
CINTA SEJATI SANG PESULAP
Bab 3
Mobil jenis hummer dengan kap terbuka terlihat bergerak dari jalan raya mendekati mereka dan akhirnya berhenti.
“Jaime, kamu menusuk orang lagi?” panggil seorang dari atas mobil itu dan beberapa orang di atasnya terlihat memegang senjata api.
“Mereka mencoba meminjam uang dariku,” kata Jaime santai dan menaiki sepedanya.
“Dasar orang baru,” tawa pria itu sambil meludah ke jalan dan membentak kedua orang itu, “Apa yang kalian tunggu? Mulailah berjalan untuk nyawa kalian. Kami akan mengurusi mayat kalian.”
Kedua pria itu dengan wajah pucat mulai bergerak tertatih-tatih. Dapat terlihat darah merah sudah membasahi tangan mereka yang mencoba menutupi luka tersebut. Darah itu mulai menetes pada aspal jalanan.
“Gio, aku berangkat dulu,” kata Jaime yang bergerak meninggalkan tempat itu dengan bersepeda. Ia dapat melihat beberapa orang di atas mobil Gio mulai bertaruh apakah kedua pria itu dapat sampai pada rumah sakit atau tidak. Jaime yakin mereka akan melihat kedua pria itu berjuang atas nyawa mereka dengan senang hati.
Tempat ini bernama Vista, yang diambil dari nama seorang pebisnis yang pertama kali membangun pabrik di tempat ini. Di tempat ini, kelembutan dan kelemahan bukanlah sesuatu untuk ditunjukkan. Semua orang yang tinggal di tempat ini sudah terlahir dengan sebuah taring. Mereka sudah tahu bagaimana harus menghadapi para buronan dan preman kelas teri yang memasuki wilayah mereka. Seorang preman yang ditakuti di kota sebagai serigala hanya akan menemukan sarang naga saat memasuki di tempat ini.
Jaime lahir di sebuah kota kecil yang jauh dari Vista. Pada umurnya yang ke 3, ayahnya memutuskan untuk mencoba membuka pabrik tekstil sendiri. Ayahnya adalah seorang general manajer sebuah perusahaan tekstil yang sudah bekerja selama dua puluhan tahun dan menyukseskan perusahan itu.
Mencoba membangun mimpinya, pria tua itu menjual seluruh harta benda dan rumah mereka di kota untuk membeli sebuah tanah dan membangun pabrik di Vista. Mereka sekeluarga tinggal di lantai dua pabrik tersebut. Pada awalnya, keluarga dari ayah dan ibunya memberikan pinjaman pada ayahnya untuk membeli peralatan-peralatan pabrik yang dibutuhkan. Pabrik itu berjalan lancar selama tujuh tahun dan menghasilkan keuntungan.
Seluruh keluarga besar ayah dan ibunya mulai memuji-muji dan mengelu-elukan ayahnya. Karena pria tua itu memberikan keuntungan yang berlipat-lipat pada mereka. Namun saat terjadi krisis, beberapa perusahaan terpaksa tutup tanpa membayar hutang-hutang mereka pada ayahnya yang segera membuat pabrik ayahnya menjadi kekurangan modal. Pada saat itu beberapa buruh mulai melakukan pemogokan serta meminta gaji yang tinggi, beberapa perusahaan yang menjadi rekanan ayahnya mulai memindahkan perusahaan mereka ke negara-negara dengan sumber daya manusia yang jauh lebih murah.
Dalam sekejap ayahnya menghadapi krisis. Bukan hanya masalah modal, membayar gaji yang tinggi dan menghadapi ongkos pengiriman yang semakin besar berhubungan dengan pabrik rekanan yang sudah pindah keluar negeri, hasil produksinya juga mengalami penurunan dalam penjualan. Tanpa kenal lelah, ayahnya terus berusaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup pabrik.
