Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cintamu Dibayar Dengan Surat

Cintamu Dibayar Dengan Surat

Rio terpaksa menikahi Sintia Wijaya setelah sebuah insiden fatal merenggut kesucian gadis itu. Tiga tahun berlalu tanpa cinta, Rio justru memilih menikahi mantan kekasihnya, Clara. Ia membenci Sintia yang dianggapnya licik karena memanfaatkan hartanya demi biaya medis sang ibu. Rio bahkan menolak mengakui Dika sebagai putra kandungnya. Namun, dinamika rumah tangga mereka mulai bergejolak saat istri keduanya datang membawa sebuah perjanjian rahasia yang tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sintia menatap pantulan dirinya di cermin. Bukan lagi sosok wanita polos yang dulu mudah rapuh oleh tatapan Rio atau cemoohan Clara. Di matanya kini terpancar keteguhan yang dingin, sebuah tekad baja yang terbentuk dari setiap tetesan air mata dan luka yang menganga. Ia telah melewati fase berduka, kini saatnya bertindak. Perjanjian yang mengikatnya, justru menjadi cetak biru bagi rencananya. Ia tahu ia tidak bisa melawan secara frontal, tapi ia bisa menyerang dari bayangan, dengan kecerdikan yang selama ini diremehkan.

Ia memulai dengan hal kecil, namun strategis. Sintia menyadari bahwa para pelayan di rumah ini adalah mata dan telinga yang sangat berharga. Mereka melihat dan mendengar banyak hal. Selama ini, Sintia terlalu terpuruk untuk memperhatikan mereka. Kini, ia mulai mengubah pendekatannya. Ia tidak lagi sekadar memberi perintah, melainkan mulai berinteraksi dengan ramah, menanyakan kabar keluarga mereka, bahkan sesekali memberikan hadiah kecil. Perlahan tapi pasti, ia mendapatkan kepercayaan mereka. Para pelayan yang dulu menjaga jarak, kini mulai berani berbagi informasi, keluhan, dan gosip tentang Rio dan Clara.

"Nyonya Sintia, maafkan saya, tapi Nyonya Clara sering sekali memarahi kami tanpa alasan," bisik Bi Narsih, pengasuh Dika, suatu sore. "Dia juga sering meminta kami melakukan hal-hal yang aneh, seperti membuang makanan yang baru saja dimasak, hanya karena dia tidak suka baunya."

Sintia mendengarkan dengan seksama, hatinya mencatat setiap detail. Ia tahu Clara adalah wanita yang boros dan temperamental di balik citra anggunnya. Informasi semacam ini, sekecil apa pun, bisa menjadi potongan puzzle.

Selain mengumpulkan informasi dari para pelayan, Sintia juga memanfaatkan aksesnya yang terbatas di rumah. Ia mulai menyelinap ke ruang kerja Rio saat pria itu tidak ada, dan mengamati meja kerjanya. Rio, dengan keangkuhannya, seringkali meninggalkan dokumen penting tergeletak begitu saja. Sintia tidak mengambil atau mengubah apa pun, ia hanya memotretnya dengan ponsel lamanya. Kontrak, laporan keuangan, bahkan beberapa email yang tidak sengaja terbuka, semua menjadi santapan matanya. Ia tidak mengerti semua istilah bisnis rumit itu, tapi ia tahu di mana mencari tahu.

Ia menghabiskan malam-malamnya di perpustakaan rumah. Bukan lagi membaca buku hukum, tapi buku-buku tentang dunia korporat, investasi, dan strategi bisnis. Sintia mengunduh aplikasi kamus bisnis di ponselnya, dan perlahan-lahan mulai memahami bahasa rumit yang digunakan Rio dan Clara. Otaknya yang cerdas, yang selama ini terabaikan, kini bekerja dengan kecepatan penuh. Ia menemukan dirinya memiliki bakat alami untuk menganalisis data dan mencari pola.

