
Cinta Segitiga Yang Rumit
Bab 2
Kembalinya Sasha Amanda bukan sekadar gosip kantor yang lewat begitu saja. Itu adalah gempa bumi kecil yang mengguncang fondasi rapuh pernikahan Alana dan Raihan. Alana melihat perubahannya pada Raihan, perlahan tapi pasti. Awalnya hanya sering melamun, kini lebih sering absen tanpa pemberitahuan jelas. Senyum tipis yang dulu hanya untuknya, kini lenyap, digantikan raut wajah tegang yang sesekali dihiasi senyum penuh rahasia pada ponselnya. Raihan yang dulu terburu-buru pulang, kini seringkali baru kembali larut malam, dengan alasan rapat dadakan atau pekerjaan mendesak yang terdengar dibuat-buat.
Alana tidak bodoh. Ia tahu apa artinya semua itu. Sasha telah kembali, dan Raihan sedang mengejar apa yang disebutnya "cinta pertama" itu, meskipun ia sudah berstatus suami orang. Ironisnya, Alana adalah istri yang dinikahi justru untuk tujuan yang sama: membuat Sasha cemburu. Kini, alat itu seolah tak dibutuhkan lagi, karena objek cemburu itu telah kembali ke garis start.
Suatu pagi, Raihan pulang lebih pagi dari biasanya setelah semalam suntuk tak kembali. Wajahnya terlihat lelah, namun ada kilatan kebahagiaan yang samar di matanya. Ia langsung masuk ke kamar mandi, dan Alana, yang sudah terbangun dari tidurnya yang gelisah, mendengar Raihan bersenandung pelan. Itu adalah hal yang sangat jarang terjadi. Suara Raihan yang bersenandung, seperti Raihan yang dikenalnya sebelum pernikahan, Raihan yang ceria dan penuh semangat. Perih menyelimuti hati Alana. Senandung itu bukan untuknya, bukan karena kebahagiaan bersamanya, melainkan karena wanita lain.
Alana memilih tetap di tempat tidur, memejamkan mata, berpura-pura tidur. Ia tidak ingin Raihan melihat matanya yang sembab, atau membaca kekecewaan di wajahnya. Ia tidak ingin menghadapi Raihan, apalagi menuntut penjelasan. Buat apa? Sejak awal, ia sudah tahu posisinya. Ia hanyalah pelampiasan, dan kini pelampiasan itu sudah kehilangan fungsinya.
Beberapa hari kemudian, Alana tak sengaja melihat Raihan di area parkir kantor. Ia sedang berbicara dengan seorang wanita. Wanita itu memiliki rambut hitam panjang yang indah, figur ramping, dan senyum menawan yang membuat matana berbinar. Wajahnya tampak familier, seolah Alana pernah melihatnya di majalah atau media sosial. Raihan terlihat sangat bahagia. Ia tertawa lepas, menyentuh lengan wanita itu dengan gestur akrab, dan pandangan matanya begitu lembut, penuh puja. Alana tahu, ia melihat Sasha Amanda. Tidak ada keraguan sedikit pun. Itulah tatapan yang tidak pernah Raihan berikan padanya. Tatapan yang ia dambakan, namun tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Sakit itu kembali menghantam Alana dengan kekuatan penuh, seolah baru pertama kali ia merasakannya. Dada Alana terasa sesak, napasnya tercekat. Ia buru-buru membalikkan badan, bersembunyi di balik pilar, tidak ingin mereka melihatnya. Alana merasa seperti penguntit, seperti orang asing yang tak sengaja mengintip kebahagiaan yang bukan miliknya. Padahal, ia adalah istri Raihan. Ironi yang menyayat hati.
Alana kembali ke mejanya, mencoba fokus pada pekerjaannya, tetapi bayangan Raihan dan Sasha yang tertawa bersama terus berputar di kepalanya. Ia merasa bodoh karena masih berharap, karena masih merasa sakit. Bukankah ia sudah tahu semua ini akan terjadi? Bukankah Raihan sudah jujur sejak malam pernikahan mereka?
"Alana, kau baik-baik saja?"
Suara itu mengejutkan Alana. Ia mendongak, dan mendapati Daniel Sanjaya berdiri di samping mejanya, dengan ekspresi prihatin. Daniel adalah CEO dari perusahaan rekanan, ia sering berada di kantor mereka untuk urusan bisnis. Hari ini, ia datang lebih awal dari biasanya. Alana buru-buru mengusap matanya, berharap Daniel tidak melihat jejak air mata di sana.
"Oh, Pak Daniel. Ya, saya baik-baik saja," jawab Alana, mencoba tersenyum sealami mungkin. Namun, ia tahu senyumannya pasti terlihat rapuh.
