Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cintamu Dibayar Dengan Surat

Cintamu Dibayar Dengan Surat

Rio terpaksa menikahi Sintia Wijaya setelah sebuah insiden fatal merenggut kesucian gadis itu. Tiga tahun berlalu tanpa cinta, Rio justru memilih menikahi mantan kekasihnya, Clara. Ia membenci Sintia yang dianggapnya licik karena memanfaatkan hartanya demi biaya medis sang ibu. Rio bahkan menolak mengakui Dika sebagai putra kandungnya. Namun, dinamika rumah tangga mereka mulai bergejolak saat istri keduanya datang membawa sebuah perjanjian rahasia yang tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kehadiran Clara di rumah Rio bagaikan angin topan yang menerjang ketenangan semu yang selama ini menyelimuti kehidupan Sintia. Sebelum Clara datang, rumah besar itu memang dingin dan sepi, namun setidaknya Sintia memiliki ruang untuk bernapas, untuk merawat Dika, dan sesekali mencoba peruntungannya meluluhkan hati Rio. Kini, bahkan ruang sempit itu terasa terampas. Clara bukan hanya merebut perhatian Rio, tapi juga secara halus menguasai setiap sudut rumah, seolah ia adalah satu-satunya nyonya di sana.

Clara adalah wanita yang cerdas, anggun, dan penuh perhitungan. Ia tahu bagaimana cara memposisikan diri di hadapan keluarga Dirgantara. Di depan Rio dan mertuanya, ia selalu tampil sebagai menantu idaman: sopan, pengertian, dan selalu mendukung Rio. Ia pandai berbicara, dengan senyum menawan yang mampu menyembunyikan niat sebenarnya. Nyonya Dirgantara, yang selalu mendambakan menantu dari kalangan terpandang, dengan cepat terpikat oleh pesona Clara. Clara memenuhi semua kriteria yang tidak pernah Sintia miliki di mata mereka. Ia adalah wanita dari keluarga baik-baik, terpelajar, dan yang paling penting, datang dengan sukarela, bukan karena "paksaan" seperti Sintia.

Sementara itu, perlakuan Rio terhadap Sintia semakin menjadi-jadi. Jika dulu ia hanya dingin dan acuh tak acuh, kini ia lebih sering melontarkan kata-kata pedas, bahkan di depan Clara atau para pelayan. Seolah-olah, kehadiran Clara memberinya kekuatan dan alasan untuk semakin menekan Sintia. Setiap tatapan jijik Rio, setiap kalimat tajam yang keluar dari bibirnya, menorehkan luka baru di hati Sintia yang sudah dipenuhi bekas luka lama.

Suatu siang, Clara mengadakan pesta kecil di rumah untuk memperkenalkan diri kepada beberapa teman Rio dan relasi bisnis. Sintia, yang memang sudah merasa tidak nyaman, memilih untuk berdiam diri di kamarnya bersama Dika. Namun, Rio menghampirinya, wajahnya masam.

"Sintia, kenapa kau tidak bergabung di bawah?" tanya Rio, suaranya dingin dan menusuk. "Kau ingin membuatku malu di depan teman-temanku?"

Sintia menunduk. "Maaf, Rio. Aku tidak enak badan."

"Jangan cari alasan! Kau adalah istriku, setidaknya di atas kertas. Kau harus menunjukkan dirimu di depan tamu-tamu pentingku. Jangan pernah berpikir kau bisa bersembunyi terus-menerus!" bentak Rio, membuat Dika yang sedang bermain di karpet terlonjak kaget.

Rio menarik tangan Sintia, memaksanya bangkit. Sintia tidak punya pilihan selain mengikuti. Dengan gaun sederhana dan wajah pucat, ia berjalan di samping Rio menuju ruang tamu yang penuh dengan tawa dan obrolan. Clara menyambut mereka dengan senyum manis, namun matanya menyiratkan kemenangan.

"Ah, Sintia. Akhirnya kau bergabung," sapa Clara ramah, namun ada nada terselubung di balik keramahannya. "Aku khawatir kau tidak suka dengan keramaian."

