
Danny Hatta
Bab 3
Karen sibuk memilih gaun yang pas
untuknya, semua gaun memang cocok di tubuhnya tapi ia tak mau tampil jelek
malam ini. Danny selalu terlihat menawan memakai setelan apa pun, apalagi
mereka sudah lama tidak pergi bersama. Ia ingin menjadi pasangan yang sempurna
untuk kekasihnya.
Danny duduk di ruang tamu rumah Menteri Pertahanan. Segelas orange jus
masih utuh di meja, sudah tak heran kalau ia harus menunggu lama ketika Karen
sedang berdandan. Biasanya malah menghabiskan bergelas-gelas minuman, tapi
malam ini ia tak menyentuh gelas yang tersaji untuknya. Sesekali ia melirik
arloji di pergelangan tangannya, ia datang lebih awal dari janjinya tapi ini
juga hampir setengah jam ia menunggu Karen mempersiapkan diri. Mau secantik apa
gadis itu pergi dinner dengannya, ia jadi penasaran?
Suara langkah kaki pelan menuruni tangga, Danny berdiri dan menoleh ke sana. Terlihat Karen sudah sampai di ujung anak tangga dan berjalan
menghampirinya, ia mengenakan gaun merah maroon yang membuatnya semakin cantik.
Hanya dihiasi dengan anting bermata berlian merah muda yang pernah Danny berikan padanya sewaktu pulang dari Tiongkok. Rambutnya yang indah ia buat ikal di bagian bawah dan dibiarkan terurai saja. Danny terpaku melihatnya, Karen memang cantik dan sempurna. Banyak anak pejabat tinggi dan juga pengusaha kaya raya
mencoba merebut hatinya, tapi gadis itu malah memilih dirinya sebagai kekasihnya meski dia juga tahu kalau dirinya sering bertemu banyak wanita di setiap tempat ia bertugas.
"Kurasa kita hanya akan dinner, kenapa kau berdandan seperti itu?" tanya Danny.
"Ada sedikit perubahan rencana, aku lupa kalau hari ini adalah ulang tahun Devina. Kita ke sana saja ya!" sahutnya dengan nada manja.
"Pesta ulang tahun?" desis Danny melirik kado di tangan Karen.
Gadis itu mengangguk dengan senyuman dan Danny hanya mendesah. Pesta ulang
tahun para gadis, itu pasti akan sangat membosankan. Karen langsung menggandeng
lengan Danny dan menyeretnya berjalan keluar, ketika sampai di depan rumah ia menunjuk kedua bodyguardnya.
"Jangan ada yang mengikutiku atau aku akan menyuruh Danny membunuh kalian!" ancamnya.
"Tapi Nona!" protes salah satunya.
"Kalian mau aku adukan macam-macam pada papaku?"
Keduanya diam dan saling melirik, Karen menyeret Danny ke mobilnya.
Sementara kedua bodyguardnya hanya mampu memandang, tapi sejujurnya mereka
tidak khawatir karena anak majikannya pergi bersama kekasihnya yang sudah pasti
lebih mampu menjaga gadis itu.
"Kau tak seharusnya mengancam mereka seperti itu, jika aku membunuh mereka papamu akan melemparku ke penjara!" protes Danny.
Karen tertawa. "Papa tidak akan lakukan itu, bukannya kau sudah sering membunuh orang?" guraunya.
Mereka memasuki mobil Danny.
"Oya, Papa masih ada urusan di perbatasan. Katanya besok sore baru pulang,
jadi ... kita bisa pulang telat!" manjanya dengan menyelipkan angan apa saja yang bisa ia lakukan bersama Danny melalui ekspresinya.
"Tetap saja aku akan membawamu pulang tepat waktu!" sahut Danny seraya mulai menjalankan mobilnya.
"Ah, kau sama kolotnya dengan Papa. Mungkin itu sebabnya dia menyukaimu!" dengus Karen. Mimiknya berubah muram, tapi ada gurauan dalam kalimatnya.
Danny mengerutkan dahi. "Aku tidak kolot!" protesnya.
"Itu menurutmu!" timpal Karen, akhirnya Danny memilih diam saja. Kalau ditanggapi terus itu tidak akan ada habisnya.
Mereka memasuki hotel tempat diadakannya pesta ulang tahun itu, di sana
sudah penuh dengan tamu undangan. Terutama para gadis, dan mereka pasti akan memamerkan
segala yang mereka miliki. Mulai dari koleksi terbaru hingga gebetan terbaru,
Karen melambaikan tangan ke arah Devina dan teman-teman yang lain. Mereka
membalasnya, Karen pun menyeret Danny menghampiri mereka. Ia cipika-cipiki
dengan Devina seraya mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kadonya.
"Aku terlambat ya, maaf!" seru Karen.
"Tidak apa-apa, baru saja dimulai!" sahut Devina lalu ia melirik Danny yang hanya berdiri mengantongi tangannya. Lalu Karen mengenalkan Danny pada mereka semua, meski sebagian besar mereka sudah tahu walaupun tak
pernah bertatap muka langsung. Devina menyeret Karen sedikit menjauh dari Danny.
"Dia lebih tampan aslinya ya!"
"Memangnya ada yang palsu?"
"Bukan ... aku kan belum pernah bertemu langsung dengannya. Sayang sekali dia pacarmu!"
"Kau jangan pernah bermimpi untuk merebutnya dariku ya?"
