
Dekapan Gairah Mafia Kejam
Bab 3
Isabella terbangun dengan rasa ngilu yang menjalar di seluruh tubuhnya. Cahaya matahari pagi yang menerobos melalui celah tirai membuat matanya menyipit, dan sejenak ia lupa di mana dirinya berada.
Namun, begitu kesadaran perlahan kembali, ia merasakan sesuatu yang berat menghantam dadanya.
Ia mencoba bangkit, tapi rasa sakit itu begitu nyata, membuatnya mengerang pelan. Di sekujur tubuhnya, setiap inci terdapat bercak merah bekas kissmark, bukti nyata dari kelakuan Lorenzo semalam.
Isabella mengigit bibirnya, menahan air mata yang hampir tumpah saat pikirannya memutar kembali setiap detail yang ingin ia lupakan.
Mengumpulkan kekuatan, Isabella beranjak dari ranjang. Namun, ketika matanya menangkap bercak merah samar di seprai, tubuhnya membeku. Seketika itu juga, jantungnya berdebar kencang, bukan karena rasa sakit fisik, melainkan rasa perih di dalam hatinya.
"Bajingan kejam itu ...," gumamnya lirih, penuh amarah yang tertahan.
Ia menunduk, menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. Dalam hati, ia mengutuk pria itu. Mahkotanya, sesuatu yang selalu ia selama dua puluh tahun lebih, direnggut dengan paksa oleh pria yang bahkan tak mengenal arti belas kasih.
Dengan langkah gemetar, Isabella menuju kamar mandi. Air dingin yang mengalir dari pancuran tak mampu menghapus rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Tubuhnya memar, tapi ada luka yang lebih dalam tak terlihat di hatinya.
Di cermin, ia melihat wajahnya sendiri-pucat, matanya menyimpan kemarahan dan kehancuran.
Setelah selesai, ia mengenakan gaun sutra yang tergantung di kamar. Di luar kamar, suara langkah berat Lorenzo terdengar semakin dekat. Isabella mengangkat wajahnya, mencoba memasang ekspresi datar meskipun hatinya berkecamuk.
Pintu terbuka dengan tiba-tiba, dan sosok Lorenzo muncul, membawa secangkir kopi di tangannya. Pria itu tampak sama sekali tidak terganggu, bahkan ada senyum kecil yang menghiasi wajahnya.
"Kau sudah bangun," katanya dengan nada dingin, seperti biasa.
Isabella memutar bola matanya, menatap Lorenzo tanpa ekspresi. "Tentu saja. Kau mau apa sekarang!?" balasnya tajam.
Lorenzo mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan nada bicara Isabella. "Aku tak suka mendengar nada itu, Bella," ujarnya sambil mendekat, meletakkan cangkir kopi di meja kecil di samping ranjang.
"Dan aku tak suka diperlakukan seperti mainan," balas Isabella, suaranya mulai bergetar. "Apa yang kau lakukan semalam ... itu kejam."
Lorenzo hanya menatapnya, ekspresinya sulit ditebak. "Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Kau tahu apa yang akan terjadi, Bella. Jangan bertingkah seolah ini mengejutkanmu."
Isabella tersentak mendengar kata-kata itu. Ia mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak menyerang pria itu. "Kau benar-benar monster, Lorenzo. Kau mengambil sesuatu yang penting dariku tanpa sedikitpun rasa peduli."
Lorenzo mendekat lagi, hingga hanya ada beberapa inci yang memisahkan mereka. Tatapan tajamnya menelusuri wajah Isabella. "Aku tidak peduli pada moral, Bella. Aku hanya peduli pada apa yang menjadi milikku."
"Milikku?" ulang Isabella dengan nada sinis. "Aku bukan barang yang bisa kau miliki, Lorenzo."
Lorenzo tertawa kecil, tapi tanpa humor. "Kau berada di rumahku, di bawah perlindunganku. Aku menentukan apa yang terjadi di sini."
Isabella menatapnya dengan penuh kebencian. Namun, jauh di dalam hatinya, ia merasa takut. Lorenzo bukan pria biasa, dan ia tahu melawan pria seperti Lorenzo bukan hal yang bijak.
"Kalau begitu, aku tidak punya alasan untuk tinggal di sini," ucap Isabella sambil berbalik, mencoba berjalan keluar dari kamar.
