
Dark in Antares City
Bab 2
Terlihat seorang pria sedang terduduk di sudut belakang bangku kelas, sedang mendengarkan pelajaran yang di terangkan oleh gurunya yang tengah berdiri di hadapan para murid.
"Oke, sekarang tuliskan tujuan universitas yang ingin kalian daftar setelah lulus nanti, di kertas selembar. Dan semuanya wajib menulis!" tegas guru itu.
Semua murid disana pun lalu menuruti apa yang di perintahkan gurunya itu, dan mengumpulkannya di atas meja gurunya.
Guru itu pun membaca satu per satu kertas selembar yang di kumpulkan semua muridnya, namun tiba-tiba tatapan nya terhenti pada kertas selembar yang tertulis nama Rio Rosswel, seharusnya kertas itu di isi dengan tujuan Universitas, ia malah menuliskan,
"SETELAH LULUS NANTI, AKU INGIN MEMBASMI SEMUA PARA EATERS."
Setelah membaca itu gurunya pun lalu memanggil orang yang menulis ini yang tak lain bernama Rio Rosswel.
"Rio!" tegas guru itu
Tiba-tiba murid yang duduk di sudut belakang tadi berdiri.
"Iya bu?"
"Ibu bilang tuliskan tujuan universitas bukan menulis, apalah ini, ingin membunuh para Eaters?" ujar guru itu dengan dahi yang dikernyitkannya menatap kertas yang ia pegang.
Seketika yang awalnya hening tiba-tiba terdengar tawa para murid di kelas itu serta tidak sedikit murid yang mencemooh Rio.
"Diam!" teriak guru dengan tangan yang memukul meja,
"Kalian sangat ribut sehingga bel sekolah hampir tidak terdengar, sekarang saya sudahi pelajaran hari ini, dan kalian pulanglah."
...****************...
Rio Rosswel adalah seorang pria remaja berumur 17 tahun dengan rambut hitam lurus, yang panjangnya sampai menutupi alisnya, ditambah kedua bola mata hitamnya yang terkesan cuek, memiliki perawakan tegap yang tingginya sampai 172cm,sehingga tak heran banyak sekali wanita seumurannya yang jatuh cinta kepadanya.
Rio terlahir dari Ibu yang bernama Eva Rosswel dan tidak pernah tahu siapa Ayahnya, karena pada saat ia kecil ibunya mengatakan bahwa Ayahnya sudah meninggal sebelum Rio dilahirkan. Kebutuhan sehari-harinya ditanggung semuanya oleh bibinya yang sedang berada di luar negeri. Ia tinggal di sebuah apartemen kecil yang berada jauh di pinggiran kota Antares, sehingga jika ia ingin pergi ke pusat kota ia harus melewati jalanan sepi.
Seperti yang kita tahu, Ibunya meninggal tepat pada saat ulang tahun Rio yang baru menginjak 7 tahun, saat itu, Ibunya menjadi santapan kedua Eaters yang datang ke rumahnya secara mendadak.
Oleh karena itu Rio teramat sangat membenci makhluk yang bernama Eater, sehingga ia berjanji kepada dirinya sendiri selama seumur hidupnya ia akan membasmi para Eaters.
...****************...
Malam pun tiba, waktu menunjukan pukul : 10:30.
Rio menutup kedua matanya dengan niat ingin tertidur, namun beberapa menit kemudian ia tak kunjung tidur, karena ia agak sedikit ketakutan, ia takut mimpinya akan kejadian 10 tahun yang lalu, pada saat ibunya meninggal, yang membekas terus di pikirannya. Ia pun memutuskan ingin mencari udara segar dan ingin meminum sedikit coklat panas di cafe yang berada di pusat kota.
Ia berjalan keluar apartemen miliknya, dan menuju motor yang sedang ter parkir, di lanjutkan pergi meninggalkan apartemen itu.
Singkat cerita Rio pun sampai di tempat cafe lalu duduk di meja yang menghadap ke arah luar jendela.
Walaupun sudah malam hari, suasana di luar cafe itu banyak sekali orang yang melakukan aktivitasnya, sehingga jalan disana terlihat agak sedikit macet.
Saat asik memperhatikan jalanan sembari menikmati coklat hangat, tiba-tiba terdengar suara pembawa acara berita, dari televisi yang sedang tergantung, mengatakan,
"Saya peringatkan kepada masyarakat untuk berhati-hati di tempat sepi, karena kebanyakan kasus Eater, mereka memakan orang-orang pada saat mereka sendirian, jadi janganlah berpergian ke tempat yang sepi." ujar pembawa acara tv itu.
Rio pun menghiraukannya, karena ia sudah bosan banyak sekali orang yang mengatakan peringatan itu.
Tepat sesaat setelah itu, tiba-tiba seorang pria dengan nada yang berat mengatakan sesuatu kepadanya,
"Sudah berapa banyak yang sudah kau bunuh?" tanya pria misterius itu.
Mendengar itu, Rio hanya mengernyitkan dahinya lalu mendelikan matanya ke arah samping dan mengatakan,
"Hah?, apa yang kau maksud?" balik tanya Rio.
