Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dalam Dekapan Dosen Tama

Dalam Dekapan Dosen Tama

Dalam suasana penuh ketegangan, Tama berusaha meyakinkan Runa agar tidak menolak kehadirannya. Dengan suara serak yang sarat akan emosi, ia mendekap Runa dan menghirup aroma tubuh istrinya tersebut dengan penuh damba. Di tengah pergolakan batin yang terjadi, Tama membisikkan penegasan bahwa hubungan intim mereka adalah hal yang sah secara hukum dan agama. Sebagai sepasang suami istri, ia merasa tidak ada lagi alasan bagi Runa untuk terus menghindar darinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kelas selesai lima menit lebih cepat dari biasanya. Biasanya Tama tak akan melewatkan satu detik pun waktu kuliah, apalagi mengakhiri lebih awal. Tapi hari itu dia tampak tidak sepenuhnya fokus. Selesai menjelaskan soal latihan yang terakhir, dia menutup laptopnya dan berdiri.

"Baik, itu saja untuk hari ini."

Semua mahasiswa tampak lega. Suara kursi berderit, buku ditutup, dan bisik-bisik mulai memenuhi ruangan.

Namun sebelum semua benar-benar bubar, suara Tama kembali terdengar, kali ini lebih pelan tapi jelas tertuju pada satu nama.

"Aruna, setelah ini ke ruangan saya. Ada hal yang ingin saya bicarakan."

Aruna yang sedang memasukkan laptop ke tas, berhenti sejenak. Wajahnya sedikit mengernyit. Dari seluruh kelas, hanya dia yang dipanggil.

Lagi.

Dewi di sebelahnya langsung heboh. Matanya membelalak, nyaris menjatuhkan tempat pensil warna-warni dari meja.

"NA. LO DIPANGGIL DOSEN TAMA!" Bisikannya seperti alarm mobil, keras dan berisik.

"Gue dengar, Wi... Kuping gue nggak tuli," jawab Aruna pelan, sambil berusaha terlihat tenang.

"Lo ngapain? Jangan bilang Lo nyontek nilai UTS dari Google terus ketahuan."

Aruna melirik sekilas dengan tatapan datar. Tapi jujur saja, dadanya mulai terasa aneh. Gugup, tapi bukan karena ia akan bertemu idolanya. Bukan. Lebih ke... rasa tak nyaman. Karena semua ini terasa terlalu aneh. Terlalu banyak kebetulan dalam satu hari.

Dia bahkan tidak ingat pernah berinteraksi dengan dosen itu sebelumnya. Tapi hari ini saja, namanya sudah tiga kali disebut. Dan sekarang, diminta datang secara pribadi?

Lorong menuju ruang dosen lengang. Waktu sudah hampir pukul sebelas, dan sebagian besar staf pengajar sedang sibuk dengan jadwal konsultasi atau rapat mingguan.

Aruna berhenti di depan pintu kaca berlabel "Tama Pratama, M.Acc, CPA – Dosen Tetap Akuntansi Keuangan". Dia mengetuk dua kali.

"Masuk," sahut suara dari dalam.

Ruangannya rapi dan minimalis. Tidak banyak dekorasi selain rak buku tinggi, satu meja kerja, dan satu kursi di seberang. Wangi kopi hitam menguar samar dari cangkir yang masih berasap di meja.

Tama duduk santai di kursinya, kali ini dengan lengan kemeja yang digulung setengah. Matanya menatap Aruna sekilas, menunjuk kursi di seberang mejanya.

"Silakan duduk."

Aruna menurut. Dia menaruh tas di pangkuan dan menunggu. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, atau karena sorot mata dosen di hadapannya yang seperti menyimpan sesuatu.

Tama membuka map folder di mejanya, mengeluarkan selembar kertas. Dia meletakkannya di atas meja.

"Ini tugas kelompok dari minggu lalu. Kamu termasuk yang nilainya paling tinggi. Tapi ada beberapa hal yang saya ingin konfirmasi langsung."

Aruna mencondongkan tubuh. Dia membaca cepat bagian yang ditunjuk Tama.