Danny melirik kedua gadis itu yang tengah bisik-bisik, sepertinya mereka sedang asyik. Ia memutar pandangannya, lalu berjalan menjauh. Mencari sesuatu yang bisa membasahi kerongkongannya yang mengering, ia memungut segelas cairan merah di dalam gelas. Diciumnya aroma cairan itu dengan hidungnya, itu bukan red wine seperti keinginannya. Tapi tak apalah daripada kehausan, itung-itung untuk melegakan
kerongkongannya. Ia pun menyeruput
minuman itu, itu hanya softdrink. Ia kembali mengamati beberapa orang yang asyik dengan teman masing-masing.
Sarah dan Aldo yang kebetulan datang untuk meliput terlihat celingukan, Sarah mencari Devina yang berulang tahun. Ia tahu kalau Devina adalah teman Karen, Karen dan Danny pasti datang ke acara itu.
Sementara Aldo akhirnya menemukan
beberapa selebriti yang diundang di sana, asyik mengambil gambar mereka. Ruangan
itu cukup sesak dengan para gadis yang bersendau-gurau, Danny mulai bosan. Ia
memutuskan untuk menyelinap keluar, mencari celah untuk bisa kabur sementara Sarah berjalan celingukan seraya menyusuri celah yang berdesak-desakan. Karena terlalu penuh kakinya menjagal sesuatu, seperti kaki seseorang. Ia pun hampir terjatuh, untungnya tubuhnya malah menabrak seseorang yang dengan refleks
menangkapnya.
Suara pecahan kaca di lantai dari
gelas yang dipegang orang itu membuat beberapa pasang mata menatap diam. Tapi
Sarah segera tersadar dan menjauhkan dirinya dari orang itu. Ia menatap orang yang ditabraknya dengan ekspresi tercengang, dilihatnya leher dan baju orang itu basah. Kemeja putihnya jadi berwarna merah, pasti dia akan marah besar.
Membunuhnya mungkin, Danny mengalihkan pandangannya dari pakaiannya sendiri ke
wanita yang baru saja ditangkapnya itu. Tatapannya begitu tajam, membuat tubuh
Sarah gemetaran.
"A ... a ... ma-maaf. Aku ...!"
"Apa kau tidak bisa berjalan dengan baik?" hardik Danny.
"Maaf, tadi aku tersandung!"
Danny menatapnya lebih tajam, tapi ia tak mengucap apa pun lagi. Malahan berbalik dan melangkah meninggalkannya, membuat Sarah jadi heran. Ia pikir pria itu akan marah besar, mengamuk atau apa. Tapi rupanya ia masih bisa menjaga imejnya di depan umum seperti itu. Sarah jadi penasaran, makanya ia mengejar.
"Hei tunggu, hei!"
Tapi Danny tetap saja tak menyahut, ia terus berjalan menjauh.
"Hei, Danny Hatta. Kurasa kau punya telinga!" seru Sarah membuat Danny harus menghentikan langkahnya. Sarah berjalan melewatinya dan
berhenti di hadapannya, Danny kembali menatapnya.
"Kau mau berkata kalau aku tuli?" desis Danny.
"Eh ... hee ... eee ... he ... bukan begitu. Hanya... tadi aku memanggilmu tapi kau tak menyahut, jadi ...!"
"Jadi kau bisa seenaknya mengataiku tuli?" potong Danny.
"Bukan, aku kan tidak bilang kalau kau tuli!" sekarang nada suara Sarah yang sedikit meninggi.
Danny mendesah, melanjutkan langkahnya tapi Sarah menyetopnya.
"Eit, tunggu dulu. Kebetulan kita bertemu di sini, bolehkan aku lemparkan beberapa pertanyaan untukmu?" tanyanya meminta.
Danny memandang Sarah dalam, lalu matanya turun hingga menemukan kartubidentitas yang tergantung di leher wanita itu. Rupanya dia seorang wartawan.
"Mungkin kau salah orang, bukan aku yang sedang berulang tahun!"
"Aku tahu, tapi ... aku mohon beri sedikit waktu saja ya agar kita bisa berbicara. Bosku memaksaku menggantikan temanku untuk mewawancaraimu, atau lebih tepatnya mencari berita tentangmu. Kau pasti kenal Ronald kan, dia masih di Swiss karena tangannya belum pulih dan karena itu ...!"
"Jadi kau teman si brengsek itu?" potong Danny. "Sudah untung aku tidak membunuhnya. Dengar, aku tidak suka dengan wartawan seperti
kalian ini. Jika kau mengikutiku aku bisa saja mengirimmu menyusul temanmu itu!" seru Danny seraya berlalu. Sarah membuka mulutnya untuk protes tapi ia hanya bisa membentuk huruf O dari mulutnya itu, tapi tetap saja ia mengejar
Danny.
"Eh, tunggu!" katanya menarik lengan Danny, membuatnya kembali menghentikan langkah tapi kali ini juga harus berbalik untuk bisa kembali
bertatapan. Danny melirik tangan Sarah di lengannya dengan tatapan yang mengerikan, Sarah pun segera melepas tangannya dari pria itu.
"Aku bisa saja menulis bahwa kau yang mematahkan tangan temanku di
Swiss, atau bahkan mencoba membunuhnya. Tapi ...!" Sarah mencoba
mengancam.
"Kau mengancamku?" potong Danny kembali.
"A ... e ...," Sarah justru menjadi gugup.
"Sebaiknya kau menjauh dariku, lihatlah ... baru bertemu saja kau
sudah membuatku sial!" usir Danny.
Anda Mungkin Juga Suka





