Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta tanpa koma

Cinta tanpa koma

Rudi sangat yakin bahwa Rindu merupakan cinta pertama sekaligus terakhir dalam hidupnya. Namun, takdir berkata lain saat sahabat karibnya, Jaka, justru merebut sosok wanita tersebut. Meski hatinya hancur, Rudi mencoba tegar dan mengikhlaskan keadaan. Walaupun banyak wanita baru yang silih berganti hadir mencoba mengisi hatinya, bayang-bayang masa kecil bersama Rindu tetap tak tergantikan. Akankah kesetiaan Rudi berujung manis? Simak perjuangan cinta Rudi dalam novel ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Enam tahun yang lalu,

"Rindu, bangun!" teriak Ibu Wulan dari arah dapur membangunkan Rindu yang masih tidur di kamarnya.

"Ia Bu," sahut Rindu masih dengan bermalas-malasan terbaring di kasur menggerakkan badanya sambil menguap.

"Kamu itu anak gadis kok bangunnya siang bagaimana nanti kalau sudah jadi istri orang. Apa kata mertuamu nanti melihat kamu yang ogah-ogahan," teriak Ibu Wulan mengomel sambil memotong sayuran untuk dimasak pagi ini.

"Cerewet ah Ibu ini kalau aku nikah nanti ya aku rubah enggak bangun siang lagi" gerutu Rindu dengan rasa yang masih mengantuk mulai turun dari kasur berjalan ke arah kamar mandi. Kebetulan kamar mandi tepat di sebelah dapur tempat Ibu Wulan memasak.

"Apa hari ini kamu tidak kuliah cepat mandi?" kata Ibu Wulan yang melihat Rindu berjalan gontai ke arah kamar mandi.

"Ia ibu," sahut Rindu mengambil handuknya yang berada di sampiran pas di belakang ibunya lalu menuju kamar mandi.

"Kalau mandi jangan lama-lama kayak putri keraton saja. Itu sudah ada Nak Rudi di depan menjemputmu," kata Ibu Wulan.

Dalam hati Rindu terkejut kenapa Rudi menjemputnya pagi-pagi tidak biasanya, "Loh Bu, kenapa Mas Rudi kesini. Dia kan tidak ada kelas hari ini?" kata Rindu.

"Kemarin Bapakmu yang meminta tolong. Kalian kan kuliah di kampus yang sama, apa lagi kemarin kamu digodai anak berandal yang suka nongkrong di depan pertigaan ujung desa jadi bapakmu khawatir. Terus mintak tolong Nak Rudi supaya kamu ada yang jagai," ujar Ibu Wulan.

"Kan jadi merepotkan Mas Rudi Bu," teriak Rindu dari dalam kamar mandi.

Byur, Byur, Byur,

Terdengar suara Rindu tengah mengguyurkan air dari gayung yang terbentuk dari batok kelapa.

"Sudahlah kamu menurut saja sekali-kali kenapa sih, ini semua demi kebaikanmu juga. Nanti kalau kamu diapa-apain para berandal itu bagaimana? kalau ada Nak Rudi kan bapak dan ibu jadi tidak khawatir. Lagian kamu kan jadi tidak menggoes sepeda lagi bareng Nak Rudi dibonceng naik motor," teriak Ibu Wulan yang mulai menumis sayuran yang ia potong.

"Ibu ini jadi merepotkan anak orang kan," kata Rindu keluar kamar kecil dengan masih memakai handuk yang dipakai menutupi badanya dibuat kembeng lalu bergegas menuju kamarnya kembali.

"Punya anak gadis satu cerewet amat. Yang satunya lagi adiknya apa lagi waduh pusing," kata Ibu Wulan menepuk jidat.

Diluar rumah Rudi tengah menunggu Rindu di teras sedang duduk di atas kursi panjang dari kayu sambil menikmati kopi yang dibuatkan Ibu Wulan beberapa saat yang lalu.

Sedangkan Pak Ahmadi tengah menjemur gabah atau padi hasil panen sawahnya yang tak seberapa luas tapi cukup untuk makan sekeluarga.

Nampak Pak Ahmadi sedang mengurai padi di atas terpal di pekarangan depan pas di depan Bagus yang tengah duduk. Terdengar sayup-sayup Pak Ahmadi riang menyanyikan syair Jawa kuno peninggalan para sunan atau wali Songgo dengan wajah nampak semringah, karena pagi yang begitu cerah dan mulai panas.

"Turi putih Turi putih

Ditandur Ning Kebon Agung

Ono Cleret Tibo Nyemplong

Tibo Nyemplong

Mbok Iro Kembange Opo

Mbok Iro Kembange Opo,"

"Lagu apa Pak itu kok saya belum pernah dengar?" kata Rudi memperhatikan Pak Ahmadi mengurai padi di atas terpal.

"Loh Nak Rudi belum pernah dengar syair-syair Jawa kuno toh," kata Pak Ahmadi masih dengan memegang sorok dan masih mengurai-urai padi yang ia jemur.

