
Cinta Sedalam Doa
Bab 3
Naira Asqalani, gadis berkulit putih, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, ditafsir tingginya seratus enam puluh duasenti, bertubuh ramping tetapi enak dipandang. Wajahnya oval tetapi berdagu runcing dan hidung mancung. Gadis yang ideal untuk dijadikan pacar apalagi seorang istri.
Naira Asqalani, gadis yang senang dipanggil Naira. Kononkatanya, Naira adalah salah satu nama daerah kelahiran nenekmoyangnya. Keluarga Naira perantau di kampungku ini. TetapiNaira sudah lahir di sini. Nenek dan kakeknya yang berasal dariBanda Naira, Provinsi Maluku. Maka untuk mengenang tanahleluhurnya, Kakek Naira memberi namanya sesuai dengan tanahkelahiran leluhurnya. Alasannya nanti akan diceritakan lebihdetail.
Naira anak pertama dari tiga bersaudara. Adiknya ada dua orang laki-laki, kembar. Adik kembar Naira duduk di kelas dua SD. Naira tinggal di kampung sebelah dari kampungku, pantesan akubelum pernah melihatnya sebelumnya.
Naira memiliki dua teman, yang pertama Niskala, dan yang kedua Aurora. Mereka tiga sekawan yang selalu saja bersamakemana-mana. Naira, Niskala, dan Aurora satu kelas. Maka iajarang berpisah. Di kantin dan di dalam kelas selalu bersama. Jika disuruh oleh guru untuk berpisah karena beda kelompok, mereka akan menolaknya. Mereka akan membujuk gurunya agar bisa disatukan dalam satu kelompok. Tidak jarang mereka kenamarah karena itu. Tapi mereka tidak perduli.
***
Pertandingan antara kelasku dengan kelas XIIC dimulai. Merebut juara satu kategori sepak bola. Aku sebagai kapten timmerasa gugup. Ini adalah pertandingan penentu. Aku harusmenang dan beban tim ada di pundakku.
Tim kelas XIIC adalah juara bertahan sepak bola tahun lalu. Pemainnya sudah berpengalaman. Aku harus melawan seniorkusendiri. Tapi seminggu ini aku dan teman-teman kelas sudahberlatih sekuat tenaga. Berlatih kebugaran, ketahanan, kecepatan, kelincahan, dan strategi.
Kami harus memenangkan pertandingan final ini. Tidak adapilihan lain agar aku menjadi salah satu idola baru di tahun ini. Tahun lalu tim sepak bola kelasku langsung kalah pada pertandingan pertama. Sekarang tim kelasku dibilang tim kudahitam oleh kelas lain. Tidak diunggulkan tetapi bisa meraihkemenangan dramatis.
Pertandingan sembilan puluh menit waktu normal sangatlahpanjang. Tetapi bisa saja terasa sebentar jika kita tertinggal gol. Tim harus butuh gol untuk menyamakan dan berbalik unggul.
Pertandingan sangat ketat dan sengit. Aku diganjar kartu kuningoleh wasit. Pemain belakang lawan terkena kartu merah. Pemainlawan harus bermain sepuluh orang. Setelah pemain belakanglawan menjatuhkan Reno di kotak terlarang. Berbuah pinaltiuntuk timku. Aku yang dipercaya menjadi algojo pinalti suksesmenyarangkan bola di sudut kanan atas gawang. Penjagagawang tidak sempat menghalau tendanganku yang kencang dan terarah. Bola tepat di sudut kanan atas. Sangat sulit untukdijangkau penjaga gawang di mana pun. Skor satu kosong untukkemenangan timku hingga peluit panjang dibunyikan wasit.
Aku menjadi pemain terbaik kategori sepak bola Porseni SMA untuk tahun ini. Aku mendapatkan piala pemain terbaik. Banyak anak-anak yang minta berfoto denganku. Baik yang laki-lakimaupun perempuan. Aku menunggu-menunggu Naira memintafoto denganku. Aku mencoba mencari di mana Biara. Tapi akutidak menemukannya.
Aku bahagia sekali bisa memenangkan pertandingan final kali ini. Tapi kebahagiaanku belum sempurna karena tidakmendapatkan perhatian khusus dari Naira. Aku berharap jikatimku memenangkan pertandingan maka Naira akanmenemuiku. Aku akan jadi idola selama satu tahun kedepannya. Naira akan terkagum-kagum kepadaku. Singkat cerita aku bisaberkenalan dengan Naira dan bertukar nomor telepon.
