
Cinta yang Hilang
Bab 3
Keluar dari gang rumah Ria, aku langsung memeluk tubuh Riyan. Kontan dia kaget. Tampak dari gerak badannya yang sedikit maju ke depan. Rasa yang hadir luar biasa. Aku merasa nyaman dekat dengannya. Apalagi saat kami ngobrol tadi. “Bodoh amat dia mau mikir apa. Yang penting aku nyaman. Titik.” Batinku sambil menyandarkan dagu di pundak kanannya.
“Apaan sih, Non? Ntar ada yang marah.” Dia memanggilku nona. Ucapnya coba menghindari daguku. Aku hanya tersenyum.
Di tengah perjalanan handphone milik Riyan berdering. Dia tidak mengangkatnya. Ada tanda tanya juga dalam hatiku “Siapa malam-malam begini nelpon? Kok nggak di angkat? Apa pacarnya? Bodoh, ah. Aku nyaman dengannya.” Aku semakin erat memeluk tubuhnya.
Setelah empat puluh menit kami mulai memasuki gang rumahku.
“Belok kiri rumah yang berwarna biru ya, Mas!” Aku memberi tahu tempat tinggalku.
“Nomor 13 ini?” Riyan menghentikan motornya pas di depan pagar.
“Masuk yuk, Mas.” Aku turun membuka kunci pagar lalu membuka pintu rumah.
Riyan memasukkan motor ke dalam halaman rumah dan menutup pagar. Tidak dikunci. Dia kelihatan sedikit canggung masuk ke rumahku karena memang cuma aku sendiri di rumah ini.
Rumah ini adalah rumahku dulu bersama mantan suamiku. Setelah kami pisah dia minta harta gono-gini. Dia mau rumah ini dijual, motor dijual dan hasilnya bagi dua. Akhirnya aku meminta bantuan dana pada orangtuaku untuk membeli rumah ini. Aku pun berhasil mempertahankan rumah ini atas namaku. Sepeda motor kami dia jual sama temannya.
“Silakan duduk, Mas! Hana mandi dulu ya? Sudah gerah nih.” Aku mengambil baju tidur di lemari kamar dan langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Kuguyur air di atas kepalaku terasa dingin menyeruak di pori-pori kulitku. Sedikit menggigil tapi cukup merilekskan urat-uratku yang kaku. Kugosok lembut seluruh tubuhku dengan sabun Shinzui kesukaanku. wangi sakuranya menenangkan pikiranku yang gegana sambil bernyanyi kecil mengekspresikan kebahagiaanku. Iya. Aku bahagia. Sepertinya aku jatuh cinta pada lelaki berkulit putih bersih itu. Benar kata Ria, Riyan itu ganteng.
Selesai mandi aku pakai baju tidur. Sengaja tidak pakai bra karena memang kalau tidur malam aku jarang menggunakannya. Dalam dunia kedokteran pun tidak dianjurkan memakai bra saat tidur malam untuk menjaga kesehatan payudara dari ganasnya kangker.
Payudaraku padat dan masih kencang meski aku sudah mempunyai dua anak sehingga tak begitu kelihatan kalau aku tidak memakai bra. Aku ke kamar mengoleskan body lation wangi bunga sakura dan menyemprotkan sedikit parfum ke sisi kanan kiri dasterku. Besolek sedikit dan kembali ke dapur membuat secangkir teh hangat untuk Riyan.
Di ruang tamu terlihat Riyan sedang asik main handphone. Main game atau chatingan dengan perempuan lain aku nggak tau. Aku datang dengan membawa segelas teh dan beberapa potongan roti yang kubeli tadi. Aku sedikit menunduk meletakkan talam di atas meja pas di depan mas Riyan. Riyan melihat buah dadaku dari celah atas dasterku tanpa disengaja lalu membuang muka ke arah handphone. Aku cueak saja.
“Diminum ,Mas tehnya! Mumpung masih hangat.” Aku buka percakapan sambil duduk di depan Riyan dan mengambil bantal untuk aku peluk.
“Iya, terima kasih Non.” Ucapnya memasukkan handphone ke saku depan celana jeans birunya dan menyeruput teh sayang buatanku.
"Tinggal sendiri di rumah Segede ini?" Ia bertanya melihat keadaan rumahku yang cukup besar. Kamarnya ada empat.
"Iya, Mas." Singkatku.
