Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Sendal Jepit

Cinta Sendal Jepit

Hidup Amara hancur setelah ibunya pergi dan ayahnya menikah lagi dengan wanita kejam. Ia pun lebih suka keluyuran hingga suatu hari bertemu Agung saat menghindari kejaran polisi. Sialnya, mereka justru dituduh berbuat asusila oleh warga desa dan dipaksa menikah secara mendadak. Meski awalnya canggung, benih cinta mulai tumbuh di tengah berbagai kemelut yang menguji hubungan mereka. Lewat perjuangan keras, Amara dan Agung akhirnya menemukan kebahagiaan sejati yang tulus.
Bab
Bagikan

Bab 2

Akhirnya dengan satu tarikan napas, resmi sudah lelaki yang baru kukenal kurang lebih satu jam yang lalu ini menjadi suamiku. Aku bisa sedikit bernafas lega, walau sebenarnya ada rasa takut, bagaimana jika pria itu berubah pikiran untuk menolongku. Tetapi segera kutepis jauh-jauh pikiran itu, yang terpenting adalah bagaimana semua ini bisa segera usai dan aku bisa kembali pulang.

Setelah semua prosesi sudah selesai, Agung mengajakku pulang. Begitu juga ibunya, sepanjang perjalanan aku hanya berdiam diri karena kalau aku buka suara mertua dadakan ini pasti mengoceh panjang lebar.

Begitu sampai di rumah, ibu Agung masuk ke dalam kamar dan tidak lama membawa baju yang kemudian dia berikan padaku sambil berkata, “Ganti bajumu itu, biar nggak masuk angin,” ucapnya.

Aku cuma bisa tersenyum kecut, tidak niat menjawab. Sedangkan lelaki di sampingku ini hanya bisa garuk-garuk kepala. Setelah melihat ibunya masuk ke dalam kamar, segera kutarik tangan Agung untuk memastikan dia tidak berubah pikiran, malang nya karena terkejut dengan gerakan spontanku, bibirnya malah menyentuh pipi ini. Di saat itu pula ibu keluar dari kamar. Sambil berkacak pinggang beliau berkata, “Mau mesra-mesraan kok ndak lihat tempat! Mentang-mentang sudah halal.”

Aku dan Agung cuma bisa berpandangan, kemudian menunduk ….

***

Brakk ... Brakk ... Brakk!

Terdengar suara bising yang sangat amat mengganggu tidurku. Samar-samar kudengar suara yang sangat friendly. Ya siapa lagi kalau bukan suara ibu mertua dadakan! Suara khasnya terdengar hingga penjuru rumah. Sepertinya ia memang sudah terbiasa berbicara dengan nada tinggi. Kalau nggak begitu, nggak enak kali ya!

“Agung, sudah jam berapa ini? Mentang-mentang pengantin baru, seenaknya dewe.”

Meski mata terasa berat untuk kubuka, tapi aku berusaha untuk bergegas bangun, jika tidak mungkin akan terjadi perang dunia pertama dalam dunia pernikahan, mertua versus menantu dadakan!

Tak jauh dariku, terlihat Agung yang tengah tidur di lantai bergegas bangkit. Ia memandang ke arahku, sengaja aku berbalik dan menutup kepala dengan bantal. Berharap ia tak mengetahui jika aku sudah bangun lebih dulu daripada dia.

Kriek ....

Suara pintu di buka, kemudian tertutup kembali. Mataku benar-benar masih mengantuk. Entah berapa saat, aku tertidur kembali, hingga ada sentuhan lembut pada pipiku.

“Mbak, bangun Mbak! Kunci motor sampean di mana? Saya sama warga mau narik motornya keluar dari sungai.”

Aku mengucek mata dan tersentak ketika ia berada tepat diatas wajahku. Sontak kudorong dia.

“Kamu, mau cari kesempatan ya?”

Ia menggelengkan kepala, sambil mengibaskan tangan di depan dada. Aku akhirnya bangkit merogoh kantong celana jeansku. Sayangnya kunci itu tidak ada. Aku menatap wajahnya, sepasang mata itu memandang tanpa berkedip.

“Kuncinya nggak ada, motor rusak, kapan aku bisa pulang Gung?” pekikku seraya menangkupkan kedua belah tangan.

“Sudah Mbak, yang sabar. Sampean makan dulu, nanti sakit!”

Dalam perasaan tidak karuan, aku melangkah ke dapur, meraih piring dan membuka panci lalu menyendokkan nasi. Di luar sana para ibu-ibu ramai duduk di bangku panjang tepat berada di bawah pohon jambu. Salah seorang dari mereka bertanya pada Ibu Endang, mertuaku.