Sedangkan keadaan keluarganya semakin memburuk. Keluarga ayah dan ibunya mulai meminta kembali uang hasil investasi mereka yang membuat ayahnya terpaksa meminjam uang pada perbankan. Terjadinya krisis moneter dan nilai tukar yang tidak stabil pada pasaran dunia membuat ayahnya beberapa kali mengalami kerugian besar.
Beberapa rekanan bisnis di daerah sekitar Vista yang mencoba bertahan, mulai berjatuhan. Sebagian dari mereka masih memiliki utang pada ayahnya dan tidak mampu membayar sehingga ikut memperburuk keadaan pabrik ayahnya.
Saat itu Jaime dapat melihat raut wajah ayahnya semakin lama semakin buruk. Tidak lagi pernah terlihat senyuman. Jaime pernah sekali mencoba membantu ayahnya, akan tetapi ayahnya segera mengusirnya dan marah-marah meminta agar tidak diganggu. Ayahnya juga menjadi pemarah dan hampir setiap hari bertengkar dengan ibunya. Perlahan namun pasti, ayahnya menemukan peralatan pabriknya mulai dijual satu persatu, buruh yang bekerja semakin sedikit dan seluruh hartanya mulai terjual untuk melunasi hutang bank.
Ibunya yang terpengaruh oleh bujukan dari keluarganya, memilih untuk bercerai dan menikah kembali dengan seorang rekanan perusahaan ayahnya dan pindah keluar negeri. Ibunya hanya menitipkan sebuah pesan, “Jagalah ayahmu baik-baik,” dan pergi begitu saja.
Sejak saat itu ayahnya mulai semakin menenggelamkan diri pada pekerjaannya. Pada suatu hari, Jaime mendengar ayahnya berteriak-teriak melalui telepon setelah mendapati beberapa perusahaan berhenti bekerja sama dengannya dan para penagih hutang terus mengejarnya. Penyakit jantung ayahnya kumat dan terpaksa masuk ke rumah sakit. Namun, setelah menginap tiga hari di rumah sakit, ia melarikan diri untuk kembali bekerja di pabriknya.
Pada malam harinya, ayahnya terjatuh di dalam kantornya dan tidak pernah bangun lagi.
Pada hari pemakaman, pengacara ayahnya, seorang pria berkaca mata bulat dan berwajah sinis, datang dan menyerahkan sebuah tas kerja ayahnya. “Ayahmu adalah seorang pekerja keras, tidak ada yang meragukannya. Cita-citanya adalah mengumpulkan uang hingga ia dapat hidup tenang hanya dengan mengandalkan bunga uangnya.” Pria itu mendorong kaca mata bulatnya. “Akan tetapi kelihatannya cita-citanya tidak pernah terwujud.”
Jaime hanya diam.
“Terimalah harta terakhir ayahmu.”
“Warisan utangkah?” tanya Jaime marah karena tahu ayahnya tidak mungkin memiliki apa pun lagi untuk ditinggalkan.
Pengacara itu menggelengkan kepalanya, “Pada akhir-akhir ini, ia berkerja keras untuk membayar semua utang-utangnya dan yang tersisa adalah surat tanah bangunan ini yang bebas dari semua hutangnya.”
Jaime menarik nafasnya dalam-dalam. Ia tidak tahu harus merasakan apa. Ia tidak pernah dekat dengan ayahnya karena pria tua itu selalu berada di kantornya. Ibunya juga sudah lama pergi. Akhir-akhir ini juga dia lebih sering berada di tempat Jack membantu restoran cepat saji itu. Pengacara itu duduk di sampingnya.
“Ayahmu selalu berkata, ‘seorang ayah harus bisa menyediakan sebuah tempat bagi anaknya untuk pulang dalam keadaan apa pun juga.’ Sampai matinya pun, ia tidak akan membiarkanmu tanpa sebuah tempat untuk berteduh.”
Sejak itu, Jaime hidup sendiri dan menolak untuk tinggal bersama keluarganya.
Anda Mungkin Juga Suka





