
COMPLICATED LOVE
Bab 3
Kantin
Bel istirahat telah berbunyi 3 menit yang lalu. Mira Cs saat ini sedang duduk di salah satu meja yang berada di pojok kantin. Mira fokus mengetik makalah di komputer, Ail yang membantu menulis di lembar kertas, dan Keyla yang memakan bakso seraya memperhatikan Mira.
“ Mira, makan sesuatu dulu.” ujar Keyla jengah pada Mira yang sedang berkencan dengan komputer.
“ Nggak bisa. Makalahnya Pak Awan harus dikumpulkan sore ini. Aku harus menyelesaikannya secepat mungkin. Si Bajingan Sean itu menggunting setiap halaman makalahku.” sahut Mira sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari komputer.
“ Kalau gitu, aku bantuin deh.”ucap Ail mengambil lembar kertas kosong, dan mulai mencatat bahan makalah Mira .
Keyla memutar bola matanya malas. “ Dasar kalian ini ya. Nih makan nih.” Keyla menyodorkan sesendok bakso yang sudah terpotong pada Mira, dan Mira menerimanya dengan baik.
“ Hei. Suapi aku juga dong.”
“ Kau makan sendiri lah.” Keyla menatap sinis Ail.
“ Aku bantuin dia nulis ini lho. Kau nggak lihat ya?” Keyla mendengus kesal, tak ayal ia juga menyuapi Ail.
Brak
Suara meja digebrak oleh Sean, membuat seisi kantin terlonjak kaget. Keyla mendongak menatap Sean Cs. “ Apa lagi ini?” dengusnya.
“ Kami ingin duduk di sini. Pergi.” ujar Sean datar.
“ Di meja ini, memangnya ada nama ayahmu?” ketus Keyla. Sean bersimrik, ia menunjuk bagian sisi meja. Dengan perlahan Ail mengintip sisi meja.
[Disponsori oleh Jevan Buana], itu yang tertulis di sisi meja. Ail menepuk lengan Keyla. “ Di meja ini memang ada nama ayahnya. ” ucap Ail pelan, membuat Sean tersenyum angkuh.
“ Ada banyak kursi kosong. Tinggal pilih.” keukeh Keyla tak mau menerima kekalahan.
Kevin mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Keyla, kemudian berbisik. “ Tapi kami ingin duduk di sini. Ada masalah?”
Keyla mendorong bahu Kevin. “ Ada. Sudah lama aku ingin memukul wajah bocah bajingan manja sepertimu, bangsat!” emosi Keyla, ia tangannya terangkat ingin memukul Kevin, namun Mira mencegahnya.
“ Hentikan. Ayo pergi dari sini. Aku harus menyelesaikan ini. Jangan buang-buang waktu.” ucap Mira datar. Keyla memandang penuh permusuhan pada Sean Cs. Mereka kemudian pergi ke meja kosong yang lain.
. . . .
Bel pulang telah berbunyi, para siswa siswi berbondong-bondong menuju parkiran. Berbeda dengan Mira, Ail dan Keyla yang memutuskan untuk menunggu bus di halte depan sekolah.
“ Aku nggak bisa duduk nyaman tanpa khawatir sepanjang hari, njirr. Aku takut mereka akan menyerang kita lagi. ” dumel Ail mengingat perlakuan Sean Cs selama ini pada mereka. Mau melawan pun, kuasa mereka nggak akan cukup. Kasta selalu merubah segalanya.
Tin
Tin
Itu suara klakson mobil yang lewat di hadapan mereka. Seorang yang berada di dalam mobil melambaikan tangannya dengan mobil yang terus melaju membelah jalanan.
“ Dia kan belum 18 tahun kok bisa naik mobil?” heran Keyla. Bukankah untuk mengendarai mobil ataupun motor itu dilegalkan nya pada umur 18 tahun? Itulah yang Kelya pikirkan.
Mereka menatap mobil Sean yang mulai mengecil. “ Ayahnya punya koneksi besar. Aku bahkan gak akan kaget kalau melihat dia menerbangkan helikopter. ” Mira berujar malas.
