Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Segitiga Yang Rumit

Cinta Segitiga Yang Rumit

Alana Putri Pratama terjebak dalam pernikahan hambar dengan Raihan Wijaya, manajer muda yang hanya menjadikannya alat untuk memancing cemburu mantan kekasihnya. Raihan yang terobsesi masa lalu mengabaikan Alana sepenuhnya hingga sang cinta pertama kembali muncul mengusik mereka. Di tengah kerapuhan ini, hadir Daniel Sanjaya, CEO tampan yang mulai mendekati Alana. Akankah Raihan sadar sebelum Alana berpaling, ataukah bayang masa lalu akan menghancurkan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam setelah pertengkaran dengan Raihan adalah salah satu malam terpanjang bagi Alana. Ia merasa remuk, hancur berkeping-keping. Kata-kata Raihan, pengakuan tak langsungnya tentang Sasha, dan bau parfum asing yang menempel di tubuh suaminya, semuanya berputar-putar di benaknya seperti pisau tumpul yang terus menggores luka. Air mata sudah kering, hanya menyisakan perih dan rasa kebas di hati. Alana menatap kosong langit-langit kamar yang gelap, bertanya-tanya kapan semua penderitaan ini akan berakhir.

Ia ingin lari. Ingin menghilang. Namun, ke mana? Ia tidak punya tempat tujuan. Kembali ke rumah orang tuanya? Itu hanya akan membuat mereka khawatir dan bertanya-tanya. Bagaimana Alana bisa menjelaskan bahwa pernikahan impian mereka, pernikahan putrinya dengan manajer tampan dan mapan, hanyalah sebuah tipuan, sebuah lelucon kejam? Ia tidak sanggup melihat kekecewaan di mata orang tuanya.

Keesokan paginya, Alana bangun dengan perasaan hampa. Raihan sudah pergi. Kertas berisi pesan singkatnya tentang kepergian dua hari terasa seperti tamparan. Tak ada maaf, tak ada penyesalan, hanya pernyataan fakta yang dingin. Ini adalah bukti nyata bahwa Raihan tidak lagi peduli padanya, atau pada pernikahan mereka. Ia hanya fokus pada Sasha, pada "cinta pertama" yang kini kembali.

Alana pergi bekerja dengan langkah gontai. Aura kesedihan tak bisa lagi ia sembunyikan sepenuhnya. Rekan-rekan kerjanya sesekali meliriknya dengan tatapan khawatir, namun tidak ada yang berani bertanya. Alana menghargai kepekaan mereka. Ia tidak ingin menjadi bahan gosip atau objek belas kasihan.

Di tengah kesibukan kantor, Daniel Sanjaya kembali menjadi penenang tak terduga. Ia datang ke divisi Alana untuk menanyakan beberapa detail proyek. Daniel mengamati Alana dengan saksama. Mata Alana yang sembab, gerak-geriknya yang lesu, dan senyumannya yang dipaksakan tak luput dari perhatiannya.

"Alana, apa kau baik-baik saja?" tanya Daniel, suaranya lembut, penuh keprihatinan. Ia sengaja menunggu hingga rekan kerja lain tidak terlalu dekat.

Alana mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa pahit di bibirnya. "Ya, Daniel. Saya baik-baik saja."

"Jangan bohong padaku," Daniel berkata, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tegas namun tetap menenangkan. Ia mendekat, merendahkan suaranya. "Matamu tidak bisa berbohong. Kau terlihat... sangat menderita."

Alana terhenyak. Entah mengapa, kata-kata Daniel menembus pertahanannya. Air mata yang sudah ia tahan sejak semalam, kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia buru-buru menunduk, tidak ingin Daniel melihat kerapuhannya.

Daniel menyadari reaksi Alana. Ia tidak memaksakan diri. Ia hanya menghela napas, lalu berkata, "Alana, kau tidak harus menanggung semuanya sendirian. Jika ada sesuatu yang memberatkanmu, aku di sini. Aku bisa mendengarkan, atau jika kau butuh bantuan, katakan saja."

