Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta yang Hilang di Tengah Fitnah

Cinta yang Hilang di Tengah Fitnah

Pasca pernikahan dibatalkan sepihak, Aleyna Seraphina dijebak adik sepupunya hingga terjebak malam bersama pria asing. Menyadari pengkhianatan dan fitnah besar yang menghancurkan reputasinya, ia memilih pergi dari kota tersebut. Empat tahun berlalu, Aleyna kembali dan bekerja di bawah Rowan Sinclair, miliarder misterius dengan masa lalu kelam. Tak disangka, bos besarnya itu ternyata adalah pria yang bersamanya di malam penuh skandal masa lalu tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aleyna Seraphina Veyra menutup pintu lift dengan desahan berat. Pagi itu udara di dalam gedung kantor terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun AC belum menyala. Tangannya menggenggam tas kerja dengan erat, bukan karena takut, tapi karena ia mencoba menenangkan detak jantung yang masih berdegup cepat. Pertemuan pertama dengan Rowan kemarin meninggalkan rasa campur aduk-antara penasaran, marah, dan rasa takut yang tak bisa dijelaskan.

Ia berjalan menuruni lorong panjang yang dipenuhi panel kaca dan foto-foto prestasi perusahaan. Setiap langkahnya terdengar seperti gema di ruang kosong, mengingatkan Aleyna pada rasa kesepian yang selalu ia rasakan di tengah hiruk-pikuk dunia bisnis. Meski telah kembali ke kota dan memulai hidup baru, ada satu hal yang tetap membekap pikirannya: masa lalu.

Pagi itu, Aleyna tidak menyangka akan menghadapi kejutan yang lebih besar daripada sekadar tatapan Rowan yang menembus hati. Saat ia memasuki ruang kerjanya, meja kerja sudah dipenuhi tumpukan dokumen dan sebuah amplop berwarna merah marun. Di atasnya, tertulis dengan huruf emas: "Untuk Aleyna. Baca sebelum jam 10 pagi."

Hati Aleyna berdebar. Ia tidak suka kejutan, apalagi dari orang yang menyimpan begitu banyak rahasia seperti Rowan. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto, semua memperlihatkan Aleyna empat tahun lalu, di malam yang ia anggap sebagai titik terendah dalam hidupnya-malam ketika jebakan Selina terjadi.

Kamera yang menangkap momen itu tidak jelas siapa pemiliknya, tapi satu hal pasti: Rowan tahu segalanya. Aleyna menatap foto-foto itu dengan campuran marah dan takut. Ia ingin membuangnya, merobeknya, bahkan berteriak. Tapi di dalam dada, ada perasaan aneh yang membuatnya tidak bisa langsung menyingkirkannya. Foto-foto itu bukan sekadar bukti masa lalunya; mereka adalah pengingat bahwa ia tidak bisa lagi menutup mata terhadap Rowan.

Tak lama kemudian, seorang asisten datang menghampirinya. "Bu Aleyna, Bos ingin bicara sebentar," ucapnya dengan sopan. Aleyna menelan ludah, mengambil napas panjang, dan mengikuti asisten itu menuju ruang Rowan. Setiap langkah terasa seperti menapaki medan ranjau; setiap detik membuat detak jantungnya semakin cepat.

Rowan Sinclair duduk di kursi kulitnya, matanya menatap lurus ke Aleyna. "Sudah melihat sesuatu yang mengejutkan, bukan?" Suaranya tenang, hampir tanpa emosi, tapi ada nada tegas yang membuat Aleyna merasa seperti diperiksa hingga ke tulang.

Aleyna mengangguk pelan, menahan kemarahan yang ingin meledak. "Foto-foto ini... bagaimana bisa kau punya ini?" suaranya nyaris berbisik.

Rowan tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak menenangkan. "Aku punya cara untuk mengetahui segala sesuatu, Aleyna. Dan aku perlu memastikan bahwa masa lalu kita... tidak akan mengganggu pekerjaan di masa depan."