“ Yang benar saja, apa kita harus bertahan dengan ini sampai kita meninggalkan sekolah? Apa sebaiknya Aku punya asuransi jiwa sekarang ya? ” dumel Ail protes, mengingat kehidupan sekolahnya pasti nggak akan baik-baik aja setelah ini.
Mira terkekeh geli. “ Nggak perlu lah. Kalau kita nggak ganggu mereka , mereka akan segera bosan dengan kita.” ujar mira yakin.
“Gitu ya?”
Mira menganggukkan kepalanya setuju. “Aku harus pergi kerja paruh waktu sekarang. Sampai jumpa lagi. ” Mira melambaikan tangannya kemudian naik ke dalam bus tujuannya.
“ Sampai nanti.” Ail dan Kelya melambaikan tangannya pada Mira. Meraka lanjut menunggu bus tujuan mereka tiba.
. . . . .
Ditempat Mira bekerja paruh, terlihat sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Mira. Mira mengerutkan dahinya, sesaat kemudian ia memutar bola matanya malas saat seorang pemuda keluar dari mobil mewah tersebut.
“ Lihat siapa di sini. Teman sekelas gue, Mira.” ujar Sean bersimrik.
Mira memandang datar Sean. “ Apa maumu?” ketus Mira.
“ Perhatikan ucapan Lo. Gue seorang pelanggan, gue ingin mobil gue dicuci. Mau Lo layani... atau gue harus komplain pada pemiliknya soal Lo yang menolak mencuci mobil pelanggan?” ujar Sean melemparkan kunci mobilnya di lantai tepat di hadapan Mira.
Mira menatap muak Sean yang bertingkah semaunya. Dengan malas ia membungkuk untuk mengambil kunci mobil tersebut. Melihat itu Sean tersenyum puas dengan bersidekap dada.
Sean berjalan menghampiri Mira dan kemudian merangkul bahu Mira. “ Lo ngat ini. Ditempat ini, ada dua tipe orang. Tipe pertama adalah pemilik mobil seperti Gue, dan tipe kedua adalah pencuci mobil seperti lo.” Sean tersenyum licik setelah memasukkan sesuatu ke dalam saku baju Mira. Sean menepuk bahu Mira.
“ Urus mobilku, Nona pencuci mobil.”Sean berlalu pergi. Meninggalkan Mira yang mendengus kesal dibuatnya.
45 Menit kemudian...
Sean berjalan menghampiri Mira yang sedang mengelap spion mobilnya. “ Hasil cucian Lo bersih. Kalau gue jadi Lo, gue akan bolos sekolah. ” ucap Sean terselip nada mengejek.
Mira memutar bola matanya malas. “ Sudah selesai. Saya permisi, Tuan pelanggan. ” Mira berjalan pergi meninggalkan Sean.
“ Tunggu.” dengan malas Mira membalikkan badannya seraya menatap datar Sean yang menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.
Sean berjalan ke sisi mobil, kemudian berjalan menghampiri Mira. “ Dimana kartu kredit yang gue tinggalkan di mobil gue?” ucap Sean penuh penekanan.
“ Aku tidak mengambilnya.”
“ Kalau bukan Lo yang ambil, lalu siapa lagi?” ucap Sean terus memojokkan Mira dengan tuduhannya.
“ Aku tidak mengambilnya. Kenapa nggak kau cari lagi?” kesal Mira menatap Sean penuh , permusuhan.
Enak aja menuduhnya yang bukan bukan. Prinsip Mira, selagi dia masih sehat wal'afiat dan masih mampu bekerja, jangan berpikir untuk mengemis apalagi mencuri. Semiskin-miskinnya dia, dia nggak akan mencari uang dengan cara yang kotor dan haram, lebih baik ia mati kelaparan daripada menanggung karma di kemudian hari.
“ Permisi, Tuan. Apakah ada masalah disini?” tanya seorang pemuda, pemilik tempat pencucian kendaraan tempat Mira bekerja. Namanya Toni.
