
Cinta yang Hilang
Bab 2
Waktu Ashar telah berlalu. Aku membantu Ria memandikan si kembar dan Adam. Setelah rampung aku dan Ria melanjutkan cerita kami tadi. Ria menceritakan perkembangan si kembar yang mulai aktif-aktifnya. Ia hampir kewalahan dan butuh bantuan. Tapi dengan kepiawaian dan kesabarannya ia masih sendiri mengasuh ketiga anaknya. Gaji suaminya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka di tengah melonjaknya sembako di tahun ini. Mau bayar babysister nggak bisa.
Aku melihat Ria sangat menikmati menjadi seorang ibu mengasuh anak-anaknya. Sementara aku sibuk bekerja dan jauh dari anak-anakku. Aku berharap semoga mereka bahagia meski jauh dari aku. Di tengah asiknya kami ngobrol, mas Dani suami Ria pulang. Terdengar suara sepeda motor berhenti di halaman rumah Ria.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara mas Dani mengucap salam sambil membuka sepatu.
“Waa’alaikumsalam.” Serentak kami menjawab salam. Ria mencium tangan suaminya dan aku mengulurkan tangan lalu berkata “Maaf lahir batin mas Dani untuk semua salah dan khilaf Hana yang tak disengaja selama ini.”
“Iya, sama-sama. Maaf lahir batin juga ya, Han. Sudah lama di sini?” Melepas jaketnya dan diberi ke Ria.
“Sudah mas. Tadi ada kompensasi waktu dari big bos. Jadi Hana pulang jam 3 dan langsung ke sini.” Aku kembali duduk di sofa.
“Mas tinggal dulu ya, Han. Dilanjuti lagi ngobrolnya.” Pamit mas Dani ke dapur hendak bersih-bersih. Dan kami pun melanjutkan ceritaku yang terjeda iklan kepulangan mas Dani.
Aku bercerita tentang pekerjaan dan teman-teman kerjaku mulai dari yang cantik, usil, dan teman yang paling menyebalkan di hotel. Ria terbahak-bahak mendengar celotehanku dan melihat ekspresiku menggibah teman-temanku. Tak terasa waktu magrib pun tiba.
“Allahu Akbar Allahu Akbar.” Terdengar suara Muazin memanggil orang-orang beriman untuk menunaikan kewajibannya di pergantian waktu siang ke malam. Ria dan mas Dani sholat berjamaah mumpung aku di sini bisa menjaga ketiga bocil-bocilnya.
Setelah mereka selesai aku pun menunaikan kewajibanku. Bersujud kepada Allah agar aku dan anak-anakku selalu sehat juga bahagia. Ternyata Ria sudah menyiapkan makan malam untuk kami. Dan kami pun makan malam bersama di dapur.
“Gimana Han. Sudah berdua belum?” Tanya mas Dani disuapan terakhirnya.
Aku hanya membalas dengan senyum tipis dan menoleh ke Ria.
“Masih betah sendiri? Kapan lagi? Jangan lama-lama atuh.” Tambah mas Dani lalu meneguk air putih memainkan alis ke istri tercintanya.
“Iya, Mas. Belum ada yang pas.” Jawabku sambil menuang air ke dalam gelas.
“Ada yang suka, Hana nggak suka. Giliran Hana suka ternyata udah punya gandengan.” Ria melempar pernyataan yang tak terduga. Bocor halus batinku.
“Belum pas apanya, Han? Materi bisa dicari sama-sama. Mau cari yang gimana?” Tanya mas Dani dengan wajah serius yang tak terelakkan.
“Mas Dani sama Ria sama saja pertanyaannya. Hana pusing tahu mau jawab apa. Ya, belum pas semuanya. Terutama kepribadiannya. Hana takut mas dapat laki-laki yang kasar lagi.” Tegasku meyakinkan mereka.