Rio menimpali, "Dia hanya butuh sedikit dorongan, Clara. Kau tahu, dia memang sedikit pemalu." Rio menekan kata 'pemalu' seolah itu adalah sebuah kekurangan yang memalukan.

Sintia hanya bisa tersenyum tipis, merasakan pandangan menghakimi dari para tamu yang sudah tahu tentang "situasi" di rumah tangga Rio. Ia merasa seperti pajangan, objek tontonan yang sengaja dipamerkan untuk menegaskan dominasi Clara dan Rio. Ia merasa malu, terhina, dan sangat kecil. Sepanjang pesta, Sintia hanya berdiri di sudut ruangan, sesekali tersenyum kaku saat ada yang mencoba mengajaknya bicara, sementara Rio dan Clara asyik bercengkerama, tertawa, seolah tidak ada beban di pundak mereka.

Kehidupan Dika juga semakin terpinggirkan. Jika dulu Rio hanya mengabaikannya, kini Clara ikut andil dalam menjauhkan Dika dari ayahnya. Clara akan selalu memastikan bahwa Rio dan Dika jarang berinteraksi. Jika Dika mendekati Rio, Clara akan segera mengalihkan perhatian Rio atau menyuruh pengasuh Dika, Bi Narsih, untuk menjauhkan Dika. Clara tidak ingin ada pengingat tentang "kesalahan" Rio di dekat mereka. Ia ingin Rio sepenuhnya fokus padanya, melupakan masa lalu yang melibatkan Sintia dan Dika.

Suatu sore, Dika sedang bermain di halaman belakang. Rio, yang kebetulan sedang bersantai di teras bersama Clara, melihat Dika tertawa riang. Untuk sesaat, hati Rio merasa sedikit terusik. Ia merasakan dorongan samar untuk mendekat, untuk merasakan tawa polos itu lebih dekat. Rio mulai beranjak dari kursinya, berniat mendekati Dika.

Namun, Clara dengan cepat meraih lengan Rio. "Sayang, aku dengar ada restoran Italia baru yang sangat enak di pusat kota. Bagaimana kalau kita makan malam di sana nanti?"

Perhatian Rio langsung teralihkan. "Oh, benarkah? Ide bagus, Clara. Aku sudah bosan dengan masakan di rumah."

Clara tersenyum puas, melirik sekilas ke arah Dika yang kini sudah kembali sibuk dengan mainannya, tidak menyadari bahwa ia baru saja kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dengan ayahnya. Rio pun kembali duduk, membahas rencana makan malam dengan Clara, melupakan niatnya untuk mendekati Dika.

Sintia, yang menyaksikan semua itu dari jendela kamarnya, merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Ia melihat betapa mudahnya Rio teralih, betapa mudahnya ia melupakan putranya sendiri. Dika, yang begitu polos, tidak tahu betapa beruntungnya ia memiliki seorang ibu yang mencintainya tanpa syarat. Sintia semakin bertekad untuk menjadi benteng pelindung bagi Dika, menjadi satu-satunya orang yang akan selalu ada untuknya, terlepas dari perlakuan kejam ayahnya.

Perjanjian yang ditandatangani Sintia adalah belenggu nyata yang menjeratnya. Dalam perjanjian itu, tercantum jelas bahwa Sintia tidak memiliki hak untuk menuntut apa pun dari Rio, selain nafkah bulanan yang sudah ditentukan, dan jaminan biaya pengobatan ibunya. Ia tidak boleh mengklaim hak atas harta Rio, bahkan tidak memiliki hak suara dalam keputusan penting keluarga. Yang paling menyakitkan, ia tidak diizinkan untuk mengganggu kebahagiaan Rio dan Clara, serta tidak boleh menghalangi pernikahan mereka. Jika ia melanggar salah satu poin, semua dukungan finansial untuk ibunya akan dihentikan, dan ia bahkan terancam kehilangan hak asuh atas Dika.