Rencana Sintia bukan sekadar balas dendam emosional, melainkan sebuah strategi yang dingin dan terukur. Ia tidak ingin Rio hanya menderita secara perasaan, ia ingin Rio kehilangan sesuatu yang paling ia hargai: kekuasaan dan kekayaan. Dan ia akan menggunakan kelemahan Rio sendiri sebagai senjatanya.

Rio, yang merasa di atas angin karena keberadaan Clara dan keberhasilan proyek-proyeknya, semakin lengah. Ia terlalu percaya diri, dan itu adalah celah yang Sintia cari. Rio sering kali membuat keputusan impulsif, terutama jika itu adalah saran dari Clara. Ia juga memiliki kebiasaan meremehkan orang lain, terutama mereka yang ia anggap lebih rendah darinya, seperti Sintia.

Clara, di sisi lain, meskipun cerdas dan manipulatif, memiliki kelemahan lain: ia sangat materialistis dan suka menghamburkan uang. Ia seringkali meminta Rio untuk membeli barang-barang mewah yang tidak perlu, atau berinvestasi pada proyek-proyek yang berisiko tinggi, hanya karena terlihat menjanjikan atau prestisius. Rio, yang dimabuk asmara, seringkali menuruti permintaan Clara tanpa pertimbangan matang. Sintia mengamati pola ini dengan cermat.

Sintia mulai mengamati salah satu proyek besar Rio, proyek pembangunan resort mewah di sebuah pulau terpencil. Proyek ini digadang-gadang akan menjadi "masterpiece" Rio dan akan meningkatkan nilai saham perusahaannya secara signifikan. Rio dan Clara seringkali membahasnya dengan antusias.

Dari dokumen-dokumen yang ia amati dan percakapan yang ia dengar, Sintia menemukan beberapa kejanggalan. Ada beberapa izin yang belum lengkap, beberapa tanda tangan yang tampak janggal, dan beberapa aliran dana yang tidak transparan. Awalnya, Sintia hanya merasa curiga, namun semakin dalam ia mempelajari, semakin jelas ia melihat adanya manipulasi. Rio, atau mungkin Clara yang memengaruhinya, sepertinya telah memotong jalur birokrasi, atau bahkan melakukan suap, demi mempercepat proyek ini.

Sintia tahu, ini adalah celah yang bisa ia gunakan. Ia mulai mencari informasi tentang hukum lingkungan, hukum properti, dan prosedur perizinan pembangunan resort. Ia menghabiskan berjam-jam di depan komputer di perpustakaan, menggunakan koneksi internet Rio yang super cepat, untuk menggali setiap detail. Ia bahkan membuat akun email anonim untuk berkomunikasi dengan beberapa LSM lingkungan yang aktif di wilayah tersebut, menanyakan tentang prosedur perizinan dan potensi masalah yang mungkin timbul. Ia tidak menyebutkan namanya atau nama Rio, hanya bertanya secara umum.

Semakin banyak ia mencari tahu, semakin jelas bahwa proyek resort Rio memiliki banyak kecacatan hukum. Jika informasi ini bocor ke publik, tidak hanya proyek itu akan dihentikan, tetapi Rio juga bisa menghadapi tuntutan hukum yang serius, bahkan berujung pada pemenjaraan. Nama keluarga Dirgantara yang sangat dijunjung tinggi oleh orang tua Rio, akan tercoreng selamanya. Ini adalah target yang sempurna.

Rio dan Clara, yang terlalu sibuk dengan bulan madu abadi mereka dan gemerlap dunia sosialita, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang mengintai. Mereka hidup dalam gelembung kebahagiaan palsu, percaya bahwa mereka telah menyingkirkan semua masalah mereka. Rio semakin sering mengabaikan Sintia, bahkan Dika. Ia pulang hanya untuk tidur, atau jika ada acara yang harus ia hadiri.

