
Cinta yang Hilang di Tengah Fitnah
Bab 3
Aleyna Seraphina Veyra menatap deretan gedung tinggi dari jendela kantornya yang menghadap ke pusat kota. Sinar matahari sore menembus kaca, memantulkan kilau emas di lantai marmer, tapi keindahan itu tidak bisa menghapus ketegangan yang menyelimuti hatinya. Hari ini adalah hari yang berbeda. Ia bisa merasakannya. Ada sesuatu yang bergerak di balik layar-suatu skema, tipu muslihat, atau rahasia yang menunggu untuk terbongkar.
Ia menutup laptopnya dengan pelan dan menghirup udara panjang. Pikiran Aleyna kembali ke pesan misterius yang ia terima beberapa hari lalu: "Tidak semua orang yang tampak mendukungmu benar-benar di pihakmu." Pesan itu bukan sekadar peringatan, tapi juga pengingat bahwa dunia yang ia masuki penuh dengan jebakan tersembunyi.
Langkah kakinya membawa Aleyna ke lounge eksekutif, tempat beberapa rekan kerja berkumpul santai setelah rapat panjang. Di sudut ruangan, sebuah meja dipenuhi laporan-laporan proyek baru, dan beberapa orang terlihat berdiskusi serius. Aleyna mencoba menyusup tanpa menarik perhatian, tapi matanya segera tertuju pada sosok yang membuatnya selalu waspada: Selina Veyra.
Selina, adik sepupunya, berdiri dengan senyum menawan yang selalu tampak terlalu sempurna. Seolah dunia ada di genggamannya. Aleyna menelan ludah. Sudah empat tahun berlalu, tapi aura Selina tidak berubah-masih licik, manipulatif, dan selalu satu langkah lebih cepat dari kebanyakan orang.
Selina mendekat, menyapa dengan nada manis. "Aleyna! Aku senang melihatmu kembali. Kota ini tentu terasa berbeda, ya?"
Aleyna membalas senyum tipis, menahan perasaan curiga yang terus mengalir. "Ya, cukup banyak yang berubah."
Selina tertawa kecil, mata tajamnya menyapu ruangan. "Kau tahu, aku selalu ingin melihatmu berhasil. Tapi... jangan terlalu percaya pada semua orang di sini. Ada yang suka berpura-pura mendukungmu."
Kata-kata itu seperti getaran halus yang menegaskan ketegangan yang Aleyna rasakan sejak awal. Ia tahu, Selina tidak pernah bicara tanpa maksud tersembunyi. Ada rencana, ada jebakan, dan kemungkinan besar Aleyna sudah menjadi target.
Aleyna memutuskan untuk menjawab dengan hati-hati. "Terima kasih atas peringatannya. Aku akan tetap waspada."
Selina tersenyum, menepuk bahu Aleyna dengan lembut, tapi Aleyna merasakan ada tekanan tersembunyi di balik gerakan itu. Sesaat kemudian, Selina pergi, meninggalkan Aleyna dengan perasaan campur aduk-antara waspada, marah, dan penasaran.
Sore itu Aleyna kembali ke mejanya dan membuka dokumen baru yang diterimanya dari Rowan Sinclair. Ada proyek rahasia yang menuntut perhatian penuh, bukan hanya tentang strategi bisnis, tapi juga tentang risiko tersembunyi yang bisa mengguncang perusahaan jika tidak ditangani dengan tepat. Aleyna tahu, ini adalah ujian yang tidak hanya mengukur kemampuan profesional, tapi juga kemampuan psikologis dan emosionalnya.
Ia mulai menyusun rencana, menandai setiap risiko, merinci strategi cadangan, dan memikirkan skenario terburuk. Tapi di sela-sela pekerjaannya, pikirannya tetap kembali ke Rowan. Bagaimana mungkin pria yang selalu tampak dingin dan misterius itu bisa membuatnya merasa tegang sekaligus penasaran hanya dengan tatapan? Ada sesuatu yang menariknya ke dalam lingkaran misteri itu, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa.
