Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Terlarang: "Ayah Angkatku" yang Mencuri Hatiku

Cinta Terlarang: "Ayah Angkatku" yang Mencuri Hatiku

Di pesta ulang tahun Cathleen Kirby, sebuah momen manis terjadi saat ia menggenggam tangan Jerald Dobson, sahabat ayahnya. Namun, tragedi kebakaran hebat seketika memusnahkan keluarga Kirby, menyisakan Cathleen dan kakaknya, Gabriel. Saat kerabat serakah mengincar harta warisan mereka, Jerald muncul sebagai pelindung. Ia mengirim Gabriel ke luar negeri dan membesarkan Cathleen sendirian. Kini, Jerald menjadi satu-satunya pusat dunia bagi Cathleen.
Bab
Bagikan

Bab 2

Cangkir kopi itu terasa panas membara di tangan Cathleen, namun dia tampak kehilangan kesadaran, matanya terpaku pada dua sosok di pintu masuk.

Jerald, mengenakan jas panjang abu-abu gelap, berdiri tegak. Dasinya yang biasanya rapi kini setengah terbuka, seolah-olah dia baru saja mengalami sesuatu.

Di sampingnya ada Evelina Lambert, kepalanya sedikit miring saat mendengarkannya berbicara.

Evelina adalah pemain cello utama orkestra negara bagian, seseorang yang ditemui Cathleen tiga tahun lalu di kompetisi instrumental nasional.

Saat itu, Evelina pernah berkompetisi bersamanya.

Sebagai musisi termuda di acara tersebut, Cathleen berhasil membawa pulang medali emas.

Mata itu, yang pernah dipenuhi rasa cemburu saat menatapnya, muncul lagi.

Evelina mengamatinya dengan mata kritis, menilainya seolah-olah dia hanyalah komoditas belaka.

"Jerald, siapa ini?" Suara Evelina lembut, dengan penuh kasih sayang merangkul lengan Jerald.

Jantung Cathleen menegang menyakitkan.

Dia melihat tatapan Jerald menyapu dirinya sendiri, mata yang dulu menatapnya dengan penuh kasih sayang kini tampak begitu acuh tak acuh.

"Putri dari teman yang sudah meninggal," katanya datar, tanpa menunjukkan emosi apa pun, "tinggal di sini untuk sementara."

Kata-katanya menusuk hati Cathleen dengan rasa sakit yang tajam.

Dia teringat malam sebelumnya saat dia pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, bersandar di kusen pintu, napasnya berbau alkohol, matanya kabur saat menatapnya.

Dia merasakan jiwanya tertarik padanya, melangkah maju untuk mencium sudut bibirnya, mencicipi wiski pedas.

Dia tidak mendorongnya, hanya mendesah pelan, membenamkan kepalanya di leher wanita itu, napasnya hangat.

Jadi, baginya, dia hanyalah "putri dari teman yang sudah meninggal".

Tenggorokan Cathleen sakit, membuatnya tidak bisa berkata-kata.

Namun, dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan orang yang dicintainya.

"Jerald," dia berhasil mengatakannya dengan susah payah, "Aku membuat kopi."

Evelina menimpali, "Ah, maaf merepotkanmu. "Jerald, gadis ini cukup bijaksana."

Sambil berbicara, dia berjalan melewati Cathleen, tatapannya sejenak tertuju pada mata Cathleen yang agak memerah sebelum kembali menatap Jerald. "Apakah kita akan naik ke atas? "Kami baru saja memulai."

Napas Cathleen tercekat.

Dia tidak berani melihat tanda merah di leher Jerald tadi.

Dia hanya membodohi dirinya sendiri.

Sekarang, dengan komentar blak-blakan Evelina, Cathleen merasa seolah-olah semua udara telah tersedot keluar dari paru-parunya.

Jerald mengangguk, tanpa melirik Cathleen, lalu mengikuti Evelina ke atas.

Cathleen berdiri terpaku sampai suara langkah kaki menghilang di puncak tangga. Baru kemudian dia perlahan-lahan berjongkok, air matanya jatuh seperti untaian mutiara, menghantam lantai satu demi satu.

Dari lantai atas terdengar erangan lembut Evelina.

Cathleen tiba-tiba teringat ulang tahunnya yang kedelapan belas ketika Jerald memberinya hadiah berupa selo buatan tangan.

"Cathleen," katanya, "kamu akan menjadi pemain cello terbaik di dunia."

Namun kini, dia punya wanita lain yang bermain cello.

Cathleen tetap diam. Dia hanya punya waktu sebulan lagi sebelum dia harus pergi. Saat itu, semua yang ada di sini, termasuk Jerald dan Evelina di sampingnya, tidak akan ada hubungannya dengan dia.

Tetapi mengapa hatinya begitu sakit?

Pada pukul dua pagi, suara-suara yang datang tiba-tiba dari lantai atas terus menerus mengusik syaraf sensitif Cathleen.

