
Cinta Sedalam Doa
Bab 2
Waktu cepat berlalu. Tetapi aku tetap tidak berani menemuiNaira secara langsung. Aku selalu saja mencoba curi-curipandang dengannya. Saat ada di kantin sekolah, saat upacarabendera, saat Naira lewat di depan kelasku, dan ada kalanya juga aku yang sengaja lewat di depan kelasnya hanya semata inginmencari kesempatan bertemu dengan Naira. Tapi semua itu tidakpernah berhasil.
Sudah dua bulan saja sekolah tahun ajaran baru berjalan. Akutetap saja menjadi lelaki jomblo. Teman-temanku sudah berapakali gonta-ganti pacar. Misalnya Reno sudah balikan lagi denganmantannya. Selepas seminggu ia putuskan lagi mantannya dan jadian dengan adik kelas. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Memang Reno tidak berperasaan, begitu umpatku. Tetapi akutidak benar-benar berani mengungkapkannya kepada Reno.
Jika aku bilang Reno kurang ajar, maka aku balik yang akankena serang dengan mulutnya yang setajam pisau dapur. NantiReno akan mengata-ngatai aku lagi jomblo permanen. Aku kesaldipanggil jomblo permanen. Bukan spidol aja yang permanen, tetapi aku juga dibilang jomblo permanen. Kalau masalahmenjelekkan teman memang Reno biang keroknya.
Sebelum pulang sekolah kami rapat kelas. Kami harusmempersiapkan lomba antar kelas, Porseni SMA. Porseni ataudisebut Pekan Olahraga dan Seni. Setiap cabang olahraga dan seni diperlombakan antar kelas. Ada kategori bola kaki, futsal, basket, tenis meja, volly ball, tari, baca puisi, drama, dan pidatokebangsaan.
Kami hanya diberikan waktu seminggu untuk mempersiapkankelas untuk mengikuti setiap kategori lomba. Aku hanya ikutkategori futsal dan bola kaki. Selebihnya aku menolak ketikaketua kelas menyuruhku mewakili kelas untuk kategorimembaca puisi. Aku malu jika nanti penampilanku tidak baik. Berbeda dengan bola kaki dan futsal, aku sudah suka dan hobisejak SMP. Sekarang aku sudah menjadi salah satu pemainandalan di timku. Maka aku harus membuktikan kualitaspermainanku pada Porseni SMA tahun ini.
***
Pertandingan bola kaki antara kelas XIA dengan XB, suarapembawa acara terdengar nyaring memberikan informasi denganpengeras suara. Aku terkejut. Tim dari kelasku harus berhadapandengan kelasnya Naira. Aku memanggil teman-teman tim sepakbola untuk segera menuju lapangan bola kaki. SMA kami memiliki lapangan bola sendiri. Jadi jika anak SMA inginberlatih atau bertanding tinggal izin kepada pihak sekolah sajauntuk memakainya.
"Ayo, cepat kamu pasang sepatu Reno! Nanti takutnya wasitmenggugurkan tim kita jika telat masuk lapangan," akumenegaskan Reno yang masih berlama-lama. Ia mengajakpacarnya untuk menonton tim kami bermain. Awalnya pacarnyatidak mau ikut menonton. Reno terus merayunya dan akhirnyapacarnya ikut juga menonton. Aku geleng-geleng kepala melihattingkahnya.
Wasit meniup peluit menandakan babak pertama akan dimulai. Aku deg-degan. Napasku naik turun. Aku menjadi kapten timbola untuk kelasku. Menjadi seorang pemimpin di lapangantidaklah mudah. Harus tetap tenang dan tidak boleh terpancingemosi. Jika terjadi apa-apa antara timku dengan tim lawan akuyang harus turun tangan untuk menenangkan.
Bola terus dioper dari kaki ke kaki. Timku mendominasipermainan. Aku sebagai gelandang serang menjadi pengaturserangan. Aku membawa bola ke arah pertahanan lawan. Reno sudah berdiri bebas di depan gawang. Aku mengumpan ke arahReno yang sedang berlari. Bolanya datar tetapi cukup kencang. Reno bebas dari perangkap offside. Bola antara Reno dan penjaga gawang.
Reno memang larinya sedikit lambat dan belum benar-benarbelum siap menerima sodoran bola dariku. Akhirnya penjagagawang keluar dari sarangnya dan mengamankan gawangnya. Serangan pertama tim kami gagal total.
Kini kami mendapatkan tekanan dari tim kelas XB. Seranganbalik dari tim lawan membuat pertahanan kocar-kacir. Karena gelandang dan penyerang dari timku sudah terlanjur di depan. Butuh waktu untuk kembali membantu pertahanan.
"Ayo, ayo, ayo, XB bisa. XB jadi pemenang, XB sang juara," para suporter dari kelas XB bersorak-sorak di tepi lapangan. Ada Naira Asqalani di antara yang bersorak-sorak itu. Aku jadikaget. Ini bisa membuat malu timku, terutama diriku jika timkukalah. Teman-teman kelasku tidak ada yang bersorakmenyemangati kami yang sedang bermain. Suporter tim lawansemakin heboh saja.
