Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dekapan Gairah Mafia Kejam

Dekapan Gairah Mafia Kejam

Isabella Moretti kehilangan segalanya saat Lorenzo Ricciardi, mafia sadis, menghabisi orang tuanya. Bukannya dibunuh, Isabella justru dijadikan tawanan pribadi sang penguasa dunia bawah tanah. Meski Lorenzo dikenal kejam, sisi lembutnya mulai meluluhkan hati Isabella hingga tumbuh gairah di tengah dendam. Namun, situasi rumit saat Isabella hamil anak Lorenzo. Kini ia terjebak antara misi balas mati keluarga atau menyerah pada cinta sang iblis yang telah mencuri hatinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Isabella terbangun dengan rasa ngilu yang menjalar di seluruh tubuhnya. Cahaya matahari pagi yang menerobos melalui celah tirai membuat matanya menyipit, dan sejenak ia lupa di mana dirinya berada.

Namun, begitu kesadaran perlahan kembali, ia merasakan sesuatu yang berat menghantam dadanya.

Ia mencoba bangkit, tapi rasa sakit itu begitu nyata, membuatnya mengerang pelan. Di sekujur tubuhnya, setiap inci terdapat bercak merah bekas kissmark, bukti nyata dari kelakuan Lorenzo semalam.

Isabella mengigit bibirnya, menahan air mata yang hampir tumpah saat pikirannya memutar kembali setiap detail yang ingin ia lupakan.

Mengumpulkan kekuatan, Isabella beranjak dari ranjang. Namun, ketika matanya menangkap bercak merah samar di seprai, tubuhnya membeku. Seketika itu juga, jantungnya berdebar kencang, bukan karena rasa sakit fisik, melainkan rasa perih di dalam hatinya.

"Bajingan kejam itu ...," gumamnya lirih, penuh amarah yang tertahan.

Ia menunduk, menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. Dalam hati, ia mengutuk pria itu. Mahkotanya, sesuatu yang selalu ia selama dua puluh tahun lebih, direnggut dengan paksa oleh pria yang bahkan tak mengenal arti belas kasih.

Dengan langkah gemetar, Isabella menuju kamar mandi. Air dingin yang mengalir dari pancuran tak mampu menghapus rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Tubuhnya memar, tapi ada luka yang lebih dalam tak terlihat di hatinya.

Di cermin, ia melihat wajahnya sendiri-pucat, matanya menyimpan kemarahan dan kehancuran.

Setelah selesai, ia mengenakan gaun sutra yang tergantung di kamar. Di luar kamar, suara langkah berat Lorenzo terdengar semakin dekat. Isabella mengangkat wajahnya, mencoba memasang ekspresi datar meskipun hatinya berkecamuk.

Pintu terbuka dengan tiba-tiba, dan sosok Lorenzo muncul, membawa secangkir kopi di tangannya. Pria itu tampak sama sekali tidak terganggu, bahkan ada senyum kecil yang menghiasi wajahnya.

"Kau sudah bangun," katanya dengan nada dingin, seperti biasa.

Isabella memutar bola matanya, menatap Lorenzo tanpa ekspresi. "Tentu saja. Kau mau apa sekarang!?" balasnya tajam.

Lorenzo mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan nada bicara Isabella. "Aku tak suka mendengar nada itu, Bella," ujarnya sambil mendekat, meletakkan cangkir kopi di meja kecil di samping ranjang.

"Dan aku tak suka diperlakukan seperti mainan," balas Isabella, suaranya mulai bergetar. "Apa yang kau lakukan semalam ... itu kejam."

Lorenzo hanya menatapnya, ekspresinya sulit ditebak. "Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Kau tahu apa yang akan terjadi, Bella. Jangan bertingkah seolah ini mengejutkanmu."

Isabella tersentak mendengar kata-kata itu. Ia mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak menyerang pria itu. "Kau benar-benar monster, Lorenzo. Kau mengambil sesuatu yang penting dariku tanpa sedikitpun rasa peduli."

Lorenzo mendekat lagi, hingga hanya ada beberapa inci yang memisahkan mereka. Tatapan tajamnya menelusuri wajah Isabella. "Aku tidak peduli pada moral, Bella. Aku hanya peduli pada apa yang menjadi milikku."