Sintia merasa tercekik. Perjanjian itu adalah penjara, namun juga satu-satunya cara ia bisa menjaga ibunya tetap hidup dan memastikan Dika mendapatkan kehidupan yang layak, setidaknya secara materi. Ia tahu, jika ia melawan, ia akan kehilangan segalanya. Rio terlalu berkuasa, dan ia tidak memiliki siapa pun yang bisa melindunginya. Keluarganya sendiri sudah lama terpuruk dalam kemiskinan, dan ibunya adalah satu-satunya yang tersisa baginya.

Di tengah semua penderitaan itu, Sintia sering kali merenung. Mengapa takdir begitu kejam padanya? Mengapa ia harus terjebak dalam situasi seperti ini? Ia mencoba mengingat kembali malam terkutuk itu, mencoba mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas obat dan alkohol yang diberikan kepada Rio. Apakah ini memang hanya kecelakaan? Atau ada seseorang yang sengaja menjebak Rio? Dan mengapa harus dirinya yang menjadi korbannya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benaknya, tanpa jawaban yang pasti.

Namun, ia harus mengesampingkan pertanyaan-pertanyaan itu. Prioritasnya saat ini adalah bertahan, melindungi Dika, dan memastikan ibunya mendapatkan perawatan terbaik.

Sintia mencoba mencari pekerjaan, agar ia bisa mandiri secara finansial dan tidak terlalu bergantung pada Rio. Ia memiliki gelar di bidang desain grafis, sebuah keahlian yang ia miliki sebelum insiden itu. Ia mencoba melamar pekerjaan secara daring, diam-diam, tanpa sepengetahuan Rio. Ia ingin memiliki penghasilan sendiri, agar ia bisa sedikit demi sedikit melepaskan diri dari jeratan perjanjian.

Namun, setiap kali ia mendapatkan tawaran wawancara, entah mengapa selalu ada halangan. Ada saja perusahaan yang tiba-tiba membatalkan wawancara, atau menolak lamarannya tanpa alasan jelas. Sintia mulai curiga. Apakah ini ada hubungannya dengan Rio? Apakah Rio sengaja menutup semua aksesnya untuk mendapatkan pekerjaan? Ia tidak bisa membayangkan alasan lain. Rio pasti tidak ingin ia memiliki kemandirian finansial, agar ia tetap berada di bawah kendalinya.

Rio dan Clara menjalani kehidupan mereka dengan penuh kemewahan. Mereka sering bepergian ke luar negeri, menghadiri pesta-pesta megah, dan selalu menjadi sorotan media. Rio tampil lebih bahagia dari sebelumnya, dan Clara selalu berada di sisinya, tersenyum dan memancarkan aura kebahagiaan. Di mata publik, mereka adalah pasangan sempurna, dan rumor tentang pernikahan pertama Rio yang "terpaksa" mulai meredup, digantikan oleh cerita romantis tentang Rio dan Clara.

Sementara itu, Sintia hidup dalam isolasi. Ia jarang keluar rumah, dan sebagian besar waktunya dihabiskan di kamar Dika atau di perpustakaan rumah yang sepi. Ia merasa seperti tahanan di rumahnya sendiri. Para pelayan pun, entah karena perintah dari atas atau karena takut pada Clara, mulai memperlakukan Sintia dengan berbeda. Mereka tidak lagi seramah dulu, dan kadang-kadang ada tatapan iba bercampur rasa ingin tahu yang membuat Sintia semakin merasa tidak nyaman.

Clara, di sisi lain, menikmati posisinya yang baru. Ia merasa telah memenangkan Rio sepenuhnya. Ia adalah wanita yang diakui, wanita yang dicintai Rio, dan tidak ada yang bisa merampasnya darinya. Ia seringkali sengaja menunjukkan kemesraan dengan Rio di depan Sintia, seolah ingin menegaskan siapa yang berkuasa.

