
Cowokku Lebih Muda
Bab 3
Ternyata kerja di tempat ini perlu ketelitian. Tidak boleh ada barang yang hilang. Meski ada rasa takut dibully, aku harus tetap semangat. Aku bersyukur beberapa jam teman-temannya tidak ada yang usil atau mengejek.
“Andini udah siang, kamu makan dulu gih!” ujar Mbak Ria mendekatiku di meja kasir.
Mbak Ria senior di sini, berambut cantik dan berkulit putih.
“Memangnya gak apa-apa, Mbak?” tanyaku hati-hati. Takut salah dengar atau salah ucap. Mbak Ria menoleh sekilas sambil tersenyum.
“Gak apa-apa. Cepetan kalau mau makan. Cuma dikasih waktu setengah jam buat makan dan salat.”
Setengah jam? Gak bakal keburu kalau pulang ke rumah dulu. Mau gak mau, makan di sini.
“Iya, Mbak.”
Aku masuk ke ruangan belakang. Di sana ada toilet dan ruangan kecil. Ruangan kecil memang disengaja untuk salat bagi yang muslim. Ada satu sajadah terhampar dan sepasang mukena yang tergantung.
Usai Wudhu, aku langsung menyambar mukena, kemudian salat.
Setelah melaksanakan kewajiban, keluar mau cari makan.
“Din! Andin!” Menoleh, mendengar suara yang gak asing di telinga. Ternyata benar, ada Alex yang sedang nongkrong bersama dua pemuda yang kerjaannya jaga parkir Minimarket.
“Ngapain kamu ada di sini?”
“Nungguin kamu. Makan yuk! Aku laper nih!” Alex langsung menggenggam telapak tanganku, berjalan ke arah warteg yang terletak di seberang mini market.
“Lex, kamu jangan makan di sini. Nanti Mami marah,” cetusku saat duduk di bangku panjang.
“Mami masih di luar negeri. Pesan sana. Sekalian buat aku. Samain aja lauk pauknya sama kamu.” Aku pun langsung memesan beberapa aneka lauk pauk khusus buat Alex. Lauk pauk yang tidak sama.
“Sekolah gak tadi?”
“Sekolah. Don’t worry, Beb,” sahutnya mengerlingkan sebelah mata. Kumat lagi genitnya!
Dua piring nasi dengan lauk pauk berbeda sudah tersaji di depan mata. Aku memesan nasi, goreng tempe dua, dan sambal. Sementara Alex, goreng tempe dua, goreng Ayam, dan sayur lodeh. Ia melirik piringku.
“Mbak, Mbak!”
“Iya, Mas?”
“Ayam gorengnya satu lagi ya?” Menoleh, melihat Alex memesan satu lauk pauk lagi.
“Ini, Mas.” Penjaga warteg menyodorkan sepotong ayam goreng.
“Taro di atas piring pacar saya, Mbak.”
Pacar? Nih anak bener-bener dah! Bikin malu! Masa iya, aku yang sudah karyawan pacaran sama anak yang masih pake seragam SMA.
SMAh, iya.” Si Mbak menyimpan sepotong ayam goreng ke atas piringku.
“Alex?”
“Makan. Habisin!” titahnya tanpa menatapku.
Aku menurut, menyantap makan siang dengan nikmat. Melirik Alex, ia tampak biasa makan tanpa menggunakan sendok.
***
“Aku kerja dulu.”
“Iya, Beb. Cium tangan dulu.” Alex membentangkan telapak tangan kanannya di depanku.
“Apaan sih?”
“Cium. Aku kan calon suami kamu.”
“Ogah. Kamu pulang, gih!”
Alex menurunkan telapak tangannya yang menggantung di udara. Ada-ada aja, belum nikah masa cium tangan gitu?
“Pulangnya bareng kamu.” Aku menghela napas melihat tingkahnya. Kalau dipaksa pulang, dia pasti tidak menurut. Biarin aja dah. Tanpa menanggapi ucapannya, aku meninggalkan Alex yang masih berdiri terpaku.
Kuakui, selama ini aku selalu merasa nyaman dan bahagia jika bersama. Merasa terlindungi. Tapi kalau diibilang cinta, kayaknya enggak. Aku tidak pantas untuknya. Terlalu banyak perbedaan diantara kami. Alex hanya sahabatku. Sahabat!
Jam sepuluh malam waktunya pulang. Alex masih menunggu di luar pojok mini market. Para pemuda yang biasa jaga parkir sudah tidak ada. Aku berjalan ke arahnya. Tersenyum melihat Alex masih di sini.
“Ayok, pulang!”
“Siap.”