Mereka saling pandang ketika aku menceritakan semua masalah kehancuran rumah tanggaku. Lama aku menyembunyikannya dari mereka. Yang mereka tahu aku yang minta cerai dengan alasan ketidakcukupan materi. Padahal lebih dari itu, sakit fisik yang aku rasakan dari keringantanganan mantan suamiku cukup membuat aku trauma untuk berumah tangga lagi. Setiap pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Malas kerja. Pakai narkoba.
Semua aku hadapi sendiri selama lima tahun. Aku juga tak tahu pasti penyebab perubahan di diri mantan suamiku. Dia berubah bebas brutal saat usia anak keduaku empat tahun. Aku nggak tahan dengan perlakuan kasarnya dan nggak tega anak-anakku melihat keburukan ayahnya terus-menerus. Akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi hubungan ini. Meski pahit, aku yakin bisa melaluinya.
Aku mengurus surat cerai sendiri dan meminta penuh hak asuh kedua anakku. Dengan doa keluarga aku bisa mempertahankan anak-anakku. Tak lama kami pisah aku membawa anak-anakku ke kampung supaya mereka tinggal di sana jauh dari ayahnya. Syukurnya mereka mau dan kedua orangtuaku tidak keberatan. Lalu aku balik lagi ke Batam.
“Kenapa selama ini kamu nggak pernah cerita sama kami, Han?” Ria memelukku dan menyapu bahuku.
“Aku takut kalian nggak percaya samaku. Di keluargaku cuma bapak dan mamaku yang percaya samaku. Yang lain pada menyalahkan aku tanpa mencari tahu sebab perpisahanku.” Tambahku meneteskan air mata.
“Yang sabar ya Han. Maaf kan kami yang selalu melempar pertanyaan yang memojokkanmu. Semoga suatu saat kamu bertemu dengan pria yang lebih bertanggung jawab dan baik.” Ucap Ria menegarkanku.
Tiba-tiba ada yang datang.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara pria mengucap salam. Hana membersihkan meja dan aku mencuci piring bekas makan kami.
Mas Dani membuka pintu lalu menjawab salam, “Waalaikumsalam. Eh, tamu jauh datang. Masuk masuk. Silakan duduk Mas!”
Pria asing itu pun masuk dan duduk di sofa dekat tas kerjaku. Ria mengecek anaknya yang sebelum magrib sudah terlelap akibat kelelahan bermain. Ria memberi isyarat kepadaku dengan menunjuk-nunjuk pria tampan itu dari depan pintu kamarnya. Aku nggak ngeh apa maksudnya. Aku juga memberi membalas isyaratnya dengan mengangkat kedua pundak melebarkan telapak tangan dan bertanya “Apa?” Tanpa suara.
Ria mendatangiku yang sedang duduk di meja makan lalu berbisik “Nanti kenalan ya? Orangnya ganteng loh.”
“Apaan sih, RI? Ogah, ah. Aku belum mandi. Nggak Pede.” Aku menampakkan wajah cemberut meyakinkan Ria.
“Yakin nggak mau? Ntar nyesal nggak bisa tidur malam.” Ledek Ria sambil mengaduk gula dalam segelas teh untuk suami dan tamunya.
“Awas! Jangan salah ngasih gula, Ri. Nanti bukan teh manis tapi teh asin.” Aku coba mengingatkan Ria padahal untuk mengalihkan pembicaraan. Tapi jujur, aku penasaran juga. Benar ganteng atau cuma candaan Ria saja untuk menghiburku.
“Ini, tolong antarkan ke depan ya. Anakku nangis.” Menyodorkan talam putih yang berisi dua gelas teh di depan mejaku lalu berlari kecil masuk ke kamar. Terdengar tangisan si kembar dari kamar. Dengan memberanikan diri aku angkat talam menuju ruang tamu
“Permisi Mas, ini tehnya.” Aku meletakan gelas demi gelas di atas meja. Dari ujung mata terlihat pria asing itu memperhatikanku.