"Belum Pak, lagu apa itu Pak?" kata Rudi tak mengerti.

"Oalah anak jaman sekarang memang tidak mengenal lagi syair peninggalan para wali Songgo ya," kata Pak Ahmadi.

"Ceritakan Pak tolong beritahu saya syair itu bercerita tentang apa dan siapa penciptanya. Agar saya sebagai anak muda zaman sekarang tidak melupakan para pendahulu," jawab Rudi tersenyum hormat.

"Oh iya, iya sebentar Bapak mau menyeruput kopi dulu," kata Pak Ahmadi ikut duduk di samping Rudi mengambil segelas kopi yang terletak di atas meja depan mereka lalu meneguknya.

"Syair Turi Putih adalah syair Jawa kuno Nak Rudi peninggalan Kanjeng Sunan Giri dan Kanjeng Sunan Ampel. Dimanah syair ini berisi tentang petuah bijak akan kematian," kata Pak Ahmadi.

"Loh kok bisa tentang kematian pak, apa hubungannya bunga turi putih sama kematian?" tanya Rudi nampak penasaran.

"Begini Nak Rudi Turi Putih di sini diartikan Turi berarti tak aturi yang berarti dalam bahasa Indonesia sini aku beri tahu. Putih yang berarti kain putih ya kain kafan untuk orang meninggal," kata Pak Ahmadi menjelaskan.

"Terus-terus pak," kata Rudi semakin berminat menyimak dengan rasa penuh keingintahuan.

"Di tandur ning Kebon agung artinya ditanam di kebun besar ya pemakaman itu Nak Rudi," kata Pak Ahmadi.

"Maksudnya bagaimana Pak?" kata Rudi tak begitu mengerti.

"Maksudnya kuburan atau pemakaman di sini di umpamakan seperti kebun tanamannya ya si mayat itu. Bagaimana tidak dalam ayat Alquran kan sudah di jelaskan saat kiamat nanti di Padang Maksar semua yang mati akan dihidupkan lagi layaknya tumbuhan yang baru bertunas," kata Pak Ahmadi.

"Oh iya, ya Pak," kata Rudi mengangguk tanda setuju.

"Lalu Pak, lalu apa lagi arti selanjutnya?" tanya Rudi semakin antusias mendengarkan petuah dari arti Turi Putih.

"Ono cleret tibo nyemplong yang artinya ada kilat jatuh nyemplong atau dalam bahasa Indonesia begini. Hidup ini sementara seperti datangnya kilat cepat sekali tahu-tahu sudah jatuh di liang kubur begitu Nak Rudi," kata Pak Ahmadi menuturkan pada Rudi.

Sementara Rindu masih di dapur tengah menikmati sarapan sepiring nasi dan telur ceplok kesukaannya.

"Rindu Nak Rudi itu ganteng ya," celetuk Ibu Wulan sambil mengulek sambal di atas cobek atau layah kecil tempat membuat sambal dengan cara tradisional.

"Uhuk... Uhuk...," suara Rindu tersedak mendengar perkataan Ibunya.

"Pelan-pelan sayang jangan buru-buru makanya ini minum dulu," kata Ibu Wulan menyodorkan air putih satu gelas pada Rindu lantas Rindu meminumnya.

"Apa tidak sebaiknya kamu pacari saja itu Nak Rudi," kata Ibu Wulan sambil menyenggol-nyenggol bahu Rindu dan mengedip-ngedipkan mata menggodanya.

"Ibu....," teriak Rindu namun mukanya nampak jadi memerah karena malu.

"Halah, kamu pasti juga demen kan, ia kan?" kata Ibu Wulan masih menggoda anak gadisnya itu.

"Tahu ah Bu," kata Rindu menyelesaikan sarapan pergi ke tempat cucian piring hendak mencuci piring bekas ia gunakan sarapan.

"Mbak Rindu," kata Sekar yang tiba-tiba ada di depan Rindu.

"Eh kamu Dik jangan mengageti Mbak begitu ah Kamu ini sudah kayak hantu saja tiba-tiba ada," kata Rindu menaruh piring di rak Piring yang telah ia cuci.

"Kata Bapak Mbak Rindu di suruh buru-buru sudah ditunggu Mas Rudi," kata Sekar.

"Iya, ia," sahut Rindu bergegas pergi ke depan menemui Rudi.

"Mbak Rindu...!" belum beberapa lama Rindu berjalan Sekar memanggilnya lagi.

"Apa sih Dek...!" jawab Rindu menoleh.

"Kalau Mbak Rindu tidak mau biar Mas Rudi buat Sekar saja ya hehehe," ucap Sekar tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

"Waduh ganjennya Adik Mbak," kata Rindu bergegas kembali pergi ke depan rumah sambil mengambil tas yang ditaruh di atas meja ruang tengah.

"Nah itu Rindunya Nak Rudi," celetuk Pak Ahmadi melihat Rindu keluar dari pintu depan.

"Mas Sudah lama ya, maaf ya Rindu tadi sarapan dulu, Mas Rudi sudah sarapan?" kata Rindu seraya menyalami tangan Rudi.