Suatu malam, Sintia sedang berjalan di koridor menuju kamarnya, ketika ia mendengar suara tawa dari kamar Rio. Pintu kamar Rio sedikit terbuka, dan Sintia bisa melihat Rio dan Clara sedang bercanda, saling memeluk, terlihat sangat bahagia. Hati Sintia mencelos. Rasa sakit yang teramat sangat menyergapnya. Ia buru-buru berbalik, tidak ingin melihat lebih jauh pemandangan yang menghancurkan hatinya itu.

Ia tahu, ia seharusnya tidak merasakan sakit ini. Ia tahu, Rio tidak pernah mencintainya. Tapi melihat kebahagiaan Rio dengan wanita lain, di rumah yang sama, di saat ia sendiri hidup dalam penderitaan, adalah hal yang tak tertahankan. Air mata mengalir di pipinya, membasahi bantal saat ia membenamkan wajahnya di sana.

Meskipun Rio tidak pernah mengakui Dika sebagai putranya, Dika secara naluriah selalu mencari perhatian ayahnya. Dika adalah anak yang ceria dan aktif, namun setiap kali ia mencoba mendekati Rio, ia selalu dihindari atau dijauhkan. Hal ini mulai memengaruhi Dika. Ia menjadi lebih pendiam dan sesekali menunjukkan ekspresi sedih ketika melihat anak-anak lain bermain dengan ayah mereka.

Sintia menyadari perubahan pada putranya. Ia tahu, betapa pun ia mencintai Dika, kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah bisa menggantikan figur seorang ayah. Ia mencoba menjelaskan kepada Dika, dengan kata-kata sederhana, bahwa ayahnya sedang sangat sibuk, atau bahwa ayahnya sangat mencintainya meskipun tidak menunjukkannya. Namun, ia tahu, kebohongan itu tidak akan bertahan lama.

Suatu hari, Dika menggambar sebuah pemandangan. Di sana ada gambar matahari, awan, gunung, dan tiga orang: seorang wanita dengan rambut panjang yang ia gambar sebagai ibunya, seorang anak kecil yang ia gambar sebagai dirinya, dan seorang pria tinggi yang ia gambar sebagai ayahnya. Dika menghampiri Sintia dengan mata berbinar.

"Mama, lihat! Dika gambar keluarga kita!" kata Dika riang.

Sintia melihat gambar itu, hatinya teriris. Gambar Rio yang digambar Dika terlihat tersenyum, berbanding terbalik dengan kenyataan. "Bagus sekali, Nak," Sintia memaksakan senyum.

"Dika mau kasih ini ke Ayah!" Dika berlari keluar kamar, menuju ruang kerja Rio.

Sintia panik. Ia tahu Rio tidak akan senang. Ia buru-buru menyusul Dika. Dika sudah sampai di depan pintu ruang kerja Rio, yang kebetulan sedikit terbuka. Dika melihat Rio sedang duduk di mejanya, dan Clara sedang berdiri di sampingnya, berbicara dengan lembut.

"Ayah! Dika punya hadiah untuk Ayah!" Dika berseru, berlari masuk dengan antusias.

Rio dan Clara menoleh. Raut wajah Rio langsung berubah dingin. Clara tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Apa ini?" tanya Rio, nadanya datar.

Dika mengulurkan gambarnya dengan tangan kecilnya. "Ini Dika gambar keluarga kita, Ayah. Ada Mama, Dika, dan Ayah yang senyum!"

Rio mengambil gambar itu. Matanya memindai gambar itu, dan ekspresinya semakin mengeras saat melihat figur dirinya yang tersenyum. "Ayah tidak tersenyum seperti ini, Dika," Rio berkata, suaranya tajam. "Ayah tidak suka ini."

Rio meremas gambar itu di tangannya, lalu melemparkannya ke tong sampah di samping mejanya.

Dika terpaku. Senyum di wajahnya memudar, dan matanya mulai berkaca-kaca. Sintia, yang baru saja tiba di ambang pintu, menyaksikan semuanya. Hatinya mencelos. Ia ingin berteriak, ingin memarahi Rio, tapi kata-kata tidak bisa keluar dari tenggorokannya.