"Milikku?" ulang Isabella dengan nada sinis. "Aku bukan barang yang bisa kau miliki, Lorenzo."

Lorenzo tertawa kecil, tapi tanpa humor. "Kau berada di rumahku, di bawah perlindunganku. Aku menentukan apa yang terjadi di sini."

Isabella menatapnya dengan penuh kebencian. Namun, jauh di dalam hatinya, ia merasa takut. Lorenzo bukan pria biasa, dan ia tahu melawan pria seperti Lorenzo bukan hal yang bijak.

"Kalau begitu, aku tidak punya alasan untuk tinggal di sini," ucap Isabella sambil berbalik, mencoba berjalan keluar dari kamar.

Namun, sebelum ia sempat membuka pintu, Lorenzo menarik lengannya dengan kuat. Isabella terkejut, tapi ia tetap berusaha menjaga tubuh agar tidak limbung.

"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Bella," ujar Lorenzo dengan nada dingin, tapi ada intensitas dalam matanya yang membuat Isabella terdiam. "Kau milikku sekarang, dan aku takkan membiarkanmu lari."

Isabella menghempaskan tangannya, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Lorenzo. "Aku bukan tawananmu, Lorenzo. Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini."

Lorenzo mendekat lagi, hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. "Aku bisa, dan aku akan melakukannya. Kau akan belajar menerima itu, cepat atau lambat."

Isabella ingin berteriak, ingin melawan, tapi tubuhnya masih terlalu lemah. Ia memutuskan untuk menahan diri, setidaknya untuk saat ini. Ia menatap Lorenzo dengan mata yang penuh dendam. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Lorenzo."

Lorenzo tidak menjawab. Sebaliknya, ia hanya menatap Isabella dengan ekspresi yang sulit diartikan. Setelah beberapa detik, ia melangkah mundur. "Istirahatlah. Kita akan membicarakan ini lagi nanti."

Lorenzo berbalik dan meninggalkan kamar, meninggalkan Isabella sendirian dengan pikirannya yang berantakan. Isabella duduk di tepi ranjang, menatap bercak merah di seprai yang seolah menjadi pengingat abadi dari malam itu.

"Aku akan membalasmu, Lorenzo," bisiknya pelan, suaranya penuh tekad. "Aku akan menemukan cara untuk bebas dari neraka ini."

Ia memutuskan untuk berdiam diri sejenak, meledakkan tangisnya di atas kasur hingga matanya berat dan kepalanya pusing. Tanpa sadar, ia terlelap dengan wajah yang masih basah oleh air mata.

Beberapa jam berlalu ....

Isabella terbangun dengan tubuh yang terasa remuk, setiap langkahnya seperti mengiris kulit. Nyeri di pangkal pahanya mengingatkannya pada apa yang terjadi malam sebelumnya, dan rasa sakit itu seolah tidak pernah berhenti.

Meski begitu, ia tidak bisa menyerah. Pikirannya terus berputar, dipenuhi oleh satu tujuan-lari dari tempat yang kini terasa seperti penjara besar ini.

Dengan langkah tertatih-tatih, ia berusaha bergerak menuju pintu, berusaha secepat mungkin keluar dari mansion yang menakutkan itu.

Tak peduli betapa sulitnya, Isabella tahu ia harus pergi. Tempat ini tidak lagi terasa seperti rumah, melainkan lebih seperti perangkap yang mempermainkan hidupnya.

Ia menatap pagar yang tinggi, dengan hati berdebar. Meskipun tubuhnya terasa lemah, ia tetap bertekad untuk melompat dan melarikan diri sejauh mungkin. Rasa takut yang menggelora tetap ada, tapi dorongan untuk bebas lebih kuat.

Dengan hati-hati, ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, kemudian melompat dari pagar, tubuhnya terjatuh dengan sedikit lecet di lutut, tetapi ia lega karena berhasil.

Saat ia mulai berlari menjauh, mendengar detak jantungnya sendiri yang keras dan cepat, sebuah suara yang berat dan dalam menghentikan langkahnya.

