
Cinta Yang Terlambat Bersinar
Bab 7
Sepanjang malam, rumah Jack dipenuhi cahaya terang.
Luela duduk gelisah di sofa, kukunya menancap dalam ke telapak tangan hingga berdarah.
Namun, dia seperti tak merasakannya, hanya menatap lurus jam dinding di hadapannya.
Dia menyaksikan jarum jam bergerak dari tengah malam pukul dua belas hingga pukul tujuh pagi.
Tepat saat jam berdentang menunjukkan pukul tujuh, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari luar menuju ke dalam rumah.
Tatapan Jack tampak muram dan tajam, dipenuhi amarah. Begitu melihatnya, bulu kuduk Luela langsung meremang, hawa dingin menjalar dari telapak kaki ke seluruh tubuhnya.
Jack menerima cambuk dari tangan Bibi Siti, lalu melangkah perlahan ke arahnya.
"Luela, kamu tahu nggak, bayi dalam kandungan Sabrina hampir saja kehilangan nyawa."
Bayi?
Sabrina hamil?
Setelah tertegun sesaat, Luela pun langsung sadar kembali.
Benar, di kehidupan sebelumnya, dirinya juga hamil di waktu seperti ini.
Di kehidupan ini, dirinya yang mendorong Sabrina untuk menjadi penawar racun Jack, jadi wajar saja kalau yang hamil adalah Sabrina.
Luela tak sempat berpikir lebih jauh, hanya bisa menatap Jack yang kini bahkan rela memakai hukum keluarga demi membela Sabrina. Mata Luela berkaca-kaca, tetapi tetap berusaha menjelaskan,
"Aku nggak menyentuh gaun itu, apalagi menyakitinya. Dari penculikan, surat cinta aneh saat pesta, sampai masalah gaun hari ini, kamu nggak curiga sama sekali? Kalau aku memang mau menjebaknya, mana mungkin semuanya berjalan lancar terus-terusan?"
Luela kira setelah bicara seperti itu, Jack yang selalu logis akan sadar ada banyak kejanggalan.
Namun, Jack yang kini dikuasai emosi justru berkata dengan dingin, "Jadi, maksudmu semua ini ulahnya Sabrina? Aku mencintainya, aku juga akan menikahinya, apa alasan dia menjebakmu?"
Luela pun tak tahu harus menjawab apa, "Aku ... nggak tahu ... "
Belum selesai bicara, Luela sudah menjerit kesakitan. Cambuk di tangan Jack sudah mendarat keras di tubuhnya.
"Luela, kamu benar-benar keras kepala sekali."
Seketika, wajah Luela langsung berubah pucat. Senyuman pahit muncul di sudut bibirnya.
Sabrina adalah satu-satunya orang yang ada di hati Jack. Lalu kenapa dirinya masih berharap pria ini akan percaya padanya?
Secara reflek, Luela ingin melarikan diri.
Namun, pengawal langsung menahannya dan membantingnya ke lantai.
"Luela! Masih nggak mau mengaku salah?!"
Cambuk kembali menghantam tubuhnya, disertai bentakan keras dari Jack.
Luela gemetar menahan sakit, tapi kedua tangannya tetap terkepal erat, menahan diri agar tak mengeluarkan satu pun erangan.
Melihat Luela tetap diam, cambuk di tangan Jack kembali mendarat keras di punggungnya!
"Kutanya sekali lagi, kamu mengaku salah atau nggak?!"
Namun, gadis yang tergeletak di lantai itu hanya membungkam bibirnya rapat-rapat, tetap tak bersuara.
Dirinya tak salah! Kenapa harus mengaku salah?!
Melihat betapa keras kepalanya Luela, Jack pun benar-benar marah.
Cambuk di tangannya terus menghantam punggung Luela berulang kali.
Tak butuh waktu lama, seluruh punggung Luela sudah penuh luka dan berlumuran darah, tapi dia tetap enggan mengaku salah.
Akhirnya, Bibi Siti yang berdiri di samping tak tega lagi melihatnya. Dia maju dan menahan tangan Jack yang memegang cambuk.
"Pak Jack, kalau terus dipukul seperti ini, dia bisa mati ... "
Barulah Jack berhenti, lalu dengan dingin melempar cambuk itu begitu saja.
"Luela, jangan sampai kejadian ini terulang lagi!"
Akhirnya Luela tak kuat lagi menahan, kepalanya terkulai ke lantai dan dirinya benar-benar kehilangan kesadaran.
Beberapa hari setelah itu, Jack tidak pulang ke rumah. Sementara luka di punggung Luela yang parah membuatnya bahkan tak sanggup turun dari ranjang.
Butuh beberapa hari baginya untuk beristirahat sampai akhirnya bisa berdiri dan berjalan kembali.
Di hari saat lukanya membaik, pihak imigrasi memberitahu bahwa proses permohonan izin tinggal permanennya sudah selesai sepenuhnya.
Kini surat izin tinggal itu sudah di tangan, Luela pun tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di rumah Jack.
Setelah mengambil dokumennya, dia kembali untuk mengemas barang-barang terakhirnya, lalu menarik koper dan bersiap untuk pergi.
Namun siapa sangka, baru saja melangkah keluar pintu, dia malah berpapasan langsung dengan Jack yang baru pulang.
Belum sempat Luela merespon, suara dingin Jack sudah terdengar, "Luela, kamu ini sudah dewasa, masih main kabur dari rumah? Sudah berapa kali kubilang, jangan pernah menyimpan perasaan lagi padaku, tapi kamu masih saja keras kepala dan berkali-kali mencelakai Sabrina. Apa aku salah menghukummu?"
Mendengar semua itu, Luela hanya merasa lelah luar biasa.
Dia sendiri bingung harus berapa kali mengulang agar Jack bisa percaya bahwa dirinya sudah tidak menyukainya lagi.
Melihat Luela tidak menjawab, ekspresi wajah Jack semakin muram. Lalu, dia menekan pelipisnya sejenak, tampak kesal.
"Sudahlah, nggak ada salahnya juga kamu pergi jalan-jalan untuk tenangkan diri. Sabrina sedang hamil, kondisinya nggak stabil, aku juga sibuk urus pernikahan. Kalau kamu tetap tinggal di sini, nggak ada yang menjamin kamu bakal lakukan apa lagi."
Usai bicara, Jack mengambil koper dari tangan Luela.
"Aku antar kamu ke bandara!"
Luela tak bisa membantah, juga tidak memberikan penjelasan apapun. Dia hanya diam dan mengikuti di belakangnya.
Mobil melaju cepat sampai ke bandara. Hingga Luela menarik koper dan bersiap turun, akhirnya Jack bertanya, "Kamu beli tiket ke mana?"
Luela baru hendak menjawab, tapi suara dingin Jack kembali terdengar, "Cukup jalan-jalan di kota sekitar saja, jangan terlalu jauh. Setelah aku dan Sabrina menikah, aku menjemputmu pulang."
Kali ini, Luela tak berkata apa-apa lagi, hanya menjawab, "Iya."
Setelah berpamitan, dia menarik kopernya dan melangkah masuk ke dalam bandara di bawah tatapan Jack.
Hingga sosok pria itu benar-benar menghilang di antara deretan mobil, Luela mengeluarkan ponselnya dan memblokir semua nomor Jack. Lalu melangkah masuk ke gerbang keberangkatan tanpa ragu sedikit pun.
Menjemputnya pulang?
Tak perlu, Jack.
Dia tidak akan pernah kembali lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





