Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Untuk Farisa

Cinta Untuk Farisa

Farisa, seorang gadis desa, memberanikan diri merantau ke kota demi menjalankan wasiat terakhir ibunya untuk mencari sang ayah. Di tengah perjalanan, ia bertemu sosok pria baik hati yang menolongnya. Meski berhasil menemukan ayahnya, Farisa terkejut karena posisinya telah direbut oleh orang lain yang mengaku sebagai anak kandung pria itu. Kini, Farisa harus memilih antara menyerah atau tetap berjuang demi mendapatkan kembali hak dan pengakuan yang seharusnya ia miliki.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah berpikir semalaman, akhirnya Farisa memutuskan pergi ke kota, untuk mencari ayahnya.

Usai berpamitan dengan Mak Ijah, Farisa langsung berangkat menuju terminal.

Tanpa menunggu lama bus yang di tumpanginya, sudah melaju dengan cepat. Sepanjang perjalanan, Farisa selalu memikirkan banyak hal, bisakah dirinya menemukan alamat ayahnya?

Jakarta kota yang besar, tak mudah baginya mencari sebuah alamat, apa lagi dirinya belum pernah ke sana sekalipun.

Bagaimana nanti kalau sudah sampai, namun tak segera menemukan alamat yang di tuju?dimana dirinya akan tinggal. Bagaimana juga kalau alamatnya ketemu, tapi ayahnya sudah pindah dari situ, kemana ia akan mencarinya? dan seandainya saja ayahnya masih di situ, lalu Farisa menemuinya dan menjelaskan kalau Farisa anaknya, namun ayahnya tak mengakuinya walaupun dengan bukti bukti yang ada, lalu ia, harus bagaimana?

"Aaaaahh pusing."

Farisa berteriak tanpa sadar, hingga mengagetkan orang di sekelilingnya. Sontak mereka pun menoleh, penuh heran. Disampingnya, juga ada seorang yang sedari tadi memperhatikannya, seorang lelaki berperawakan tinggi, dada bidang, dan berwajah tampan. Namun Farisa tak menyadarinya, karena Farisa sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga dirinya tak tau, kalau ada seorang yang sedang memperhatikannya.

"Kenapa mbak? sakit ya?" Tanya lelaki itu.

"Eeh emmm, nggak kok." Jawab Farisa sedikit terkejut.

"Aku perhatiin dari tadi, Mbaknya bengong aja, sampai nggak sadar kalau ada orang di sebelahnya," ucapnya sambil tersenyum.

"Emm, boleh gak kita kenalan?" Ucapnya lagi, sambil mengulurkan tangan.

"Aku Ega,"

"aku Farisa, panggil aja Risa," Ucap Farisa sembari menjabat tangan Ega.

Mereka pun kemudian saling mengobrol.

"Sa, kamu mau pulang, apa mau pergi?" Tanya Ega.

Maksudnya?" sahut Farisa bingung.

"Iya, kalau aku kan mau pulang nih ke Jakarta, aku habis mengunjungi nenek, di Semarang," ujarnya.

"Ooh, kalau aku mau kejakarta Ga." Ucap Farisa, setelah paham maksud pertanyaan Ega.

"Mau kerja apa berkunjung ke saudara sa?" tanya Ega.

"Bukan dua duanya Ga," jawab Farisa datar.

"Lah kok bisa gitu Sa? apa jangan jangan kamu kabur ya, dari rumah."

Ega yang mendengar jawaban Farisa malah berpikir kalau Farisa kabur dari rumah karna ada masalah.

"Ngapain kabur Ga, kalaupun kabur juga sudah gak ada yang nyariin aku," ucapnya.

"Jangan gitu Sa, kalau kamu beneran kabur, pasti orangtua kamu sedang panik nyariin kamu. Denger ya Sa, berhubung kamu sudah terlanjur kabur, lebih baik kamu hubungi dulu ayah ibumu, biar mereka gak nyariin kamu terus." Ucap Ega seperti menasehati anak kecil saja.

"Apaan sih Ga. Aku udah gak punya siapa siapa lagi. Ibuku sudah tiada, sedang ayahku entahlah, ibuku meminta aku mencarinya, tapi aku ragu, apa mungkin nanti ayah akan mengakui aku sebagai anaknya." Ucap Farisa sambil terisak.

Melihat gadis itu menangis, Ega merasa kasihan, di genggamnya tangan Farisa seraya berkata. "Maafkan aku Sa, aku telah membuatmu terluka, seharusnya aku tak bertanya seperti itu," Ucap Ega merasa menyesal, ada rasa sesak di dadanya melihat gadis itu menangis.

"Sa, kamu tenang saja, aku pasti bantu kamu cari ayahmu?" bujuk Ega seperti kepada anak kecil.