Aleyna menelan ludah. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuatnya waspada. Apakah ini sekadar peringatan profesional, atau ada maksud lain yang lebih pribadi?

Hari itu menjadi awal dari ketegangan baru antara Aleyna dan Rowan. Setiap interaksi terasa seperti permainan psikologis. Rowan selalu muncul di tempat yang tak terduga, kadang dengan senyum tipis yang membuat Aleyna sulit menebak maksudnya, kadang dengan komentar kritis yang tajam, menekan Aleyna untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Di sisi lain, Aleyna juga tidak mau kalah. Ia mulai meneliti segala kebiasaan Rowan, setiap kebocoran kecil dari asistennya, setiap jadwal rapat yang bisa dimanfaatkan untuk menghindari atau menghadapi Rowan secara strategis. Ia belajar membaca ekspresi, nada suara, bahkan cara Rowan menatap dokumen, untuk mencari celah atau petunjuk tentang niat sebenarnya.

Suatu sore, Aleyna memutuskan untuk menghadiri rapat penting yang membahas ekspansi perusahaan ke Asia Tenggara. Ia berdiri di depan layar presentasi, menjelaskan proyeksi keuangan, strategi marketing, dan analisis risiko. Semua berjalan lancar hingga Rowan muncul di pintu ruang rapat, matanya menyorot setiap gerakannya. Aleyna merasakan tekanan yang tidak biasa, seolah semua orang di ruangan ini menunggu kegagalannya, padahal ia tahu mereka semua hanya mengikuti arahan Rowan.

Namun Aleyna tidak goyah. Ia menarik napas dalam, menatap layar, dan melanjutkan presentasinya dengan suara mantap. Ketika ia selesai, Rowan berdiri perlahan, menatapnya tanpa berkata sepatah kata pun, kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan. Semua orang di rapat menatap Aleyna dengan kagum, tapi Aleyna hanya tersenyum tipis. Ia tahu, permainan baru ini baru saja dimulai.

Malam itu, Aleyna kembali ke apartemennya, menaruh tas kerja di kursi, dan menatap langit kota yang diterangi lampu-lampu jalan. Hatinya kacau. Ia merasa seperti sedang berada di garis depan perang psikologis, tapi di sisi lain, ada rasa penasaran yang tak bisa ia hapus: siapa sebenarnya Rowan Sinclair? Dan mengapa pria ini begitu penting dalam hidupnya, bahkan setelah malam yang menghancurkan itu empat tahun lalu?

Keheranan Aleyna semakin bertambah ketika ia menemukan pesan misterius di ponselnya: "Kau lebih kuat dari yang kau kira. Tapi jangan anggap aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan." Pesan itu tidak ada pengirimnya, tapi Aleyna bisa menebak. Hatinya berdetak kencang. Rowan. Tidak ada orang lain yang bisa menulis hal seperti itu dengan nada setegas dan setajam itu.

Hari-hari berikutnya Aleyna mulai menerima undangan rapat rahasia yang hanya diikuti oleh eksekutif inti perusahaan. Setiap pertemuan menjadi medan pertempuran intelektual. Aleyna harus berpikir cepat, membuat keputusan tepat, dan tetap menjaga emosi agar tidak tergelincir. Rowan selalu ada di dekatnya, menatap, menilai, kadang memberikan komentar yang tampak netral tapi penuh makna tersembunyi.

Suatu sore, setelah rapat panjang, Aleyna memutuskan untuk berjalan-jalan di taman perusahaan. Ia perlu menenangkan pikiran yang penuh dengan intrik, gosip, dan masa lalu yang terus menghantui. Saat ia duduk di bangku kayu, menikmati angin sore, sebuah kenangan lama muncul begitu saja: malam ketika ia terjebak oleh Selina, rasa malu, rasa sakit, dan rasa takut yang pernah menjeratnya.

