Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Danny Hatta

Danny Hatta

Saat memburu target di Swiss, Danny Hatta menemukan petunjuk krusial mengenai kematian ayahnya, seorang hakim tinggi. Penyelidikan itu justru menjebaknya dalam fitnah pembunuhan aparat dan mantan sekretaris sang ayah. Kini berstatus buronan, Danny harus melarikan diri bersama Sarah Hartono, jurnalis yang mengikuti jejaknya. Di tengah ketegangan yang mendebarkan, keduanya terlibat dalam petualangan berbahaya demi mengungkap kebenaran di balik konspirasi ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Karen sibuk memilih gaun yang pas

untuknya, semua gaun memang cocok di tubuhnya tapi ia tak mau tampil jelek

malam ini. Danny selalu terlihat menawan memakai setelan apa pun, apalagi

mereka sudah lama tidak pergi bersama. Ia ingin menjadi pasangan yang sempurna

untuk kekasihnya.

Danny duduk di ruang tamu rumah Menteri Pertahanan. Segelas orange jus

masih utuh di meja, sudah tak heran kalau ia harus menunggu lama ketika Karen

sedang berdandan. Biasanya malah menghabiskan bergelas-gelas minuman, tapi

malam ini ia tak menyentuh gelas yang tersaji untuknya. Sesekali ia melirik

arloji di pergelangan tangannya, ia datang lebih awal dari janjinya tapi ini

juga hampir setengah jam ia menunggu Karen mempersiapkan diri. Mau secantik apa

gadis itu pergi dinner dengannya, ia jadi penasaran?

Suara langkah kaki pelan menuruni tangga, Danny berdiri dan menoleh ke sana. Terlihat Karen sudah sampai di ujung anak tangga dan berjalan

menghampirinya, ia mengenakan gaun merah maroon yang membuatnya semakin cantik.

Hanya dihiasi dengan anting bermata berlian merah muda yang pernah Danny berikan padanya sewaktu pulang dari Tiongkok. Rambutnya yang indah ia buat ikal di bagian bawah dan dibiarkan terurai saja. Danny terpaku melihatnya, Karen memang cantik dan sempurna. Banyak anak pejabat tinggi dan juga pengusaha kaya raya

mencoba merebut hatinya, tapi gadis itu malah memilih dirinya sebagai kekasihnya meski dia juga tahu kalau dirinya sering bertemu banyak wanita di setiap tempat ia bertugas.

"Kurasa kita hanya akan dinner, kenapa kau berdandan seperti itu?" tanya Danny.

"Ada sedikit perubahan rencana, aku lupa kalau hari ini adalah ulang tahun Devina. Kita ke sana saja ya!" sahutnya dengan nada manja.

"Pesta ulang tahun?" desis Danny melirik kado di tangan Karen.

Gadis itu mengangguk dengan senyuman dan Danny hanya mendesah. Pesta ulang

tahun para gadis, itu pasti akan sangat membosankan. Karen langsung menggandeng

lengan Danny dan menyeretnya berjalan keluar, ketika sampai di depan rumah ia menunjuk kedua bodyguardnya.

"Jangan ada yang mengikutiku atau aku akan menyuruh Danny membunuh kalian!" ancamnya.

"Tapi Nona!" protes salah satunya.

"Kalian mau aku adukan macam-macam pada papaku?"

Keduanya diam dan saling melirik, Karen menyeret Danny ke mobilnya.

Sementara kedua bodyguardnya hanya mampu memandang, tapi sejujurnya mereka

tidak khawatir karena anak majikannya pergi bersama kekasihnya yang sudah pasti

lebih mampu menjaga gadis itu.

"Kau tak seharusnya mengancam mereka seperti itu, jika aku membunuh mereka papamu akan melemparku ke penjara!" protes Danny.

Karen tertawa. "Papa tidak akan lakukan itu, bukannya kau sudah sering membunuh orang?" guraunya.

Mereka memasuki mobil Danny.

"Oya, Papa masih ada urusan di perbatasan. Katanya besok sore baru pulang,

jadi ... kita bisa pulang telat!" manjanya dengan menyelipkan angan apa saja yang bisa ia lakukan bersama Danny melalui ekspresinya.

"Tetap saja aku akan membawamu pulang tepat waktu!" sahut Danny seraya mulai menjalankan mobilnya.

"Ah, kau sama kolotnya dengan Papa. Mungkin itu sebabnya dia menyukaimu!" dengus Karen. Mimiknya berubah muram, tapi ada gurauan dalam kalimatnya.

Danny mengerutkan dahi. "Aku tidak kolot!" protesnya.

"Itu menurutmu!" timpal Karen, akhirnya Danny memilih diam saja. Kalau ditanggapi terus itu tidak akan ada habisnya.

Mereka memasuki hotel tempat diadakannya pesta ulang tahun itu, di sana

sudah penuh dengan tamu undangan. Terutama para gadis, dan mereka pasti akan memamerkan

segala yang mereka miliki. Mulai dari koleksi terbaru hingga gebetan terbaru,

Karen melambaikan tangan ke arah Devina dan teman-teman yang lain. Mereka

membalasnya, Karen pun menyeret Danny menghampiri mereka. Ia cipika-cipiki

dengan Devina seraya mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kadonya.