“ Saya meninggalkan kartu kredit saya di mobil, kak. Lalu saya mencuci mobil disini. Saat saya ingin mengambil mobil, kartu kredit itu tidak ada lagi di sana. Entah pegawai kakak ini mengambilnya atau tidak.” terang Sean menyudutkan Mira.
Pemilik tempat itu (Toni) hanya bisa meringis kecil, dan kemudian ia menatap Mira seolah bertanya 'apa kamu benar mengambilnya?' . Mira menggeleng, ia sangat yakin tidak mengambil kartu kredit milik Sean. Ini pasti sudah direncanakan oleh Sean, Sean itu sangat licik, pikir Mira.
“ Saya benar-benar tidak mengambilnya, kak. Kakak bisa mengejek CCTV. ” ucap Mira memberi pembelaan pada dirinya sendiri.
“ Kamera CCTV hanya merekam bagian luar. Tapi tidak bisa melihat apa yang Lo lakukan didalam mobil. Nggak ada CCTV di dalam mobil. Pikir pakai kepala Lo. ” sarkas Sean tak mau kalah.
“ Ijinkan saya mengurus ini, Tuan. Tolong tunggu sebentar. ” ucap Toni. Toni kemudian memanggil seorang pegawai wanita dan menyuruhnya untuk memeriksa Mira.
Melihat Mira yang hanya pasrah saat di periksa, Sean tersenyum miring. Rencana untuk merusak citra Mira sebentar lagi akan terselesaikan, ia memang sengaja memasukkan kartu kreditnya pada saat merangkul Mira saat awal tiba disini tadi.
“ Tuan, tidak ada barang apapun.” ucap pegawai itu setelah selesai memeriksa Mira. Toni mengangguk, kemudian tersenyum ramah menatap Sean.
“ Tuan pelanggan, dia benar-benar tidak mengambilnya. ” ucap Toni.
Sean mengerutkan dahinya sesaat. Bukankah dengan jelas ia sudah memasukkan kartu kredit itu ke dalam saku Mira? Ada yang tidak beres pikirnya. “ Bisa kakak cari lagi?” ucap Sean tak puas.
Mira tersenyum miring menatap Sean. “ Atau mungkin, Tuan pelanggan bisa mengeceknya di saku. Mungkin lupa diletakkan disana. ”
Sean meraba saku celananya. Ia terkejut mendapati kartu kreditnya kini berada di dalam sakunya, namun keterkejutannya itu tertutupi oleh wajah datarnya. Dengan ragu Sean mengeluarkan kartu kredit itu dari sakunya.
“ Ups. Oh, mungkin tuan lupa kalau meletakkannya di saku belakang.” ucap Mira tersenyum penuh kemenangan.
Senjata makan tuan, heh. Ucap Mira dalam hati.
“ Kalau begitu, semuanya beres. Urus pelanggan itu ya, Mira. ”
“ Siap, kak.”
Sepeninggalan Toni, Mira berjalan menghampiri Sean. Ia berjinjit untuk merangkul bahu Sean, yah taulah Sean itu tingginya kek tiang listrik.
“ Ingat ini. Di tempat ini ada dua tipe orang. Tipe pertama adalah orang cerdas. Dan tipe kedua... Adalah orang yang mengira dirinya cerdas.” sindir Mira mengejek.
Sean menatap tajam Mira yang tersenyum mengejek padanya. Mira melepaskan rangkulannya. “ Kalau begitu, saya permisi, Tuan pelanggan. ” Mira berjalan pergi meninggalkan Sean.
Mira berjalan seraya bersenandung riang.“ Pada indahnya duka~ dalam~ rasa malu. ” senandung Mira.
Ia sedikit merubah lirik lagu. Mira kemudian berbalik, memberi jari tengah pada Sean dan kemudian tertawa. Ia berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya. Sean mendengus menatap kelakuan Mira yang selalu saja memancing emosinya.
BERSAMBUNG...
Anda Mungkin Juga Suka





