
Damn! Dia Bosku
Bab 3
"Kenapa muka mirip Zombi gitu? Harusnya deket sama bos ganteng itu, muka tambah fress." Kila menyambut kedatangan Dara di kantin siang ini.
"Fress muka lo! Bos baru kita rese banget tau nggak! Kalau boleh demo, gue pengen nuntut Pak Adrian balik lagi ke kantor." Dara bersungut-sungut, sedangkan Kila terkekeh.
Beberapa saat kemudian makanan yang mereka pesan datang. Namun, Baru beberapa suap Dara makan, Alex menghubungi ponsel Dara. Gadis itu mencebik setelah membaca pesan dari bosnya itu.
"Kenapa?" Kila menghentikan suapannya karena melihat muka masam temannya.
"Baru mau makan udah disuruh-suruh. Apa dia nggak punya kaki? Tinggal ke resto aja apa susahnya!" Dara mengomel dan itu membuat Kila semakin bingung karena dia tidak tahu siapa yang dimaksud Dara.
"Lo ngomongin siapa?"
"Ya, siapa lagi kalau bukan bos baru. Tau resto western sekitar kantor?" Dara berbicara dengan Kila sambil melihat-lihat restoran di aplikasi online.
"Jauh. Nggak ada yang dekat. Paling dekat dua puluh menitan. Pesenin online ajalah!" Dara mengangguk. Setelah memesan pesanan sang direktur, Dara melanjutkan makannya.
Selesai menyantap siang, Dara beranjak menuju lobi. Dia menunggu pesanan yang tadi dia pesan melalui aplikasi online. Berkali-kali gadis itu melihat jam yang melingkar di tangannya. Istirahat siang tinggal sepuluh menit lagi berakhir. Namun, pesanannya belum juga datang.
Dara menunggu dengan cemas. Sudah pasti sang direktur akan marah dengan keterlambatan ini. Dia tahu kebiasaan Alex yang tepat waktu.
Setelah mendapat makanan yang dipesan, Dara segera ke atas. Dia mengambil keperluan makan di pantry. Kemudian berlari menuju ruangan Alex. Saat membuka pintu, Dara disambut oleh tatapan tajam sang bos. Kata-kata maaf yang telah disusun beberapa menit tadi menguap begitu saja.
"Kamu tahu istirahat makan siang telah berakhir?" Alex marah.
Dara menunduk sambil menyiapkan makanan sang bos di atas meja.
"Bawa semua makanan ini di sofa depan sana!" perintah Alex.
Dara mengangguk dan membawa makanan sang bos di sofa.
Alex telah bersiap duduk di sofa. Saat akan menyantap makanannya, lelaki beriris kelabu itu melihat sang sekretaris. "Saya tidak ada toleransi untuk keterlambatan. Lain kali usahakan semua tepat waktu!"
"Maaf, Pak. Resto American jauh dari kantor." Dara berbicara sambil menunduk.
Alex menatap tajam ke arah gadis itu. "Kamu bisa pesankan makanan apa saja yang dekat dengan kantor. Jangan beralasan!"
"Tapi, sekitar sini hanya ada makanan lokal. Bapak, kan, nggak suka makanan lokal."
"Siapa bilang? Saya bisa makan apa saja!" Suara Alex tegas dan Dara tercengang.
"Sejak kapan Bapak suka makanan lokal?" Rasa penasaran memenuhi kepala Dara.
"Itu bukan urusan kamu!"
Mulut Dara tertutup. Setelah memastikan sang direktur menyantap makanannya dengan tenang, Dara beranjak dari tempat itu. Baru beberapa langkah, Alex menghentikan Dara.
"Kerjaan saya banyak, Pak. Proposal yang Bapak minta baru setengah saya kerjakan. Jadi, saya mohon undur diri." Dara memohon.
"No! Temani saya makan! Bukannya kamu juga yang akan bereskan semua? Ya, kamu tunggu saya makan."
Dara semakin kesal. Jika saja yang di depannya bukan bos yang menggajinya, sudah pasti sepatu hak tingginya akan melayang di kepala lelaki itu.
Dengan sabar, Dara menunggu sang bos besar menyantap makannya. Gadis itu duduk di samping Alex dengan muka masam. Permainan di ponselnya tidak membuat perempuan itu senang. Setiap dia berpaling dan melihat wajah Alex, kekesalannya semakin bertambah.
"Bereskan semua!" Alex berlalu begitu saja ke mejanya. Meninggalkan Dara yang masih bengong karena perintah Alex.
Di luar ruangan, Dara terus mengomel. "Astaga! Sebenarnya gue ini sekretaris apa babu, sih? Kenapa gue harus berhadapan sama monster itu?" Gumaman Dara terdengar oleh Banu sang Office Boy kantor.
"Mbak Dara ngomong sama siapa?" Dara terkejut dengan suara Banu, kemudian berbalik ke belakang. Terlihat Banu baru keluar dari ruangan direksi lain.
"Gue ngomong sama elo! Bawa ni nampan ke belakang!" Muka jutek Dara membuat Banu menebak-nebak apa yang terjadi. Kemudian dia membawa nampan yang disodorkan Dara dan berlalu begitu saja.
Di ruangannya, Dara masih terus mengomel. Setelah mereda, dia menghidupkan komputer yang tadi dimatikan dan mengerjakan semua tugasnya. Sesaat dia melupakan wajah menyebalkan sang bos besar. Namun, ketenangan Dara tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Alex masuk ke ruangan kecil itu. Siapkan semua berkas, kita ketemu Mr. Swan sekarang!"