Suatu hari, Clara mengadakan acara amal besar di rumah mereka, mengundang sejumlah tokoh penting dan sosialita papan atas. Sintia kembali diminta untuk hadir, sebagai "istri pertama yang malang namun tegar" di mata publik. Sintia hadir dengan gaun sederhana namun elegan, ia memilih untuk tetap tenang dan mengamati.

Di tengah acara, Sintia melihat Rio dan Clara berbicara dengan seorang pria paruh baya yang terlihat sangat penting. Dari percakapan yang tidak sengaja ia dengar, pria itu adalah seorang pejabat tinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup. Clara tampak berusaha keras untuk menarik perhatian pria itu, sementara Rio hanya tersenyum dan mengangguk-angguk.

Sintia mendekat, berpura-pura mengambil minuman. Ia mendengar percakapan mereka semakin jelas.

"Pak Wijaya, kami sangat berharap proyek resort kami bisa mendapatkan dukungan penuh dari kementerian Anda," kata Rio dengan sopan.

"Tentu saja, Tuan Rio. Kami akan meninjau semuanya. Tapi, Tuan Rio juga harus memahami, ada beberapa prosedur yang harus dipenuhi. Terutama terkait AMDAL dan dampaknya terhadap ekosistem pulau tersebut," jawab Pak Wijaya, nadanya profesional namun tegas.

Clara segera menimpali dengan senyum termanisnya, "Oh, jangan khawatir, Pak Wijaya. Rio sudah menyiapkan semuanya dengan sangat teliti. Kami bahkan berencana untuk membangun pusat konservasi di sana, sebagai bentuk kepedulian kami terhadap lingkungan."

Sintia tahu itu bohong. Dari dokumen yang ia baca, tidak ada rencana konkret untuk pusat konservasi, hanya sebuah janji manis untuk mendapatkan izin. Sintia diam-diam memotret interaksi mereka dengan ponselnya, tanpa sepengetahuan siapa pun. Ini adalah bukti visual yang bisa ia gunakan.

Rencana Sintia mulai matang. Ia memutuskan untuk tidak langsung menyerang. Ia ingin mengumpulkan lebih banyak bukti, membuat jebakan yang lebih rumit, agar ketika saatnya tiba, Rio akan jatuh tak berdaya. Ia juga harus memastikan bahwa ia dan Dika aman setelah rencana ini terungkap.

Sintia mulai mencari informasi tentang pengacara perceraian terbaik di Jakarta, diam-diam. Ia ingin tahu berapa banyak yang bisa ia tuntut, dan apakah perjanjian yang ia tanda tangani bisa dibatalkan atau setidaknya direvisi. Ia tahu Rio akan mati-matian mempertahankan hartanya, dan ia harus siap untuk pertempuran hukum yang panjang dan melelahkan.

Ia juga mulai menabung. Setiap rupiah yang ia dapatkan dari nafkah bulanan Rio, yang meskipun besar, tidak pernah ia hamburkan, kini ia sisihkan. Ia ingin memiliki dana darurat, jika suatu saat ia harus pergi dari rumah ini bersama Dika.

Rio dan Clara, yang semakin dimabuk asmara dan kesuksesan, tidak melihat perubahan pada Sintia. Mereka masih menganggapnya sebagai wanita bayangan yang tidak berbahaya. Mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri, terlalu yakin bahwa Sintia tidak akan pernah bisa melukai mereka.

Sintia bahkan mulai mengubah penampilannya sedikit demi sedikit. Ia tidak lagi mengenakan gaun-gaun polos dan kusam. Dengan uang yang ia tabung, ia membeli beberapa pakaian sederhana namun modern, mulai merias wajahnya sedikit, dan menata rambutnya. Perubahan itu halus, nyaris tidak terlihat, namun ia ingin merasa lebih kuat, lebih percaya diri.

Suatu pagi, saat Sintia sedang berjalan di koridor, ia berpapasan dengan Rio. Rio menatapnya sekilas, dan untuk pertama kalinya, ada sedikit kerutan di dahinya. "Kau terlihat... sedikit berbeda," katanya, nadanya datar, namun ada nada ingin tahu di sana.