Ketika malam menjelang, Aleyna memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan strategi menghadapi Selina yang semakin aktif. Namun di lorong gedung, ia bertemu dengan Rowan secara tak sengaja. Pria itu berdiri dengan postur tegap, menatap Aleyna dengan intens.
"Kau pulang lebih awal?" tanya Rowan, suaranya rendah tapi jelas terdengar di lorong sepi.
Aleyna menelan ludah. "Ya... ada beberapa hal yang harus kupikirkan sendiri."
Rowan melangkah lebih dekat, wajahnya sedikit menyipit. "Jangan biarkan tekanan menguasaimu. Tapi kau harus tahu, beberapa orang di sekitarmu mungkin tidak seperti yang terlihat."
Kalimat itu terasa familiar, tapi kali ini ada nada yang berbeda-tegas, sekaligus... pribadi. Aleyna menatapnya, mencoba menebak maksudnya. "Siapa maksudmu?"
Rowan tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Kau akan tahu sendiri." Kemudian ia berbalik dan meninggalkan Aleyna dengan perasaan campur aduk.
Di apartemennya malam itu, Aleyna membuka ponselnya dan menatap layar kosong. Ia merasa ada permainan yang jauh lebih besar sedang berlangsung, dengan Rowan dan Selina sebagai pusatnya. Ia menutup mata, menarik napas panjang, dan berbisik pada diri sendiri: "Aku tidak bisa terus bermain di ruang gelap ini tanpa strategi. Aku harus tahu siapa yang benar-benar ada di pihakku."
Keesokan harinya, Aleyna memutuskan untuk mengumpulkan informasi. Ia mulai memperhatikan perilaku rekan-rekannya, mencatat setiap komentar, setiap ekspresi, dan setiap gerak-gerik yang tampak aneh. Ia ingin memahami pola, menemukan siapa yang mungkin menjadi sekutu dan siapa yang menjadi ancaman.
Di tengah pengamatannya, ia mendengar gosip tentang proyek rahasia yang sedang dikerjakan Rowan dan tim inti. Beberapa orang berbisik, menyebutkan nama Aleyna dengan nada penasaran dan sedikit meremehkan. Ia tahu, gosip ini bisa dimanfaatkan Selina untuk menjatuhkannya. Aleyna menatap jendela kantor, menghela napas, dan memutuskan untuk menghadapi semuanya dengan kepala dingin.
Hari itu berakhir dengan sebuah undangan rapat pribadi dari Rowan. Aleyna berjalan menuju kantornya dengan hati berdebar. Apa maksud pria itu memanggilnya secara pribadi? Apakah ini tentang proyek, masa lalu, atau sesuatu yang lebih rumit?
Saat masuk ke kantor Rowan, ia menemukan pria itu sedang menatap layar komputer, namun matanya segera mengalihkan pandangan ke Aleyna. "Tutup pintu," katanya.
Aleyna menutup pintu dan berdiri di depan meja. Rowan menunjuk kursi di depannya. "Duduk."
Ia menelan ludah dan duduk, mencoba menenangkan diri. "Ada apa, Pak?"
Rowan menghela napas panjang. "Aku ingin memberimu informasi yang mungkin berguna, tapi juga peringatan. Ada orang di sekitar kita yang tidak jujur, yang bisa membahayakan proyek ini... bahkan mungkin membahayakanmu."
Aleyna menatapnya tajam. "Siapa, Pak?"
Rowan tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Aleyna, kemudian menaruh dokumen di depannya. "Ini akan menunjukkan arah dan risiko proyek. Pelajari dengan seksama. Dan ingat, kepercayaan itu mahal. Jangan berikan kepada siapa pun yang tidak layak."
Aleyna menatap dokumen itu dengan campuran rasa penasaran dan waspada. Ia tahu ini bukan sekadar informasi proyek; ini juga ujian psikologis, tes kesetiaan, dan permainan kekuatan yang rumit.