"Isabella."

Suara itu datang dengan begitu tegas dan penuh tekanan. Jantung Isabella hampir copot, dan tubuhnya langsung membeku di tempat.

Isabella menoleh, dan apa yang dilihatnya membuat darahnya seperti berhenti mengalir. Lorenzo, dengan pakaian hitamnya yang rapi, berdiri dengan tenang di luar pagar, memegang sebatang rokok yang mengepul di tangannya. Matanya tajam, menatapnya seakan ia adalah mangsa yang tak bisa melarikan diri.

Bagaimana bisa dia di sini?

Bukankah pria kejam itu seharusnya ada di dalam mansion?

"Bagaimana bisa kamu ada di sini?" Isabella berbisik, suaranya terbata, tercengang.

Lorenzo mengangkat satu alis, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya. "Apakah kau pikir aku tidak bisa mengawasi setiap gerakanmu?" jawabnya, suaranya rendah, seolah-olah ia sedang berbicara dengan seseorang yang tak layak untuk diberi penjelasan panjang. "Aku selalu mengawasimu, Bella. Bahkan ... lebih dari yang kau tahu!"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JVT" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JVT
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel DENDAM CINTA
9.8
Fanila tewas mengenaskan akibat pengkhianatan kekasihnya dalam sebuah misi berbahaya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua melalui reinkarnasi ke tubuh Ziana, gadis yang dibenci keluarganya sendiri. Di kehidupan baru ini, Fanila kembali bertemu sang mantan yang ingin ia hancurkan. Masalah rumit muncul karena pria itu adalah kakak dari kekasihnya saat ini. Kini ia terjebak pilihan sulit: menuntaskan dendam lama atau menjaga cinta barunya.
Sampul Novel Gadis Yang Terjamah
8.7
Marlina kehilangan segalanya demi ambisi pendidikan, termasuk kehormatan dan status sosialnya. Terbuang dari masyarakat, ia terjerumus ke dunia gelap narkoba di kota besar sebagai pengedar cantik yang diperebutkan para bandar. Meski berniat tobat dan berhijrah, jebakan rival mengirimnya ke penjara. Setelah mendalami agama di balik jeruji, Marlina justru kembali menghadapi penolakan keras saat bebas. Kini ia harus memilih: kembali ke jalan haram atau teguh berhijrah.
Sampul Novel LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
9.3
Stenly Sebastian Miller hancur saat Kimberly memutuskan hubungan dua tahun mereka akibat isu kebangkrutan. Bertekad bangkit, Stenly bersumpah mencari pengganti yang lebih baik. Di tengah luka, ia menyelamatkan Seruni dari serangan Dante yang obsesif. Meski berakhir babak belur demi melindungi Seruni, insiden ini justru memicu ketertarikan Stenly padanya. Kini ia harus memilih: terus meratapi masa lalu atau memulai lembaran baru yang bahagia bersama Seruni.
Sampul Novel Pernikahan Sempurnaku, Rahasia Mematikannya
9.4
Tiga bulan menikah dengan miliarder Baskara Aditama terasa indah hingga Diana, mantan kekasihnya, menyerang. Alih-alih membela, Baskara justru melindungi Diana dan membiarkannya menyiksaku secara brutal. Saat nyawaku terancam oleh kepungan pria misterius, suamiku justru memutus telepon. Setelah nekat melompat demi selamat, aku menghubungi Paman Suryo. Baskara tak sadar bahwa istri yang dia khianati adalah bagian dari Keluarga Wallace yang siap menghancurkannya.
Sampul Novel Pesanan Henna Calon Pengantin Suamiku
9.0
Kehidupan Rury seketika hancur saat ia menerima pesanan jasa lukis henna dari seorang pelanggan wanita. Betapa terkejutnya dia ketika menyadari bahwa calon pengantin tersebut adalah selingkuhan suaminya sendiri. Di tengah pengkhianatan yang menyakitkan ini, Rury tidak tinggal diam meratapi nasib. Ia menyusun rencana matang untuk membalas dendam dan menghancurkan pesta pernikahan suaminya. Saksikan aksi berani Rury dalam menuntut keadilan bagi hatinya.