Namun, sebelum ia sempat membuka pintu, Lorenzo menarik lengannya dengan kuat. Isabella terkejut, tapi ia tetap berusaha menjaga tubuh agar tidak limbung.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Bella," ujar Lorenzo dengan nada dingin, tapi ada intensitas dalam matanya yang membuat Isabella terdiam. "Kau milikku sekarang, dan aku takkan membiarkanmu lari."
Isabella menghempaskan tangannya, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Lorenzo. "Aku bukan tawananmu, Lorenzo. Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini."
Lorenzo mendekat lagi, hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. "Aku bisa, dan aku akan melakukannya. Kau akan belajar menerima itu, cepat atau lambat."
Isabella ingin berteriak, ingin melawan, tapi tubuhnya masih terlalu lemah. Ia memutuskan untuk menahan diri, setidaknya untuk saat ini. Ia menatap Lorenzo dengan mata yang penuh dendam. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Lorenzo."
Lorenzo tidak menjawab. Sebaliknya, ia hanya menatap Isabella dengan ekspresi yang sulit diartikan. Setelah beberapa detik, ia melangkah mundur. "Istirahatlah. Kita akan membicarakan ini lagi nanti."
Lorenzo berbalik dan meninggalkan kamar, meninggalkan Isabella sendirian dengan pikirannya yang berantakan. Isabella duduk di tepi ranjang, menatap bercak merah di seprai yang seolah menjadi pengingat abadi dari malam itu.
"Aku akan membalasmu, Lorenzo," bisiknya pelan, suaranya penuh tekad. "Aku akan menemukan cara untuk bebas dari neraka ini."
Ia memutuskan untuk berdiam diri sejenak, meledakkan tangisnya di atas kasur hingga matanya berat dan kepalanya pusing. Tanpa sadar, ia terlelap dengan wajah yang masih basah oleh air mata.
Beberapa jam berlalu ....
Isabella terbangun dengan tubuh yang terasa remuk, setiap langkahnya seperti mengiris kulit. Nyeri di pangkal pahanya mengingatkannya pada apa yang terjadi malam sebelumnya, dan rasa sakit itu seolah tidak pernah berhenti.
Meski begitu, ia tidak bisa menyerah. Pikirannya terus berputar, dipenuhi oleh satu tujuan-lari dari tempat yang kini terasa seperti penjara besar ini.
Dengan langkah tertatih-tatih, ia berusaha bergerak menuju pintu, berusaha secepat mungkin keluar dari mansion yang menakutkan itu.
Tak peduli betapa sulitnya, Isabella tahu ia harus pergi. Tempat ini tidak lagi terasa seperti rumah, melainkan lebih seperti perangkap yang mempermainkan hidupnya.
Ia menatap pagar yang tinggi, dengan hati berdebar. Meskipun tubuhnya terasa lemah, ia tetap bertekad untuk melompat dan melarikan diri sejauh mungkin. Rasa takut yang menggelora tetap ada, tapi dorongan untuk bebas lebih kuat.
Dengan hati-hati, ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, kemudian melompat dari pagar, tubuhnya terjatuh dengan sedikit lecet di lutut, tetapi ia lega karena berhasil.
Saat ia mulai berlari menjauh, mendengar detak jantungnya sendiri yang keras dan cepat, sebuah suara yang berat dan dalam menghentikan langkahnya.
"Isabella."
Suara itu datang dengan begitu tegas dan penuh tekanan. Jantung Isabella hampir copot, dan tubuhnya langsung membeku di tempat.
Isabella menoleh, dan apa yang dilihatnya membuat darahnya seperti berhenti mengalir. Lorenzo, dengan pakaian hitamnya yang rapi, berdiri dengan tenang di luar pagar, memegang sebatang rokok yang mengepul di tangannya. Matanya tajam, menatapnya seakan ia adalah mangsa yang tak bisa melarikan diri.
Bagaimana bisa dia di sini?
Bukankah pria kejam itu seharusnya ada di dalam mansion?
"Bagaimana bisa kamu ada di sini?" Isabella berbisik, suaranya terbata, tercengang.
Lorenzo mengangkat satu alis, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya. "Apakah kau pikir aku tidak bisa mengawasi setiap gerakanmu?" jawabnya, suaranya rendah, seolah-olah ia sedang berbicara dengan seseorang yang tak layak untuk diberi penjelasan panjang. "Aku selalu mengawasimu, Bella. Bahkan ... lebih dari yang kau tahu!"
Anda Mungkin Juga Suka





