
CRAZY RICH MENIKAHI GADIS POLOS
Bab 3
Tangan putih milik Havva telah selesai membuat kebab dan jus kurma. Ia menaruh hidangan itu di atas nampan dengan ukiran kayu yang unik.
Havva berbalik dan mendekat kepada Irlan yang sedang duduk memperhatikannya.
"Oh sudah selesai kah?" tanya Irlan dengan mata berbinar melihat makanan di atas nampan. Sebenarnya ia berusaha menutupi kegugupannya terhadap gadis manis di depannya.
"Iya tuan, ini sudah selesai," jawab Havva dengan menyerahkan nampan kepada Irlan.
"Terimakasih banyak kau telah membuat makanan ini. Sepertinya ini sangat enak," seru Irlan mencoba basa-basi dengan Havva.
"Terimakasih kembali. Semoga istri anda menikmati makanan itu. Kalau begitu saya permisi," ucap Havva dengan sopan. Ia berusaha tersenyum kepada Irlan. Meski saat ini ia sangat mengantuk dan lelah. Karena selesai mencuci baju langsung memasak makanan.
"Namaku Irlan," kata Irlan dengan santai menatap gadis bermata biru coklat itu.
"Saya permisi Tuan Irlan." seru Havva dengan cepat sambil melangkahkan kakinya untuk keluar.
"Hei tunggu!" Irlan melangkah cepat sebelum Havva pergi dengan jauh.
"Ada apa tuan?" tanya Havva dengan polos. Matanya benar-benar membuat Irlan jatuh hati.
"Em, siapa namamu?" Irlan bertanya dengan ekspresi seolah pertanyaan itu tidak penting. Namun sebenarnya ia sangat ingin tahu nama gadis berkerudung segi empat itu.
Havva berpikir cepat dan menjawab.
“Maaf tuan, ini sudah larut malam. Aku akan beristirahat.” kata Havva dengan singkat dan padat. Ia segera berbalik dan melangkah cepat meninggalkan pria yang sama sekali tidak penting baginya.
Irlan mengerutkan dahi sambil mulutnya terbuka sedikit. Ia bingung dengan tindakan gadis itu.
“Apa suaraku kurang keras? aku kan menanyakan siapa namanya? kenapa seolah gadis itu menghindar dariku? ah ya sudahlah mungkin dia malu berhadapan dengan pria tampan sepertiku," Irlan menyeringai dengan sangat menggoda.
Irlan pergi keluar dapur dengan serta membawa nampan.
“Oh! kau lama sekali sayang?” tanya sang istri ketika mendapati Irlan membuka pintu kamar.
Irlan tak menjawab ia menyerahkan nampan kepada Bilqis.
"Wah sepertinya enak sekali!" seru Bilqis dengan mata bercahaya melihat hidangan kebab dan jus kurma.
"Kau yang membuat ini?" tanya Bilqis yang kini mengunyah kebab.
"Bukan aku, tapi gadis yang pernah kau marahi," jawab Irlan menatap istrinya yang asyik menikmati kebab.
"Kau serius? dia bisa membuat makanan seenak ini?" Bilqis tak percaya, bola matanya mendelik sambil menikmati jus kurma yang kini meluncur di tenggorokannya.
"Aku melihat sendiri dia memasak makanan itu," kata Irlan sambil tangannya merebut jus kurma dari tangan Bilqis.
"Ah kau ini! jangan sampai habis ya?" seru Bilqis dengan bibir mengerucut.
"Aku hanya mencobanya saja," Irlan merangkak naik ke atas ranjang. Ia berbaring sambil matanya menatap ke langit-langit kamar. Sementara Havva berpindah duduk ke kursi rias sambil menikmati makanan.
"Aku tidak menyangka akan merasakan jatuh cinta seperti ini kepada gadis itu," Irlan berucap dalam hati kecilnya seraya bibir tipis miliknya tersenyum.
Hati yang dulu terasa hampa dan gersang. Kini Irlan merasa seakan hujan yang rintik dan pelangi indah datang dengan tiba-tiba.
"Sampai kapan aku akan terus melihat gadis itu? aku berharap bisa melihatnya selama seumur hidupku.
Irlan menengok ke arah dimana istrinya berada. Di lihatnya wanita berambut panjang itu yang sedang menikmati makanan. Irlan menyayangi Bilqis. Hanya sekedar itu. Ia tidak pandai merayu Bilqis, karena ia memang tidak mencintai Bilqis sama sekali. Irlan tahu bahwa kehadiran dirinya di dalam kehidupan Bilqis adalah salah. Ya salah, karena selama ini ia tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada istrinya.
"Ya Tuhan perutku sangat kenyang sekarang!" seru Bilqis melihat ke arah suaminya dengan meringis.