"Aku terlambat ya, maaf!" seru Karen.

"Tidak apa-apa, baru saja dimulai!" sahut Devina lalu ia melirik Danny yang hanya berdiri mengantongi tangannya. Lalu Karen mengenalkan Danny pada mereka semua, meski sebagian besar mereka sudah tahu walaupun tak

pernah bertatap muka langsung. Devina menyeret Karen sedikit menjauh dari Danny.

"Dia lebih tampan aslinya ya!"

"Memangnya ada yang palsu?"

"Bukan ... aku kan belum pernah bertemu langsung dengannya. Sayang sekali dia pacarmu!"

"Kau jangan pernah bermimpi untuk merebutnya dariku ya?"

Danny melirik kedua gadis itu yang tengah bisik-bisik, sepertinya mereka sedang asyik. Ia memutar pandangannya, lalu berjalan menjauh. Mencari sesuatu yang bisa membasahi kerongkongannya yang mengering, ia memungut segelas cairan merah di dalam gelas. Diciumnya aroma cairan itu dengan hidungnya, itu bukan red wine seperti keinginannya. Tapi tak apalah daripada kehausan, itung-itung untuk melegakan

kerongkongannya.  Ia pun menyeruput

minuman itu, itu hanya softdrink. Ia kembali mengamati beberapa orang yang asyik dengan teman masing-masing.

Sarah dan Aldo yang kebetulan datang untuk meliput terlihat celingukan, Sarah mencari Devina yang berulang tahun. Ia tahu kalau Devina adalah teman Karen, Karen dan Danny pasti datang ke acara itu.

Sementara Aldo akhirnya menemukan

beberapa selebriti yang diundang di sana, asyik mengambil gambar mereka. Ruangan

itu cukup sesak dengan para gadis yang bersendau-gurau, Danny mulai bosan. Ia

memutuskan untuk menyelinap keluar, mencari celah untuk bisa kabur sementara Sarah berjalan celingukan seraya menyusuri celah yang berdesak-desakan. Karena terlalu penuh kakinya menjagal sesuatu, seperti kaki seseorang. Ia pun hampir terjatuh, untungnya tubuhnya malah menabrak seseorang yang dengan refleks

menangkapnya.

Suara pecahan kaca di lantai dari

gelas yang dipegang orang itu membuat beberapa pasang mata menatap diam. Tapi

Sarah segera tersadar dan menjauhkan dirinya dari orang itu. Ia menatap orang yang ditabraknya dengan ekspresi tercengang, dilihatnya leher dan baju orang itu basah. Kemeja putihnya jadi berwarna merah, pasti dia akan marah besar.

Membunuhnya mungkin, Danny mengalihkan pandangannya dari pakaiannya sendiri ke

wanita yang baru saja ditangkapnya itu. Tatapannya begitu tajam, membuat tubuh

Sarah gemetaran.

"A ... a ... ma-maaf. Aku ...!"

"Apa kau tidak bisa berjalan dengan baik?" hardik Danny.

"Maaf, tadi aku tersandung!"

Danny menatapnya lebih tajam, tapi ia tak mengucap apa pun lagi. Malahan berbalik dan melangkah meninggalkannya, membuat Sarah jadi heran. Ia pikir pria itu akan marah besar, mengamuk atau apa. Tapi rupanya ia masih bisa menjaga imejnya di depan umum seperti itu. Sarah jadi penasaran, makanya ia mengejar.

"Hei tunggu, hei!"

Tapi Danny tetap saja tak menyahut, ia terus berjalan menjauh.

"Hei, Danny Hatta. Kurasa kau punya telinga!" seru Sarah membuat Danny harus menghentikan langkahnya. Sarah berjalan melewatinya dan

berhenti di hadapannya, Danny kembali menatapnya.

"Kau mau berkata kalau aku tuli?" desis Danny.

"Eh ... hee ... eee ... he ... bukan begitu. Hanya... tadi aku memanggilmu tapi kau tak menyahut, jadi ...!"

"Jadi kau bisa seenaknya mengataiku tuli?" potong Danny.

"Bukan, aku kan tidak bilang kalau kau tuli!" sekarang nada suara Sarah yang sedikit meninggi.

Danny mendesah, melanjutkan langkahnya tapi Sarah menyetopnya.

"Eit, tunggu dulu. Kebetulan kita bertemu di sini, bolehkan aku lemparkan beberapa pertanyaan untukmu?" tanyanya meminta.

Danny memandang Sarah dalam, lalu matanya turun hingga menemukan kartubidentitas yang tergantung di leher wanita itu. Rupanya dia seorang wartawan.

"Mungkin kau salah orang, bukan aku yang sedang berulang tahun!"