Daniel tidak langsung percaya. Matanya yang tajam menelusuri wajah Alana. "Wajahmu pucat. Apakah ada masalah? Kau bisa bercerita padaku jika itu membantumu."
Kehangatan dalam suara Daniel, ketulusan dalam tatapannya, membuat hati Alana sedikit luluh. Ia merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang menyembunyikan kesedihan. Namun, ia tidak bisa bercerita. Bagaimana ia bisa menceritakan bahwa suaminya, Raihan Wijaya, pria yang begitu dihormati dan dikagumi, sedang terang-terangan mengejar mantan kekasihnya, sementara ia, istrinya yang sah, hanya menjadi pajangan?
"Tidak ada apa-apa, Pak Daniel. Terima kasih atas perhatiannya," Alana mencoba menutup pembicaraan.
Daniel menghela napas pendek. Ia tahu Alana menyembunyikan sesuatu. Ia telah mengamati Alana sejak lama, mengagumi profesionalismenya, ketenangannya, dan kebaikan hatinya. Ia juga menyadari perubahan pada Alana sejak pernikahannya dengan Raihan. Senyumnya semakin jarang, sorot matanya seringkali murung, dan ada semacam beban yang terpancar dari seluruh tubuh Alana. Daniel, sebagai seorang CEO yang terbiasa membaca situasi dan orang, merasakan ada sesuatu yang sangat tidak beres dalam rumah tangga Alana.
"Baiklah, jika kau tidak ingin bercerita sekarang, tidak apa-apa," kata Daniel lembut, suaranya meyakinkan. "Tapi ingat, kau tidak sendirian. Jangan ragu untuk mencari bantuan atau sekadar teman bicara."
Ia lalu pergi, meninggalkan Alana dengan perasaan campur aduk. Kata-kata Daniel, "kau tidak sendirian," terus terngiang di telinganya. Di tengah kesendirian yang pahit dalam pernikahannya, ucapan itu terasa seperti oase di gurun. Alana merasa sedikit lega, meskipun rasa sakit itu masih ada.
Sepanjang hari itu, Alana mencoba menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia menyusun laporan, menjawab telepon, dan mengatur jadwal, mencoba mengalihkan pikirannya dari Raihan dan Sasha. Namun, setiap kali ada notifikasi masuk di ponsel Raihan yang tergeletak di meja kantornya, Alana tidak bisa tidak melirik. Setiap kali Raihan tersenyum sendiri melihat layar ponselnya, Alana merasakan sengatan cemburu yang menyakitkan.
Pulang kerja, suasana di rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Raihan sudah pulang, duduk di sofa ruang keluarga, sibuk dengan ponselnya. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan Alana.
"Sudah pulang?" tanya Alana, mencoba memecah kesunyian.
Raihan mendongak sebentar. "Hm," gumamnya, kembali fokus pada ponselnya.
Alana berjalan ke dapur, meletakkan tasnya, dan mulai menyiapkan makan malam. Ia memasak makanan kesukaan Raihan, meskipun ia tahu Raihan mungkin tidak akan menghargainya. Ini adalah rutinitas yang ia jalani setiap hari, meskipun ia merasa seperti pelayan di rumahnya sendiri.
Saat mereka makan malam, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Alana mencoba memulai percakapan, mencoba mengisi kekosongan yang menyesakkan.
"Bagaimana harimu di kantor?" tanya Alana.
"Seperti biasa," jawab Raihan singkat, matanya sesekali melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di meja.
"Ada... ada proyek baru?" Alana mencoba lagi.
"Ada. Sudah selesai. Kau tidak perlu khawatir," Raihan menjawab, sedikit ketus.
Alana menghela napas dalam hati. Percuma saja. Setiap kali ia mencoba mendekat, Raihan selalu membangun dinding di antara mereka. Ia merasa lelah. Lelah dengan semua kepura-puraan ini, lelah dengan rasa sakit yang terus-menerus.
Setelah makan malam, Raihan langsung pergi ke kamarnya. Bukan kamar utama yang mereka bagi. Sejak sebulan lalu, ia mulai sering tidur di kamar tamu, dengan alasan butuh ruang privasi untuk bekerja. Alana tahu itu bohong. Ia tahu Raihan menjauhinya. Dan ia membiarkannya. Mungkin, itu lebih baik daripada tidur bersebelahan namun terasa ribuan mil terpisah.
Alana membersihkan meja makan, mencuci piring, dan merapikan dapur. Ia melakukan semuanya dengan gerakan otomatis, pikirannya melayang jauh. Ia bertanya-tanya, apakah Raihan bahagia sekarang? Apakah ia mendapatkan apa yang ia inginkan dengan kembalinya Sasha? Dan jika ya, lalu bagaimana dengannya? Apa yang akan terjadi pada dirinya?