Alana hanya bisa mengangguk, tenggorokannya terasa tercekat. Daniel lalu mengulurkan sapu tangan bersih padanya. "Ini," katanya, "setidaknya usap air matamu."

Alana menerimanya dengan malu, menyeka air mata yang tak sengaja jatuh. "Terima kasih, Daniel."

"Sudah tugasku sebagai rekan kerja, dan... sebagai teman," Daniel menambahkan, dengan senyum tipis yang tulus. "Istirahatlah sebentar jika kau merasa tidak enak badan. Pekerjaan bisa menunggu."

Daniel kemudian pergi, meninggalkan Alana dengan sapu tangan di tangannya dan perasaan campur aduk di hati. Ia merasa malu karena tertangkap basah dalam kerapuhannya, namun di sisi lain, ia merasakan kehangatan yang asing. Kehangatan dari seseorang yang peduli tanpa menghakimi, seseorang yang melihatnya bukan hanya dari permukaan.

Sepanjang hari itu, Alana terus memikirkan kata-kata Daniel. "Kau tidak harus menanggung semuanya sendirian." Kalimat itu terus bergema, seolah membuka jalan keluar dari labirin kesedihannya. Selama ini, ia terbiasa memendam semuanya sendiri, takut akan penilaian atau kekecewaan orang lain. Namun, Daniel seolah menawarkan uluran tangan, sebuah pelabuhan kecil di tengah badai.

Sore harinya, Alana menerima pesan singkat dari nomor tak dikenal. "Bagaimana harimu? Sudah sedikit lebih baik?"

Alana mengerutkan kening. Siapa ini? Ia tidak mengenali nomornya. Kemudian, ia teringat sapu tangan yang diberikan Daniel. Pasti Daniel. Ia merasa sedikit terkejut, sekaligus tersentuh. Daniel peduli, bahkan setelah jam kerja.

Ia mengetik balasan singkat. "Lumayan, Daniel. Terima kasih sudah bertanya."

Tak lama kemudian, balasan datang lagi. "Syukurlah. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup. Kesehatanmu penting."

Pesan-pesan sederhana itu, yang tak pernah ia dapatkan dari Raihan, terasa begitu berharga. Daniel tidak membahas masalahnya, tidak memaksa, hanya memberikan perhatian yang tulus. Hati Alana yang membeku perlahan mulai mencair. Mungkin, ada secercah harapan di balik semua kegelapan ini.

Dua hari berlalu. Raihan belum pulang. Alana mencoba meneleponnya, hanya untuk memastikan, namun panggilannya tidak dijawab. Ia mengirim pesan, juga tak dibalas. Alana tahu ia sedang bersama Sasha. Rasa sakit itu kembali, namun kali ini bercampur dengan sedikit kemarahan. Raihan begitu terang-terangan, begitu tidak peduli.

Pada hari ketiga, Raihan akhirnya kembali. Ia masuk ke rumah seperti biasa, tanpa salam atau penjelasan. Wajahnya terlihat letih, namun ada rona puas yang tak bisa ia sembunyikan. Alana melihat tasnya yang hanya berisi sedikit pakaian, seolah ia memang tidak berniat menginap lama. Ia langsung menuju kamar tamu, mengunci dirinya di sana.

Alana tidak sanggup lagi menahan diri. Ia mengetuk pintu kamar tamu. "Raihan, bisakah kita bicara?"

Ada keheningan sejenak, lalu pintu terbuka sedikit. Raihan menjulurkan kepalanya. "Ada apa?" tanyanya, suaranya datar.

"Ada banyak hal," jawab Alana, mencoba menahan suaranya agar tetap tenang. "Tentang kita. Tentang pernikahan ini."

Raihan menghela napas. "Aku lelah, Alana. Bisakah nanti saja?"

"Tidak, Raihan. Tidak bisa nanti. Aku sudah lelah dengan semua ini," Alana bersikeras. "Aku tidak bisa terus-menerus hidup dalam kebohongan. Aku tidak bisa terus-menerus menjadi istri yang tidak diinginkan."

Raihan membuka pintu lebih lebar, melangkah keluar. Matanya tampak tak sabar. "Lalu kau mau apa? Mau cerai? Begitu?"