Sintia hanya tersenyum tipis. "Mungkin karena aku sudah cukup istirahat." Ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, lalu berlalu begitu saja. Rio terdiam, memandang punggung Sintia yang menjauh. Ia merasa ada sesuatu yang aneh, namun ia segera menepisnya. Mungkin hanya perasaannya saja. Sintia adalah Sintia, wanita lemah yang tidak akan pernah berubah.

Namun, Rio salah. Sintia telah berubah. Transformasinya tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Ia tidak lagi peduli dengan cinta Rio, tidak lagi berharap akan kasih sayangnya. Yang ia inginkan hanyalah keadilan dan kebebasan.

Suatu malam, Sintia menemukan sebuah USB flash drive tergeletak di meja kerja Rio. USB itu tidak berlabel. Rio pasti lupa membawanya. Insting Sintia mengatakan bahwa ini adalah kesempatan emas. Ia menunggu sampai Rio dan Clara tertidur pulas, lalu diam-diam mengambil USB itu.

Di perpustakaan, dengan jantung berdebar kencang, Sintia menghubungkan USB itu ke komputer. Ternyata, isinya adalah semua data proyek resort: laporan keuangan, draf kontrak, email internal, dan bahkan beberapa rekaman rapat. Sintia terpaku. Ini adalah tambang emas. Semua bukti yang ia butuhkan ada di sana. Ada beberapa email yang menunjukkan adanya kesepakatan di bawah tangan dengan pejabat tertentu, dan beberapa transfer dana ke rekening-rekening mencurigakan.

Rio ternyata melakukan transaksi gelap dan manipulasi data untuk memperlancar perizinan proyek resort itu. Ia juga menemukan bahwa Rio, atas saran Clara, menginvestasikan sebagian besar dana perusahaan ke proyek ini, bahkan sampai mengambil pinjaman besar dari bank dengan jaminan yang sangat berisiko. Jika proyek ini gagal, atau terhambat karena masalah hukum, perusahaan Rio bisa terancam bangkrut.

Sintia menyalin semua data itu ke perangkat penyimpanannya sendiri, lalu mengembalikan USB Rio ke tempat semula, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara ketakutan dan kegembiraan. Ia telah menemukan senjata pamungkasnya.

Dengan bukti-bukti di tangannya, Sintia mulai bergerak. Ia tidak langsung melapor ke polisi atau media. Ia tahu itu terlalu riskan, dan Rio bisa dengan mudah membalikkan keadaan atau menghancurkannya. Ia harus lebih cerdik.

Sintia memutuskan untuk menggunakan kekuatan media sosial dan jaringan LSM. Ia membuat beberapa akun anonim di berbagai platform, dan mulai menyebarkan informasi samar tentang dugaan pelanggaran hukum dalam proyek resort tertentu, tanpa menyebut nama Rio atau perusahaan Dirgantara secara langsung. Ia menggunakan bahasa yang hati-hati, memancing rasa ingin tahu, dan memberikan petunjuk kecil yang bisa diikuti oleh jurnalis investigasi atau aktivis lingkungan.

Ia juga mulai menghubungi LSM lingkungan yang pernah ia tanyai sebelumnya. Kali ini, ia lebih berani. Ia mengatakan bahwa ia memiliki beberapa informasi yang mungkin menarik bagi mereka, informasi tentang dugaan pelanggaran lingkungan dalam sebuah proyek besar. Ia menawarkan untuk bertemu, secara rahasia, di tempat umum.

Rio, yang semakin sibuk dengan proyeknya dan kehidupannya dengan Clara, mulai merasakan ada yang aneh. Ia mendengar desas-desus tentang beberapa aktivis lingkungan yang mulai menunjukkan minat pada proyek resortnya. Beberapa media kecil juga mulai mengangkat isu tentang potensi dampak lingkungan dari pembangunan resort di pulau terpencil. Rio merasa sedikit khawatir, namun ia menepisnya. Ia yakin ia telah mengamankan semuanya. "Paling-paling cuma ulah oknum kecil yang cari perhatian," pikirnya.