Hari-hari berikutnya Aleyna mulai bekerja dengan ritme baru. Ia semakin lihai membaca orang, memahami dinamika internal perusahaan, dan menjaga jarak dengan mereka yang tampak terlalu ramah. Tapi Rowan selalu ada di sekitarnya, entah memberi petunjuk samar, entah sekadar menatap dengan ekspresi misterius yang membuatnya penasaran dan sekaligus waspada.
Suatu sore, ketika Aleyna sedang meninjau dokumen di ruang konferensi, seorang staf muda mengetuk pintu. "Bu Aleyna, ada tamu yang ingin berbicara. Dia mengatakan penting."
Aleyna mengerutkan dahi. "Siapa?"
Staf itu menatapnya sebentar, lalu menatap pintu belakang ruang konferensi. Aleyna mengikuti pandangan itu, dan jantungnya seketika berdetak lebih cepat. Rowan Sinclair berdiri di sana, tanpa pemberitahuan, dengan tatapan intens yang langsung menundukkan suasana.
"Kau selalu berada di tempat yang tepat, Pak," ucap Aleyna dengan nada datar, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
Rowan tersenyum tipis. "Kau juga selalu melakukan hal yang tepat, Aleyna. Tapi aku ingin melihat bagaimana kau menghadapi sesuatu yang tidak bisa diprediksi."
Aleyna menatapnya, mencoba membaca maksudnya. "Apa maksudmu?"
Rowan berjalan masuk, menutup pintu di belakangnya, dan menaruh dokumen lain di meja. "Ini tentang strategi baru, tapi juga tentang siapa yang bisa kau percayai. Dan ini bukan hanya tentang proyek... ini tentang hidupmu di sini. Aku ingin kau siap untuk hal-hal yang tidak kau duga."
Aleyna menelan ludah, menyadari bahwa permainan ini semakin kompleks. Rowan bukan hanya bos, bukan hanya misteri masa lalunya, tapi juga katalisator yang memaksa Aleyna menghadapi ketakutan, ambisi, dan perasaan yang selama ini ia kubur.
Malam itu, Aleyna duduk di apartemennya, menatap kota yang terang oleh lampu jalan. Hatinya campur aduk-antara waspada, penasaran, dan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan: rasa yang mulai tumbuh kembali untuk Rowan. Ia tersenyum tipis, menggenggam tekadnya, dan berkata dalam hati: "Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengendalikan hidupku, termasuk Selina atau bahkan Rowan. Tapi aku juga harus jujur pada diriku sendiri... aku mulai ingin tahu siapa sebenarnya pria ini."
Di luar jendela, hujan tipis mulai turun, menciptakan ritme menenangkan yang kontras dengan ketegangan di dalam hatinya. Aleyna tahu satu hal pasti: permainan baru ini jauh dari selesai. Dan kali ini, ia tidak akan mundur.
Aleyna Seraphina Veyra menutup pintu lift di lantai atas dengan perlahan, tapi langkah kakinya masih terasa berat. Pagi itu suasana kantor lebih tegang dari biasanya. Telepon berdering tiada henti, email masuk berseliweran, dan rekan-rekan kerja tampak sibuk dengan ekspresi serius. Tapi Aleyna merasa ada sesuatu yang berbeda—bukan soal pekerjaan, melainkan sensasi bahwa sesuatu akan berubah hari ini, sesuatu yang lebih pribadi dan berisiko.
Ia melangkah ke mejanya, menaruh tas kerja, dan menatap dokumen proyek yang menumpuk. Matanya beralih ke jam dinding—delapan tiga puluh pagi. Masih ada waktu sebelum rapat besar dengan para eksekutif senior. Tapi perasaannya menegaskan bahwa detik-detik berikutnya akan menentukan jalannya permainan baru ini.
Saat Aleyna menyalakan laptopnya, layar menyala dengan notifikasi yang membuat hatinya berdegup lebih cepat. Sebuah pesan singkat muncul: “Aku ingin bicara. Ruang konferensi 9:30. Jangan terlambat.”