“ Loh, kok sudah siang istrinya Agung nggak kelihatan, Bu? Masih tidurkah?”

Sayup-sayup terdengar suara mertuaku menyahut, “Sudah bangun kok, cuma malu dia mau keluar,” ucapnya.

Deg!

Nilai plus untuk mertua dadakan ini ternyata beliau tidak segarang yang aku kira, dan pada saat aku menyuap sesendok nasi ke mulut, beliau masuk lewat pintu belakang tanpa sengaja mata kami bersirobok. Lidahku kelu, tetapi beliau acuh saja. Berbeda dengan semalam nampak cerewet. Marahkah, dia?

***

Beberapa hari sudah berlalu, namun keadaan motorku belum juga baik. Masih di bengkel kota kata Agung. Karena terendam air, jadi terpaksa harus di bongkar untuk turun mesin.

Fyuh, tambah lama jadinya nih di tempat ini. Rasanya aku sudah kangen ingin pulang. Berkali-kali kucubit lenganku berharap ini hanyalah mimpi saja, namun terasa sakit … sial, ini nyata, bukan mimpi!

Sore itu aku duduk di bawah pohon jambu tempat para ibu-ibu biasa duduk. Salah seorang tetangga datang menghampiriku, “Lagi nyantai, Mbak?”

Aku tersenyum sambil mengangguk. Tak lama beliau memperkenalkan diri, katanya namanya Bu Harso, rumahnya tepat di sebelah rumah Agung. Setelah lama bercerita, datang seorang tetangga lain namanya Mbak Rina. Mereka semua ramah hingga mertuaku datang bergabung. Beliau melirik ke arahku kemudian sejurus bercengkrama dengan para tetangga.

“Enak ya Bu Endang punya mantu orang kota, jadi bisa jalan-jalan keluar.” ujar Bu Harso, seraya menoleh ke arahku.

Uhuk!

Aku terbatuk! Dengan sigap ibu menepuk-nepuk punggungku. Aku segera menoleh pada beliau, ia mengarahkan dagunya ke arah rumah, seolah menyuruhku untuk segera meninggalkan tempat ini dan segera masuk ke dalam rumah.

“Mbak, besok motornya sudah bisa diambil.” ujar Agung malam itu saat kami tengah duduk makan.

“Terima kasih, kalian sudah mau membantu aku.”

“Sama-sama, Mbak!” sahutnya tanpa menoleh ke arahku.

Aku melangkah memasuki kamar yang beberapa hari ini kutempati. Bola mataku berputar mengitari seluruh isi kamar. Lalu terhenti tepat diatas lemari tergeletak sebuah sandal jepit berwarna kuning. Aku bangkit dan meraihnya.

Sejenak kupeluk erat sendal tersebut, teringat saat puluhan pasang mata memandang tak berkedip, ketika ijab qobul terucap dengan mahar sepasang sendal jepit. Agung Permadi nama lengkapnya. Pria berlesung pipi yang kemudian sah menjadi suami kilatku. Sebenarnya ia salah satu ciri pria idaman versiku. Hanya saja pertemuan tanpa sengaja yang menyeret kami dalam sebuah pernikahan dadakan, membuat hati ini seolah-olah melawan takdir.

Usianya pun sepantaran denganku, dua puluh lima tahun. Yang membuat aku terkesan padanya, dia tidak pernah memanfaatkan situasi segenting apa pun. Bahkan ketika malam pertama aku di rumah ini, dia justru memilih tidur di lantai hanya beralaskan kain sarung. Padahal … kalau dia mau, dia bisa saja memanfaatkan situasi.

Tok-tok-tok!

“Siapa?” Tanyaku penasaran.

“Saya, Mbak! Boleh saya masuk?”

Aku membuka sedikit pintu, Agung pun masuk. Pintu kami biarkan sedikit terbuka. Agar Ibu tahu kami di dalam tidak berbuat macam-macam. Karena semenjak Agung menjelaskan dan menceritakan asal usulku, ibunya tidak mengizinkan Agung tidur sekamar denganku lagi. Sejak hari itu pula mertuaku tidak pernah marah lagi, beliau lebih banyak diam.

“Mbak, besok saya saja yang ngantar ke kota, biar warga kampung tidak banyak bertanya,” ucapnya seraya menyerahkan beberapa bungkusan.

“Plis deh Agung panggil Amara aja, jangan Mbak! Tua banget ya, aku?”

Melihatnya garuk-garuk kepala, aku menarik selimut dan berbaring. Ia melangkah keluar sebelum aku benar-benar terlelap sempat terdengar suaranya berbicara dengan seseorang. Tetapi tak lama kemudian aku sudah benar-benar tertidur.