"Soal pengakuan diskonto obligasi, jawaban kelompok kamu sangat mendetail. Hampir seperti ditulis oleh seseorang dengan pengalaman kerja."

Aruna mengangkat alis. "Saya yang tulis, Pak. Saya memang suka baca jurnal... dan kebetulan pernah bantu teman saya di konsultan pajak saat liburan."

Tama mengangguk pelan, mencari celah di balik jawaban jujur itu. Tapi tak ada yang mencurigakan. Karena memang, sejujurnya, tak ada alasan konkret mengapa Aruna harus dipanggil hari itu. Semua hanya dibuat-buat.

Dia tahu itu salah, tahu ini tidak profesional. Tapi pikirannya sudah terlalu penuh dengan nama itu sejak semalam. Dan kini, melihat Aruna duduk di depannya, nyata, membuatnya makin bingung.

"Saya cuma ingin pastikan tidak ada unsur plagiarisme," lanjut Tama, berbohong dengan sangat halus.

Aruna mengangguk pelan. "Tidak, Pak. Saya tidak pernah copy paste. Saya suka ngerjain sendiri."

Diam.

Hening sejenak. Lalu Tama bersandar ke kursinya. Menatap Aruna dengan ekspresi campur aduk yang tidak biasa ditunjukkan seorang dosen. Dia menggenggam ujung pulpen di tangannya dengan kuat, seperti sedang menahan sesuatu.

"Kamu tinggal di mana sekarang?"

Pertanyaan itu membuat Aruna mendongak, heran. "Di..." seketika dia gagap, "Di kosan daerah belakang kampus, Pak."

"Asalmu dari mana?"

"Semarang."

Kali ini, mata Tama bergerak sekilas menatap wajah Aruna. Wajah yang selama ini luput dari perhatiannya. Biasa saja. Tidak mencolok. Tapi sekarang dia tahu, gadis ini adalah gadis yang disebut ibunya semalam dalam percakapan yang membuat kepalanya pening setengah mati.

"Aruna Janitra. Nama lengkapmu, kan?"

Kepala itu mengangguk kecil, rambutnya yang di ikat bergerak sedikit mengikuti, "I- iya."

Tama menghela napas pelan. Rahangnya mengeras. Dia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit sejenak sebelum kembali menatap Aruna dengan ekspresi datar.

"Baik. Saya hanya ingin memastikan."

Aruna menganga.

Tama tahu, paham. Tapi tidak langsung menanggapi. Tangannya mengetuk ringan permukaan meja.

"Bahwa kamu memang... orang yang saya cari. Tapi bukan karena akademik."

Aruna terdiam. Bingung. Juga tidak nyaman.

Tama melanjutkan, suaranya lebih pelan, namun tetap dingin. Tidak menyisakan kehangatan seperti biasanya dia berbicara di kelas.

"Saya tidak menyukai permainan orang tua. Tapi sayangnya, mereka mengira hidup saya bisa diatur seperti menyusun laporan neraca. Rapi dan tinggal disetujui."

Aruna masih tak berkata apa-apa. Bahkan napasnya terasa lebih pelan dari biasanya. Mencoba memahami setiap kata yang meluncur dari mulut dosen itu. Dia merasa seperti terseret dalam sesuatu yang bukan urusannya.

"Saya tidak akan memperpanjang ini. Saya tidak sedang mencari masalah dengan kamu. Tapi kalau nanti kamu dengar hal-hal aneh dari luar, atau dari keluarga, anggap saja kamu tidak pernah datang ke ruangan ini. Kita tidak kenal. Paham?!!"

Kata-kata itu menusuk. Ada sesuatu yang tidak bisa Aruna pahami sepenuhnya. Tapi dia tahu satu hal. Pria di hadapannya sedang tidak baik-baik saja. Entah karena dia, atau karena nama yang dia bawa.

"Usahakan untuk menolak semua yang kamu dengar nantinya." kata itu menusuk jelas. Sebelum Tama bangkit.

Memberi isyarat bahwa pertemuan mereka selesai. Dan untuk pertama kalinya, Aruna berdiri meninggalkan ruangan itu sambil membawa rasa tak biasa yang mehunus aneh ke dadanya.