Aleyna menutup mata, menarik napas panjang, mencoba menghapus semua kenangan itu. Tapi tidak mudah. Selina, dengan semua tipu daya dan kejahatannya, masih ada di luar sana, menunggu untuk merusak hidup Aleyna lagi. Dan Rowan, bosnya yang misterius, selalu menjadi bayangan yang tak bisa ia lupakan.

Saat Aleyna membuka mata, ia melihat Rowan berdiri di ujung jalan setapak, tangannya menyilangkan tubuh, menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. Aleyna menahan napas. Apakah ini kebetulan, atau bagian dari permainan yang lebih besar? Rowan tersenyum tipis, menatapnya sejenak, kemudian berjalan pergi tanpa sepatah kata pun.

Rasa penasaran Aleyna semakin menjadi-jadi. Ia mulai menyadari satu hal: bukan hanya masa lalu yang harus ia hadapi, tapi juga perasaan yang mulai muncul lagi-perasaan yang seharusnya ia kubur bersama kenangan malam itu. Rowan, dengan semua misteri dan aura berbahayanya, telah memaksa Aleyna untuk menghadapi dirinya sendiri, kekuatannya, dan rasa yang tidak ia mengerti sepenuhnya.

Hari demi hari, Aleyna semakin terjerat dalam dunia perusahaan yang penuh intrik, di mana setiap keputusan, setiap langkah, dan setiap tatapan bisa menjadi senjata. Ia belajar untuk bertahan, untuk menggunakan kecerdasan dan instingnya, dan yang paling penting, untuk menjaga rahasia masa lalunya agar tidak menjadi alat bagi Selina atau siapa pun yang ingin menghancurkannya.

Namun, di balik semua itu, Aleyna mulai menyadari satu hal yang menakutkan sekaligus menggairahkan: Rowan Sinclair bukan hanya bosnya, bukan hanya pria misterius dari masa lalunya, tetapi juga seseorang yang memiliki kekuatan untuk mengubah hidupnya, entah menjadi penyelamat atau musuh yang paling berbahaya.

Dan malam itu, saat Aleyna menatap kota dari jendela apartemennya, ia tahu satu hal pasti: permainan baru ini baru saja dimulai. Tidak ada yang akan sama lagi, tidak ada yang bisa Aleyna prediksi. Setiap langkah, setiap kata, setiap tatapan akan menentukan siapa yang akan menang dalam permainan ini-Aleyna dengan tekad dan keberaniannya, atau Rowan dengan misteri dan kekuatannya.

Dan di tengah malam yang hening, Aleyna tersenyum tipis. Ia siap. Kali ini, ia tidak akan menjadi korban. Kali ini, ia akan menentukan jalannya sendiri-dengan segala risiko yang harus ia hadapi.

Aleyna Seraphina Veyra menatap layar laptop di ruang kerjanya dengan mata yang mulai lelah. Suara ketukan keyboard yang terdengar berulang-ulang terasa seperti ritme monoton, tapi pikirannya bergerak begitu cepat, menelusuri strategi baru untuk proyek perusahaan yang ia tangani. Hari itu kantor terasa berbeda—lebih tegang dari biasanya. Ada aura yang sulit dijelaskan, seolah semua orang menahan napas menunggu sesuatu terjadi.

Pagi tadi, seorang kolega dari divisi lain memberitahu bahwa Rowan Sinclair akan memimpin rapat tertutup untuk membahas proyek baru yang sangat rahasia. Tidak ada yang tahu detilnya, kecuali tim inti. Tapi yang membuat Aleyna merasa canggung adalah kenyataan bahwa ia termasuk satu-satunya anggota tim yang tidak familiar dengan proyek tersebut. Ini jelas jebakan untuk menguji kemampuannya—atau setidaknya itulah perasaan yang ia rasakan.

