
Cinta Yang Terlambat Bersinar
Bab 4
Luela tidak peduli sama sekali dengan perkataan Jack hari itu.
Dia hanya diam-diam menunggu proses imigrasinya cepat selesai, lalu bisa pergi menjauh.
Namun, Sabrina enggan membiarkannya begitu saja.
Hari itu, Sabrina bersikap sangat ramah dan memaksa Luela keluar untuk berbelanja. Namun, tak lama setelah naik mobil, tiba-tiba Luela merasa pusing dan pingsan.
Saat membuka mata lagi, dia sadar dirinya terikat di sebuah tebing pinggir laut.
Di sampingnya, Sabrina juga terikat dengan posisi yang sama.
Luela berusaha keras meronta dan ingin bertanya mengapa, tetapi mulutnya terlakban dan suaranya hanya terdengar seperti erangan pelan.
Sabrina tampaknya bisa menebak pertanyaannya. Dia hanya tersenyum dingin dan berkata, "Luela, aku juga nggak mau menculikmu."
"Tapi sejak Jack bicara begitu, aku merasa nggak tenang. Jadi, aku hanya mau tahu ... siapa yang lebih penting baginya."
Mendengar itu, hati Luela diliputi rasa getir.
Apalagi yang perlu dibuktikan? Bukankah jawabannya sudah jelas?
Tak lama kemudian, Jack datang tergesa-gesa sambil membawa dua koper uang tunai sesuai dengan pesan penculik.
Dia melempar koper ke depan dan berteriak, "Uangnya sudah kubawa, cepat lepaskan mereka!"
Namun, penculik yang sudah menerima instruksi Sabrina tak bergeming. Dia malah berkata santai, "Pak Jack, aku menculik mereka bukan untuk uang."
Ekspresi wajah Jack berubah, suaranya juga berubah dingin, "Apa maksudmu?"
Penculik itu meletakkan tangannya di bahu Luela dan Sabrina, sambil menyeringai jahat.
"Dengar-dengar yang satu ini anak sahabatmu dan yang satu lagi tunanganmu. Kamu hanya boleh selamatkan satu orang dan yang satu lagi bakal kulempar ke laut buat jadi makanan hiu. Cepat pilih!"
Begitu kata-kata itu diucapkan, penculik pun melonggarkan tali ikatan mereka sedikit. Keduanya terlihat jelas nyaris terjatuh ke laut di bawah.
Sabrina langsung pucat dan berseru gemetaran, "Jack! Selamatkan aku! Aku nggak mau mati!"
Seketika Jack galau dan langsung berseru, "Jangan sentuh Sabrina!"
Jawabannya pun muncul.
Penculik tersenyum puas. Sabrina yang semula berpura-pura ketakutan, kini akhirnya bernapas lega.
Dia berpura-pura tersentuh, menatap Jack dengan penuh haru. Namun Jack justru menoleh ke arah Luela.
Jack kira Luela akan panik, histeris dan putus asa. Tapi, wajah gadis itu justru tenang.
Entah kenapa, melihat ekspresinya yang sedingin itu, hati Jack justru merasa tak tenang.
Belum sempat dia berbicara lagi, tiba-tiba Sabrina yang sudah dibebaskan langsung memeluknya dengan penuh emosi.
Jack reflek memeluknya dengan erat dan memanggilnya, "Sabrina ... "
Namun, di detik berikutnya, matanya membelalak, karena tali Luela juga ikut terputus. Tubuhnya langsung terjun bebas ke laut!
"Byur!"
Air laut menyelimuti seluruh tubuh Luela dan menariknya ke kedalaman laut.
Luela berusaha sekuat tenaga berenang ke permukaan, tapi rasa lelah perlahan-lahan membungkus seluruh tubuhnya.
Tatapannya mulai meredup, hingga akhirnya tak sadarkan diri.
Ketika Luela kembali membuka mata di rumah sakit, yang pertama dia lihat adalah Jack yang duduk di samping ranjangnya.
Mata pria itu memerah dan dagunya dipenuhi cambang tipis, menandakan bahwa dirinya sudah menjaga Luela berhari-hari.
Namun, semua itu sudah tak berarti bagi Luela.
Keduanya saling bertatapan dalam diam.
Akhirnya, Luela yang memecah keheningan, "Om Jack, kamu nggak perlu menjagaku. Pergilah jenguk Sabrina, dia lebih butuh perhatianmu."
Mungkin merasa ucapannya kurang tepat, dia pun menambahkan, "Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Jack terdiam. Dia menatap gadis itu cukup lama, lalu berdiri dan pergi.
Hari Luela keluar dari rumah sakit bertepatan dengan hari ulang tahun Sabrina.
Karena ini ulang tahun pertama mereka sebagai pasangan, Jack mengadakannya secara besar-besaran.
Sepuluh ribu kuntum mawar dikirim langsung dari luar negeri memenuhi tempat acara. Hadiah-hadiah mahal bertumpukan di sudut ruangan.
Foto-foto romantis mereka dipajang dari pintu masuk hingga ke ruangan.
Di tengah letusan kembang api yang memenuhi langit, pesta pun mencapai puncaknya. Jack merangkul erat pinggang Sabrina dan menari anggun bersamanya mengikuti alunan musik di tengah lantai dansa.
Di layar besar belakang, video momen manis mereka diputar berulang-ulang.
Namun, saat semua tamu sedang larut dalam kebahagiaan mereka, tiba-tiba layar menjadi hitam.
Lalu muncul surat-surat cinta dan sketsa yang tampak dibuat dengan penuh perasaan.
Cinta Luela terhadap Jack terpampang jelas di hadapan semua orang!
Itu menggemparkan seluruh ruangan!
Luela memandangi layar itu, wajahnya langsung pucat!
Padahal semua surat dan sketsa itu sudah dia hancurkan, bagaimana bisa muncul di sana?
Dia ingin berlari dan mematikan layar itu, tapi kakinya terasa seakan terpaku, tak bisa bergerak sama sekali. Dia hanya bisa pasrah mendengarkan bisikan-bisikan di sekelilingnya!
"Pak Jack bahkan sudah mau menikah, gadis itu masih belum menyerah juga? Memalukan!"
"Padahal ini ulang tahunnya Nona Sabrina, dia malah sengaja buat masalah?"
"Kasihan sekali Nona Sabrina... meski sudah menikah, masih saja ada yang mengincar suaminya ... "
Suasana mulai ricuh, sampai akhirnya Jack dan Sabrina juga memperhatikan layar.
Begitu melihatnya, wajah Sabrina langsung menjadi pucat. Dia gemetaran dan menatap ke arah sumber masalah.
Matanya memerah, menggenggam gaunnya dan berlari keluar ruangan.
"Sabrina!"
Jack panik dan hendak mengejar. Tapi, saat melihat Luela yang masih kaku berdiri di tempat, langkahnya terhenti.
"Plak!"
Suara tamparan keras menggema dan seluruh ruangan langsung hening.
"Luela, pantas saja kamu jadi begitu patuh akhir-akhir ini, ternyata ini yang kamu rencanakan?!"
Anda Mungkin Juga Suka