"Aku tahu, tapi ... aku mohon beri sedikit waktu saja ya agar kita bisa berbicara. Bosku memaksaku menggantikan temanku untuk mewawancaraimu, atau lebih tepatnya mencari berita tentangmu. Kau pasti kenal Ronald kan, dia masih di Swiss karena tangannya belum pulih dan karena itu ...!"

"Jadi kau teman si brengsek itu?" potong Danny. "Sudah untung aku tidak membunuhnya. Dengar, aku tidak suka dengan wartawan seperti

kalian ini. Jika kau mengikutiku aku bisa saja mengirimmu menyusul temanmu itu!" seru Danny seraya berlalu. Sarah membuka mulutnya untuk protes tapi ia hanya bisa membentuk huruf O dari mulutnya itu, tapi tetap saja ia mengejar

Danny.

"Eh, tunggu!" katanya menarik lengan Danny, membuatnya kembali menghentikan langkah tapi kali ini juga harus berbalik untuk bisa kembali

bertatapan. Danny melirik tangan Sarah di lengannya dengan tatapan yang mengerikan, Sarah pun segera melepas tangannya dari pria itu.

"Aku bisa saja menulis bahwa kau yang mematahkan tangan temanku di

Swiss, atau bahkan mencoba membunuhnya. Tapi ...!" Sarah mencoba

mengancam.

"Kau mengancamku?" potong Danny kembali.

"A ... e ...," Sarah justru menjadi gugup.

"Sebaiknya kau menjauh dariku, lihatlah ... baru bertemu saja kau

sudah membuatku sial!" usir Danny.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Menantu Miskin
8.5
Akibat kemiskinannya, Rendra Gumilar dipaksa bercerai oleh Tuan Brata, mertuanya yang angkuh. Meski berat hati, buruh pabrik ini terpaksa berpisah dengan Viona serta bayi mereka yang masih kecil. Diusir dan dihina, Rendra tidak menyerah pada nasib. Ia bertekad bangkit menjadi pria sukses demi merebut kembali keluarga kecilnya. Mampukah Rendra membuktikan harga dirinya di hadapan mertua yang dulu meremehkannya, ataukah ia justru akan kehilangan mereka selamanya?
Sampul Novel Dewa Perang Terbaik
8.9
Daniel adalah sang Dewa Perang yang disegani. Dahulu, saat masa remaja yang sulit dan penuh kelaparan, seorang gadis kecil memberikan sekeping biskuit yang sangat berarti baginya. Kini, demi membalas budi atas kebaikan tersebut, Daniel memutuskan kembali ke kota asalnya. Ia bertekad melindungi sosok yang pernah menolongnya itu, yang sekarang telah tumbuh dewasa menjadi seorang wanita muda dengan paras yang sangat cantik jelita.
Sampul Novel Dinginnya Bodyguard, Hangatnya Cinta
9.4
Nyawa Alexa, pewaris dinasti politik, terancam bahaya. Ayahnya menugaskan Rafael, mantan pasukan khusus yang kaku dan disiplin, sebagai pengawal pribadi. Meski Rafael berusaha menjaga batas profesional, pesona Alexa perlahan meruntuhkan pertahanannya. Di tengah intaian musuh, sebuah godaan muncul. Bagi Rafael, melindunginya dari pembunuh adalah tugas rutin, namun tantangan terberatnya justru menahan perasaan agar Alexa tidak jatuh hati padanya.
Sampul Novel Harga Diri Seorang Wanita
8.1
Jenna Ren berdiri di tepi atap rumah sakit dengan lengan berdarah dan hati hancur. Saat nyaris melompat, ia melihat suaminya datang bersama wanita lain. Jenna sadar bahwa kematiannya hanya akan memberi mereka kebahagiaan. Setelah menderita hingga keguguran, ia bangkit untuk membalas dendam. Jenna membatalkan niat bunuh diri dan mendatangi Tuan Besar Kim. Sambil berlutut, ia memohon kekuasaan demi menghancurkan orang-orang yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel Kenangan Obsidian
9.3
Pasca pelarian dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien bersembunyi di Pegunungan Broken. Di sana, misteri Penjaga kuno terungkap saat Asha bergulat dengan kekuatan abu dan memori yang menyiksanya. Sementara itu, tubuh Kael perlahan membatu, mengancam sisi manusianya. Konflik antarras ternyata hanyalah manipulasi belaka. Di tengah pengkhianatan dan pengorbanan, Asha harus memilih: menjadi senjata mematikan atau pelindung dunia dengan harga yang sangat mahal.
Sampul Novel Mafia in The Morning
9.3
Pasca kontrak kerja berakhir, Mayumi menjadi relawan di acara Jepang demi bertemu idolanya, Mamoru V. Keberuntungan berpihak padanya saat ia terpilih menjadi LO sang cosplayer. Namun, perjalanan menuju studio foto berubah mencekam ketika sekelompok orang bersenjata menyerang mereka. Saat terjebak di gedung tua dalam aksi kejar-kejaran maut, Mayumi terkejut melihat Mamoru mengeluarkan pistol asli. Ternyata, sosok sang idola menyimpan rahasia gelap yang berbahaya.