Kata "cerai" itu menghantam Alana seperti palu godam. Itu adalah kata yang paling ia takuti, namun kini keluar dari mulut suaminya sendiri dengan begitu mudah. Jantung Alana berdegup kencang. Ini dia. Momen yang ia duga akan datang, namun tetap saja menyakitkan.

"Kalau itu yang terbaik untukmu, untuk kita, lalu kenapa tidak?" Alana menjawab, suaranya bergetar. Meskipun ia ingin mengakhiri penderitaan ini, mengucapkan kata itu terasa begitu berat.

Raihan terdiam. Ia terlihat terkejut dengan jawaban Alana. Mungkin ia mengira Alana akan menolak, atau menangis dan memohon padanya.

"Aku... aku tidak mengatakan aku ingin cerai," Raihan akhirnya berkata, nada suaranya sedikit melunak. "Aku hanya bertanya. Aku hanya... aku tidak tahu harus bagaimana lagi."

"Kau tidak tahu harus bagaimana?" Alana menatapnya dengan kecewa. "Bagaimana denganku? Apa yang harus kulakukan, Raihan? Menunggu dengan sabar sampai kau bosan mengejar cinta pertamamu? Sampai kau sadar bahwa kau punya istri di rumah?"

Raihan memalingkan wajah. "Aku tidak pernah memintamu untuk menungguku, Alana. Aku sudah jujur sejak awal, kan? Aku tidak pernah menyentuhmu, kan? Aku tidak pernah memberikan harapan palsu padamu."

Kata-kata Raihan itu memang benar, dan itu justru yang membuat Alana semakin sakit. Raihan memang tidak pernah menyentuhnya, tidak pernah memberikan harapan palsu. Ia jujur tentang motifnya menikah. Tapi itu tidak membuat rasa sakitnya berkurang. Justru sebaliknya. Ia merasa semakin tidak berharga, semakin hanya menjadi objek.

"Kau benar," Alana berbisik, air mata kembali mengalir. "Kau memang jujur. Dan itu yang membuatku merasa semakin menyedihkan. Kau tidak perlu berbohong, karena aku memang tidak berarti apa-apa bagimu."

Raihan ingin membantah, namun kata-kata Alana seolah menohoknya. Ia merasa bersalah, namun keegoisan dan obsesinya pada Sasha masih terlalu kuat. Ia tidak bisa melepaskan diri dari bayangan masa lalu itu.

"Alana, aku minta maaf," ucap Raihan, suaranya terdengar tulus kali ini. "Aku tahu aku jahat. Aku tahu aku sudah menyakitimu. Tapi aku... aku tidak bisa hidup tanpanya. Sasha adalah segalanya bagiku."

Pengakuan itu, yang keluar dari mulut Raihan dengan begitu jelas, adalah pukulan telak terakhir bagi Alana. Ia adalah istri, namun ia harus mendengar suaminya sendiri mengatakan bahwa wanita lain adalah segalanya. Hatinya mencelos, dan ia merasa seluruh kekuatannya lenyap.

"Baiklah, Raihan," Alana akhirnya berkata, suaranya kosong. "Kalau begitu, hiduplah bersamanya. Aku... aku tidak akan menghalangimu."

Alana berbalik, masuk ke kamar utama, dan menutup pintu. Ia tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis. Yang tersisa hanyalah rasa mati rasa yang mendalam. Ia merasa kosong, seolah jiwanya telah meninggalkan tubuhnya.

Beberapa hari berikutnya, Alana menjalani hidupnya seperti biasa di luar. Di kantor, ia tetap profesional. Ia bekerja, berinteraksi dengan rekan-rekan kerja, dan sesekali berbicara dengan Daniel. Daniel adalah satu-satunya orang yang membuatnya merasa sedikit lebih hidup. Daniel tidak pernah bertanya tentang masalah pribadinya lagi, namun perhatiannya tetap ada. Ia sering mengajaknya makan siang bersama, atau sekadar berbagi lelucon untuk menghibur Alana.