Dia tidak tahu siapa yang lebih bingung. Dirinya, atau Tama.

Tapi satu hal pasti, hari itu, hidupnya tidak lagi sunyi seperti kemarin.

Aneh.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DAN TEMAN SUAMIKU
9.7
Kehidupan Tara berubah drastis saat ia terjebak dalam posisi yang tak pernah dibayangkan: menjadi istri kedua dari sahabat mendiang suaminya sendiri. Kini, ia terperangkap di tengah dinamika rumah tangga yang penuh komplikasi dan tekanan batin. Di tengah konflik emosional yang terus menguji kesabarannya, Tara harus menentukan pilihan sulit. Akankah ia bertahan demi komitmen tersebut, atau justru memilih untuk menyerah karena beban yang terlalu berat?
Sampul Novel Ayah Si Preman Sekolah
9.2
Seorang gadis mendapati dirinya terduduk di atas meja akibat ulah ayah dari preman sekolahnya. Pria berpenampilan terpelajar namun berjiwa berandal itu mengulum rokok di bibir sambil memerintahkannya dengan dingin. Ketegangan memuncak saat sang putra mendadak masuk ke ruangan. Demi menyembunyikan keberadaan gadis itu, sang ayah segera menekan kepalanya ke bawah meja. Di tengah situasi yang mendebarkan dan penuh rahasia tersebut, sang pria justru mulai melepaskan ikat pinggangnya.
Sampul Novel DIKEJAR CINTA CEO PREMAN
8.8
Hubungan Khanza Azzahra dan Erlangga Yudistira kandas akibat penolakan ayah Zahra. Sosok Erlangga yang dianggap preman urakan dinilai tidak memiliki masa depan. Demi membuktikan ketulusannya, Erlangga pun kembali ke identitas aslinya dan bertransformasi menjadi CEO berwibawa. Namun, rintangan baru muncul saat Zahra justru dijodohkan dengan pria bernama Andi. Mampukah Erlangga meyakinkan ayah Zahra dan memperjuangkan kembali cinta mereka yang terpisah?
Sampul Novel GAIRAH PAPA MERTUAKU
8.5
Dua tahun menikah, Tessa Willson merasa hampa karena kesibukan Leonil, suaminya. Kekecewaan memuncak saat kebutuhan batinnya tak lagi terpenuhi. Di tengah keretakan itu, hadir Arnold Caldwell, ayah tiri Leo yang semula datang untuk bisnis. Pesona Tessa memicu skandal perselingkuhan yang membangkitkan gairah terpendamnya. Namun, saat Tessa berniat berhenti, ia justru terjerat tipu daya Arnold. Sanggupkah ia lepas dari jeratan itu demi rumah tangganya?
Sampul Novel Ketika Cinta Telah Mati dan Harapan Pupus
9.4
Saat mendaki gunung, Chloe Winata mengalami hipotermia hingga penyakit jantungnya kambuh. Namun, dua sahabat masa kecilnya justru mengabaikan kondisinya demi melindungi Lucia, putri sopir mereka. Alih-alih menolong, mereka malah menuduh Chloe cemburu. Setelah diselamatkan oleh tim SAR dan dirawat di rumah sakit selama seminggu tanpa dijenguk, Chloe mengetahui bahwa mereka justru sibuk merayakan ulang tahun Lucia. Sadar persahabatan belasan tahunnya sia-sia, Chloe memutuskan menyerah dan menyetujui perjodohan dengan putra Keluarga Januar.
Sampul Novel Mantanku Minta Aku Jangan Tinggalkan Dia
8.9
Sembilan tahun mendampingi Rehan dan bersiap menuju gerbang pertunangan, sang protagonis harus menghadapi kenyataan pahit dalam novel modern ini. Saat hendak menjemput kekasihnya dari acara reuni, ia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam Rehan. Pria itu terang-terangan menyebutnya sebagai pengganti murah yang digunakan untuk meruntuhkan kepercayaan diri cinta pertamanya yang kini telah kembali. Sadar dirinya hanya pelampiasan rasa sepi, ia kini dihadapkan pada pilihan sulit untuk pergi.