Clara juga mulai merasa ada yang tidak beres. Beberapa rekannya di acara sosial mulai menanyakan tentang rumor-rumor aneh yang beredar. Clara segera menanyakan hal ini pada Rio, yang dengan santai menjawab bahwa itu hanya isu belaka. Clara, yang juga tidak melihat potensi bahaya dari Sintia, percaya begitu saja.

Sintia tahu, ia harus menjaga wajah "lemah"nya di hadapan Rio dan Clara. Ia terus menjalankan perannya sebagai istri yang terabaikan, ibu yang menderita. Ini adalah bagian dari strateginya. Ia tidak ingin mereka curiga.

Suatu pagi, Rio dan Clara sedang sarapan di meja makan. Rio membaca koran, dan tiba-tiba raut wajahnya berubah masam. "Sial! Berita sampah apa ini?" gerutunya.

Clara mencondongkan tubuhnya. "Ada apa, Sayang?"

"Ini, baca sendiri! Beberapa LSM lingkungan mulai mengoceh tentang proyek kita. Mereka bilang kita tidak transparan, dan proyek kita merusak lingkungan. Dasar omong kosong!" Rio menggerutu.

Clara membaca berita itu, ekspresinya sedikit cemas. "Ini kan hanya berita kecil, Rio. Jangan khawatir."

"Kecil apanya? Ini bisa menyebar, Clara. Dan jika ini sampai ke telinga Pak Wijaya, bisa-bisa izin kita tertunda lagi!" Rio terlihat kesal.

Sintia, yang sedang berjalan di dekat meja makan, mendengar percakapan itu. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirnya. Rencananya mulai membuahkan hasil. Ini hanyalah permulaan.

Rio memerintahkan tim hukumnya untuk segera membantah semua tuduhan. Ia juga mencoba mencari tahu siapa yang memulai desas-desus ini. Ia curiga ada pesaing bisnis yang ingin menjatuhkannya. Ia tidak pernah berpikir bahwa orang yang paling dekat dengannya, wanita yang ia anggap lemah dan tak berdaya, adalah dalang di balik semua ini.

Semakin hari, berita tentang dugaan pelanggaran dalam proyek resort Rio semakin besar. Dari sekadar desas-desus, kini beberapa media besar mulai meliputnya, terutama setelah LSM lingkungan yang dihubungi Sintia mulai mengeluarkan pernyataan resmi. Rio dan Clara mulai panik. Investor-investor mulai mempertanyakan, bank yang memberikan pinjaman mulai khawatir, dan saham perusahaan Rio mulai menunjukkan penurunan.

Rio, yang biasanya tenang dan percaya diri, kini terlihat tegang. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor, mencoba memadamkan api yang semakin membesar. Clara mencoba menghiburnya, namun ia sendiri mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Ia tahu, jika proyek ini gagal, kehidupan mewah mereka akan terancam.

Di tengah kekacauan itu, Sintia terus memainkan perannya. Ia sesekali mendekati Rio, berpura-pura khawatir. "Rio, aku dengar ada masalah dengan proyekmu? Apakah ada yang bisa kubantu?" tanyanya dengan suara lembut.

Rio hanya mendengus. "Tidak perlu repot-repot. Ini urusan pria." Ia masih meremehkan Sintia, masih menganggapnya tidak berguna.

Sintia hanya mengangguk, lalu pergi. Namun, di dalam hatinya, ia tersenyum pahit. Rio tidak tahu, bahwa orang yang "tidak berguna" inilah yang sedang menarik benang-benang kehancurannya.