Interaksi dengan Daniel terasa seperti angin segar. Ia bukan Raihan. Ia tidak membuat Alana merasa tidak berharga. Sebaliknya, Daniel selalu membuatnya merasa dihargai, didengar, dan dilihat. Daniel memuji ide-idenya, menghargai pendapatnya, dan memperlakukannya dengan rasa hormat yang mendalam. Alana mulai merasa sedikit lebih nyaman di dekat Daniel, sedikit lebih terbuka, meskipun ia masih menjaga jarak.

Suatu sore, Raihan memberi tahu Alana bahwa ia akan mengundang Sasha makan malam di rumah. Ia mengatakan, "Agar Sasha lebih mengenalmu sebagai istriku, dan kalian bisa berteman." Alana tahu itu bohong. Raihan ingin memamerkan Sasha, ingin membuat Alana menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka.

Alana ingin menolak, ingin berteriak bahwa ia tidak sudi. Namun, ia merasa terlalu lelah untuk berdebat. Ia hanya mengangguk, hatinya terasa hampa. "Baiklah," jawabnya singkat.

Malam itu, Alana menyiapkan makan malam dengan hati yang berat. Ia memasak hidangan istimewa, meskipun setiap gerakan terasa seperti penyiksaan. Ketika bel pintu berbunyi, Alana merasakan adrenalin mengalir deras di tubuhnya. Ini dia. Momen yang paling ia takutkan.

Raihan membuka pintu, dan di sana berdirilah Sasha Amanda. Wanita yang telah menghancurkan pernikahannya, wanita yang menjadi obsesi suaminya. Sasha terlihat sangat cantik, dengan gaun elegan dan senyum menawan. Ia memancarkan aura percaya diri dan kemewahan. Alana merasa seperti pelayan di rumahnya sendiri.

"Alana, ini Sasha," Raihan memperkenalkan, suaranya sedikit canggung. "Sasha, ini Alana, istriku."

Sasha tersenyum tipis pada Alana. "Senang bertemu denganmu, Alana. Aku sudah banyak mendengar tentangmu dari Raihan."

Alana mencoba membalas senyum itu, namun terasa kaku di bibirnya. "Senang bertemu denganmu juga, Sasha."

Makan malam berlangsung dalam suasana yang canggung bagi Alana. Raihan dan Sasha sibuk berbicara, bernostalgia tentang masa lalu mereka, tentang kenangan-kenangan manis yang mereka miliki. Mereka tertawa bersama, berbagi pandangan penuh arti, seolah tidak ada Alana di sana. Alana hanya bisa duduk diam, sesekali mengangguk atau tersenyum palsu. Ia merasa seperti patung, penonton dalam drama percintaan suaminya sendiri.

Sasha terlihat begitu nyaman di samping Raihan. Ada semacam chemistry yang tak bisa disangkal di antara mereka. Alana melihat bagaimana mata Raihan berbinar setiap kali Sasha berbicara, bagaimana ia mendengarkan setiap kata Sasha dengan penuh perhatian. Itu adalah pandangan yang tidak pernah Alana dapatkan, bahkan di hari pernikahan mereka.

Alana mencoba fokus pada makanannya, mencoba mengabaikan percakapan di antara mereka. Namun, setiap bisikan tawa, setiap sentuhan ringan di antara Raihan dan Sasha, terasa seperti sengatan listrik yang melukai hatinya. Ia merasa sangat bodoh, sangat tidak berharga.

Tiba-tiba, Sasha menoleh pada Alana. "Jadi, Alana, bagaimana rasanya menikah dengan Raihan? Pasti menyenangkan, kan?" tanyanya, dengan senyum yang terlihat tulus, namun bagi Alana, terasa penuh makna tersembunyi.

Alana terdiam sejenak. Ia ingin berteriak, ingin mengatakan kebenaran. Ingin mengatakan bahwa pernikahan ini adalah neraka, bahwa ia adalah korban dari permainan Raihan. Namun, ia tidak bisa. Ia tidak ingin membuat keributan, apalagi di depan Sasha. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan.

"Ya, menyenangkan," jawab Alana, suaranya datar. Ia tidak bisa memaksakan senyum kali ini.