"Bukannya tujuanmu selama ini ingin membasmi para Eater?" jawab pria itu, sembari berjalan menghampiri Rio sampai tepat berdiri di sampingnya.
Rio pun menoleh ke arahnya, terlihat seorang pria berkisar 60 tahunan dengan rambut putih sebahu dan kumis serta janggut yang sedikit panjang, dengan perawakan yang tegap ia memakai jubah berbulu hitam yang panjangnya sampai menjuntai ke lantai. Terlihat disela-sela jubahnya tersisip sebuah pedang dengan gagangnya yang terpahat rapih berbentuk bunga mawar berwarna gelap, yang kokoh mendekap di pinggulnya. Rio pun bertanya,
"Siapa kamu?"
"Bukan siapa-siapa, aku hanya pria tua biasa yang sedang mencari cucuknya."
"Terus dimana cucuk kakek?" tanya Rio
"Pertanyaan bodoh, kalau aku tahu ia dimana, aku tidak mungkin mencarinya lagi." tegas kakek itu."
"Kalau begitu kuganti pertanyaanku, mengapa kau peduli berapa banyak Eaters yang sudah kubunuh?"
"Karena pada saat kamu melihat pembawa acara televisi itu kulihat wajahmu sangat tenang, dan tidak peduli," "jadi kusimpulkan kamu tidak takut akan keberadaan Eaters." jawab pria tua itu
"Benar sekali, aku tidak takut kepada makhluk menjijikan seperti mereka." tegas Rio.
Dengan sedikit tawa pria tua itu lalu mengatakan,
"Bicara begitu sangat mudah bagi orang yang belum pernah bertemu dengan mereka langsung."
"Aku pernah bertemu mereka langsung!" jawab Rio dengan nada yang ditinggikan
"Oh yah?" kata pria tua dengan dahi yang dinaikan
"Aku berani bersumpah kepada tuh...," sebelum Rio menyelesaikan kalimatnya pria itu berkata,
"iya,iya, aku percaya, lalu pada saat setelah kamu melihat mereka, apa yang kamu lakukan? apakah kamu membunuhnya? atau malah lari ketakutan?" pria tua dengan menampakan mata yang tajam kepada Rio.
Mendengar itu membuat Rio menunduk tidak bisa berkata apa-apa karena ia tahu pada saat terakhir bertemu Eaters ia tidak bisa melakukan apapun selain gemetar ketakutan walaupun terdengar jelas jeritan kesakitan keluar dari mulut Ibunya.
Saat itu juga Rio meninggalkan pria tua itu dan keluar dari cafe, Ia pun berjalan menghampiri motor nya lalu memutuskan pulang ke apartemennya.
Setelah setengah perjalanan menuju apartemennya, ia membelokan motornya menuju warung kecil yang berada di pinggir jalan.
Terlihat suasana disana tidak ada seorang pun yang melewati jalan itu, ya, karena orang-orang tidak berani keluar rumah apalagi pergi pada malam hari menuju pusat kota.
Di kota Antares tempat yang paling aman dari para Eaters adalah di pusat kota, karena kota ini tidak pernah sepi pengunjung tiap harinya, yang membuat pusat kota tidak pernah sepi.
Warung itu berada tepat di pinggir jalan yang menuju pusat kota dari arah pinggiran kota.
Sepanjang jalan itu pemandangan kanan kirinya terdapat banyak sekali pohon-pohon besar yang menambah seramnya jalan itu. Memang daerah itu tidak ada seorang pun yang berani membangun rumahnya disana, ya, karena sepi.
Rio pun memarkirkan motornya dan berjalan menuju warung kecil itu, karena ia lupa di pusat kota tadi ia tidak membeli cemilan.
"Pak beli ini 3." ucap Rio sembari mengambil cemilan yang berada di depannya.
"Oiya silahkan dek." jawab pemilik toko itu
"Malam-malam gini kok sendirian aja dek?" lanjut ucap pemilik toko itu.
"Iya nih, habis dari cafe di pusat kota."
"Ga takut sama Eaters?"
"Nggak, bapak aja jualan sendiri disini tidak apa-apakan, lagian saya pake motor, jadi kalo mereka muncul, mana mungkin bisa mengejarnya."
"Hehehe, Bener juga."
"Tapi adek pernah bertemu langsung sama Eater belum?"
"Pernah, itu pun sudah bertahun-tahun yang lalu"
"Oh yah, tenang saja hari ini kamu akan melihatnya lagi" ujar penjaga warung itu dengan sedikit senyum yang lama-lama senyumnya melebar hingga ia tertawa.
Rio pun menatap penjaga warung itu dengan ekspresi keheranan, namun dengan sekejap tiba-tiba Rio membulatkan matanya, ia kaget dengan apa yang dilihatnya.
Dengan satu kedipan, mata penjaga warung itu tiba-tiba berubah warna menjadi merah terang, sambil terus tersenyum dengan dengan taring gigi yang sedikit demi sedikit memanjang.
Anda Mungkin Juga Suka