Akhirnya, berita besar itu pecah. Sebuah artikel investigasi yang sangat mendalam, yang didukung oleh bukti-bukti kuat dari data yang disebarkan Sintia, diterbitkan di surat kabar nasional. Artikel itu mengungkap semua kecurangan dalam proyek resort Rio, mulai dari manipulasi perizinan, suap, hingga potensi kerusakan lingkungan yang parah. Nama Rio Dirgantara dan perusahaan keluarganya terpampang jelas sebagai pelaku utama.

Efeknya langsung terasa. Harga saham perusahaan Rio anjlok drastis. Proyek resort itu dihentikan paksa oleh pemerintah. Investigasi resmi dimulai, dan Rio dipanggil untuk dimintai keterangan. Skandal besar ini mengguncang dunia bisnis dan sosialita Jakarta. Nama baik keluarga Dirgantara, yang selama ini dijunjung tinggi, hancur berkeping-keping.

Orang tua Rio sangat marah dan kecewa. Terutama ayahnya, Tuan Dirgantara, yang merasa nama baik yang telah ia bangun seumur hidup kini tercoreng karena ulah putranya. Tuan Dirgantara menekan Rio habis-habisan, memintanya untuk bertanggung jawab dan menyelesaikan masalah ini.

Clara, yang selama ini menikmati kemewahan, kini merasakan dampaknya. Acara sosial yang sering ia hadiri mulai sepi, teman-temannya menjauh, dan kartu kreditnya mulai ditolak karena krisis finansial yang melanda Rio. Clara panik. Ia mulai menyalahkan Rio, dan bahkan menyalahkan Sintia, meskipun ia tidak tahu bahwa Sintia adalah dalang di balik semua ini.

"Rio, bagaimana bisa ini terjadi? Kau bilang semuanya aman!" teriak Clara suatu malam. "Kita akan bangkrut! Semua orang akan menertawakan kita!"

Rio, yang stres dan putus asa, tidak bisa menjawab. Ia sendiri tidak tahu bagaimana semua ini bisa bocor. Ia mencoba menyalahkan para pesaingnya, atau bahkan orang-orang internal yang tidak puas. Ia masih tidak terpikir bahwa Sintia lah pelakunya.

Sintia, yang menyaksikan semua kekacauan ini dari jauh, merasakan kepuasan yang luar biasa. Ini hanyalah permulaan. Ia telah membuat Rio merasakan sedikit dari rasa sakit yang selama ini ia rasakan. Ia telah menghancurkan kebanggaan Rio, dan kini saatnya untuk menghancurkan segalanya.

Dengan tekanan dari orang tuanya dan investigasi yang semakin intensif, Rio mulai terpojok. Ia harus menemukan kambing hitam, seseorang yang bisa ia salahkan untuk semua kekacauan ini. Rio tahu ia akan mencari siapa pun yang bertanggung jawab.

Rio mulai memperhatikan Sintia lagi, kali ini dengan tatapan yang berbeda. Ada sesuatu yang aneh pada Sintia. Ia terlihat terlalu tenang di tengah badai ini. Terlalu dingin. Rio tidak tahu mengapa, tapi ada naluri yang mengatakan bahwa Sintia mungkin terlibat. Rio mulai merasa takut pada Sintia.

Di sisi lain, Sintia, yang kini merasa memiliki kendali, mulai menyusun langkah selanjutnya. Ia akan menggunakan informasi yang ia miliki untuk menekan Rio agar menceraikannya, dan memberinya hak asuh penuh atas Dika, serta jaminan finansial yang lebih besar. Ia tidak lagi peduli dengan uang Rio untuk ibunya. Ia telah belajar bagaimana mencari uang sendiri. Namun ia ingin Dika bahagia. Ia ingin lepas dari belenggu Rio sepenuhnya.

Malam itu, di kamar Dika, Sintia memeluk putranya yang terlelap. "Dika, sebentar lagi kita akan bebas. Mama janji, kita akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik," bisiknya, air matanya menetes, bukan air mata kesedihan, melainkan air mata harapan dan tekad.

