Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DARK LOVE

DARK LOVE

Aluna tumbuh besar di keluarga Dewantara bersama Albert setelah ditinggal orang tuanya. Ikatan persaudaraan mereka berubah menjadi cinta terlarang yang membuat Albert pergi menghilang. Saat Aluna mulai menata hidup dan berencana menikah dengan Mark yang penuh kelembutan, Albert tiba-tiba kembali. Ia membawa penjelasan masa lalu sekaligus rahasia mengejutkan mengenai sosok Mark. Kini, Aluna terjebak dalam dilema antara masa lalu dan masa depannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pernahkah kamu kehilangan? Pernah! Aku telah kehilangan, bahkan sebelum aku sempat memilikinya. Kau salah. Aku salah? Maksudmu? Bukan karena dia pergi sebelum kau miliki, kau rasa kehilangan, tapi karena kau merasa memiliki, memiliki memori dan kenangan yang tak pernah terulang lagi.

Aluna POV

Handphone ku berdering keras bebarengan dengan keluarnya aku dari kamar mandi.

Klik! "Hallo?"

"Apa hari ini kau mau diantar?"

"Tidak perlu Sayang, Krystal akan memberiku tumpangan."

"Baiklah, aku akan menjemputmu untuk makan siang."

"Ngg .. aku berencana untuk makan di kantin kampus bersama Krystal karena hari ini jadwal kuliahku cukup padat."

Yang diseberang telpon terdengar mendesah, kecewa.

"Tapi besok kan libur, kupikir kita bisa menghabiskan waktu bersama."

Cepat-cepat aku menambahkan untuk meredakan kekecewaan Mark.

"Tentu saja, besok kamu adalah milikku sepenuhnya." Jawab Mark antusias.

Setelah sedikit percakapan kecil, aku menutup telpon dan mulai bersiap-siap sembari menunggu Krystal.

Kulepas roll-ku dan mulai menyemprotkan cukup banyak perfume karena aku akan seharian di kampus. Entahlah, aku sangat menyukai aroma parfumku ini dan setiap kali aku bisa menghirup aromanya sendiri dari tubuhku, seketika aku merasa aku adalah wanita yang cantik.

Aku tidak pandai merias wajah dan aku juga tidak berniat untuk mengerahkan usaha yang ekstra agar tampak cantik. Jadi aku cukup menggunakan cushion, bedak, mascara dan lip gloss. Aku suka riasan yang sederhana.

'Kau cantik Luna dan akan lebih cantik jika kau tersenyum, jadi jika kau bertemu denganku, kau harus selalu tersenyum.'

Deg! Kugelengkan kepala mencoba untuk menghalau pikiranku. Tidak! Itu semua sudah berlalu.

Suara klakson mobil Krystal menyadarkanku, segera kusambar tas dan laptopku untuk turun menemui Krystal

"Apa kau melamun?"

"Tidak!"

"Kau tidak pandai berbohong, Luna."

Aku tertegun dengan ucapan Krystal. Ya! Aku memang tidak pandai berbohong.

"Ngomong-ngomong, apa kau sudah tau?" Krystal merubah arah pembicaraan.

"Tentang?"

"Ahh sepertinya kau belum tau, kurasa lebih baik jika kau mengetahuinya sendiri."

Aku menatap Krystal dengan heran, tapi aku tak berminat untuk mengorek lebih dalam apa yang dia maksudkan. Toh dia bilang bahwa aku akan mengetahuinya. Tapi apa?

Setengah jam kemudian mobil Krystal sudah mencapai parkiran kampus.

Dan di samping mobil Krystal sudah ada mobil yang terparkir rapi, seakan memang menunggu kedatangan kami. Benar saja si empunya keluar dan bersandar pada pintu mobil sembari melipat tangan. Lengkap dengan senyum yang tertuju pada pintu mobil Krystal.

Krystal segera keluar, berbeda dengan aku yang masih berkutat dengan beberapa paper yang sedang kukeluarkan dari tasku. Hari ini ada tugas yang perlu kukumpulkan pada Mr. Andrew.

Sedang asik memilah, aku bisa mendengar suara seksi yang dengan lembut memanggil nama Krystal.

"Kau sudah lama menunggu?" Terdengar suara manja milik Krystal yang sepertinya memang sengaja dibuat lebih pelan.