Beberapa hari berikutnya, Alana terus mendengar bisikan tentang Raihan dan Sasha. Mereka terlihat makan siang bersama, terlihat pulang bersama, bahkan ada yang mengatakan melihat mereka di sebuah kafe sepulang kerja, tampak akrab dan mesra. Hati Alana terasa seperti diremas setiap kali mendengar kabar itu. Ia tahu ia harus melakukan sesuatu, tetapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Ia tidak punya keberanian untuk menghadapi Raihan, apalagi Sasha. Ia merasa terlalu kecil, terlalu tidak berdaya.
Di tengah semua kekacauan emosional ini, perhatian Daniel Sanjaya semakin terasa. Ia tidak agresif, tidak memaksa, tetapi kehadirannya selalu tepat waktu, seperti seberkas cahaya di kegelapan. Ia sering mencari alasan untuk berbicara dengan Alana, menanyakan pendapatnya tentang berbagai hal, bahkan hal-hal di luar lingkup pekerjaannya. Kadang ia menawarkan bantuan jika Alana terlihat kesulitan, atau sekadar berbagi cerita lucu untuk mencairkan suasana.
Suatu siang, saat Alana sedang makan siang sendirian di kantin, Daniel tiba-tiba duduk di depannya.
"Apakah saya boleh bergabung?" tanyanya dengan senyum ramah.
Alana sedikit terkejut, namun mengangguk. "Tentu, Pak Daniel."
"Panggil saja Daniel," ucapnya lembut. "Kita kan sering berinteraksi. Terlalu formal jika terus-terusan Pak Daniel."
Alana tersenyum canggung. "Baiklah, Daniel."
Mereka makan siang dalam keheningan yang nyaman. Daniel tidak memaksakan percakapan, ia hanya sesekali melirik Alana, seolah ingin memastikan Alana baik-baik saja.
"Anda terlihat... lebih santai hari ini," Daniel akhirnya memecah keheningan.
Alana tertawa kecil. "Mungkin karena makan siangnya enak," katanya, mencoba bercanda.
Daniel ikut tertawa. "Memang enak. Tapi saya rasa ada yang lain." Ia menatap Alana lekat-lekat. "Alana, saya tahu ini bukan urusan saya, tapi... apakah Anda benar-benar bahagia?"
Pertanyaan itu membuat Alana tersentak. Ia menundukkan kepala, memainkan garpunya di piring. Pertanyaan itu terlalu langsung, terlalu menusuk. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana ia bisa mengatakan pada orang lain, apalagi seorang CEO tampan seperti Daniel, bahwa pernikahannya adalah neraka?
"Saya... saya baik-baik saja," jawab Alana, suaranya nyaris tak terdengar.
Daniel menghela napas. "Baik-baik saja bukanlah jawaban yang memuaskan jika mata Anda menceritakan hal yang berbeda." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam hidup Anda, dan Anda tidak perlu menceritakannya jika tidak mau. Tapi saya hanya ingin Anda tahu, bahwa ada orang yang peduli. Ada orang yang melihat Anda, Alana. Bukan hanya sebagai staf administrasi, atau sebagai... sebagai istri seseorang."
Kata-kata Daniel terasa seperti balsem untuk luka Alana. Di tengah rasa tak terlihat dan tak berharga yang selama ini ia rasakan dari Raihan, Daniel justru melihatnya, mengakui keberadaannya, bahkan peduli padanya. Air mata Alana mulai menggenang di pelupuk mata. Ia buru-buru mengedipkan mata, berusaha menahannya.
"Terima kasih, Daniel," Alana berbisik, suaranya sedikit bergetar.
Daniel tersenyum hangat. "Sama-sama. Sekarang, habiskan makananmu. Setelah itu, kita bisa kembali bekerja dengan semangat baru."
Alana mengangguk, dan entah mengapa, makanan di depannya terasa sedikit lebih enak. Kehadiran Daniel, perhatiannya yang tulus, meskipun hanya sebatas itu, memberinya sedikit kekuatan. Ia mulai menyadari bahwa ada orang lain di dunia ini yang melihat dirinya, bukan hanya Raihan dan drama cintanya.
Namun, di sisi lain, kepulangan Sasha semakin mengukuhkan Alana pada kenyataan pahit pernikahannya. Tidak ada lagi pura-pura, tidak ada lagi harapan. Raihan tidak pernah pulang ke kamar utama lagi. Malam-malam Alana dipenuhi kesendirian dan pikiran yang kalut. Ia mendengar suara Raihan terkadang berbicara di telepon di kamar tamu, suaranya yang lembut dan penuh tawa, suara yang tak pernah ia dengar lagi saat berbicara dengannya. Alana tahu ia sedang berbicara dengan Sasha.