Ketika Aleyna melangkah ke ruang rapat, suasana langsung berubah. Lampu terang menyoroti meja panjang dari kayu mahoni, dan semua eksekutif inti duduk rapi di kursi mereka. Di ujung meja, Rowan Sinclair duduk dengan ekspresi tenang yang hampir membuatnya merasa takut sekaligus tertarik. Matanya yang tajam seperti bisa menembus pikiran Aleyna. Ia duduk, menyesuaikan posisi di kursi, dan menatap Aleyna seakan menilai setiap gerakan tubuhnya.

“Selamat pagi, Aleyna,” suara Rowan rendah, tapi jelas terdengar di seluruh ruangan. “Kau tahu alasan kau dipanggil ke sini, bukan?”

Aleyna menelan ludah, mengangguk pelan. “Ya, Pak. Saya siap.”

Rowan tersenyum tipis. “Baik. Aku ingin kau memimpin presentasi awal untuk proyek baru ini. Kau akan menunjukkan rencana strategis, proyeksi, dan semua langkah operasional. Jangan takut untuk membuat keputusan sendiri.”

Aleyna mengangguk lagi, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu ini bukan sekadar uji kemampuan profesional, tapi juga ujian terhadap integritas, keberanian, dan kepintaran emosionalnya. Ia menatap layar laptop, menyusun kata-kata dalam pikirannya sebelum berbicara di depan seluruh eksekutif.

Rapat dimulai, dan Aleyna mempresentasikan rencana dengan mantap. Suara dan gesturnya jelas, logis, dan terstruktur. Setiap pertanyaan dari anggota rapat ia jawab dengan tenang, meski beberapa di antaranya terasa seperti ujian menyamar. Rowan duduk di kursi, tangannya menyilangkan lengan, menatap dengan ekspresi datar. Namun, ada satu momen ketika matanya beralih ke Aleyna dan… sesuatu bergetar di dadanya.

Seusai rapat, Aleyna kembali ke ruangannya, berusaha menenangkan diri dari ketegangan yang masih menempel. Ia duduk, menaruh kepala di tangan, dan membiarkan pikirannya melayang sejenak ke masa lalu. Ia teringat pada malam-malam kelam yang membuatnya meninggalkan kota empat tahun lalu, terjebak dalam tipu muslihat Selina, dan dihantui rasa malu.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal: “Jangan terlalu percaya pada semua yang terlihat. Ada yang diam-diam mengawasi langkahmu.”

Aleyna menyipitkan mata. Siapa yang mengirim pesan itu? Apakah ini peringatan dari Rowan, atau sesuatu yang lebih gelap, lebih licik—Selina? Hatinya berdebar. Ia tidak bisa lagi menganggap masa lalunya aman atau terlupakan.

Hari itu berlanjut dengan berbagai rapat internal, pengambilan keputusan mendadak, dan koordinasi tim yang menuntut ketelitian. Aleyna mulai menyadari pola di perusahaan: setiap langkahnya diawasi, setiap ide dinilai secara ketat, dan setiap kesalahan kecil bisa dimanfaatkan sebagai kelemahan. Rowan Sinclair tidak hanya mengawasinya, tapi juga memberikan tekanan yang membuat Aleyna belajar untuk selalu siap dengan strategi, plan B, bahkan plan C.

Saat jeda makan siang, Aleyna duduk di teras gedung, menatap kota yang panas oleh sinar matahari. Ia menutup mata sejenak, mencoba menarik napas panjang, tapi perasaan campur aduk tetap ada. Ia merasa tertantang, tapi sekaligus waspada. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran sekaligus takut terhadap Rowan. Ia bukan lagi gadis yang lemah empat tahun lalu, tapi ia masih belum mengerti sepenuhnya siapa pria di hadapannya ini.

Ketika ia kembali ke ruang kerjanya, sebuah kejutan lain menunggu. Sebuah dokumen penting tergeletak di mejanya, bersegel dengan tinta emas, bertuliskan: “Rahasia perusahaan. Hanya untuk Aleyna.”