Api di balik diam Sintia kini berkobar. Rio akan segera mengetahui bahwa wanita yang ia remehkan selama ini, adalah badai yang akan menghancurkan semua yang ia miliki. Dan babak baru dalam pertempuran ini, akan segera dimulai. Pertempuran antara cinta yang berkhianat dan dendam yang membara.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku
9.3
Vyora Arabelle merelakan impian demi cinta, namun pernikahan tanpa restu itu justru berujung pengkhianatan. Suaminya yang tergiur harta tega meninggalkannya akibat hasutan keluarga. Di tengah kehancuran, seorang pria misterius hadir menawarkan bantuan untuk membalas dendam pada sang mantan. Terluka oleh hinaan, Vyora menerima tawaran itu. Akankah misi ini menumbuhkan benih cinta baru bagi Vyora, atau ia justru akan tetap terbelenggu oleh bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Billionare and His Secret Wife
8.8
Michelle terbiasa menjual kecantikan fisiknya demi bertahan hidup. Suatu malam, ia terjebak situasi berbahaya saat mengetahui rencana keji para kliennya. Meski dalam pengaruh obat, Michelle berhasil kabur dan menyelinap ke kamar seorang pria asing untuk menuntaskan gairahnya yang tak tertahankan. Pertemuan tak terduga itu ternyata menjadi titik balik yang mengubah garis takdirnya selamanya. Ikuti kisah penuh intrik dan gairah ini dalam balutan romansa yang membara.
Sampul Novel Cinta dan Dendam Andara
9.8
Andara meninggalkan kehidupan desa untuk merantau ke kota besar. Misi utamanya adalah menemukan sosok yang bertanggung jawab atas penderitaan sang ibu di masa lalu. Saat bekerja sebagai staf pembersih, ia justru menarik perhatian seorang CEO tampan yang menjadi pimpinannya. Benih cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua di tengah perbedaan status sosial. Namun, ketika hubungan semakin dalam, berbagai rintangan besar muncul menguji kesetiaan mereka.
Sampul Novel Dinikahi Ceo Angkuh
9.0
Nadia harus mengubur impiannya menjadi pramugari setelah sang ayah, yang terobsesi pada uang, memaksanya menikah. Ia kini terikat dengan Allard, pemuda kaya yang sangat angkuh dan dingin. Hidup Nadia berubah menjadi penuh tekanan karena Allard selalu mengekang kebebasannya dan menuntut kepatuhan mutlak. Di tengah ketidaknyamanan dan sikap sombong suaminya, mampukah Nadia bertahan dalam pernikahan ini, ataukah ia akan memilih untuk pergi demi kebahagiaannya?
Sampul Novel Gerry's Love Story
8.5
Kehidupan Gerry berubah total sejak pertemuannya dengan seorang janda kaya raya. Tanpa diduga, pernikahan mereka justru menjadi pembuka kotak pandora yang mengungkap rahasia kelam dari masa lalu Gerry yang selama ini tersembunyi. Seiring berjalannya waktu, satu per satu misteri identitas aslinya mulai terkuak ke permukaan, membawa konflik yang tak terbayangkan dalam hubungan rumah tangga mereka yang penuh kemewahan namun menyimpan banyak teka-teki.
Sampul Novel Ibu Mandul Melahirkan Sextuplets Untuk CEO Panas
8.9
Dikhianati Callan karena dianggap mandul, Amy memilih bercerai dan menghabiskan malam panas bersama seorang gigolo sebelum mengasingkan diri. Enam tahun berlalu, ia kembali membawa kejutan: enam anak kembar yang menggemaskan. Namun, Amy terkejut saat mengetahui bos barunya di NorthHill adalah pria dari masa lalunya itu. Di tengah perbedaan status, mampukah Amy menyembunyikan rahasia besar ini dari sang CEO berkuasa yang selama ini juga dikira tidak bisa memiliki keturunan?