"Gol..." Suporter tim XB suaranya menggema. Timkukebobolan. Skor sementara satu kosong untuk kelas XB. Tim lawan merayakan gol mereka. Aku menunduk lesu. Keasyikanmenyerang dan lambat kembali bertahan membuat timku harusmemungut bola dari gawang. Aku mengusap kening yang berkeringat.
"Ayo...ayo...! Kita pasti bisa mengembalikan kedudukan," akumenyoraki teman-temanku yang terkulai lesu. Baru sepuluhmenit pertandingan berjalan. Kami sudah kebobolan satu gol. Inimembuat mental timku jatuh. Aku harus berjuang sekuat tenagadi lini tengah.
Naira terus saja menyoraki timnya. Aku jadi gugup. Aku harusbisa membuat Naira terkesan padaku. Aku berjuangmemenangkan duel di lini tengah. Permainan lawan semakintenang saja. Mereka memperlambat tempo permainan. Tim lawan mencoba mengulur-ulur waktu. Membuat timku semakinpanik.
Reno tidak bergerak lagi. Ia dikawal oleh dua orang pemainbelakang lawan. Ruang gerak Reno sangat sempit. Aku kesulitanuntuk mengumpan bola ke lini serang. Andino membantuserangan dari sisi kiri. Aku melihat pergerakan Andino. Akumengumpan bola atas ke Andino yang berlari kencang ke depan.
Andino bisa mengontrol bola dengan baik. Andino mencobamengolah bola dan mengecoh pemain belakang lawan. Reno memiliki sedikit ruang gerak. Ada celah besar di dalam kotakpinalti. Aku terus bergerak menusuk ke kotak pinalti.
Andino mengumpan bola ke Reno. Reno terus dikawal. Ia sulitmengontrol bola. Tapi Reno hanya menyentuh bola sedikit dan mengubah arah sedikit ke tengah. Aku datang dengan barlarikencang. Aku punya ruang untuk menendang bola ke dalamgawang.
Pemain belakang lawan segera mencoba menutupi ruangtembakku. Aku mencoba pura-pura menendang bola dan memutar sedikit arah ke kananku. Dua pemain terkecoh secarabersamaan. Lalu aku punya kesempatan untuk menendangdengan kaki kiri. Aku mengarahkan tendangan mendatar ke sisikiri penjaga gawang.
Penjaga gawang membaca tendanganku dan ia melompat untukmenepisnya. Ujung jari penjaga gawang bisa menyentuh bola, dikarenakan tendanganku terlalu kencang sehingga bola tidakbegitu berubah arah. Bola masuk ke dalam gawang. Skor berubah menjadi satu sama.
Suporter kelasku bersorak-sorak dan menyanyikan namaku. Akujadi bersemangat. Rasa lelah ditubuhku langsung hilang. TerlihatNaira dan teman-temannya terlihat kesal karena tim kami bisamenyamai kedudukan.
Permainan semakin sengit saja. Pelanggaran demi pelanggarantercipta. Perebutan bola selalu saja terjadi. Aku kesulitan untukmengola bola dan mengumpan. Tapi berkat stamina dan dayatahan tubuhku yang selalu dijaga membuat daya tahanku sangatbaik. Aku terus bergerak membuka ruang di lini tengah. Akutidak kelelahan walau selalu bergerak untuk bertahan dan membantu serangan.
Stamina tim lawan kehabisan. Aku memiliki banyak ruanguntuk bergerak. Aku bawa bola menusuk ke dalam jantungpertahanan lawan. Dua pemain belakang sedang menjaga Reno. Andino juga menusuk masuk ke kotak pinalti. Pemain bertahanlawan sulit untuk mengawal pergerakan kami.
Aku terus membawa bola, meliuk-liuk, membuka ruang, lalumenendang bola sekuat-kuatnya. Bola melaju di udara dengankencangnya. Sulit untuk dilihat penjaga gawang. Penjagagawang tidak menyangka aku akan menendang bola denganjarak sejauh itu.
Penjaga gawang tengah sibuk membaca pergerakan Reno dan Andino sehingga ia tidak menyangka aku senekat itu untukmenendang bola dari jarak jauh. Bola melaju kencang ke sudutkanan atas penjaga gawang. Bola masuk ke dalam gawang tanpabisa ditepis penjaga gawang. "Gol...gol..."
Kami bersorak-sorak gembira. Aku melompat tinggi ke udarauntuk merayakan gol keduaku. Teman-teman memelukku daribelakang. Kami unggul dua satu dari tim XB.
Pertandingan semakin ketat. Kartu kuning banyak dikeluarkanwasit. Hingga babak kedua berakhir skor dua satu untukkemenangan timku dari kelas XB. Aku menjadi pemain terbaikuntuk pertandingan tadi. Aku bisa mencetak dua gol. Dan berkatkepiawaianku mengolah bola di lini tengah bisa membuat timkumenang dan sanggup bertahan dengan baik.
Naira memandangiku saat aku keluar lapangan. Aku curi-curi pandang dengan Naira. Aku merasa bangga telah bermain baik. Apalagi aku bisa membuat Naira kagum padaku, aku yakin itu.
Anda Mungkin Juga Suka