"Nggak takut, Non?" Tambahnya.
"Sudah biasa Mas. Hana sudah tujuh tahun ini tinggal di sini. Tetangganya pun baik-baik semua. Aman lah." Jelasku mengambil sepotong roti manis kesukaanku.
Kurang lebih lima belas menit aku bercerita tentang retaknya rumah tanggaku. Dia mendengarkan dengan baik tanpa memotong sedikit pun. Sedihku mulai muncul mengingat anak-anakku yang menjadi korban keegoisan orangtuanya. Setelah aku siap bercerita dia pamit pulang.
“Sudah malam, nggak enak sama tetangga. Mas pulang ya?” Dia melihat jam dinding yang menunjukan setengah sebelas malam. Dia pakai jaket jeans berwarna navy yang tadi ia letakkan di tangan kursi dan berdiri mau melangkah ke luar.
Aku hampiri dia lalu meraih wajahnya dan cup! Aku mencium pipi kanannya. “Terima kasih ya, Mas sudah nganterin Hana.” Aku melempar senyum terbaikku malam ini untuknya. Dia kaget, keluar tanpa kata hanya salam “Assalamu’alaikum.” Kemudian berlalu pergi.
"Waalaikumsalam. Kabari Hana kalau sudah sampai rumah ya, Mas.!" Pintaku agar aku tenang.
"Iya." Dia melaju.
“Bye!” Aku melambaikan tangan tapi dia hanya memberi klakson padaku.
Setelah dia tak tampak dari pandangan aku langsung mengunci gerbang dan pintu. Menyimpan gelas ke dapur dan minum segelas air mineral. Kembali ke kamar, mengambil handphone di dalam tas dan menulis sebuah pesan ke Ria.
“Ri, makasih ya. Pria itu beneran ganteng. Aku jatuh hati padanya. Asli, mata ini sulit terpejam. Wajah dan senyumnya menari-nari di mataku. Aku NYAMAN dengannya, Ri.” Ting Ting pesan terkirim.
Lima belas menit aku menunggu tidak ada jawaban. “Mungkin Ria sudah tidur. Whatsapp mas Riyan lah. Kali saja sudah sampai.” Gumamku dalam hati. Aku sudah menyimpan nomornya ke handphoneku saat di rumah Ria tadi.
“Mas, sudah sampai?” Dengan gambar E-motion kepala senyum berpita love ku kirim. Ting Ting. Pesan terkirim. Tidak ada balasan juga. Aku letakkan handphone di atas meja rias dan menghidupkan lampu tidur.
Aku coba menutup mata tapi hati terlalu bahagia. Jiwaku masih ingin berlama-lama membayangkan wajah tampannya. Senyumnya yang manis hampir membuat aku gila. Gila ingin segera memilikinya.
Aku tak bisa tidur juga meski rasa kantuk mulai menyerang perlahan. Bolak-balik berpindah posisi tetap saja salah. "Ada apa gerangan?" Batinku bertanya. Aku menulis di note handphone tentang keadaan hatiku dan kacaunya pikiranku yang sedang dimabuk cinta.
Dear Malam Penuh Cinta
Malam, aku telah mengenal seorang pria
Berwajah tampan lagi menawan
Bersamanya aku merasa nyaman
Dia pria idaman yang lama aku impikan
Bisakah engkau menyatukan kedua perasaan?
Malam,
Cinta secepat kilat datang dari pandangan
Menyembuhkan luka yang lama tertahan
Sungguh, suaranya menenggelamkan ingatan
Bantu aku memantapkan hati menjadikan dia pilihan.
Malam,
Namanya Riyan.
Pintaku pada Tuhan semoga cintaku berakhir pada sebuah pernikahan.
Menipiskan penyesalan penebal kebahagiaan.
Esok, akan kubuktikan perasaan
Agar ia percaya cintaku kan menghidupkan malam kelamnya.
Malam,
Engkau begitu indah penuh kilau
Membasuh luka mengukir kisah
Kisah hilangnya resah tanpa kata
Kutemukan dia penawar rinduku
Batam, 15 Juli 2011.
Dua puluh menit juga aku menulis isi hatiku. Setelah aku lega mencurahkan rasa, aku kembali memejamkan mata dan akhirnya aku terlelap bersama bayang-bayang wajah manisnya hingga pagi menjelang.
Anda Mungkin Juga Suka





