusaha mengendalikan diri. Ia tahu perlawanan tidak akan berhasil kali ini, namun ia tak bisa begitu saja menyerah.
"Kau kira aku akan begitu saja menyerah pada permainanmu?" gumamnya, meskipun suaranya agak bergetar.
Lorenzo mengangkat alisnya dengan sikap dingin, lalu bibirnya tergerak lagi mendekati telinga Isabella, ia berbisik, "Aku tak ingin perlawanan, Bella. Aku hanya ingin kau tunduk."
Seketika itu, tangan Lorenzo bergerak lebih rendah, meremas pinggang Isabella, menariknya lebih erat. Isabella mencoba bergerak, tetapi Lorenzo terlalu kuat, tubuhnya terlalu besar dan tegap.
"Diam!" perintahnya, tegas, dan tanpa kompromi. "Ikuti saja, tidak ada gunanya melawan."
Ketegangan itu semakin meningkat, dan tubuh Isabella seakan merespons tanpa bisa dihentikan. Ketika bibir Lorenzo kembali menyentuh bibirnya, Isabella tak bisa menahan diri lagi.
Ini bukan sekadar ciuman, ini lebih seperti pernyataan kekuasaan, dan Isabella bisa merasakannya di setiap jengkal tubuhnya. Tanpa kata-kata lagi, Lorenzo terus membawa mereka pada arah yang lebih jauh, lebih dalam. Isabella hanya bisa pasrah, tubuhnya terjerat dalam permainan yang sudah terlalu dalam.
Lorenzo mengangkat kepalanya, menatap Isabella dengan tajam, memastikan bahwa ia tidak bisa lari dari situasi ini.
"Aku akan menunjukkan siapa yang memegang kendali di sini," katanya, bibirnya menyentuh telinga Isabella lagi, membuat tubuhnya bergetar.
Isabella menundukkan kepala, menutup mata untuk menghindari tatapan tajam Lorenzo. "Aku ... tidak bisa," ucapnya pelan, mencoba melawan meski tubuhnya terasa mati rasa.
"Diam, Bella," kata Lorenzo, suaranya tetap rendah dan penuh kekuatan. "Jangan buat aku mengulang perintah."
Dengan sekali sentuhan, segala perlawanan Isabella pun terkikis. Lorenzo tak membiarkan ruang untuk kebebasan, tubuhnya kini menekan lebih dalam, menuntut kepatuhan. Isabella tahu, apapun yang terjadi, ia tak bisa berhenti sekarang.
Lorenzo tetap memegang Isabella dalam pelukannya, tubuhnya tegap dan tak tergoyahkan. Ada sesuatu yang tajam dalam tatapannya, seperti predator yang mengincar mangsanya, dan Isabella tahu ia tak bisa melawan.
Dalam diam, Lorenzo menggeser tubuhnya sedikit, menggesekkan tubuh mereka dengan lebih dekat. Tangan kanannya bergerak lincah, meremas bahu Isabella, mengunci tubuhnya dalam pelukan yang tak memberi ruang untuk bergerak.
Isabella menggigit bibirnya, berusaha menahan rasa yang menyerbu tubuhnya. Setiap gerakan Lorenzo seperti membawa gelombang panas yang tak bisa ia hindari.
"Lorenzo," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
Lorenzo menatapnya, matanya tetap tajam dan penuh dominasi. "Kau pikir bisa menghindar dariku?" tanyanya, suaranya datar, tanpa emosi, seperti seorang bos yang sedang berbicara dengan bawahannya.
Ia menarik tubuh Isabella lebih rapat lagi, membuat mereka semakin dekat. Ada udara tegang yang memancar dari setiap inci tubuh mereka.
Isabella mengerang pelan, merasa hatinya berdetak lebih cepat, meskipun di dalam dirinya, perlawanan dan ketakutan masih ada. Namun, tubuhnya mulai merespons, tak bisa lagi memungkiri daya tarik yang membakar setiap pori kulitnya.
"Apa yang kau inginkan dariku?" ucapnya lirih, seolah hanya untuk dirinya sendiri.