Tidak ada pengirim yang tercantum, tapi Aleyna tahu siapa itu. Rowan Sinclair. Pria itu selalu berhasil meninggalkan jejak misteri di setiap langkahnya, dan kini ia mengundang Aleyna ke arena permainan baru.
Ketika Aleyna memasuki ruang konferensi tepat pukul 9:30, Rowan sudah berdiri di sana, dengan pandangan yang menembus dan aura yang selalu membuatnya sulit bernapas. Ia menutup pintu di belakang Aleyna, lalu berkata tanpa basa-basi, “Aku ingin kau menilai sebuah situasi—bukan hanya proyek, tapi juga orang-orang yang terlibat.”
Aleyna mengernyit, mencoba menafsirkan maksudnya. “Apa maksud Bapak?”
Rowan berjalan perlahan mengelilingi meja, matanya tetap menatap Aleyna. “Ada individu di sekitar kita yang bukan sekadar ancaman profesional. Mereka memiliki agenda pribadi, dan bisa memanfaatkan situasi untuk keuntungan mereka sendiri. Aku ingin kau menemukan siapa.”
Aleyna menarik napas panjang. Ia tahu maksud Rowan lebih dari sekadar permainan profesional. Ini adalah ujian intelektual, emosional, dan psikologis. “Bagaimana caranya saya menilai orang-orang itu?”
Rowan tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Amati. Catat. Dengarkan. Setiap kata, ekspresi, dan gerak-gerik bisa menjadi petunjuk. Jangan tergesa-gesa, tapi juga jangan lengah.”
Rapat pribadi itu berakhir, meninggalkan Aleyna dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, permainan ini jauh lebih kompleks daripada jebakan Selina empat tahun lalu. Bukan hanya tipu daya yang jelas, tapi manipulasi halus yang bisa menjerat siapa pun tanpa sadar.
Selama hari itu, Aleyna mulai memperhatikan rekan-rekannya dengan intens. Ia menandai pola perilaku, mendengarkan percakapan yang tampak sepele, dan mencatat setiap kejanggalan. Ada perasaan baru yang muncul—rasa takut, rasa penasaran, dan rasa ingin tahu tentang siapa yang benar-benar bisa dipercaya.
Saat jeda makan siang, Aleyna memutuskan untuk berjalan ke taman gedung. Ia butuh udara segar untuk menenangkan pikiran yang terlalu penuh. Di bangku kayu, ia duduk, menatap pepohonan dan dedaunan yang mulai berguguran. Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Seorang wanita mendekat, mengenakan pakaian formal, rambutnya diikat rapi, dan senyum yang tampak terlalu manis untuk dipercayai. “Aleyna, ya? Aku Selina,” ucap wanita itu.
Aleyna menegakkan tubuh, menatap Selina dengan mata waspada. “Apa yang kau mau, Selina?”
Selina duduk di bangku sebelahnya tanpa izin. “Hanya ingin mengobrol. Sudah lama kita tidak berbicara, kan? Aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja di kantor ini… untukmu.”
Aleyna menahan napas. Ia tahu Selina selalu menyelipkan maksud tersembunyi di balik kata-kata manis. “Aku baik-baik saja,” jawabnya singkat.
Selina tersenyum, tapi ada kilatan di matanya yang membuat Aleyna tidak nyaman. “Aku senang mendengarnya. Tapi ingat, Aleyna… dunia ini tidak selalu ramah, bahkan untuk orang sekuatmu.”
Aleyna menatap Selina diam-diam. Kata-kata itu terdengar seperti peringatan, tapi juga ancaman terselubung. Ia tahu, setiap interaksi dengan Selina adalah permainan psikologis yang harus ia menangkan.