Tapi harapan dan angan-anganku hanya tinggal mimpi. Naira menghilang dan tidak tahu kemana setelah timku memenangkanpertandingan final. Saat awal pertandingan dimulai aku melihatNaira bersama teman-teman di pinggir lapangan. Pada babakkedua aku tidak melihatnya lagi. Apakah Naira pindah posisimenonton? Aku tidak tahu pasti.
Acara puncak Porseni SMA tahun ini ditutup oleh kepalasekolah. Sekaligus penyerahan hadiah untuk semua kategoripemenang. Aku naik podium untuk menerima piala kategorisepak bola. Aku merasa di atas angin. Aku seperti pemain bola nasional. Aku sungguh bangga sekali. Kami merayakankemenangan timku dengan membawa piala berlari kelilinglapangan sembari berteriak juara.
Porseni SMA tahun ini telah usai. Naira mendapatkan juara satukategori lomba bernyanyi. Tetapi ia diwakili oleh temankelasnya untuk mengambil piala. Naira tidak kelihatan. KemanaNaira?
***
Waktu terus saja berlalu tanpa bisa dihentikan. Sudah tiga bulantahun ajaran baru berjalan. Tugas semakin banyak, ruangbermain semakin sedikit, pikiran dibebani dengan tugas dan tugas. Ruang gerakku semakin dibatasi. Sibuk dengan tugassekolah yang tidak pernah henti-hentinya.
Lambat-laun aku sebagai pemain terbaik kategori sepak bola semakin lama semakin dilupakan. Piala pemain terbaik di rumahku tidak bisa dibanggakan lagi. Aku sekarang menjadisiswa biasa. Tidak lagi diidolakan oleh kaum hawa. Aku tidakbersedih. Hanya saja kenapa terlalu cepat waktu berlalu. Akutidak mengumpat-umpat.
Naira belum juga aku bisa taklukkan. Apanya ditaklukkan? Mendapatkan nomor teleponnya saja sampai saat ini belum juga dapat. Aku tidak berani menemui Naira langsung ke kelasnya. Jika Reno tahu aku senekat itu pasti aku akan jadi bahanomongan. Untung saja jika misiku berhasil. Jika gagal malahakan menjadi bahan olok-olokan sepanjang hari. Aku tidak siapdengan resiko itu.
Aku terus mencari-cari waktu untuk bisa bertemu dengan Naira. Tapi tetap saja tidak bisa. Naira tidak pernah sendiri, ia selalubersama teman-temannya. Jika ia bersama temannyakeberanianku menciut. Aku pura-pura membelok jalan ke arahlain dan tidak berani bersisian dengan Naira.
Tapi aku selalu saja mencari waktu untuk bertemunya. Di sela-sela istirahat. waktu mau pulang, aku berharap bisa bertemudengan Naira di parkiran. Tapi tidak pernah terwujud. Angan-angan hanya tinggal angan-angan. Tidak benar-benar pernahmenjadi kenyataan.
"Kamu kemana aja, Rianda? Selepas makan di kantin tiba-tibasaja menghilang. Kamu janjian sama gebetan ya?" Reno mengintrogasiku. Aku terasa dipojokkan. Apakah Reno memata-mataiku? Aku terdiam.
"Mana ada. Aku ada perlu di perpustakaan," aku mengarangalasan. Kebetulan kelasnya Naira memang di sebelah pustakasekolah. Jadi di saat aku mau ketemu Naira dan ternyata Naira bersama temannya aku langsung pura-pura ke perpustakaan. Membaca novel dan beberapa karya sastra lainnya. Setelah bosan aku akan keluar dari perpustakaan. Kemudian kembalimenjadi pengintai. Mengintai Naira secara diam-diam.
Aku tetap saja menyembunyikan perasaan suka kepada Naira dari teman-temanku. Aku simpan rasa suka dan kagumku ituserapi mungkin. Aku tidak ingin siapapun tahu soal itu. Tidakjuga dengan orang tuaku. Aku menjadi pendiam.
Pada suatu pagi, aku terlambat datang ke sekolah karena adasedikit insiden di rumah. Aku buru-buru berlari di lorongsekolah. Tanpa sengaja aku menabrak seorang siswi. Akuterjatuh. Tetapi siswi itu hanya terpeleset sedikit. Aku mencobamengelakkan siswi itu sehingga aku yang terpelanting jauh.
