
Cinta Yang Terlambat Bersinar
Bab 3
Luela mengernyitkan dahi, "Aku nggak menghindar."
Jack melangkah mendekat, memperhatikan ekspresi canggung yang berusaha Luela sembunyikan, "Masih bilang nggak? Setiap hari keluar pagi dan pulang malam, lihat aku pun langsung pergi tanpa menyapa. Itu bukan menghindar?"
"Kenapa? Karena aku sudah bersama Sabrina sekarang?"
Luela buru-buru menggeleng dan menjawab, "Bukan! Om Jack bisa bersama orang yang kamu cintai itu hal yang membahagiakan, aku juga ikut senang. Aku tulus mendoakan kalian agar menjadi pasangan yang berbahagia. Tenang saja, aku sudah sadar kalau kamu nggak akan pernah menyukaiku, jadi aku pun sudah nggak menyukaimu lagi."
Nada bicaranya tenang, seolah hanya menyampaikan sebuah kenyataan yang sudah diterima. Tapi, raut wajah Jack malah memuram, kata-kata itu seolah terasa menyakitkan di telinganya.
Luela tidak menyukainya? Itu hal paling tidak masuk akal yang pernah dirinya dengar.
"Pernyataan cintamu, kutolak. Semua usahamu mengejarku, juga kutolak. Jadi, sekarang kamu ganti cara buat menarik perhatianku?"
Sambil berbicara, Jack mengamati ekspresi Luela. Saat melihat keterkejutan yang jelas di wajah gadis itu, keyakinannya semakin kuat.
Langkahnya semakin mendekat. Begitu melihat kotak di pelukan Luela, nada suaranya semakin dingin,
"Nggak suka denganku lagi? Tapi masih tulis begitu banyak surat cinta dan melukis wajahku diam-diam? Mengejarku bertahun-tahun dan sekarang bilang nggak suka lagi, sebegitu mudah?"
"Luela, kamu sendiri nggak merasa kata-katamu itu konyol?"
Luela menatap pria di depannya
Tentu saja Luela tahu kata-katanya terdengar konyol, seperti cerita anak gembala yang terus-menerus berbohong tentang datangnya serigala, tak ada lagi yang mau percaya.
Meskipun konyol, itulah kenyataannya.
"Om Jack, aku memang sudah menyukaimu lama, tapi kamu juga nggak akan pernah membalas perasaanku. Jadi, aku benar-benar sudah menyerah."
Usai bicara, Luela membuka kotak itu di depan Jack, dia mengeluarkan semua isi di dalamnya.
Kemudian, surat cinta dan sketsa wajah Jack disobek satu per satu hingga hancur.
Potongan-potongan kertas berterbangan di udara. Bukannya terlihat senang, wajah Jack justru semakin muram.
Saat Luela sempat ragu apakah dirinya salah melihat, suara dingin Jack pun terdengar,
"Pura-pura saja terus, silakan. Luela, ingat baik-baik, apapun caramu, orang yang aku cintai hanyalah Sabrina!"
Sejak hari itu, Luela dan Jack tidak berbicara satu sama lain lagi.
Luela merasa tak ada lagi yang perlu dikatakan, sementara Jack menganggap semua itu hanyalah strategi tarik ulur dan dia pun tak ingin menanggapinya.
Situasi canggung itu terus berlanjut hingga perjamuan makan malam Keluarga Tosa.
Dulu, di acara seperti ini, Luela selalu jadi pusat perhatian karena disukai orang tua Jack.
Selalu ada saja yang menanyakan kabarnya dan biasanya hanya Jack yang bisa menyelamatkannya dari kehebohan keluarga.
Namun sekarang, semua perhatian tertuju pada Sabrina.
Bagaimanapun, dialah calon nyonya besar Keluarga Tosa, sedangkan Luela ... hanyalah orang luar.
Mereka tahu siapa yang lebih penting dan siapa yang tidak.
Di pagi yang sesingkat ini, Luela sudah bisa melihat jelas betapa besar perhatian Keluarga Tosa terhadap Sabrina.
Begitu Sabrina datang, gelang giok warisan keluarga langsung dipasangkan di pergelangan tangannya oleh ibu Jack.
Dan Luela bahkan belum pernah melihat gelang itu.
Saat perjamuan dimulai, Keluarga Tosa langsung membicarakan tanggal pernikahan mereka.
Acara tersebut pun berakhir dengan ditetapkannya tanggal pernikahan mereka.
Saat Luela hendak pulang bersama Jack, tiba-tiba ibu Jack memanggilnya dan katanya ingin bicara secara pribadi.
Begitu masuk ke ruang kerja, tanpa berbasa-basi, ibu Jack langsung berkata, "Ela, lebih baik kamu menjauh dari Jack."
"Kamu tahu sendiri kalau dia sudah bersama Sabrina. Kalau tetap tinggal di sini hanya akan membuat masalah dan mempermalukan dirimu sendiri, apa gunanya?"
Kata-kata tajam itu tak menyisakan simpati sedikit pun. Luela hanya bisa merasakan keperihan yang menyesak di dada.
Dulu, ibu Jack sangat menyayanginya. Tapi, semua itu berakhir di hari saat dirinya menyatakan cinta pada Jack.
Sejak saat itu, semua orang menganggapnya konyol dan menjauh darinya.
Luela mengepal erat telapak tangannya dan menjawab, "Tenang saja, aku bakalan pergi."
Usai menjawab, Luela mengeluarkan dokumen pindahan dari tasnya dan menyerahkannya pada ibu Jack.
"Beberapa hari lalu aku sudah telepon dengan ayahku. Aku bakal tinggal bersamanya di luar negeri. Ayahku bahkan sudah mencarikan calon suami untukku. Aku janji akan menjauh dari Om Jack dan nggak akan mengganggunya lagi."
Barulah setelah memeriksa dokumen itu dengan saksama, ekspresi ibu Jack sedikit melunak.
"Sebaiknya kamu menepati ucapanmu."
Begitu ibu Jack pergi, barulah Luela merasa lega. Dia memasukkan kembali dokumen itu ke dalam tas dan bersiap pergi.
Namun, begitu dia berdiri, pandangannya langsung berpapasan dengan tatapan Jack yang berdiri di depan pintu.
"Kamu mau menjauhi siapa?"
Seketika, Luela panik. Dia tidak tahu sejauh mana Jack mendengar percakapan tadi, tapi nalurinya mengatakan satu hal, jangan sampai Jack tahu tentang rencana kepergiannya.
Jadi, Luela hanya menggeleng dan menjawab, "Nggak ada, kamu salah dengar."
Setelah itu, dia langsung menghindari tatapannya dan hendak pergi. Tapi, suara dingin Jack kembali terdengar,
"Aku tahu kamu nggak mau pergi ke luar negeri. Setelah aku menikah dengan Sabrina nanti, kamu juga nggak perlu pindah dari sini. Aku sahabat ayahmu, aku bisa menafkahimu seumur hidup."
Ucapan itu membuat mata Luela membelalak, bahkan Sabrina yang datang mencari Jack pun terpaku di tempat.
Hingga tatapan penuh kebencian Sabrina tertuju padanya, barulah Luela tersadar dan buru-buru pergi dari sana.
Anda Mungkin Juga Suka





