
Cinta yang dinantikan
Bab 2
"Bagaimana kalo aku meminta tubuhmu sebagai imbalannya?"
Tubuhku? Apa maksudnya? Jika seperti ini, bukankah dia sama saja dengan para laki-laki yang mencoba melecehkanku!
Anggun mematung sejenak, dirinya merasa seperti keluar dari mulut harimau dan masuk ke mulut buaya.
Elgar kemudian tertawa ketika melihat reaksi Anggun setelah mendengar ucapannya. "Aku pulang sekarang. Selamat malam."
"Tunggu."
Elgar menghentikan langkah kakinya ketika baru saja melangkah karena mendengar suara Anggun.
Anggun baru menyadari jika rambutnya basah, tercium aroma segar dari tubuhnya yang menguar. Tidak hanya itu, pakaiannya yang saat ini dia kenakan juga berbeda.
Baju siapa ini?
"Siapa yang mengganti pakaianku, dan ... rambutku basah. Apa yang terjadi padaku?"
"Tubuhmu bau alkohol dan bajumu kotor. Jadi, aku membersihkannya agar tidurmu nyenyak."
Apa? Apakah dia benar-benar melakukan itu? Itu artinya ...
Anggun memalingkan wajahnya dari Elgar, rasa malu sekaligus merinding seketika merayap di tubuhnya.
"Bukan aku yang melakukannya," reaksi Anggun yang tadi panik seketika berubah mendengar perkataan Elgar. "Di rumah ini ada dua pelayan, mereka berdua yang melakukan itu. Kalo butuh apa-apa, katakan saja pada mereka."
Anggun seketika merasa lega karena dirinya tidak sendirian di rumah itu. Tetapi Anggun masih memikirkan banyak hal, terlebih ucapan Elgar yang terdengar Blak-blakan. Anggun merasa ragu apakah laki-laki yang menolongnya itu benar-benar baik?
Anggun kembali mencoba memejamkan matanya setelah Elgar pergi. Tetapi tidak bisa, badannya justru terasa segar setelah bangun tidur dengan rambut basah serta aroma tubuhnya yang harum, aroma mahal yang belum pernah Anggun rasakan.
Malam ini, Anggun mungkin merasa aman, tapi besok, kemana Anggun akan pulang, jika tempat yang dia sebut rumah saja tidak aman untuknya.
Sementara itu, di kediaman keluarga Aditara.
"Darimana saja kamu, Elgar? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya William, Papa Elgar yang duduk di ruang tamu, sengaja menunggu kedatangan putranya.
"Apa itu penting? Sejak kapan anda ingin tahu urusan saya?" jawab Elgar tanpa rasa hormat.
"Berhenti memanggil saya dengan sebutan anda. Saya ini Papa kamu."
"Semua orang juga tahu jika anda Papa saya, jadi tidak perlu diperjelas."
Elgar segera masuk ke kamar tanpa peduli dengan papanya yang belum selesai bicara. Tidak hanya kali ini, Elgar dan papanya memang tidak akur.
----------
Malam yang sunyi dan tenang ahirnya berakhir. Langit yang biru semakin terlihat jelas, bersamaan dengan sinar matahari yang menembus jendela.
"Hai, selamat pagi."
Sapa Elgar, yang pagi ini kembali datang menemui Anggun.
Anggun menoleh ke arah suara. "Pagi."
Elgar mendekat ke arah Anggun, meraih rambutnya yang panjang, tergerai bebas dengan aroma sampo yang menguar.
Disaat seperti ini, Anggun merasa takut ketika lelaki di hadapannya menatapnya penuh arti. Anggun masih ragu dengan kebaikan Elgar yang sudah menolongnya.
"Ada apa? Apakah aku membuatmu takut?" Elgar menyadari jika Anggun merasa tidak nyaman berada di dekatnya, sejak semalam.
Elgar tidak pernah melihat ekspresi Anggun pada wanita kebanyakan, wanita yang biasa bersamanya. Dia yang biasa digoda dengan sikap centil para wanita, tapi tidak dengan saat ini.
"Anggun, lihat aku!"
Elgar mengangkat dagu Anggun agar menatap wajahnya. Elgar berusaha memancing, seberapa kuat Anggun menahan rayuannya. Memangnya, wanita mana yang akan menolak rayuan dari lelaki setampan Elgar.
"Aku mohon jangan, jangan lakukan apapun padaku!" mohon Anggun ketika Elgar mendekatkan wajahnya tanpa jarak.
Elgar ahirnya tahu, jika Anggun benar-benar berbeda dengan wanita-wanita yang ada di dekatnya. Ketakutan pada diri Anggun semakin terlihat jelas diiringi dengan tubuhnya yang gemeter dan tanganya yang terasa dingin.
"Jangan takut, aku tidak akan memakanmu."
Anggun membuka matanya dengan perlahan, mata yang tadi sempat dia pejamkan untuk mengurangi rasa takutnya. Sekarang, Anggun memberanikan diri untuk menatap mata Elgar.
"Ya, seperti itu," bisik Elgar ketika Anggun mulai mengontrol rasa takutnya.
Elgar menggandeng tangan Anggun untuk keluar, mengajaknya sarapan. Setelah ini Elgar akan membiarkan Anggun pergi dari rumahnya.
"Di mana rumahmu?"
Anda Mungkin Juga Suka