"Hai, kamu Rianda pemain terbaik kategori sepak bola itu ya?" Tanya siswi itu. Aku hanya diam. Aku terkejut. Siswi ini kantemannya Naira, aku membatin.
"Iyaa...Kenapa?" Tanyaku sembari membantu teman Naira itumerapikan buku-buku yang berserakan karena tabrakan tadi.
"Ada temanku kagum pada permainanmu. Kamu tidak apa?" Aku belum bisa merapikan diri. Teman yang dimaksud ituapakah Naira?
"Tidak. Tidak, aku baik-baik saja. Maaf aku buru-buru," kata-kata yang tidak beraturan itu keluar dari mulutku. Teman Inayaitu diam sejenak.
"Siapa temanmu itu?" Tanyaku balik, aku gelagapan.
"Naira. Naira Asqalani teman kelasku." Jantungku berdetakkencang. Naira mengagumiku. Aku belum percaya itu. TemanNaira buru-buru izin pergi ke kelasnya.
"Apakah aku boleh meminta nomor telepon Naira?" Aku tidaksadar menjadi seberani itu. Aku tidak ingin menyia-nyiakankesempatan emas ini. Teman Naira itu berbalik dan berhentisejenak.
"Nanti sepulang sekolah tunggu aku di parkiran. Aku akan kasihnomor telepon Naira padamu. Sekarang aku tidak membawatelepon genggamku. Jadi aku tidak ingat nomornya," temanNiara melambaikan tangan. Ia tergesa-gesa pergimeninggalkanku yang belum benar-benar bisa mengendalikandiri.
Mimpi apa aku semalam. Petaka membawa nikmat. Takmengapa aku tertabrak seperti ini asalkan bisa mendapatkannomor teleponnya Naira. Dadaku terasa mengembang. Akuberjalan dengan gagahnya menuju kelasku. Aku sangat senangsekali pagi itu. Tidak mengapa aku dihukum guru karenaterlambat. Biarlah, tak mengapa.
Selama jam pelajaran aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku tidaksabar menunggu bel pulang berbunyi. Pikiranku tidak lagi ada di kelas. Hanya raga saja di dalam kelas.
Aku membayangkan bisa berkenalan dengan Naira. Membicarakan banyak hal. Tentang hobi, warna kesukaan, makanan kesukaan, dan apa saja yang membuat kami bahagia. Aku menjadi lelaki yang bahagia jika itu jadi kenyataan.
Aku senyum-senyum sendiri saat guru menjelaskan pelajaran. Pikiranku benar-benar tidak ada di ruang kelas. Aku tidak sabarwaktu pulang tiba. Jam di tanganku terlihat enggan bergerak. Aku jadi tidak sabaran. Aku pandangi teman-teman satu persatu. Mereka fokus mendengarkan guru di depan.
Ibu guru seolah-olah berceramah mengenai unsur-unsur intrinsikdan ekstrinsik yang ada dalam sebuah novel. Pelajaran bahasaIndonesia salah satu yang aku suka. Tapi untuk hari ini aku tidakbisa fokus. Aku sedang berada di dunia lain. Dunia yang akusaja bisa mengendalikannya. Sesuka dan sesenangku saja.
Ibu memberi tugas membaca satu novel di rumah. Terserahnovel apa saja. Nanti tentukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Aku mencatat tugas yang diberikan guru. Tidaklama kemudian bel pulang berbunyi. Aku melompat kegirangan. Teman-temanku memandang dengan aneh. Aku seperti anak-anak SD saja senang mendengar suara bel pulang.
Aku melihat ke teman-temanku. Mereka meledekku. Aku tidakpeduli lagi. Aku kemasi peralatan sekolah, seperti buku paket, buku catatan, pen, dan keperluan belajar lainnya. Ketua kelasmemimpin doa pulang. Aku berdoa dengan semangat. Suarakupaling lantang. Seisi kelas jadi keheranan.
"Anak stres plus galau," ujar Reno kepadaku. Aku tidakmenghiraukannya. Reno terlihat kesal. Aku menyalami guru dan langsung menuju tempat parkir. Aku berjalan dengan kencang. Aku lihat Reno ke belakang. Ia tidak menyusulku.
Tempat parkir sepeda motorku dengan Reno berbeda. Dikarenakan arah jalan kami pulang pun berbeda. Jadi kami berpisah di pintu kelas dan menuju parkiran masing-masing.