"Sa, jangan sedih lagi ya? Ibumu minta kamu mencari ayahmu kan? Dan itu permintaan terakhirnya, jadi kamu jangan ragu ya untuk mencari ayahmu." ujarnya meyakinkan Farisa.

"Apapun resikonya, kamu harus siap Sa, meskipun nantinya ayahmu tak mengakui kamu, setidaknya kamu sudah berjuang. Ingat! semua yang kamu lakukan demi ibumu Sa." ucap Ega lagi.

"Baiklah Ga, aku akan ikuti saran kamu." Balas Farisa penuh semangat.

"Ega benar apapun yang terjadi dan apapun resikonya aku harus siap, semua demi ibu. Ibu doa kan anakmu ini, agar bisa menemui ayah. ucapnya dalam hati.

Entah apa yang di rasa Farisa, Ega baru saja di kenalnya dalam hitungan jam, namun ada rasa nyaman tersendiri, untuk bercerita dengannya,. Padahal, dulu banyak yang mencoba mendekatinya, walau hanya sekedar ngobrol, tapi Farisa malas, dan enggan menanggapinya. Hingga banyak hati yang kecewa, karena sikapnya, namun kini dengan Ega, walau baru saja mengenalnya, Farisa dengan begitu mudah mencurahkan semua keresahan hatinya.

Perasaan apa ini, apa mungkin dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama! Entahlah, mungkin saja karena selama ini Farisa merasa kesepian, tak ada tempat mengadu semenjak di tinggal ibunya.

Setengah perjalanan, bus yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah makan, para penumpang mulai turun, ada yang menuju WC umum ada pula yang langsung menuju rumah makan.

"Sa, waktunya istirahat, kita cari makan yuk!" ajak Ega.

"Oke Ga. Aku juga lapar nih," ujar Farisa.

mereka pun turun dari bus, menuju rumah makan.

Berbagai menu tersedia di sana, namun Farisa hanya memilih makanan sederhana, tumis kangkung dan telur. Bukan Farisa tidak suka dengan semua menu yang ada, tapi Farisa sadar tak cukup banyak uang untuk membayarnya. Farisa harus mengirit, uang yang di bawanya tak seberapa, sementara dia tak tahu, sampai kapan harus berada di Jakarta.

Sementara Ega jadi bingung harus makan apa, terpaksa Ega memesan menu yang sama dengan Farisa, walau sebenarnya Ega tak suka dengan sayur kangkung, tapi demi gadis itu, Ega rela memakannya.

"Ga,kok menunya sama, jangan jangan kamu nggak enak ya sama aku, kalau lauknya beda." Tanya Farisa heran.

"Emang gak boleh ya, kalau sama. Itu artinya kan, kita sehati," Jawab Ega sambil tersenyum manis, pada Farisa.

Farisa jadi salah tingkah di buatnya, duuh jangan ge'er wahai hati, cowok ngomong kaya gitu kan udah biasa. Kenapa juga aku mesti deg degan begini, apa lagi kalau lihat senyumnya, pikiran Farisa pun jadi tak menentu.

"Sa, kamu kenapa? jangan suka bengong Sa, awas kesambet." Kata Ega, setelah melihat Farisa terlihat bengong.

"Iih siapa yang bengong, tuh makanan udah siap, jangan di liatin aja, mubadzir tau kalau nggak di makan," jawab Farisa ketus.

"Diih gitu aja ngambek, ntar ilang loh cantiknya" ucap Ega mencandai Farisa.

Selesai makan mereka pun kembali menuju ke bus, kali ini mereka saling diam, entah apa yang di pikirkan mereka berdua.

Hingga bus sudah mulai melanjutkan perjalanan, Ega takut untuk berkata kata lagi, Ega merasa Farisa marah karena perkataanya tadi, sementara itu Farisa malah tertidur di samping Ega.

Ega yang menyadari Farisa tengah tidur pulas, dan bersandar di bahunya. Namun Ega tetap membiarkannya, dilihatnya wajah gadis itu, betapa teduhnya saat tertidur. "Farisa gadis yang cantik," gumamnya.

Tak terasa bus yang membawanya telah sampai ke tujuan, hampir semua penumpang sudah mulai turun, namun Farisa masih tertidur pulas.

"Sa, udah sampai, Sa, bangun!" ucap Ega membangunkan Farisa.

"Udah sampai ya Ga, maaf ya aku ketiduran." Ucapnya merasa tak enak karna tak sadar bersandar di bahu Ega.

"Nggak apa apa Sa, santai aja. Oh iya Sa, habis ini, kamu mau kemana?" tanya Ega.

"Aku gak tau Ga, mungkin langsung mencari rumah ayah." jawab Farisa.