Lorenzo hanya tersenyum tipis, senyum yang penuh arti, penuh teka-teki. "Kau tahu apa yang aku inginkan, Bella," jawabnya, suaranya penuh ketegasan. "Dan sekarang, aku akan mengambilnya."
Tangan Lorenzo mulai bergerak lagi, kali ini lebih agresif melepaskan setiap helai kain yang melekat di tubuh sintal itu, meraba setiap lekuk tubuh Isabella dengan cara yang tidak bisa lagi disangkal. Isabella menggigit bibirnya lebih keras, berusaha tetap tegar meskipun tubuhnya menggeliat, merespon setiap gerakan dengan sensasi yang mulai membakar gairahnya.
"Jangan-" Isabella berusaha berkata, namun Lorenzo sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya, menutup mulutnya dengan ciuman yang panas.
Ciuman itu seolah menenggelamkan semuanya, perasaan, keraguan, dan bahkan waktu. Ada tekanan dalam ciuman itu, keinginan yang begitu kuat, yang tak memberi ruang bagi penolakan.
Pria itu memisahkan bibir mereka sejenak, menatap Isabella dengan penuh perhatian. "Aku tak akan menunggu lama," ujarnya dengan dingin, seolah-olah ia sedang memberi peringatan.
Isabella menundukkan kepalanya, berusaha menahan diri, meskipun tubuhnya terasa terikat dengan kenyataan yang tak bisa ia hindari. "Tolong, jangan lakukan ini," suaranya hampir seperti sebuah permohonan, meski ia tahu itu tak akan mengubah apa pun.
Namun, Lorenzo tidak peduli. Dia sudah terlalu dalam dengan permainannya sendiri. Dengan sekali gerakan, ia menggeser Isabella ke tangah ranjang, menindih tubuhnya dengan sempurna. Ia tidak memberi kesempatan untuk menghindar.
"Jangan buat aku mengulang perintah, Bella," katanya dengan suara yang lebih dalam, lebih berat. "Aku menginginkan tubuhmu malam ini."
Isabella tak bisa lagi menahan diri. Dengan gairah yang memuncak, tubuhnya tak mampu lagi melawan, dan ia akhirnya membiarkan segala perasaan itu mengalir begitu saja.
Ia tak berbohong, sentuhan Lorenzo membawanya melayang ke nirwana. Meski, batin dan pikirannya terus menolak. Sayangnya, ia benar-benar dibuat tunduk.
Lorenzo terus bergerak, dominan dan penuh kekuasaan, setiap gerakannya seperti membawa mereka lebih jauh ke dalam permainan yang lebih besar dari sekadar fisik.
"Kau masih perawan?" tanya Lorenzo dengan seringai senyum mematikan, tapi tak ada jawaban dari Isabella. Wanita itu malah memalingkan wajah, seakan enggan menatap Lorenzo. "Tapi itu tidak penting, yang penting ... kau berada di bawah kendaliku malam ini, dan untuk selamanya."
Lorenzo menatap Isabella, matanya yang tajam semakin gelap, dan dengan tegas ia berkata, "Kau milikku malam ini."
Kata-kata itu terasa seperti pernyataan yang menyegel takdir mereka. Isabella merasa dorongan yang datang begitu kuat. Semua perlawanan yang tersisa lenyap dalam sekejap. Ia tahu bahwa Lorenzo tidak akan memberi maaf, tidak akan memberi ruang untuk dirinya melawan.
Di saat itu, Isabella tak tahu lagi apa yang ia rasakan. Perasaan bersalah, takut, atau justru terbuai dalam arus yang sudah terlalu dalam. Semua perasaan itu berbaur menjadi satu, menghancurkan batas-batas yang selama ini ia pertahankan.
Lorenzo menegakkan tubuhnya, dengan cepat menarik tangan Isabella dan mengikatkannya pada tali yang tersambung pada pilar ranjang. Tak ada satupun perlawanan, hanya air mata yang menitik sebagai tanda penolakan.
"Jangan menangis, Bella. Malam ini, aku akan memuaskanmu," bisik Lorenzo, sambil mengulum daun telinga wanita itu.
Anda Mungkin Juga Suka