Aku menggeleng atas tingkah laku Krystal. Seperti yang kubilang, Krystal adalah sahabatku yang paling cantik, sangat cantik. Sayangnya terkadang ekspresi Krystal kelewat dingin, namun kupikir disitulah pesonanya. Dan satu-satunya makhluk yang bisa meruntuhkan tatapan dingin Krystal adalah Nathan. Kekasihnya.

"Tak ada kata lama ketika menunggumu." Aku hampir membenturkan kepala ke dasbor.

Dari dalam kaca mobil aku bisa melihat sikap tersipu Krystal. Astaga! Kemana perginya raut dingin ratu es ku? Namun, atensiku teralihkan dengan sosok yang ada didalam mobil Kai. Postur itu .... Aku seperti mengenalnya .....

"Yaaa Aluna Sunartio, kau tak mau keluar?" Suara Krystal sudah kembali normal jika ia

berbicara denganku. Benar-benar ....

Baru aku akan membuka pintu, suara Nathan terdengar

"Apa dia sudah tau?"

Apa yang sudah kutau?

"Tau tentang apa?" Aku membuka pintu dengan nada tidak sabar untuk bertanya.

Nathan dan Krystal bebarengan menatapku, dan selanjutnya Krystal menatap Nathan seolah meminta persetujuan namun Nathan hanya mengatakan, "Biarkan Aluna mengetahui sendiri, ayo pergi .. aku sudah membawa pancake untuk kita nikmati, Aluna kami duluan."

Sebelum sempat aku menjawab, dua sejoli itu sudah melangkah dan dengan jelas kulihat kali ini Krystal juga memang berniat untuk membiarkan aku sendiri. Ini tak biasanya! Nathan adalah orang yang hangat dan lembut, mungkin itu yang membuat Krystal luluh. Bukan perangai Nathan untuk mengabaikanku. Aku adalah sahabat Krystal dan karena Nathan adalah kekasihnya itu berarti Nathan juga adalah sahabatku. Satu-satunya alasan mengapa Nathan ingin segera beranjak adalah pasti ada sesuatu yang harus kuhadapi sendiri.

Baru saja kuputar badanku dan ingin beranjak, sebuah suara menahanku.

"Luna ..."

Hanya satu kata! Namun itu cukup untuk membuatku membeku. Mataku membulat dan badanku gemetar hebat. Aku jelas hapal dengan suara bariton itu. Suara itu berat, sama beratnya dengan langkahku yang memilih diam ditempat.

"Aluna...."

Sekali lagi suara itu memanggilku, aku tak yakin kakiku masih cukup kuat untuk menopang tubuhku. Samar ku dengar suara langkah mendekatiku.

Tidak! Tolong! Kumohon jangan mendekat! Jari-jariku meremas papper yang akan kukumpulkan, aku sudah tak peduli dengan bentuknya, entah apa yang akan dikatakan Mr. Andrew nantinya.

"Luna...." kali ini aku sudah tak kuat. Aku tak peduli dan mulai beranjak pergi, namun kurasakan tangan kekar mengamit lenganku berusaha mencegah langkahku

"Kau mau kemana?"

Aku membeku! Jangankan menjawab, untuk melihat kearahnya saja aku tak sanggup. Namun kucoba menguatkan hatiku. Perlahan, kuarahkan mata lamat-lamat untuk menatap tangan yang terulur menahan lenganku, tangan itu ... tangan yang sama yang dulu terulur untuk mengajakku berdansa dibawah hujan, naik keatas aku melihat lengan itu, lengan yang sama ketika kupaksa untuk ikut melangkah kemanapun kusuka. Beralih ke leher kokoh dimana aku sering melingkarkan lengan saat aku ingin bermanja dan menggodanya, sedikit ke atas kearah bibir tipis yang tidak pernah bisa mengatakan tidak padaku. Hidung tinggi yang seringkali dia gesekkan kehidung mungilku, satu kebiasaan jika aku mulai mengeluh apabila ia tak menuruti inginku. Dan ... lebih naik lagi, aku sampai pada mata itu. Mata tajam dengan bola hitam. Warna mata itu gelap, tapi seolah mampu menerangi seluruh hidupku, sehingga saat mata itu tak mampu kutemui lagi, seluruh jalan hidupku seolah yang kehilangan Cahaya kehidupan.

Aku menghela napas dengan perlahan. Kini aku sepenuhnya menatap wajah itu.

"Aluna ... ap-apakabar?" Kudengar kalimat itu susah payah ia keluarkan.

Ingin rasanya aku tertawa, apakabar? Apa maksudnya menanyakan 'apakabar'? Sungguh dia ingin tau kabarku? Kurasa bahkan dia tak pantas untuk menanyakan hal itu.

