
Cinta Yang Terlambat Bersinar
Bab 6
Saat membuka mata lagi, Luela menyadari dirinya sudah berada di atas ranjang kamarnya, sementara Jack berdiri di samping ranjang dengan ekspresi sedingin es.
"Kamu sudah buat masalah sebesar ini, sebenarnya aku mau mengurungmu tiga hari tiga malam. Tapi karena Sabrina orangnya berhati lembut dan memohonku untuk membebaskanmu, makanya kamu bisa keluar."
"Aku tahu kamu masih belum bisa melepaskanku, tapi dengarkan baik-baik, aku nggak mungkin suka dengan gadis kecil yang umurnya dua belas tahun lebih muda dariku. Kita nggak akan mungkin bersama."
Usai bicara, pintu kamar langsung dibanting tertutup tepat di depan mata Luela. Suara kerasnya menenggelamkan semua kata yang ingin dijelaskan.
Luela bersandar di kepala ranjang, menutup mata, menghela napas panjang, lalu berbisik pelan,
"Jack, aku benar-benar ... sudah nggak menyukaimu lagi."
Beberapa hari setelah itu, rumah Jack menjadi sangat ramai.
Semua orang sibuk mempersiapkan pernikahan Jack dan Sabrina yang akan segera digelar.
Sabrina terlihat sangat bersemangat mengatur semuanya, sambil menggandeng tangan Luela dengan penuh semangat, seolah semua kejadian tak menyenangkan sebelumnya sudah dilupakan.
"Tempat dan dekorasinya sudah hampir siap, tinggal kurang pendamping pengantin wanita. Menurutku Ela cocok sekali, biar kecipratan keberuntungan juga. Siapa tahu nanti bisa berjodoh dengan pendamping pengantin pria."
Di akhir kalimat, nada bicara Sabrina terdengar sedikit bercanda.
Luela yang tidak sehebat Sabrina dalam berakting, langsung menarik tangannya dari pelukan Sabrina dan hendak menolak. Tapi belum sempat menolak, langsung terdengar suara laki-laki yang dingin dari atas kepala mereka.
"Dia nggak boleh jadi pendampingnya."
Luela dan Sabrina menoleh bersamaan dan melihat Jack berdiri di belakang mereka.
"Kenapa?" tanya Sabrina yang terlihat agak heran dengan penolakannya.
Jack tidak menjawab langsung, hanya menatap Luela sejenak.
Belakangan ini, Luela memang terlihat lebih penurut dan sudah tidak terus menempel padanya.
Namun, begitu terpikir kalau nanti Luela akan punya pacar, entah kenapa, hati Jack terasa sesak dan tidak nyaman.
Apa alasannya? Sebenarnya Jack sendiri juga tak tahu.
Jack menunduk, hendak mencari alasan seadanya. Belum sempat dia beralasan, Luela sudah lebih dulu buka suara.
"Usiaku lebih kecil, rasanya kurang pantas kalau jadi pendamping pengantin."
Sebenarnya, karena dirinya akan pergi ke luar negeri sebentar lagi.
Dia memang tidak ditakdirkan hadir ke pernikahan ini.
Mendengar itu, Jack langsung mengangguk mengiyakan dan Sabrina pun akhirnya mengurungkan niatnya.
Saat Luela merasa lega dan hendak beranjak pergi, tiba-tiba terdengar suara Sabrina lagi, "Kalau Ela nggak bisa jadi pendampingnya, bagaimana kalau kamu kasih gaun pengantin yang dulu kamu desain itu ke aku saja? Anggap saja sebagai bentuk restu, soalnya aku suka sekali."
Mendengar itu, Jack spontan menoleh ke arah Luela.
Gaun itu adalah hasil desain Luela saat usianya 18 tahun, bahkan sempat memenangkan penghargaan dalam sebuah kompetisi.
Banyak orang kaya yang ingin membelinya untuk dipakai di hari pernikahan, tapi semuanya ditolak Luela.
Karena gaun itu dibuat untuk dirinya sendiri.
Luela ingin memakai gaun itu saat menikah dengan Jack.
Jack tahu betapa pentingnya gaun itu bagi Luela, tapi dia juga tak ingin membuat Sabrina kecewa, akhirnya dia tetap berkata,
"Luela, selama kamu mau jual gaun itu ke aku, aku bakal penuhi apapun permintaanmu."
Luela hanya tersenyum tipis dan menjawab, "Nggak perlu, benar yang Kak Sabrina bilang, aku juga harus berbuat sesuatu sebagai bentuk restuku untuk kalian. Jadi, anggap saja gaun itu sebagai hadiah pernikahan dariku untuk kalian."
Usai bicara, Luela pun langsung menelepon butik tempat gaun disimpan.
Tak lama kemudian, staf dari butik datang mengantarkan gaun tersebut langsung ke tangan Sabrina.
Sabrina yang menerima gaun impiannya pun tak lagi punya alasan untuk mempersulit Luela. Dengan senang hati, dia langsung masuk ke ruang ganti untuk mencobanya.
Luela hanya memandangi punggungnya dengan tenang, lalu tanpa ekspresi kembali ke kamarnya.
Hanya Jack yang menatap kepergian Luela cukup lama, bahkan sampai larut dalam pikirannya sendiri.
Menjelang tengah malam, Luela duduk sendiri di kamarnya, membereskan koper.
Semua barangnya sudah hampir beres dikemas dan dokumen juga hampir selesai. Tak lama lagi, dirinya sudah bisa pergi.
Baru saja menyembunyikan kopernya dan hendak tidur, tiba-tiba pintu kamarnya didobrak dengan keras.
Belum sempat bereaksi, Jack sudah menerobos masuk dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat, lalu langsung memarahinya tanpa ampun,
"Apa yang kamu lakukan dengan gaun itu?!"
"Sabrina baru coba sebentar, langsung gatal-gatal dan muncul ruam! Kamu mau mencelakainya lagi?!"
Di bawah cahaya lampu kuning yang redup, tatapan marah jack bagaikan pisau tajam yang seakan siap mengiris tubuhnya.
Luela buru-buru menggeleng dan menjelaskan, "Aku sama sekali nggak menyentuh gaun itu dan nggak mungkin lakukan sesuatu pada gaun itu! Aku juga nggak ada alasan untuk sakiti dia!"
Wajah Jack semakin muram. Tiba-tiba, dia mendorong Luela ke ranjang, tatapannya sangat tajam dan suaranya penuh amarah.
"Nggak ada alasan? Aku tahu kamu masih belum bisa melupakanku, tapi kau nggak seharusnya menyakiti Sabrina! Sebaiknya kamu berdoa agar dia nggak apa-apa, kalau nggak ... "
Belum selesai Jack bicara, Bibi Siti sudah berlari masuk.
"Pak Jack! Gawat! Nona Sabrina pingsan!"
"Awasi dia! Jangan sampai dia kabur!"
Ekspresi wajah Jack langsung berubah drastis. Usai bicara, dia segera berlari keluar kamar dengan panik.
Anda Mungkin Juga Suka





