
Cinta Terlarang Dengan Tetangga
Bab 3
Hari-hari berlalu, dan Maya merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Perasaan yang semula samar-samar, kini semakin menguasai dirinya. Setiap kali ia bertemu dengan Daniel, baik secara kebetulan ataupun sengaja, hatinya berdebar kencang. Tapi, ia berusaha menekan perasaan itu, meyakinkan dirinya bahwa ia hanya terperangkap dalam kesepian dan kebosanan.
Namun, malam itu, ketika Rafael pulang dari kantor dalam keadaan gelisah dan marah-seperti biasa-Maya merasa seakan semuanya terjepit di dalam hatinya. Ia bisa mendengar langkah kaki Rafael yang berat, pintu yang dibanting, dan suara-suara keras yang mengisi rumah itu. Setiap kali Rafael marah, dunia sekitar Maya seolah hancur.
"Kenapa kamu tidak pernah bisa mengerti, Maya?!" teriak Rafael, wajahnya merah padam. Maya merasa tubuhnya kaku, takut kalau harus berhadapan lagi dengan ledakan kemarahan suaminya. "Aku bekerja keras setiap hari, dan yang kamu lakukan hanya diam di rumah seperti patung! Tidak ada yang kamu lakukan untuk membuat hidup kita lebih baik!"
Maya menunduk, mencoba menahan air matanya. Ia tahu bahwa tidak ada kata-kata yang akan membuat Rafael tenang. Selalu seperti itu. Setiap kali ia mencoba berbicara, Rafael akan memotongnya dengan kekesalannya. Tapi ada satu hal yang kini berbeda. Maya mulai merasa semakin lelah, tidak hanya secara fisik, tetapi juga emosional.
"Rafael, tolong... Jangan lagi seperti ini," jawab Maya pelan, suaranya bergetar. Ia mencoba untuk tidak menunjukkan kelemahan di hadapan suaminya, meskipun hatinya terasa hancur. "Aku tidak bisa terus-menerus hidup dalam ketakutan seperti ini."
Rafael mendekat dengan langkah tegas. "Apa kamu mencoba mengajari aku bagaimana harus bersikap? Kamu pikir kamu lebih tahu?" Ia melangkah lebih dekat lagi, matanya menatap tajam ke arah Maya, membuatnya semakin takut.
"Aku tidak mencoba mengajari siapa pun, Rafael," jawab Maya, meski kata-katanya hampir tak terdengar. "Aku hanya... ingin kamu lebih lembut padaku. Aku butuh sedikit perhatian, bukan kemarahan terus-menerus."
Rafael tertawa sinis, lalu mengangkat tangannya, seolah siap memukul. Maya menutup mata, siap menerima pukulan yang mungkin datang, namun saat itu, suara ketukan di pintu membuatnya terkejut.
"Ya Tuhan, ini dia lagi..." Rafael menyeringai sinis. "Tunggu di sini, jangan ke mana-mana."
Maya berdiri terdiam di tempatnya, sementara Rafael membuka pintu dengan kasar. Dari balik pintu, muncul Daniel. Tatapan mereka bertemu, dan Maya bisa melihat ekspresi Daniel yang agak bingung, namun penuh perhatian. Daniel menatap Maya sejenak, lalu kembali memandang Rafael.
"Selamat malam, Rafael. Maaf jika saya mengganggu. Hanya ingin menanyakan apakah ada yang bisa saya bantu," kata Daniel, suaranya tetap tenang meskipun Maya bisa merasakan ketegangan yang mengalir di udara.
Rafael melirik Daniel dengan tatapan sinis. "Apa urusanmu dengan kami?" jawabnya kasar, seakan tak peduli dengan kehadiran Daniel.
Maya bisa merasakan ketegangan semakin meningkat, dan dengan cepat, ia mendekati Daniel, berharap bisa meredakan situasi. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Daniel. Terima kasih sudah mampir," katanya, mencoba tersenyum meski hatinya terasa sangat berat.
Namun, Daniel tidak bergerak. Ia tetap berdiri di depan pintu dengan sikap tenang, seolah tahu ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. "Maya, kamu baik-baik saja?" tanya Daniel, suaranya lembut, penuh perhatian.
Maya menelan ludah, lalu menatap Daniel sejenak. "Ya, saya baik-baik saja. Terima kasih," jawabnya, meskipun kata-kata itu terasa hambar.
"Jika kamu butuh sesuatu, aku di sini," kata Daniel, tetap dengan suara lembutnya. "Jangan ragu untuk meminta bantuan."
Maya merasa hatinya semakin kacau. Rafael berdiri di samping, menatap Daniel dengan tajam. "Kamu pikir siapa kamu datang ke sini tanpa permisi? Kalau ada urusan, datanglah dengan cara yang lebih sopan!" teriak Rafael dengan suara keras, membuat Maya terkejut.
Daniel tetap diam, tidak terbawa emosi. "Saya hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja," jawabnya dengan tenang. "Tapi jika saya mengganggu, saya akan pergi."
Sebelum Rafael sempat berkata lebih banyak, Daniel berpaling dan meninggalkan rumah dengan langkah tenang. Maya merasa seakan ada yang terlepas dari dirinya, seakan ada sesuatu yang mulai melepaskan dirinya dari belenggu yang selama ini ia rasakan.
Setelah pintu tertutup, Rafael menatap Maya dengan amarah yang semakin membara. "Kenapa kamu harus memanggil dia? Kamu pikir kamu lebih butuh perhatian dari dia daripada dari suamimu sendiri?!" teriak Rafael, tangannya mengepal kuat. Maya bisa merasakan ketegangan yang semakin meningkat, namun ia mencoba untuk tetap tenang.
"Aku hanya... merasa tertekan, Rafael," jawab Maya dengan suara pelan, hampir tidak terdengar. "Aku hanya butuh sedikit ruang untuk bernapas."
Rafael menatapnya dengan marah, lalu berbalik pergi menuju ruangannya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Maya berdiri terdiam di tempatnya, merasa terasingkan di rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya.
Namun, dalam hatinya, ia tahu bahwa sesuatu telah berubah malam itu. Ketika Daniel datang dan menunjukkan perhatian yang tulus, Maya merasa ada harapan, meskipun ia tahu itu adalah jalan yang berbahaya. Namun, satu hal yang pasti: perasaannya terhadap Daniel semakin kuat, semakin sulit untuk diabaikan.
Hari-hari berikutnya semakin sulit bagi Maya. Setiap kali ia bertemu dengan Daniel, perasaan itu semakin kuat. Namun, ia juga tahu bahwa ia harus berhati-hati. Sebuah hubungan yang terlarang tidak akan pernah bisa berakhir dengan bahagia, dan Maya tahu risiko yang harus ia hadapi. Tapi, setiap kali Rafael melukai hatinya, Daniel menjadi pelarian yang semakin sulit untuk dihindari.
Anda Mungkin Juga Suka