"Ayah... kenapa?" Dika bertanya, suaranya bergetar.

"Sudah, Dika. Jangan mengganggu Ayahmu," Clara menimpali dengan lembut, namun ada nada perintah dalam suaranya. "Ayahmu sibuk."

Sintia segera berlari mendekati Dika, memeluk putranya erat-erat. Dika menangis tersedu-sedu, membenamkan wajahnya di bahu Sintia. Sintia merasakan air mata panas menetes di bahunya. Ia menatap Rio, tatapan penuh kemarahan dan kesedihan yang tak terkira.

Rio hanya membalas tatapan itu dengan tatapan dingin, seolah tidak peduli dengan tangisan putranya sendiri. "Bawa dia keluar, Sintia. Aku tidak suka keributan," katanya, lalu kembali fokus pada berkas-berkas di mejanya.

Sintia menggendong Dika yang masih menangis, keluar dari ruang kerja Rio. Clara hanya tersenyum tipis saat mereka lewat, seolah ia menikmati pemandangan itu.

Di kamar Dika, Sintia memeluk putranya erat-erat, mencoba menenangkan. Ia mencium kening Dika, mengusap punggungnya. "Tidak apa-apa, Nak. Ayahmu memang sedang sibuk. Tapi Mama sayang Dika, sangat sayang."

Dika terus menangis, isakannya memenuhi kamar. Sintia merasakan amarah yang membara di dalam dirinya. Ia tidak peduli jika Rio membencinya, ia tidak peduli jika Rio menyakitinya. Tapi Rio tidak seharusnya menyakiti Dika, putranya sendiri, darah dagingnya sendiri. Amarah itu, yang selama ini terpendam di bawah tumpukan kesedihan dan keputusasaan, mulai merayap naik, mengubah sesuatu di dalam diri Sintia.

Beberapa bulan berlalu, dan situasi di rumah Rio tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Hubungan Rio dan Clara semakin kuat, sementara Sintia dan Dika semakin terpinggirkan. Sintia terus mencoba mencari celah untuk keluar dari situasi ini, tetapi setiap usahanya selalu menemui jalan buntu. Ia merasa terperangkap dalam sangkar emas yang dibangun oleh Rio.

Namun, di tengah keputusasaan itu, Sintia mulai menemukan kekuatan baru. Kekuatan yang muncul dari rasa sakit, dari perlakuan kejam yang ia terima, dan terutama, dari tekadnya untuk melindungi Dika. Ia tidak bisa terus-menerus menangis dan meratapi nasib. Ia harus menemukan cara untuk bertahan, dan jika mungkin, untuk membalikkan keadaan.

Sintia mulai membaca buku-buku hukum yang ada di perpustakaan Rio, mempelajari tentang hak-hak istri dan ibu, meskipun ia tahu perjanjian yang ia tandatangani sangat membatasinya. Ia mencoba mencari celah, sekecil apa pun, yang bisa ia manfaatkan. Ia juga mulai mencari informasi tentang penyakit ibunya, mencoba memahami lebih dalam, dan mencari tahu apakah ada pengobatan alternatif yang bisa diakses tanpa harus bergantung sepenuhnya pada Rio.

Diam-diam, ia juga mulai memperhatikan kebiasaan Rio dan Clara. Ia mengamati bagaimana Rio berinteraksi dengan Clara, dan bagaimana Clara memengaruhi Rio. Ia mencatat semua percakapan yang tidak sengaja ia dengar, mencari tahu kelemahan mereka, atau informasi yang bisa ia gunakan di kemudian hari. Sintia yang dulu polos dan pasrah, kini perlahan bertransformasi menjadi wanita yang lebih waspada, lebih strategis, dan lebih dingin.

Rio, yang terlalu tenggelam dalam kebahagiaannya dengan Clara, tidak menyadari perubahan ini. Ia masih menganggap Sintia sebagai wanita lemah yang tidak akan pernah bisa melawannya. Clara juga, terlalu asyik menikmati kemenangan dan posisinya sebagai nyonya rumah, tidak melihat potensi bahaya yang tersembunyi di balik ketenangan Sintia. Mereka berdua sama-sama meremehkan kekuatan seorang ibu yang terluka.