***

Pagi ini langit nampak begitu cerah ketika aku hendak berpamitan, sepeda motorku yang sudah seminggu lebih dirawat di bengkel akhirnya bisa pulih seperti sedia kala. Aku menggamit tangan ibu, hendak menciumnya tetapi buru-buru ia tarik kembali.

“Maafkan Amara beberapa hari ini sudah merepotkan ibu dan juga Agung! Amara, pamit ya, Bu.” Kutarik tangannya yang tengah bertekuk di depan dada.

Beliau masih diam, hingga saat aku melangkah hendak menaiki motor lirih beliau berkata,

“Sering-sering main ke sini ya! Tengokin ibu.”

Sesak rasanya dada ini mendengar, kulihat air matanya menggenang. Aku berlari memeluk wanita paruh baya tersebut. Aku berjanji saat libur kerja datang menemuinya.

“Owalah, kok malah nangis-nangisan toh! Keburu panas ini.” Agung bersungut-sungut seraya memakai helm.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Andai Cinta Datang Lebih Awal
8.4
Setelah didorong ke timbunan longsor oleh Julia, Siena ditinggalkan begitu saja oleh kekasihnya, Billy, yang memilih menyelamatkan sepupunya itu. Terkubur selama tujuh hari, Siena justru disalahkan dan diancam penundaan pernikahan setelah diselamatkan. Namun, Billy tidak tahu bahwa Siena telah membuat kesepakatan dengan Dewa Bulan. Dalam enam hari, ia akan menukarkan seluruh ingatan dan cintanya pada Billy demi memulai hidup baru. Siena yang dulu sangat mencintainya kini telah tiada.
Sampul Novel Di Ujung Lelah
9.3
Lima tahun membina rumah tangga justru membawa Mirna ke titik nadir. Farid, sang suami, tak kunjung berubah dan malah terus memberikan tekanan mental yang memicu rasa takut serta kesedihan mendalam. Tiada hari tanpa pertengkaran hebat dan adu mulut yang menguras emosi. Di tengah keputusasaan ini, Mirna merasa telah mencapai batas kemampuannya. Ia pun mulai membulatkan tekad untuk mengakhiri hubungan beracun tersebut demi melepaskan diri dari penderitaan.
Sampul Novel Neng Zulfa
8.5
Zulfa Zahra El-Faza, putri kiai yang dingin terhadap asmara, selalu menolak setiap lamaran yang datang. Namun, keteguhannya runtuh saat mengenal Fatih Thoriqul Firdaus. Meski akhirnya menikah, Zulfa justru terjebak dalam kepedihan. Fatih menyimpan banyak rahasia kelam yang memicu luka mendalam. Di tengah bayang-bayang orang ketiga, sanggupkah kejujuran menyelamatkan cinta mereka? Sebuah kisah tentang pengkhianatan dan pencarian kepercayaan dalam rumah tangga.
Sampul Novel Pembalasan Dendam yang Munafik
9.3
Menjadi putri orang terkaya di Kota Silo adalah impian semua orang, tetapi bagi gadis yang tidak bisa merasakan sakit ini, itu adalah awal dari neraka baru. Setelah diselamatkan dari penyiksaan kejam sang istri miliarder demi publisitas, ia menyadari bahwa status barunya menuntut bayaran yang fatal. Keluarga munafik itu menginginkan kematiannya sebagai bentuk balas budi. Dalam novel Pembalasan Dendam yang Munafik, ia memilih untuk tidak menyerah dan bersiap membalikkan takdir demi menghabisi mereka.
Sampul Novel perceraian
8.2
Dunia seakan berhenti berputar dan segalanya terasa runtuh seketika saat kenyataan pahit itu datang menghantam. Perasaan hancur ini bukan sekadar karena perpisahan dengan Nadia, melainkan beban dari pengkhianatan yang selama ini tersembunyi. Meski kabar mengenai perselingkuhannya sudah sering terdengar, momen kehancuran rumah tangga ini tetap mengguncang pijakan hidupku. Inilah akhir tragis dari sebuah kesetiaan yang dikhianati secara berulang.
Sampul Novel Rahasia Pria Tanpa Nama
8.5
Amanda menolak keras perjodohan dengan pria seumuran ayahnya. Di tengah pelariannya ke pantai untuk mencari ketenangan, ia justru menemukan seorang pria misterius yang terapung dalam kondisi penuh luka. Saat Amanda mencoba menolong, pria tak dikenal itu mendadak sadar dan membisikkan sesuatu yang krusial ke telinganya. Akankah Amanda memilih menyelamatkan sosok asing ini di tengah kemelut hidupnya? Ikuti kisah penuh aksi dan romansa yang mendebarkan ini.