Hari itu berlanjut dengan proyek yang semakin menantang. Aleyna harus menyesuaikan strategi, menilai risiko, dan tetap menjaga sikap profesional. Tapi di balik semua itu, pikirannya tetap terjerat pada Rowan. Setiap kali ia menatap pria itu, ada sensasi aneh—antara tegang, penasaran, dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Sore menjelang malam, Rowan memanggil Aleyna ke ruang kantornya lagi. Kali ini, suasananya berbeda. Lampu ruangan lebih redup, dan jendela menampilkan pemandangan kota yang berkilau. “Kau mulai memahami permainan ini, Aleyna?” tanyanya.
Aleyna mengangguk. “Sedikit, Pak. Tapi masih banyak yang harus kupelajari.”
Rowan melangkah lebih dekat, tatapannya intens. “Permainan ini bukan hanya soal pekerjaan. Ini tentang siapa yang bisa bertahan, siapa yang bisa menahan diri, dan siapa yang bisa menghadapi masa lalu tanpa terjebak di dalamnya.”
Aleyna menelan ludah. Hatinya berdegup lebih cepat. Ada sesuatu dalam kata-kata Rowan yang terasa pribadi, seolah ia tidak sekadar berbicara tentang proyek, tapi juga tentang mereka—masa lalu mereka, rahasia yang tersembunyi, dan hubungan yang rumit.
“Maksud Bapak…” suara Aleyna nyaris berbisik, “apakah ini juga tentang masa lalu saya?”
Rowan menatapnya lama. Kemudian ia tersenyum tipis, hampir tak terlihat. “Kau akan tahu, Aleyna. Waktu yang tepat akan datang. Tapi untuk saat ini, fokus pada permainan ini. Jangan biarkan emosi menguasaimu. Kau harus tetap tajam.”
Aleyna mengangguk, meskipun hatinya bergejolak. Ia tahu Rowan bukan hanya bos, bukan hanya misteri dari masa lalu, tapi juga kekuatan yang bisa mengubah hidupnya—baik sebagai ancaman maupun penyelamat.
Malam itu, Aleyna duduk di apartemen, menatap dokumen proyek, catatan observasinya, dan ponsel yang tetap diam. Ia tahu satu hal: Selina semakin aktif, Rowan semakin misterius, dan permainan ini jauh lebih kompleks daripada yang pernah ia bayangkan.
Ia menarik napas panjang, menatap lampu kota yang berkilau. “Aku harus tetap kuat. Aku harus tetap cerdas. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengendalikan hidupku—tidak Selina, tidak Rowan, dan tidak masa laluku sendiri.”
Sementara itu, di sisi lain kota, Rowan Sinclair menatap gedung tinggi dari kantornya, matanya menelusuri setiap jendela. Ia tahu Aleyna mulai memahami permainan yang ia ciptakan, dan itu membuatnya tertarik. Ada rasa kagum terselubung, sekaligus… sesuatu yang lebih personal.
Rowan menyalakan ponselnya dan mengetik pesan singkat: “Aleyna, kau sudah membuat langkah pertama. Tapi langkah berikutnya akan menentukan segalanya. Siapkah kau menghadapi risiko sebenarnya?”
Di apartemennya, Aleyna menerima pesan itu dan menatap layar dengan hati berdebar. Pesan itu bukan sekadar pengingat profesional; ada tantangan pribadi di baliknya. Dan kali ini, ia tahu, permainan ini tidak akan berhenti hingga rahasia, perasaan, dan kekuatan mereka diuji sepenuhnya.
Malam itu berakhir dengan hujan tipis yang menyelimuti kota, menciptakan ritme menenangkan namun juga misterius. Aleyna menatap hujan dari jendela apartemennya, menyadari satu hal: permainan ini baru saja dimulai, dan kali ini, ia harus menghadapi semuanya—masa lalu, rahasia, intrik, dan perasaan yang tidak bisa ia abaikan lagi.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Aleyna merasa hidupnya benar-benar berada di persimpangan—antara kemenangan, kekalahan, dan sesuatu yang tak terduga: perasaan yang perlahan muncul kembali untuk Rowan Sinclair, pria misterius yang selalu membuatnya penasaran dan waspada sekaligus.
Anda Mungkin Juga Suka