Suatu malam, Sintia mendengar Rio dan Clara berbicara di ruang kerja Rio. Pintu tidak tertutup rapat, dan suara mereka terdengar jelas. Mereka sedang membahas tentang sebuah proyek bisnis besar yang sedang dikerjakan Rio. Clara memberikan beberapa masukan, dan Rio mendengarkan dengan seksama.

"Proyek ini sangat penting, Rio. Ini bisa meningkatkan nilai saham perusahaanmu secara drastis," kata Clara.

"Aku tahu, Clara. Aku harus memastikan tidak ada kesalahan sekecil apa pun," jawab Rio.

Sintia mendengarkan setiap detail, meskipun ia tidak memahami semua istilah bisnis yang mereka gunakan. Namun, ia mencatat poin-poin penting, nama-nama perusahaan, dan tanggal-tanggal krusial. Ia tidak tahu mengapa ia melakukan ini, tetapi instingnya mengatakan bahwa informasi ini mungkin akan berguna suatu hari nanti.

Tiga bulan setelah pernikahan Rio dan Clara, sebuah insiden kecil terjadi yang semakin menguatkan tekad Sintia. Ibunya, yang dirawat di rumah sakit mewah dengan fasilitas terbaik dari keluarga Dirgantara, tiba-tiba mengalami komplikasi. Dokter mengatakan kondisinya menurun drastis dan membutuhkan obat khusus yang sangat mahal, yang tidak ditanggung oleh asuransi biasa.

Sintia panik. Ia segera menghubungi Rio, menjelaskan situasinya, dan memohon bantuan.

Rio, yang saat itu sedang berada di luar negeri bersama Clara, terdengar dingin di telepon. "Bukankah semua biaya sudah ditanggung? Kenapa tiba-tiba ada biaya tambahan?"

"Ini obat baru, Rio. Sangat penting untuk ibuku. Dokter bilang, jika tidak segera diberikan, kondisinya bisa memburuk," jelas Sintia, suaranya bergetar menahan tangis.

"Aku sedang sibuk, Sintia. Aku akan meminta sekretarisku untuk mengurusnya. Tapi jangan berharap aku akan selalu menuruti semua permintaanmu," kata Rio, nadanya jengkel. "Dan jangan ganggu aku lagi untuk masalah sepele seperti ini." Rio langsung memutuskan sambungan.

Sintia tertegun. "Masalah sepele?" Ibunya sedang berjuang antara hidup dan mati, dan Rio menganggapnya sebagai "masalah sepele". Hatinya terasa dicabik-cabik. Ia menyadari, Rio tidak akan pernah benar-benar peduli. Perjanjian itu memang menjamin pengobatan ibunya, tetapi tidak menjamin perhatian atau empati.

Sintia menunggu berhari-hari, namun tidak ada kabar. Ia mencoba menghubungi sekretaris Rio, tetapi selalu dihindari. Ia menghubungi rumah sakit, dan mereka mengatakan obat itu belum bisa diberikan karena belum ada pembayaran. Kondisi ibunya semakin memburuk.

Dalam keputusasaan, Sintia teringat pada sebuah perhiasan warisan dari neneknya, sebuah kalung emas dengan liontin permata kecil. Itu adalah satu-satunya harta berharga yang ia miliki. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk menjualnya. Ia pergi secara diam-diam, tanpa memberitahu siapa pun, menjual kalung itu, dan menggunakan uangnya untuk membeli obat yang dibutuhkan ibunya.

Obat itu berhasil. Kondisi ibunya perlahan membaik. Sintia merasa lega, namun juga marah. Marah pada Rio yang tega menelantarkan ibunya, marah pada dirinya sendiri yang begitu tidak berdaya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus bergantung pada belas kasihan Rio. Ia harus kuat, harus mandiri, apa pun caranya.