"Hah! Mr. Swan! Astaga, Bapak! Itu, kan, besok sore. Saya belum nge-print berkasnya!" Dara panik. Dia mengobrak-abrik apa saja yang ada di atas meja.
"Itu urusan kamu! Saya tunggu sekarang!"
Dengan sigap, Dara meng-copy paste semua berkas ke flashdisk dan membawa serta laptopnya. Dia teringat, di mobil kantor ada printer yang dia tinggal jika sewaktu-waktu ada keperluan.
Dara berlari mengejar Alex yang telah sampai di depan lift. Setelah berada di dalam lift, perdebatan terjadi.
"Seharusnya kamu persiapkan semua keperluan sebelum hari H, kenapa kamu sekarang jadi malas sekali?" Alex tidak terima.
Dara geram dengan ucapan sang bos. "Maaf, Pak. Selama saya bekerja dengan Pak Adrian, beliau selalu tepat waktu, tidak pernah mengubah jadwal yang sudah ditentukan. Jadi, saya bisa mengerjakan pekerjaan sesuai waktunya." Dara berbicara tanpa melihat Alex.
"Kamu berani membantah saya! Ingat! Saya dengan Papa sangat berbeda!" Alex berbicara tegas, tetapi itu membuat Dara semakin kesal.
"Mungkin saya butuh beradaptasi dengan Bapak!" Dara mengepalkan tangannya menahan amarah.
Alex melihat wajah Dara yang kesal. Lelaki itu terus memperhatikan mimik wajah itu. Namun, Dara tidak melihat Alex sedikit pun saat berbicara karena dia sibuk dengan ponselnya dan itu membuat Alex dapat menebak semua isi hati Dara. Diam-diam lelaki itu selalu tersenyum.
"Saya tau, ketika bicara sama saya, kamu membawa-bawa masa lalu. Jadi, setiap apa yang saya lakukan selalu salah!" Suara Alex terdengar seperti ejekan untuk Dara.
Gadis itu berpaling dari ponselnya dan melihat Alex, dilihatnya sang bos menyunggingkan senyum kemenangan. "Saya sudah lupa dengan masa lalu! Ingat itu, Pak!" tegas Dara.
Alex terkekeh dan itu membuat Dara semakin kesal. "Kita lihat saja ke depan. Siapa yang belum melupakan masa lalu!" Pintu lift terbuka dan Alex keluar begitu saja meninggalkan Dara.
Dara berlari untuk menyejajarkan dirinya dengan Alex. Namun, langkah lelaki itu sangat cepat dan membuat Dara kewalahan. Apalagi gadis itu membawa tas laptop yang dia jinjing, ditambah stelletto yang dia kenakan. Hal itu semakin membuatnya kesulitan berjalan.
Sesampainya di tempat parkir, Dara masuk ke kursi penumpang. Saat Alex mengikutinya untuk duduk di belakang, Dara melarangnya. "Maaf, Pak. Kursi samping sudah ditempati printer kesayangan saya."
Alex mendengkus kesal. Kemudian lelaki itu membuka pintu depan dan duduk di samping sopir.
Dara tersenyum penuh kemenangan. Dia tidak ingin terlalu dekat dengan bosnya. Gadis itu sudah berjanji akan menjaga jarak dengan sang direktur jika tidak ingin masa lalu terulang kembali.
Sesampainya di restoran, Tuan Swan sudah menunggu kedatangan Alex. Mereka saling menyambut dan sepertinya Alex telah kenal sebelumnya. Keduanya terlihat sangat akrab.
Dara menundukkan kepala dan tersenyum ketika Alex memperkenalkannya dengan Tuan Swan. Setelah itu mereka terlihat berbincang dan menikmati santapan yang telah dipesan sebelumnya.
Dara selalu mengamati wajah sang bos ketika berbincang dengan tamunya. Wajah berahang tegas itu, selalu menyunggingkan senyum. Telah lama Dara merindukan wajah tampan itu. Diam-diam Dara tersenyum melihat lelaki yang ada di sampingnya.
Dua jam berlalu, kedua bos besar itu hanya mengobrol santai. Mereka sama sekali tidak membicarakan pekerjaan. Hal itu membuat Dara bertanya-tanya. Untuk apa dia tergesa-gesa menyiapkan semua berkas jika mereka tidak membahas pekerjaan sama sekali.
"Pak, proposalnya nggak dibahas?" Dara bertanya pada Alex setelah tamunya kembali ke hotel.
"Dia cuma mau ngobrol santai. Kamu lihat tadi." Alex menjawab dengan tenang seakan-akan tidak terjadi apa pun.
"Terus ... kerjaan saya sia-sia? Ngapain tadi saya buru-buru?" Kekaguman Dara pada sang bos sirna. Berganti kekesalan yang mencokol di hatinya.
"Kamu ngapain marah?" Alex berjalan santai ke mobil dan Dara mengikutinya di belakang.
"Bapak nggak punya perasaan! Saya panik tadi, Pak!" Alex berhenti sejenak ketika sampai di samping mobil. Dilihatnya sang sekretaris yang kesulitan membawa barang di tangannya. Namun, kesulitan Dara merupakan kesenangan untuknya, terlihat lelaki itu hanya melihatnya saja, tidak ada niat untuk membantu.
"Kamu cantik kalau lagi marah!" Alex masuk ke mobil begitu saja. Tidak memedulikan Dara yang mematung di luar.
Anda Mungkin Juga Suka