Irlan kembali berbaring tidak melihat kepada Bilqis.
"Hem kau ini. Duduklah sampai tiga puluh menit, barulah kau tidur," kata Irlan menasehati dengan lembut. Ia pun memiringkan tidurnya dan menutup mata dengan berharap besok bisa melihat wajah gadis desa itu kembali.
"Ah kalau begitu baiklah!" Bilqis meraih ponsel dan membuka instagramnya.
“Hem siapa yang mengirimku pesan?” tanya Bilqis kepada dirinya sendiri. Jarinya pun dengan segera menyentuh layar ponsel.
Zayn Malik : Hai cantik! bagaimana keadaanmu? apa kau betah berlibur di desa ini?
Bilqis : Diam kau! tidak usah mengurusi hidupku!
Bilqis menutup layar instagramnya. Ia geram dengan tindakan teman Irlan itu. Zayn memang tergila-gila dengan Bilqis. Meski Bilqis sudah menikah. Namun Zayn terus memberi pesan lewat instagram. Sering kali pesan itu di penuhi kalimat gombalan.
Zayn adalah mantan kekasih Bilqis. Pria berwajah manis seperti perempuan itu telah patah hati karena di tinggal menikah oleh Bilqis. Sampai saat ini Zayn bahkan masih mengharapkan Bilqis.
Irlan tidak mengetahui bahwa Zayn adalah mantan kekasih Bilqis.
***
“Ada apa ini?” tanya Havva melihat barang-barang di ruang tamu berantakan. Vas bunga terjatuh bersama kain sebagai alas meja.
“Kalau dia sudah tidak kuat, berhenti saja bekerja! kalau dia bekerja terus seperti ini, bisa-bisa semua yang ada di penginapan bisa hilang atau hancur karena dia!” bentak Mahmud dengan wajah yang sudah mengeras.
“Dasar bodoh!” makian itu terlontar jelas dan Mahmud pergi tanpa perasaan.
Havva hanya menatapi ayahnya yang tertunduk lemas. Sementara sang ibu kini memeluk Havva.
“Bapak berusaha menutup kandang domba, tapi satu domba lari dan hilang setelah di cari tidak kunjung terlihat,” ucap sang ibu di telinga anak semata wayangnya.
“Itu kan bukan tugas ayah?” tanya Havva dengan melihat ayahnya dan kembali menatap ibunya untuk mencari jawaban.
“Ya itu memang tugas Maryam adikku, tapi ayah ingin membantunya," jawab Jihan dengan mengelus lengan anaknya. Ia berusaha meredam emosi Havva anak kesayangannya.
“Ayah aku akan mengantarmu ke kamar ya?” kata Havva dengan lembut. Ia tahu saat ini ayahnya pasti sangat lelah. Laki-laki berumur enam puluh tahun itu hanya bisa diam.
Havva memapah ayahnya masuk ke dalam kamar. Tangannya menarik selimut dan menutupi tubuh sang ayah yang bernama Juhan.
“Ayah jika kau lelah, berhentilah bekerja. Aku akan berusaha bekerja dengan lebih keras. Tidak usah khawatir denganku dan ibu. Aku ingin ayah di rumah saja. Lagi pula jika di rumah kan ayah lebih enak. Ayah bisa melakukan apapun yang ayah suka. Jika lelah, ayah bisa langsung tidur sepuasnya,” jelas Havva dengan penuh kasih sayang.
“Kau ini tidak tahu bagaimana ayah. Ayah sejak kecil sudah bekerja jadi jika di rumah saja, ayah akan bosan dan gila,” celetuk sang ayah membuat Havva geram.
“Hus! Jangan berkata sembarangan, Yah!” seru Havva cepat-cepat.
“Kalau begitu tidurlah ini sudah malam,” ucap Havva berusaha meredam kesalnya.
“Apakah kau sudah mempunyai kekasih?” tanya sang ayah tiba-tiba.
“Apa kekasih?” Havva bingung ia sama sekali tidak habis pikir sanga ayah akan mempertanyakan hal yang tak pernah di bayangkan olehnya.
“Iya, jika sudah menikahlah dengannya. Supaya kau lebih tenang dan tidak usah lagi mengurusi ayah," jelas ayah membuat Havva geleng-geleng kepala.
“Astaghfirullah! ayah! Jangan bilang seperti itu, Ayah bosan ya? Mendengar nasehatku yang selalu menyuruh ayah untuk tidak bekerja?” tanya Havva menatap ayahnya.
“Ya bisa di bilang seperti itu,” jawab ayah sambil tersenyum kecil.
“Hem ayah!” seru Havva menepuk lengan ayah.
Havva pun segera pergi dari kamar Juhan setelah sebelumnya mengucapkan selamat tidur.
Anda Mungkin Juga Suka