Insiden itu adalah titik balik bagi Sintia. Rasa sakit dan amarah yang terakumulasi selama bertahun-tahun, kini berubah menjadi tekad baja. Ia tidak akan lagi menjadi wanita yang lemah dan pasrah. Ia akan mencari cara untuk membalas, untuk mendapatkan keadilan, dan untuk melindungi Dika dari kekejaman ayahnya.

Ia mulai merencanakan sesuatu. Sesuatu yang akan mengguncang kehidupan Rio yang sempurna. Ia tidak tahu bagaimana caranya, atau kapan ia akan melakukannya, tetapi ia tahu bahwa ia tidak akan menyerah. Sintia yang baru telah lahir, terbuat dari pecahan hati yang hancur, namun kini lebih kuat dari sebelumnya.

Di balik wajah tenangnya, Sintia menyimpan bara api dendam yang membara. Ia adalah istri yang terbuang, ibu yang terluka, dan wanita yang diremehkan. Rio mungkin berpikir ia telah menang, tetapi ia tidak tahu bahwa ia telah menciptakan musuhnya sendiri. Sebuah musuh yang mengenal setiap sudut rumahnya, setiap kelemahannya, dan setiap rahasianya.

Hari-hari berlalu. Rio semakin sibuk dengan proyek barunya, yang menurutnya akan menjadi batu loncatan terbesar dalam karirnya. Ia sering pulang larut malam, atau bahkan tidak pulang sama sekali, beralasan sibuk dengan pekerjaan. Clara selalu menemaninya di setiap acara sosial, di setiap perjalanan bisnis, dan Rio semakin yakin bahwa ia telah membuat pilihan yang tepat.

Clara, di sisi lain, semakin berani menunjukkan dominasinya. Ia mulai mengubah dekorasi rumah sesuai seleranya, memecat beberapa pelayan lama yang ia anggap terlalu dekat dengan Sintia, dan bahkan mengambil alih urusan dapur, meskipun ia tidak bisa memasak. Sintia hanya bisa mengamati dari jauh, merasakan betapa kecilnya dirinya di rumah itu.

Namun, di setiap sudut rumah yang kini dipenuhi oleh aura Clara, Sintia terus mengumpulkan informasi. Ia mendengarkan pembicaraan telepon Rio, membaca sekilas dokumen-dokumen yang kadang tergeletak begitu saja di meja, dan memperhatikan setiap interaksi Rio dengan rekan bisnisnya. Otaknya yang cerdas, yang selama ini terpendam, mulai bekerja keras, menghubungkan setiap potongan informasi yang ia dapatkan. Ia menyimpan semua detail itu di dalam benaknya, menunggu waktu yang tepat untuk menggunakannya.

Rio tidak pernah menyadari bahwa di balik ketenangan Sintia, ada mata yang mengawasi, telinga yang mendengar, dan pikiran yang merencanakan. Ia terlalu sibuk dengan Clara, dengan pekerjaan, dan dengan kehidupan "sempurnanya" untuk memperhatikan bayangan yang perlahan-lahan tumbuh di dalam rumahnya sendiri.

Malam itu, Rio dan Clara sedang makan malam romantis di sebuah restoran mewah. Rio terlihat sangat bahagia, memegang tangan Clara, dan menatap matanya dengan penuh cinta. "Clara, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu. Kau telah mengubah hidupku," ucap Rio tulus.

Clara tersenyum manis. "Aku juga mencintaimu, Rio. Kita akan selalu bersama."

Di sisi lain kota, di kamar yang sunyi, Sintia memandangi Dika yang terlelap. Ia mengusap pipi putranya dengan lembut. "Dika, Mama janji. Mama akan membuat Ayahmu menyesali semua perbuatannya. Mama akan membuat Ayahmu tahu apa arti kehilangan," bisiknya, suaranya dipenuhi tekad yang dingin dan tegas.