Di dalamnya terdapat data strategis yang sensitif, catatan tentang persaingan bisnis, dan beberapa analisis mendalam tentang risiko yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Aleyna menatap dokumen itu, sadar bahwa ini adalah kesempatan sekaligus ujian. Ia harus menunjukkan kemampuan terbaiknya, tapi juga harus menjaga rahasia itu dari orang-orang yang bisa memanfaatkannya—dan kemungkinan besar, salah satu pengintai itu adalah Selina.

Malam hari, Aleyna duduk di apartemennya, mempelajari dokumen itu dengan seksama. Ia menandai poin-poin penting, membuat catatan di buku pribadinya, dan merancang strategi untuk hari-hari berikutnya. Pikiran tentang Rowan Sinclair selalu muncul. Ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa bosnya ini memiliki pengetahuan tentang masa lalunya yang tidak bisa dijelaskan. Rowan adalah misteri terbesar dalam hidupnya saat ini, dan Aleyna tahu ia harus berhati-hati.

Beberapa hari kemudian, perusahaan mengadakan acara sosial tertutup bagi eksekutif dan klien penting. Aleyna hadir dengan gaun formal berwarna navy, rambutnya disisir rapi, dan wajahnya menampilkan senyum profesional. Tapi di dalam, ia waspada. Aleyna tahu bahwa di acara seperti ini, gosip dan strategi bisnis sering bercampur dengan manipulasi personal.

Saat berdiri di sudut ruangan, Aleyna menyadari sosok familiar yang masuk ke ruangan: Rowan Sinclair. Pria itu mengenakan jas hitam rapi, ekspresinya tetap tenang, tapi aura yang memancar membuat seluruh ruangan terasa berbeda. Matanya menemukan Aleyna, dan seketika udara di sekitarnya terasa lebih berat.

Rowan mendekat, tanpa mengatakan sepatah kata pun, hanya menatapnya. Aleyna menahan napas, tapi berusaha tetap profesional. Ia tahu ini bukan hanya tentang pekerjaan. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang seolah membaca pikirannya, mengukur kemampuannya, bahkan menilai hatinya.

“Bagaimana progres proyekmu?” suara Rowan akhirnya terdengar, rendah dan tenang, tapi penuh tekanan terselubung.

Aleyna menatapnya, menahan diri dari rasa gugup. “Semua berjalan lancar, Pak. Saya sudah menyiapkan strategi tambahan untuk menghadapi risiko yang mungkin muncul.”

Rowan mengangguk, matanya tidak beranjak dari wajah Aleyna. “Bagus. Tapi ingat, tidak semua orang bisa dipercaya di sini. Beberapa bisa berpura-pura mendukungmu, tapi diam-diam mengincar kelemahanmu.”

Aleyna menelan ludah. Ia tahu peringatan itu tidak hanya untuk strategi perusahaan. Ada pesan tersembunyi yang lebih personal di balik kata-kata Rowan. Sesuatu yang membuat Aleyna merasa ada tarikan halus ke dalam permainan misterius yang lebih besar daripada sekadar pekerjaan.

Malam itu, saat ia pulang ke apartemen, Aleyna merenung panjang. Ia menyadari satu hal: dunia baru yang ia masuki penuh dengan intrik, rahasia, dan konflik yang tidak bisa dihindari. Selina, dengan semua tipu daya dan rencananya, masih ada di luar sana. Rowan, dengan aura misteriusnya, selalu hadir di setiap sudut kehidupan Aleyna.

Aleyna menarik napas panjang, menatap langit kota yang gelap diterangi cahaya lampu jalan. Hatinya bergejolak—antara takut, penasaran, dan sesuatu yang tidak ingin ia akui: rasa yang mulai muncul kembali untuk Rowan.

Ia tersenyum tipis, menggenggam tekadnya. “Aku tidak akan membiarkan masa laluku menghancurkanku lagi,” bisiknya dalam hati. “Aku akan menghadapinya. Aku akan bertahan. Dan aku akan menemukan siapa yang sebenarnya Rowan Sinclair—bosku, misteri dalam hidupku, atau sesuatu yang lebih berbahaya dari yang pernah kubayangkan.”