“Loh, Han. Kok kamu yang buat tehnya. Ria mana?” Tanya heran mas Dani dengan mengerutkan dahi.
“Yang buat tehnya tadi Ria, Mas. Karena si kembar nangis aku yang disuruh ngantar.” Jawabku penuh kepolosan karena gerogi dilihati pria asing yang duduk di sebelah tasku.
“Oh, ya Han. Kenalkan, ini temanku namanya Riyan.” Mas Dani menyodorkan jempol menunjuk ke Riyan.
“Riyan.” Ia menyodorkan tangan sambil tersenyum. Tampak gigi kelincinya yang tersusun rapi.
Aku menempelkan telapak tanganku dengan telapak tangannya juga membalas senyumnya sambil berkata, “ Hana.” Lalu melepas jabatan tangan tanda perkenalan telah usai.
“Benaran ganteng.” Gumamku dalam hati. Aku pun balik ke dapur untuk menyimpan nampan. Dari sudut ruang tengah terlihat Ria tertawa lebar yang ditutupi telapak tangannya seolah meledek.
“Ganteng nggak? Mau? Biar aku jodohin. Masih single tuh.” Rina coba menggodaku. Aku hanya diam tak merespon ledekannya. Ria anaknya memang suka ngeledek dari zaman masih kurus dulu. Tiba-tiba mas Dani memanggil kami untuk ikut ngobrol bareng. Mau tak mau aku harus ikut.
Kami berempat ngobrol panjang kali lebar ngalur-ngidul. Tak sedikit ketawa kecil mengiringi perbincangan kami. Perlahan tapi pasti Ria dan Mas Dani meninggalkan kami dengan alasan masing-masing. Dan ahirnya kami ngobrol berdua hingga malam mulai larut.
“Udah malam. Mas mau pamit nih. Dani mana?.” Ucap Riyan menutup perbincangan kami.
“Sebentar ya, Mas. Hana panggil sebentar.” Aku beranjak dari tempat dudukku yang tak jauh dari Riyan.
“Mas Dani, Ria. Kami mau pamit pulang nih.” Ucapku mengarah ke dapur menyimpan gelas teh tadi.
Di dalam kamar mereka saling pandang heran dengan ucapanku. “Kami? Udah ayo mas!” Ria mengajak suaminya bergegas keluar kamar menghampiri kami.
“Pulang bareng, Han?” Tanya Ria heran mengangkat kedua alisnya.
“Nggak, RI. Aku naik taksi dari depan sana. Ini kan sudah malam, aku izin pamit juga. Gerah nih dari pulang kerja belum mandi.” Ucapku mengemas tas dan roti yang kubeli tadi.
“Oh, kirain bareng.” Sedikit kecewa tampak dari nadanya yang lemah.
“Yan, antar Hana sekalian bisa? Kasian kalau naik taksi. Sudah malam juga nih.” Mas Dani melihat jam di tangan kirinya jarum pendek menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit.
“Boleh.” Singkat Riyan menaiki sepeda motor miliknya.
“Bener nih, nggak keberatan?” Tanyaku memastikan kesediaan Riyan.
“Iya. Yuk!” Ajaknya ketika ia memakai helm dan menyalakan mesin motornya.
“Aku pulang ya, RI.” Aku memeluk Ria tiba-tiba ia berbisik, “ Cie, semoga cocok ya!” Isengnya mulai lagi. Aku mencubit lembut pinggangnya .
“Mas, pulang ya. Makasih buat makan malamnya.” Pamitku memakai tas dan naik ke motor Riyan.
“ Pulang Mas, Mbak. Assalamu’alaikum.” Riyan mengucap salam.
“Wa’alaikumsalam.” Serentak Dani dan Ria. “Hati-hati di jalan ya!” Tambah Ria sembari melambaikan tangan. Riyan menarik gas motor dan kami pun pergi.
Anda Mungkin Juga Suka