Pelan kutarik lenganku dan sedikit menjauh darinya. Kupaksakan senyum yang hamper-hampir hilang setelah kepergiannya.

"Baik." Singkat namun padat! Penuh dengan tekanan dan arti yang bahkan aku tak mampu untuk menjabarkannya.

Sejenak keheningan ada diantara kami. Aku jengah dan mulai melangkah, namun tangan itu kembali menahanku.

"Kau mau kemana?"

"Kelas."

"Bisakah kita bicara?"

"Apa ada yang perlu dibicarakan?" Balasku cepat.

Sejenak lawan bicaraku terpaku dan seakan tidak tau harus merespon apa.

"Kurasa tak ada." Aku yang menjawab sendiri pertanyaanku sebelum meminta dengan tidak sabar, "Jadi bisakah kau melepas tanganku?"

Bisa kurasakan tangan itu enggan melepasku. Ohh! Bahkan dia lupa kalau tangan itu pernah dengan mudah melepasku sebelumnya. Apa bedanya dengan sekarang?

Pelan, pegangan itu mulai melemah. Kesabaranku habis! Ku tarik kasar tanganku sendiri.

"Terimakasih, Albert!" Kukebaskan langkahku dan pergi meninggalkannya

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PAB" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PAB
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel CINTA ATAU BENCI
8.5
Akibat fitnah keji, Ella harus merasakan kekejaman Evan, pria yang sangat ia cintai. Ketidakpercayaan Evan dan penolakan keras dari keluarganya membuat hidup Ella hancur hingga berujung di penjara. Setelah bebas, takdir justru menyeretnya kembali ke pelukan Evan. Meski diselimuti ketakutan luar biasa, Ella seolah tak bisa menjauh dari pria itu. Di tengah siksaan yang terus berlanjut, Ella tidak menyadari bahwa Evan sebenarnya juga menyimpan rasa cinta.
Sampul Novel Istri Kedua Pak Kades
9.8
Raya, mahasiswi KKN, mengalami tragedi kelam saat Pak Kades yang sedang sakau kehilangan kendali dan merenggut kesuciannya secara paksa. Meski Raya telah memohon dan berteriak histeris di tengah malam yang sepi, tak ada warga yang datang menolong. Kejadian memilukan ini menghancurkan hidup Raya seketika. Bagaimana nasib Raya selanjutnya setelah kehormatannya dirampas oleh pria beristri yang sudah memiliki anak tersebut? Ikuti kelanjutan kisahnya yang penuh duka.
Sampul Novel Janda Dua Anak Untuk Arjuna
9.6
Diceraikan Ricky saat hamil, Raisa berjuang membesarkan anak kembarnya hingga menjadi sekretaris Samuel Tirta. Meski awalnya ditolak, kepolosan Raisa meluluhkan hati Samuel sebelum pria itu kembali ke pelukan Lidya, wanita yang menghancurkan rumah tangga Raisa. Takdir membawanya menjadi sekretaris Arjuna, adik Samuel. Saat Arjuna melamarnya, Raisa bimbang karena harus berhadapan lagi dengan Lidya. Akhirnya, ia memilih menikah dengan Arjuna Desta Mahendra Tirta.
Sampul Novel Love a Sweet Psycho
7.9
Hun dikenal sebagai pria rupawan bak pangeran dongeng, namun aku sama sekali tak tertarik padanya. Kehidupan tenangku terusik saat pria berdarah dingin ini mulai terobsesi mengejarku. Ia bertindak ekstrem demi melindungiku, mulai dari membunuh ular hingga nyaris mencekik orang yang menggangguku. Aku benci menjadi pusat perhatian dalam drama gila ini. Mengapa Tuhan mengubah hidup mediokerku menjadi pelik karena campur tangan cowok psikopat ini?
Sampul Novel Mama Polos Dan Bayi Jenius
9.2
Insiden salah kamar enam tahun silam mengubah hidup seorang wanita selamanya. Tanpa mengingat wajah pria di malam itu, ia terpaksa melarikan diri untuk membesarkan buah hatinya sendirian. Takdir kembali mempertemukan mereka saat ia bekerja sebagai sekretaris di kantor pria tersebut. Meski sang bos tampak tidak mengenalnya, ada ketertarikan yang tak tertahankan di antara mereka. Rahasia masa lalu kini mengancam ketenangan hidup yang ia bangun.