Malam itu, Aleyna menatap kota yang luas dan penuh misteri. Ia tahu perjalanan ini baru dimulai. Dan kali ini, ia siap menghadapi segalanya—masa lalu, rahasia, intrik, dan perasaan yang tak bisa dihindari lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Putri Konglomerat
8.2
Aluna hancur saat memergoki suaminya, Dian, menemani Ratnasari di rumah sakit ketika ia sedang berjuang untuk program bayi tabung. Pengkhianatan memuncak saat Aluna dikurung dan dipaksa menggugurkan kandungannya akibat sabotase obat. Setelah kehilangan bayinya dan diusir dari rumah, identitas asli Aluna terungkap sebagai putri konglomerat media yang hilang. Kini, sang pewaris telah kembali untuk menuntut balas pada semua orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Crazy Maid ( Indonesia )
8.5
Felicity Jolicia Addison, gadis manja yang tak pernah menyentuh dapur, terpaksa menyamar menjadi Cia. Demi jet pribadi impian, ia menjalankan misi sang ayah menjadi pelayan Jerrald Nataniel Mendez, pengusaha jet asal Spanyol. Jerrald frustrasi menghadapi ketidakbecusan Cia yang bahkan hampir membakar dapur saat memasak air. Meski dicap gila karena kepolosan dan sifat borosnya, interaksi unik antara majikan arogan dan maid amatir ini justru memicu benih asmara.
Sampul Novel Grafiti Dinding Hati
8.4
Citta Buwana menghadapi masa magang yang berat sebagai sekretaris William Rustenburg. Bagi William, Citta hanyalah bawahan tidak kompeten yang selalu menjadi pelampiasan emosinya. Ketegangan memuncak saat William mengetahui rencana perjodohan mereka yang diatur sang ayah, Johan. Meski William terus memberontak dan mempermalukan Citta, Johan tetap teguh pada pilihannya. Mampukah pengabdian dan pengorbanan mengubah kebencian menjadi cinta dalam ikatan paksa ini?
Sampul Novel Suamiku Pura-Pura Buta Demi Menyembunyikan Kebohongan Besar
8.7
Selena Atmadja diceraikan Davin Hartanto tepat setelah akad karena skandal kehamilan wanita lain. Demi menjaga martabat, Madame Ratih memaksa Selena menikahi putra keduanya, Leonard Hartanto, pria dingin yang penuh misteri. Meski awalnya menolak, Selena akhirnya terjebak dalam pernikahan hampa bersama pria yang terasa asing. Keadaan berbalik saat Selena mengungkap rahasia besar bahwa Leonard hanya berpura-pura buta. Apa motif di balik sandiwara ini dan mampukah Selena bertahan?
Sampul Novel Jangan Main-Main Dengan Dia
8.9
Yolanda dibuang ke desa terpencil setelah tahu ia hanya dijadikan alat bisnis oleh orang tua angkatnya. Tak disangka, ia justru menemukan jati diri sebagai pewaris keluarga konglomerat yang sangat berpengaruh. Meski dihujani kasih sayang, ia harus menghadapi kecemburuan adiknya. Yolanda pun bangkit membalas dendam dengan bakatnya yang luar biasa. Pesonanya memikat seorang miliarder ternama yang kini memojokkannya demi mengungkap rahasia besar Yolanda.
Sampul Novel Menikah dengan Miliarder Rahasia
8.9
Dikhianati calon tunangannya yang kabur, Livia nekat mengajak pria asing menikah secara spontan. Tanpa diduga, sosok itu adalah Kiran, pria yang dikenal punya reputasi buruk. Meski publik mencemooh dan sang mantan memintanya kembali, Livia tetap bertahan membela martabat pernikahannya. Segalanya berubah saat identitas asli Kiran sebagai triliuner dunia terungkap. Di hadapan semua orang, Kiran berlutut mempersembahkan berlian demi membuktikan cinta tulusnya.