Raihan terlihat sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan Sasha. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Sasha, bagaimana proyek barumu? Kudengar sangat menantang."

Percakapan kembali berputar pada masa lalu dan pekerjaan mereka. Alana merasa lega. Ia hanya ingin malam ini cepat berlalu. Ia ingin melarikan diri dari semua ini.

Ketika Sasha akhirnya pamit, Raihan mengantarnya sampai ke depan pintu. Alana mendengar bisikan-bisikan dan tawa kecil dari luar. Lalu, suara pintu tertutup. Raihan kembali ke dalam, dengan senyum tipis di wajahnya.

"Aku akan membereskan ini," kata Alana, mencoba sibuk dengan piring-piring kotor.

"Tidak perlu," Raihan menjawab, suaranya terlihat lega. "Aku akan membantumu. Kau pasti lelah."

Alana menatap Raihan dengan heran. Sejak kapan Raihan menawarkan bantuan? Ini adalah hal yang sangat jarang terjadi.

"Kau terlihat sangat senang," Alana akhirnya berkata, tidak bisa menahan diri.

Raihan terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Dia kembali, Alana. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Aku... aku masih sangat mencintainya."

Hati Alana kembali berdenyut nyeri. Ini adalah pengakuan langsung, dan terasa jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran mereka sebelumnya. Ia adalah istrinya, namun ia harus mendengar suaminya mencintai wanita lain.

"Aku tahu, Raihan," Alana berbisik, suaranya pecah. "Aku tahu itu. Dan aku tidak akan menahanmu lagi."

Alana berbalik, menuju kamar. Ia tidak sanggup lagi mendengarnya. Ia tidak sanggup lagi berpura-pura tegar. Ketika ia masuk ke kamar, ia meraih ponselnya. Ada pesan masuk dari Daniel.

"Apakah kau baik-baik saja? Aku merasa ada yang tidak beres malam ini."

Pesan itu, yang datang tepat di saat Alana merasa paling hancur, adalah penyelamat baginya. Daniel, lagi-lagi, muncul seperti malaikat pelindung. Ia tidak tahu bagaimana Daniel tahu, tapi entah bagaimana, Daniel selalu peka terhadap perasaannya.

Alana mengetik balasan, tangannya gemetar. "Tidak, Daniel. Aku tidak baik-baik saja."

Hanya dalam hitungan detik, ponselnya berdering. Itu Daniel. Alana ragu-ragu sejenak, lalu mengangkatnya.

"Alana? Ada apa? Suaramu terdengar..." Daniel terdengar cemas.

Air mata Alana pecah. Ia tidak bisa lagi menahannya. "Aku... aku tidak bisa lagi, Daniel. Aku tidak sanggup."

Daniel tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mendengarkan Alana menangis di ujung telepon. Setelah beberapa saat, ia berkata, "Alana, kau ada di rumah, kan? Aku akan ke sana."

"Tidak! Jangan!" Alana buru-buru menolak. Ia tidak ingin Daniel melihatnya dalam keadaan seperti ini. Ia tidak ingin Daniel tahu kebusukan pernikahannya.

"Aku akan tetap datang," Daniel bersikeras. "Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Tunggu aku."

Dan benar saja. Lima belas menit kemudian, bel pintu berbunyi. Alana mengintip melalui celah gorden, dan melihat Daniel berdiri di depan pintu, dengan raut wajah khawatir. Alana ragu-ragu. Haruskah ia membuka pintu? Haruskah ia membiarkan Daniel masuk ke dalam kehancuran hidupnya?

Namun, di tengah semua kebingungan dan keputusasaan itu, ada bisikan kecil di hatinya yang berkata, "Biarkan dia masuk. Biarkan seseorang membantumu."

Alana membuka pintu. Daniel berdiri di sana, menatapnya dengan prihatin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Daniel melangkah masuk, menarik Alana ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, menenangkan, dan penuh pengertian. Pelukan yang tidak pernah ia dapatkan dari Raihan.

Alana menangis tersedu-sedu di dada Daniel, mencurahkan semua rasa sakit dan kekecewaan yang selama ini ia pendam. Daniel hanya memeluknya erat, mengusap punggungnya dengan lembut, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia membiarkan Alana menangis, membiarkan semua beban itu keluar.