"Belum lama kok Dik, terima kasih ya Mas sudah sarapan kok," kata Rudi bosa-basi.

"Bohong itu Rindu sudah sejam Nak Rudi di sini kamu kelamaan Ndok (Sebutan anak perempuan oleh orang tuanya)," kata Pak Ahmadi.

"Tidak apa-apa Pak lagian aku juga lagi tidak ada kelas," sahut Rudi.

"Maaf ya Mas jadi merepotkan Mas Rudi," kata Rindu.

"Tidak apa-apa Dik kita kan teman sedari kecil. Apa lagi Pak Ahmadi teman Bapakku juga," kata Rudi.

"Ya sudah ayo berangkat Mas?" kata Rindu berpamitan pada Pak Ahmadi menyalami tangannya lalu mencium punggung tangan Pak Ahmadi di ikuti Rudi melakukan hal yang sama.

"Pak Rindu berangkat kuliah dulu," kata Rindu berpamitan.

"Ia Ndok, Nak Rudi pelan-pelan bawa motornya?" kata Pak Ahmadi pada Rudi yang sudah berada di atas Motor lalu Rindu naik di belakang membonceng duduk menyamping.

"Tidak berpamitan sama Ibu Dik," kata Rudi.

"Bu..., Rindu berangkat," teriak Rindu.

"Ia hati-hati," terdengar Ibu Wulan menyahut dari dalam dengan berteriak.

"Eh Dik jangan begitu dong tidak baik masak teriak-teriak," kata Rudi.

"Hehehe, lain kali tidak eh, Adik sudah hampir telat Mas ayo berangkat," kata Rindu.

Rudi pun mulai menyalakan motornya lalu roda-roda motor Rudi mulai bergerak maju meninggalkan pelataran depan rumah Rindu menyusuri jalanan utama kampung menuju kampus yang berada di tengah kota Jombang.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Dendam & Penyesalan
8.3
Lima tahun menikah, Sofia hanya mendapat pengkhianatan dari Adrian yang memendam dendam pada keluarganya. Saat Sofia berjuang melawan kanker, Adrian justru bersama wanita lain. Setelah ayahnya koma dan rahasia pernikahan terbongkar, Sofia memilih mengakhiri hidup demi melunasi utang masa lalu. Kepergian tragis itu menghancurkan Adrian dalam penyesalan mendalam. Ia bersimpuh memohon maaf, namun segalanya sudah terlambat karena Sofia telah pergi membawa luka yang tak tersembuhkan.
Sampul Novel Ditakdirkan untuk Pria Terkaya di Dunia
8.1
Dikhianati tunangan saat hamil membuat Livia nyaris tewas hingga terpaksa kabur. Lima tahun kemudian, ia kembali dan menyelamatkan seorang bocah yang ternyata putra miliarder terkaya. Pria itu kini melindunginya, menghancurkan para musuh, hingga membungkam saudari jahat Livia dengan pengakuan mengejutkan tentang pernikahan rahasia mereka selama lima tahun. Livia yang bingung kini harus menghadapi rayuan sang suami misterius yang menginginkan anak kedua.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel MEMBALAS HINAAN BAPAK
9.6
Sumi terus menerima hinaan dari sang ayah karena belum bekerja meski sudah disekolahkan tinggi. Dibandingkan dengan adiknya yang hidup terjamin, Sumi merasa terluka hingga doanya terjawab saat bertemu Hiraka Yamada, bos otomotif ternama. Namun, di tengah jalan menuju kesuksesan, Sumi kehilangan Zaki, sahabatnya yang pergi membawa perasaan cinta terpendam. Akankah kejayaan barunya membawa kebahagiaan sejati saat separuh hatinya terasa kosong?
Sampul Novel MENGASUH TUAN MUDA
8.7
Edmund Bryan adalah pria kaya raya dengan pesona memikat yang mampu menaklukkan wanita mana pun. Namun, nasib sial menimpa Emerald saat ia secara tidak sengaja memecahkan guci antik milik Edmund yang sangat mahal. Terjerat utang sebesar $500.000, Emerald terpaksa menjadi pelayan pribadi pria angkuh tersebut. Di balik tekanan pekerjaan dan sikap keras sang tuan muda, Emerald perlahan mulai mengungkap rahasia terdalam yang selama ini disembunyikan oleh Edmund.
Sampul Novel Merebut Hati Mantan Istri Kembali
8.1
Pernikahan bisnis ini awalnya terjalin demi kepentingan dua keluarga besar. Sang pria bebas memilih pasangan, namun hatinya tertambat pada wanita itu sejak awal. Sayangnya, sikap dingin sang istri membuat hubungan mereka kandas dengan cepat. Saat surat cerai ditandatangani, terungkaplah fakta bahwa sang wanita hanya memanfaatkannya demi tujuan pribadi. Namun, perpisahan ini bukanlah sebuah akhir, melainkan awal dari permainan cinta yang jauh lebih rumit.