"Sa, ini kan udah hampir malam, gimana kalau kamu nginap dulu di rumahku?" tawar Ega.

"Besok aku antar kamu mencari rumah ayahmu, oke!" Lanjutnya.

Farisa jadi bingung, kalau menolak tawaran Ega, lalu dimana dirinya akan tidur? Cari kontrakan nggak mudah, tapi mau terima, takut Ega akan berbuat jahat padanya.

Ega kan baru di kenalnya, siapa tahu dia baik sementara ini, karena ada niat jahat di baliknya.

"Sa, jangan mikir macam macam, aku tak seburuk yang kau pikirkan." ucap Ega seperti tahu pikiran Farisa.

Belum sempat Farisa menjawab, sebuah taxi sudah ada di depannya.

"Ayo Sa, taxinya sudah datang!" ucap Ega sambil menarik lengan Farisa, dan mengajaknya masuk ke dalam taxi.

Farisa hanya menurut, seperti terkena hipnotis teman barunya, namun jauh di lubuk hatinya, Farisa mengakui kalau ega memang seorang teman yang baik.

.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Nafsu
7.9
Kehidupan Ayu sempat terbelenggu oleh nafsu bejat mertuanya sendiri. Kini, ia berjuang meniti masa depan bersama Alfons, cinta sejatinya, di tengah ancaman dendam Maharani yang gelap mata. Meski dikelilingi kekejaman dunia mafia berseragam yang penuh intrik, kesucian cinta mereka tetap tak ternoda. Hubungan ini membawa keduanya melintasi berbagai belahan dunia, bertahan hidup dari kejaran musuh demi menjaga ketulusan perasaan yang mereka miliki.
Sampul Novel Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
9.6
Nobel adalah dunia sihir yang menjadi medan perang antara manusia dan iblis. Saat populasi manusia melonjak, Raja Iblis menyebarkan virus mematikan. Indra, pemuda yatim piatu yang dibesarkan ras Triton, kehilangan desanya akibat monster terinfeksi. Ia berkelana melawan kegelapan bersama Aruna yang penuh rahasia dan Rai, pendekar yang ingin memulihkan kerajaannya. Akankah Indra mengungkap asal-usulnya dan menghentikan teror iblis dalam petualangan epik ini?
Sampul Novel JOSEPH HUNTER (Fight for Trust)
8.7
Malam pertama Joseph Hunter berubah tragis saat istrinya, Camila, jatuh ke laut demi menghindari restu maut sang ayah. Setelah nyaris tewas, Joseph terjebak kontrak gelap untuk memburu kartel The Demon. Di tengah misi, ia bertemu Vanessa, kekasih musuh bebuyutannya yang berwajah identik dengan mendiang istrinya. Rahasia masa lalu yang terkuak kemudian menyeret Joseph ke dalam pusaran dendam mendalam, memaksanya berjuang demi sebuah kepercayaan di dunia mafia.
Sampul Novel Legenda Sage Pengendara Phoenix
9.3
Kiran, pemuda dari Qingchang, tak sengaja bertemu The Flame, Phoenix legendaris milik Sage Putih Alaric yang gugur melawan Kaisar Warlock. Demi bertahan hidup, Phoenix yang sekarat itu melakukan ritual penyatuan jiwa berbahaya dengan Kiran. Ingatan tersebut dikunci hingga Kiran dewasa dan dikenal sebagai jenius ilusi di Institut Magentum. Namun, rahasia besar terungkap saat ia dituduh sebagai pengkhianat dan penerus Klan Phoenix Merah, memicu pengejaran maut oleh Kekaisaran Hersen.
Sampul Novel MAGIC OF OMEGA
8.4
Lima pemburu hadiah dari kawanan serigala mengincar nyawa Azeeva Cassie Liona, putri walikota Paramour. Namun, misi mereka terhambat oleh kecerdikan sasaran mereka sendiri. Azeeva ternyata seorang penyihir hebat yang mampu memanipulasi situasi. Ia berhasil mengelabui Carl Justin, sang Omega di kelompok tersebut, hingga terjebak dalam pesona sang penyihir. Kisah ini mengikuti dinamika berbahaya saat musuh justru jatuh cinta di tengah misi mematikan.
Sampul Novel Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
9.4
Marcel menjalani hidup penuh hinaan sebagai menantu yang dipaksa memakan sisa hidangan keluarga istrinya di lantai. Penindasan kejam dari Shirley dan kerabatnya membuat Marcel putus asa hingga ia nekat menenggak formula rahasia peninggalan orang tuanya. Bukannya tewas, cairan itu justru membangkitkan kekuatan luar biasa dalam dirinya. Kini, sang ahli obat yang dulunya dianggap sampah telah bangkit untuk membalikkan keadaan. Akankah mereka yang merendahkannya bersujud memohon ampun?