
Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak
Bab 4
Sudut pandang: Mia
Aku tidak pernah menyangka, sehari sebelum kepergianku, terjadi hal yang tak ingin kualami lagi seumur hidupku.
Sore itu aku merasa lelah dan ingin tidur sejenak, tapi tiba-tiba napasku terasa sesak. Entah siapa yang membuka jendela di samping tempat tidurku. Serbuk sari dari luar berhamburan masuk ke kamar. Aku merasa semakin sulit bernapas.
Tubuhku terjatuh dari ranjang, tetapi naluri bertahan hidup membuatku merangkak menuju laci samping tempat tidur untuk mencari obat alergiku. Namun ketika kubuka, laci itu kosong.
Saat itu aku sudah hampir tidak punya tenaga lagi untuk mencari. Pandanganku menggelap, kakiku tersandung meja, dan vas bunga di atasnya terjatuh menghantam lantai. Sekuntum besar mawar merah terhampar di depan mataku. Untuk sesaat, aku benar-benar merasa akan mati di sana.
Suara keras itu rupanya mengejutkan Leo dan Max yang berada di luar kamar. Mereka bergegas masuk dan mengangkat tubuhku, lalu mencari-cari obat alergi dengan panik.
Sebelum jatuh pingsan sepenuhnya, aku samar-samar melihat Ella membawa masuk sebuah kotak obat yang sangat kukenal. Jarum suntik menembus kulitku dan di detik berikutnya aku kehilangan kesadaran.
Saat kembali membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit. Kamar rawat itu kosong. Dengan susah payah aku bangkit dan hal pertama yang kulakukan adalah mengirim pesan pada Ella.
[ Mulai sekarang, kamu dipecat. Segera berkemas dan pergi. ]
Tak lama setelah kukirim pesan itu, ketiganya masuk ke kamar dengan tergesa-gesa.
Leo mengerutkan kening dan berkata dengan penuh keberatan, "Mia, kenapa kamu harus pecat Ella? Dia nggak bisa ke mana-mana lagi. Kalau kamu mengusirnya, dia hanya bisa pulang dan dipukuli habis-habisan sama ayah tirinya."
"Aku nggak setuju."
Max yang biasanya tenang, menyesuaikan kacamatanya lalu ikut bicara dengan wajah serius, "Sebenarnya, sekarang bukan keputusan yang bijak untuk memecat Ella. Bagaimanapun, dia sudah terbiasa dengan kehidupanmu. Lagi pula, kami bertiga bisa hidup rukun. Itu yang paling penting."
Aku menatap mereka dengan dingin dan berkata tegas, "Nggak usah bicara lagi. Ella adalah orang yang aku pekerjakan dan sekarang aku memecatnya. Itu sangat wajar! Kalian bisa beri aku alasan yang masuk akal untuk nggak memecatnya?"
Aku menggertakkan gigi, lalu menambahkan dengan suara dingin, "Dia hampir saja membunuhku."
Mendengar kata-kataku, Leo langsung meledak. "Mia, bisa nggak kamu jangan menuduh dia sembarangan? Dia selalu bersama kami, semua itu cuma salah paham."
Salah paham? Siapa yang bisa percaya ada kebetulan seperti itu? Jendelaku "kebetulan" terbuka, obat di laci "kebetulan" hilang, dan buket mawar itu "kebetulan" muncul di atas mejaku?
Mendengar pembelaannya, aku berkata dengan nada dingin, "Lalu bagaimana kamu mau menjelaskan mawar-mawar di kamarku?"
Leo terdiam, sementara Max berkata dengan perlahan, "Aku sudah tanya sama Ella. Dia nggak tahu kalau alergimu ternyata separah itu. Cuma setangkai bunga saja sudah bisa membahayakan nyawamu. Dia sudah berjanji padaku, lain kali nggak akan mengulanginya lagi."
Usai bicara, Max mendorong Ella agar berdiri di depanku. Ella menunduk dan berkata dengan pasrah, "Mia, aku benar-benar nggak tahu kalau alergimu terhadap serbuk sari separah itu. Aku janji nggak akan pernah lagi menaruh bunga di kamarmu. Aku cuma ingin membuat ruanganmu terlihat lebih indah."
Aku sama sekali tidak menoleh padanya, apalagi bicara.
Sikap dinginku membuat Leo yang selalu mudah marah kehilangan kesabaran. Dia menunjuk wajahku dan membentak, "Mia, berhentilah bersikap seperti anak manja! Ella sudah minta maaf, kamu mau apa lagi?"
Aku menuding ke arah pintu dengan wajah dingin. "Kalian bertiga keluar dari sini! Jangan ganggu aku istirahat."
Max masih ingin menengahi, tapi Leo sudah lebih dulu menggenggam tangan Ella. "Jangan pedulikan dia, biarkan saja sampai dia tenang. Kita pergi!"
Max akhirnya tak berkata apa pun lagi dan hanya mengikuti mereka keluar.
Begitu mereka bertiga meninggalkan kamar, aku segera mencabut infus dari tanganku dan diam-diam keluar dari rumah sakit. Aku langsung menelepon orang untuk mengirimkan pasporku ke bandara, lalu memesan mobil menuju ke sana.
Akhirnya, aku berhasil mengejar penerbangan itu. Sesaat sebelum naik pesawat, aku mencabut kartu SIM dari ponsel dan melemparkannya ke tempat sampah.
Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan mereka bertiga.
Anda Mungkin Juga Suka