Alex menyerahkan helm, keningku mengkerut.
“Lex, rumah kita gak jauh dari sini. Gak perlulah pake helm.” Alex menoleh, menumpu tangannya di atas helm.
“Kita cari makan dulu. Sekalian beliin buat Nenek.”
“Aku gak ada uang.”
“Aku ada! Cepetan naik!” Agak berjinjit, naik ke atas motor Ninja milik sahabatku itu.
“Pegangan!”
“Iya.” Kedua tanganku melingkar di pinggangnya. Motor pun melaju membelah jalan raya.
Semilir angin membuat tubuhku agak kedinginan. Kueratkan pelukan pada tubuh Alex. Tiba-tiba motor melaju pelan, lalu berhenti di sisi jalan. Alex membalikkan badan.
“Kamu kedinginan?”
“Kita mau kemana sih?”
“Kalau ditanya jawab dulu. Pake nih jaket.” Alex melepaskan jaketnya. Memberikan padaku. Ragu, mengambil jaket dari tangan Alex. Cepat-cepat ia melingkarkan jaket ke tubuhku, kutepis tangannya yang mau membantu mengenakan jaket itu.
“Aku bisa sendiri.”
Lelaki di hadapanku membalikkan badannya lagi. Setelah kedua tanganku melingkari pinggangnya, Alex melajukan motor kembali.
Kendaraan beroda dua yang kami tumpangi berhenti di salah satu Cafe. Usai melepaskan helm, Alex menuntunku masuk ke dalam cafe tersebut.
“Mau nasi goreng?” tanyanya, begitu kami sudah duduk.
“Mau.”
“Aku pesanin dulu. Sekalian dibungkus buat Nenek.”
Hanya mengangguk sebagai jawaban dari usulan Alex.
Malam ini kami menyantap nasi goreng diiringi musik dari penyanyi Cafe.
“Gimana tadi kerjanya?” Alex bertanya sambil mengunyah nasi goreng.
“Lancar.”
“Ada yang ngejekin?”
Aku menggeleng, “Enggak!”
“Jahat?”
“Enggak.”
“Jahil?”
“Enggak juga.”
“Syukurlah. Mulai besok aku anter kamu ke sana. Jangan jalan kaki.”
Aku tak menanggapi. Tetap fokus makan nasi goreng. Dua gelas Jus Mangga datang. Aku menyeruputnya hingga setengah.
“Lex l, aku mau tanya. Tapi kamu jawab jujur.” Alex mendongak, menatapku lekat.
“Emang selama ini aku suka bohong?”
“Enggak sih!” sahutku menyandarkan punggung ke kursi.
“Mau tanya apa?” Menghela napas. Mengingat kembali ucapan Mbak Ria yang menyuruhku berdandan.
“Aku jelek ya?” tanyaku merunduk.
“Cantik.”
Aku mendongak, memberanikan menatapnya.
“Aku serius, Lex ....”
“Aku juga serius, Andini ... kenapa nanya gitu? Ada yang ngejek? Ada yang bilang kamu jelek?” Alex mulai introgasi.
“Bukan. Tadi Mbak Ria, nyuruh aku pake make-up. Katanya supaya menarik, supaya enak dilihat.” Lelaki di hadapanku terkekeh. Menyeruput jus Mangga.
“Bukan kamu gak cantik, Din. Itu emang ketentuannya. Coba deh kamu ingat-ingat. Para penjaga kasir Minimarket itu memang pada pake make up. Ya udah, sebelum pulang kita beli kosmetik dulu. Kita cari toko kosmetik yang masih buka.”
“Tapi, Lex ....”
“Aku yang beliin.”
Kalau sudah begini, aku tidak bisa menolak.
***
Tiba di rumah, pukul setengah sebelas malam. Menguruk salam, Nenek membuka pintu. Aku menenteng satu plastik kecil yang berisi alat-alat make up.
“Nenek belum tidur?” tanyaku setelah mencium punggung tangannya.
“Belum. Nak Alex jemput Dini?” tanya Nenek begitu melihat Alex berdiri di belakangku.
“Bukan cuma jemput, Nek. Alex seharian nunggu Dini. Gak ada kerjaan dia!” selorohku masuk ke dalam rumah lebih dulu. Alex mengekor.
“Adalah, Beb. Itu sih nungguin kamu. Nek, Alex bawain nasi goreng buat Nenek. Nih! Dijamin enak!”
“Oalaaah ... baik bener Nak Alex. Makasih ya,” ujar Nenek memegang pipi kanan Alex.
“Sama-sama Nenek calon mertua.”
Anda Mungkin Juga Suka