Luka di hati Sintia, yang selama ini hanya menganga, kini mulai membeku, membentuk inti kekejaman yang tak terlihat. Ia bukan lagi wanita yang lemah. Ia adalah Sintia Wijaya, wanita yang akan bangkit dari abu kehancurannya, dan Rio akan segera merasakan konsekuensi dari perbuatannya.

Perjanjian itu, yang seharusnya mengikat Sintia, kini terasa seperti pemicu. Pemicu untuk sebuah balas dendam yang dingin, yang akan mengubah segalanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku
9.3
Vyora Arabelle merelakan impian demi cinta, namun pernikahan tanpa restu itu justru berujung pengkhianatan. Suaminya yang tergiur harta tega meninggalkannya akibat hasutan keluarga. Di tengah kehancuran, seorang pria misterius hadir menawarkan bantuan untuk membalas dendam pada sang mantan. Terluka oleh hinaan, Vyora menerima tawaran itu. Akankah misi ini menumbuhkan benih cinta baru bagi Vyora, atau ia justru akan tetap terbelenggu oleh bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Billionare and His Secret Wife
8.8
Michelle terbiasa menjual kecantikan fisiknya demi bertahan hidup. Suatu malam, ia terjebak situasi berbahaya saat mengetahui rencana keji para kliennya. Meski dalam pengaruh obat, Michelle berhasil kabur dan menyelinap ke kamar seorang pria asing untuk menuntaskan gairahnya yang tak tertahankan. Pertemuan tak terduga itu ternyata menjadi titik balik yang mengubah garis takdirnya selamanya. Ikuti kisah penuh intrik dan gairah ini dalam balutan romansa yang membara.
Sampul Novel Cinta dan Dendam Andara
9.8
Andara meninggalkan kehidupan desa untuk merantau ke kota besar. Misi utamanya adalah menemukan sosok yang bertanggung jawab atas penderitaan sang ibu di masa lalu. Saat bekerja sebagai staf pembersih, ia justru menarik perhatian seorang CEO tampan yang menjadi pimpinannya. Benih cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua di tengah perbedaan status sosial. Namun, ketika hubungan semakin dalam, berbagai rintangan besar muncul menguji kesetiaan mereka.
Sampul Novel Dinikahi Ceo Angkuh
9.0
Nadia harus mengubur impiannya menjadi pramugari setelah sang ayah, yang terobsesi pada uang, memaksanya menikah. Ia kini terikat dengan Allard, pemuda kaya yang sangat angkuh dan dingin. Hidup Nadia berubah menjadi penuh tekanan karena Allard selalu mengekang kebebasannya dan menuntut kepatuhan mutlak. Di tengah ketidaknyamanan dan sikap sombong suaminya, mampukah Nadia bertahan dalam pernikahan ini, ataukah ia akan memilih untuk pergi demi kebahagiaannya?
Sampul Novel Gerry's Love Story
8.5
Kehidupan Gerry berubah total sejak pertemuannya dengan seorang janda kaya raya. Tanpa diduga, pernikahan mereka justru menjadi pembuka kotak pandora yang mengungkap rahasia kelam dari masa lalu Gerry yang selama ini tersembunyi. Seiring berjalannya waktu, satu per satu misteri identitas aslinya mulai terkuak ke permukaan, membawa konflik yang tak terbayangkan dalam hubungan rumah tangga mereka yang penuh kemewahan namun menyimpan banyak teka-teki.
Sampul Novel Ibu Mandul Melahirkan Sextuplets Untuk CEO Panas
8.9
Dikhianati Callan karena dianggap mandul, Amy memilih bercerai dan menghabiskan malam panas bersama seorang gigolo sebelum mengasingkan diri. Enam tahun berlalu, ia kembali membawa kejutan: enam anak kembar yang menggemaskan. Namun, Amy terkejut saat mengetahui bos barunya di NorthHill adalah pria dari masa lalunya itu. Di tengah perbedaan status, mampukah Amy menyembunyikan rahasia besar ini dari sang CEO berkuasa yang selama ini juga dikira tidak bisa memiliki keturunan?