Aku merasa lega tidak diawasi Reno. Aku duduk di atas sepedamotorku menunggu temannya Naira datang. Teman-teman yang lain sudah pada pulang. Mereka mengambil sepeda motornya, menghidupkan, dan tancap gas. Aku senyum dan sekedarmenyapa siapa saja posisi motornya yang berada di sebelahmotorku.
Aku semakin gelisah. Kenapa temannya Naira belum juga datang. Sudah sekitar sepuluh menit aku menunggu sendiri. Sekolah sudah mulai sepi. Apakah teman Naira lupa denganjanjinya tadi? Pikiran yang aneh-aneh menghantuiku. Akumelihat ke sekeliling sekolah. Anak-anak sudah pada pulang. Di parkiran hanya tinggal beberapa motor saja lagi.
Aku semakin gelisah. Haruskah aku pulang saja. Ataumenunggu sebentar lagi. Aku menggaruk pinggang yang tidakgatal. Dadaku terasa naik turun. Deg-degan tidak menentu. Keringat dingin mengalir di leherku. Aku melihat ke arah kelastidak ada orang lagi. Aku mencari kunci sepeda motorku. Di saataku ingin menghidupkan motor aku dikagetkan dengan sebuahsuara.
"Ternyata masih sanggup menunggu," aku melihat ke arahsumber suara. Aku terperanjat. Ada Naira dan temannya. "Eeh, tidak. Tidak mengapa." Aku tidak karuan, sulit untukmengendalikan diri. Ada wanita yang aku sukai sudah berbulan-bulan lamanya. Aku tidak sanggup menatap wajahnya yang ayu.
"Katanya kamu ingin berkenalan dengan Naira?" Teman Naira langsung menodongku. Aku benar-benar belum siap dengankenyataan ini. Aku berkhayal pertemuan ini seindah mungkin. Tetapi kenapa begini. Aku menjadi lelaki yang penakut.
“Iya, kenalkan aku Rianda anak kelas XIB," aku mengulurkantangan kepada Naira. Naira menunggu beberapa detik lalumenjabat tanganku. "Aku Naira Asqalani," senyuman Naira sungguh tidak bisa aku jelaskan dengan kata. Tangannya lembut, kulitnya putih bersih.
"Sudah! Jangan terlalu lama berjabat tangannya!" ternyatatemannya Naira cerewet juga, aku membatin. Aku melepaskanjabatan tangannya.
"Maaf membuat lama menunggu. Tadi aku harus piket kelasdulu," ujar Naira. Aku mengangguk. Suaraku terasa tertahan. Bibirku terasa terkunci rapat.
"Iya, tidak mengapa. Aku cuma menunggu sebentar. Tidaklahlama. Senang berkenalan dengan Naira," kalimat itu terbata-batakeluar dari mulutku. Bibirku terasa bergetar. Keringat dinginkuterus saja mengalir.
"Iya, senang juga berkenalan denganmu," Naira merapikantasnya yang miring ke kanan. Teman Naira berdiri di sampingNaira. Menjadi saksi bisu pertemuan pertama antara aku dan Naira. Berkat ia juga aku akhirnya bisa bertemu dengan Naira secara khusus.
"Boleh berbagi nomor teleponnya!?" Kata-kata itu keluar begitusaja dari mulutku tanpa aku sadari. Aku begitu nekat. Nekat atautidak tahu diri. Aku benar-benar tidak tahu. Tapi aku tidak inginmembuang-buang kesempatan ini. Sudah berbulan-bulan akumenunggu kesempatan ini.
"Boleh, bentar ya!" Naira membuka tasnya dan mengambilkertas kecil. Kemudian Niara menulis nomor teleponnya di sana. Lalu ia memberikannya kepadaku. Aku menerima kertas berisinomor telepon Naira tersebut. Hatiku sangat senangnya sekali.
"Aku pamit ya!" Naira melambaikan tangan menandakan ia tidak punya waktu lagi untukku. Aku mengangguk dan tersenyum. Entah senyumanku itu senyuman paling termanisyang aku punya. Aku tidak tahu itu. Aku telah berusahatersenyum. Tapi aku benar-benar tidak karuan saat pertama kali bertemu secara langsung dengan Naira.
Aku menghidupkan sepeda motor dan langsung tancap gas menuju rumah. Aku bersiul dan bernyanyi sepanjang jalan. Hari yang indah penuh warna. Langit hijau dan cuaca sungguh cerah. Terlebih hatiku juga cerah dan sempurna.
Anda Mungkin Juga Suka