Puncak dari semua itu terjadi suatu malam. Raihan pulang larut malam, jauh lebih larut dari biasanya. Alana masih terjaga, duduk di ruang tamu, membaca buku, mencoba mengalihkan perhatian. Ketika Raihan masuk, Alana mencium aroma parfum wanita yang samar namun jelas menempel di tubuh Raihan. Aroma yang bukan miliknya.
Hati Alana berdenyut nyeri. Ia menatap Raihan, yang terlihat sedikit terkejut melihatnya masih terjaga.
"Belum tidur?" tanya Raihan, suaranya terdengar canggung.
Alana menutup bukunya. "Ada bau parfum wanita di bajumu, Raihan."
Raihan membeku. Ekspresinya berubah menjadi tegang, lalu defensif. "Apa maksudmu? Aku baru saja dari pertemuan klien."
"Klien yang memakai parfum ini?" Alana bertanya, suaranya tenang namun menusuk. "Atau klien yang membuatmu baru pulang jam dua pagi?"
Raihan menghela napas, mengusap wajahnya dengan kasar. "Alana, jangan mulai. Aku lelah."
"Aku juga lelah, Raihan," sahut Alana, suaranya sedikit meninggi. "Lelah dengan semua kebohongan ini. Lelah dengan semua sandiwara ini. Sampai kapan kau akan terus seperti ini?"
"Seperti apa?" Raihan menantang, matanya berkilat marah. "Memangnya kenapa kalau aku bersama Sasha? Kau sendiri tahu bagaimana situasinya!"
"Ya, aku tahu situasinya!" Alana balas membentak, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku tahu aku hanya pelampiasan! Tapi bisakah kau setidaknya menghormati pernikahan ini, Raihan? Menghormati aku sebagai istrimu, bahkan jika itu hanya pura-pura?"
Raihan terdiam, kata-kata Alana seolah menamparnya. Namun, kemarahan di matanya tak kunjung mereda. "Kau tidak tahu apa-apa, Alana. Kau tidak tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang begitu dalam sampai kau rela melakukan apa saja agar dia kembali."
"Aku tidak tahu?" Alana tertawa pahit, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku tahu bagaimana rasanya mencintai, Raihan. Dan aku juga tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh cinta itu!"
Pertengkaran itu berakhir dengan Raihan membanting pintu kamar tamu. Alana hanya bisa menangis dalam diam di ruang tamu yang dingin. Malam itu, ia tidak bisa tidur. Hatinya hancur berkeping-keping. Raihan bahkan tidak berusaha menyembunyikan lagi perasaannya pada Sasha. Ia mengakui, secara tidak langsung, bahwa ia sedang bersama Sasha.
Alana merasa terjebak. Ia adalah istri Raihan di atas kertas, namun ia tak memiliki apa-apa. Tak ada cinta, tak ada perhatian, tak ada kehangatan. Ia hanya ada sebagai saksi bisu kehancuran hatinya sendiri. Pernikahan ini, yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan, justru menjadi awal penderitaan tak berujung.
Pagi harinya, Alana bangun dengan mata bengkak dan kepala pusing. Raihan sudah pergi. Ada secarik kertas di meja makan: "Aku ada urusan di luar kota selama dua hari." Tidak ada kata maaf, tidak ada penjelasan lebih lanjut. Alana hanya bisa tersenyum getir. Urusan apa lagi kalau bukan dengan Sasha?
Alana merasa lelah, sangat lelah. Ia tidak punya energi lagi untuk berpura-pura. Ia tidak punya kekuatan lagi untuk menahan air mata. Ia hanya ingin semua ini berakhir. Ia bertanya-tanya, apakah Tuhan punya rencana lain untuknya? Apakah ia akan selamanya terjebak dalam sangkar emas yang kosong ini?
Namun, di tengah keputusasaannya, terbersit lagi wajah Daniel Sanjaya. Senyum hangatnya, matanya yang prihatin, kata-katanya yang menenangkan. Daniel adalah satu-satunya orang yang melihat Alana, yang benar-benar melihatnya di tengah kegelapan ini. Apakah Daniel bisa menjadi jembatan menuju kebahagiaan yang selama ini ia dambakan? Atau apakah itu hanya ilusi lain yang akan membuatnya semakin sakit?
Alana tidak tahu. Yang jelas, ia harus membuat keputusan. Ia tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayangan mantan kekasih suaminya dan kebohongan yang menyakitkan. Ia harus mencari jalan keluar, entah itu berani menghadapi Raihan, atau mencari jalan lain yang lebih pasti, meskipun penuh ketidakpastian. Kehidupan Alana Putri Pratama, sang gadis sederhana yang kini terperangkap dalam labirin cinta segitiga yang rumit, baru saja akan menghadapi babak paling menantang. Babak di mana ia harus berjuang untuk dirinya sendiri, untuk kebahagiaannya, dan untuk menemukan arti cinta yang sesungguhnya.
Anda Mungkin Juga Suka