Malam itu, di tengah kehancuran pernikahannya, Alana menemukan secercah harapan dalam pelukan seorang pria yang diam-diam telah mengaguminya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi ia tahu satu hal: ia tidak akan lagi menanggung semua ini sendirian. Ia harus membuat pilihan. Pilihan yang berat, namun mungkin adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan yang pantas ia dapatkan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah CEO Pengen Pelukan
9.1
Nadia menghabiskan malam bersama pria asing setelah dikhianati orang terdekatnya. Meski sempat menyesal, ketampanan pria itu justru membuatnya malu hingga ia nekat meninggalkan uang sebelum pergi. Kresna, sang pria misterius, merasa sangat terhina karena dianggap sebagai pria bayaran. Dengan amarah yang meluap, ia segera memerintahkan asistennya melacak identitas Nadia melalui rekaman CCTV hotel demi membalas perbuatan wanita tersebut.
Sampul Novel DESTINY
9.5
Zeline Zakeisha sering dikhianati karena kondisi genophobia miliknya. Demi kesembuhannya, sahabat Zeline mendaftarkannya ke situs kencan internasional. Di sana, ia terhubung dengan Ricardo Fello Daniello, triliuner asal New York yang muak dengan wanita pemburu harta. Meski terpisah jarak Indonesia-New York, kepribadian Zeline yang unik justru memikat Ricardo. Kini, mereka harus berjuang melawan trauma dan jarak demi membuktikan apakah takdir akan menyatukan cinta mereka.
Sampul Novel Istri Sang CEO (After Married)
8.7
Sella mengalami nasib tak terduga saat niat melamar kerja justru berujung pada pernikahan kontrak. Ia terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi Rishan, CEO yang menikahinya hanya demi memenuhi janji kepada sang ibu. Tanpa landasan cinta, keduanya terjebak dalam rumah tangga yang penuh ego dan aturan sepihak dari Rishan. Sella harus menghadapi sikap dominan suaminya yang sering menuntut hal aneh, sembari berjuang menata hatinya yang terus goyah dalam ikatan paksaan ini.
Sampul Novel Jangan Main-Main Dengan Dia
8.9
Yolanda dibuang ke desa terpencil setelah tahu ia hanya dijadikan alat bisnis oleh orang tua angkatnya. Tak disangka, ia justru menemukan jati diri sebagai pewaris keluarga konglomerat yang sangat berpengaruh. Meski dihujani kasih sayang, ia harus menghadapi kecemburuan adiknya. Yolanda pun bangkit membalas dendam dengan bakatnya yang luar biasa. Pesonanya memikat seorang miliarder ternama yang kini memojokkannya demi mengungkap rahasia besar Yolanda.
Sampul Novel Kawin Kontrak Sang Pewaris Tunggal
8.5
Maya Syaqilla merantau ke kota demi mengangkat derajat keluarganya. Awalnya ia mengira akan bekerja sebagai asisten rumah tangga, namun kesepakatan dengan Handoko justru menjadikannya istri kontrak sang majikan selama setahun. Meski caranya salah, kemakmuran kini menyelimuti keluarganya. Akankah benih cinta tumbuh antara Maya dan Boy hingga pernikahan mereka menjadi nyata? Ataukah rahasia besar ini akan terbongkar dan memicu kemarahan besar dari kedua keluarga besar mereka?
Sampul Novel Keputusasaan Di Balik Pernikahan
7.9
Jerald Lucas dikenal sebagai CEO dingin yang sangat memuja istrinya, Clara Rernald. Namun, citra itu hancur saat Jerald terjebak skandal perselingkuhan akibat pengaruh racun di hari ulang tahun pernikahan ketujuh mereka. Meski Jerald bersujud memohon ampun dan berjanji setia, hati Clara telah hancur melihat bukti pengkhianatan di kamar mereka. Usaha penebusan dosa Jerald sia-sia karena sebuah foto misterius akhirnya memicu Clara untuk pergi selamanya.