Meringkuk di sudut sofa, terbungkus selimut tebal, dia masih merasa kedinginan.

Setiap napasnya terasa seperti api di paru-parunya, dan semua yang ada di depan matanya berputar.

Dia tidak tahu bagaimana dia bisa bertahan selama berjam-jam itu.

Suara-suara dari lantai atas menusuk telinganya bagai jarum, menyebabkan bagian dalam tubuhnya sakit.

Cathleen berusaha keras untuk berdiri.

Dia bersandar pada dinding, dengan susah payah berjalan naik ke atas.

Dengan setiap langkah yang diambilnya, suara-suara itu semakin jelas, dan jantungnya berdebar-debar kesakitan.

Akhirnya, dia berdiri di pintu kamar tidur Jerald.

Tidak tertutup rapat, menyisakan celah yang membuat suasana intim terasa menyesakkan baginya.

Evelina berbaring di atas Jerald, menciumnya, sementara tangan Jerald mencengkeram bagian belakang kepalanya, menanggapi dengan penuh semangat.

Cathleen menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh tenaganya untuk mengetuk pintu.

Terdengar gumaman ketidakpuasan dari dalam, lalu pintu pun terbuka.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam yang Terpendam: Cinta Sang CEO Terhalang Takdir
7.9
Pasca koma panjang, Zeesya Aleena Lawrence tersadar bahwa kekasihnya hanyalah seorang pengkhianat. Di tengah keterpurukan, ia menemukan cinta baru pada sosok pria misterius yang sangat memujanya. Namun, kebahagiaan itu hancur saat rahasia kelam terungkap. Pria tersebut ternyata dalang di balik tragedi berdarah keluarganya di masa lalu. Kini, Zeesya terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan perasaan atau membalas dendam atas takdir yang tertukar.
Sampul Novel Hamili saya, tuan !
8.3
Chereena Kayona Albern dikenal sebagai putri sempurna yang tumbuh dalam perlindungan ketat ayahnya, Bobby Albern, sejak sang ibu wafat. Meski dibesarkan dengan penuh kasih dan pengawasan berlebih, Chereena tumbuh menjadi gadis pintar yang sangat dicintai. Namun, sebuah keputusan mengejutkan muncul saat ia justru mendekati Chaiden Barnard. Mengapa Chereena nekat meminta pengusaha CEO asal Rusia itu untuk menghamilinya di luar dugaan semua orang?
Sampul Novel IDENTITAS LAIN NYONYA BRUNO
8.0
Nana didera duka mendalam setelah kehilangan janinnya akibat racun dari kakak iparnya, Bernard Benson. Di sisi lain, Bruno masih koma akibat kecelakaan yang direncanakan oleh musuh yang sama. Tanpa keluarga di negeri asing, Nana harus berjuang sendirian merawat suami sekaligus melindungi nyawanya dari ancaman maut yang terus mengintai. Akankah ia sanggup bertahan menghadapi kekejaman Bernard, atau justru terpaksa menyerahkan Bruno kepada saingan cintanya?
Sampul Novel Larisa
9.5
Pasca kecelakaan maut merenggut orang tuanya, Larisa diasuh oleh kerabat lama mereka. Meski tumbuh di lingkungan penuh kasih, ia harus menghadapi sikap dingin dari putra keluarga tersebut yang sering mengabaikannya. Takdir mengejutkan memaksa Larisa terikat dalam pernikahan dengan pria kaku itu. Mampukah Larisa bertahan dan menemukan kebahagiaan dalam rumah tangga yang penuh jarak? Ikuti perjuangan Larisa menghadapi dinamika tak terduga bersama suami barunya.
Sampul Novel Pengkhianatan Berujung Luka
8.6
Merayakan pernikahan ke-30 sendirian, seorang istri mendapati suaminya memesan hotel di tengah alasan dinas. Saat ia menuntut penjelasan, sang putra justru membela ayahnya dan menuduhnya berlebihan. Muak dengan kepalsuan keluarga yang dianggap harmonis oleh orang lain, ia membulatkan tekad untuk bercerai. Namun, kecelakaan mobil sang suami justru memicu kemarahan putranya yang menyalahkan dirinya. Menghadapi kepura-puraan sang suami di ranjang rumah sakit, ia merancang pembalasan yang sesungguhnya.
Sampul Novel Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu
9.4
Alya, anak angkat keluarga Haris, harus menanggung luka saat dikhianati Revan hingga hamil. Diusir dan diminta menggugurkan kandungannya demi reputasi, Alya memilih pergi demi membesarkan putranya, Rayan, sendirian. Bertahun-tahun kemudian, ia sukses bangkit namun takdir membawanya kembali pada Revan yang kini memohon maaf. Meski Revan berusaha menebus dosa masa lalu, luka hati Alya terlalu dalam. Akankah ia memberi kesempatan atau menutup pintu selamanya?