
Cinta Sangkarku, Bukan Keselamatan
Bab 2
Kirana POV:
Keesokan paginya, Bima adalah suami yang sempurna. Dia membawakanku kopi di tempat tidur, ibu jarinya mengelus pipiku dengan kelembutan yang kini terasa seperti sebuah pelanggaran.
"Kamu kelihatannya lebih baik hari ini," katanya, senyumnya tidak cukup mencapai matanya.
"Hanya butuh istirahat," aku berbohong, memaksakan senyum lemah.
"Aku harus keluar sebentar pagi ini," katanya, menghindari tatapanku sambil merapikan dasinya. "Ini hari peringatan... kau tahu. Rania. Aku hanya perlu mengunjungi makam. Sendirian."
Kebohongan itu begitu terang-terangan, begitu mudah, hingga merampas udara dari paru-paruku. Dia menggunakan kenangan wanita yang dia lindungi sebagai alasan untuk menemuinya.
"Tentu saja," kataku, suaraku anehnya tenang. "Pergilah. Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan."
Persetujuanku yang mudah tampaknya menenangkannya. Dia membungkuk dan mencoba menciumku, tapi aku memalingkan kepalaku pada detik terakhir sehingga bibirnya hanya menyentuh pipiku. Getaran rasa jijik yang begitu kuat menjalari tubuhku, aku harus menancapkan kuku ke pahaku di bawah selimut agar tidak menghindar. Rasa sakit kecil yang tajam itu adalah pengalih perhatian yang kusambut baik.
Dia pergi, dan begitu pintu depan tertutup, aku langsung bangkit dari tempat tidur. Aku tahu aku butuh lebih dari sekadar ingatan. Aku butuh bukti nyata. Ruang kerjanya adalah tujuan pertamaku.
Laptopnya ada di atas meja, tertutup. Jantungku berdebar kencang saat aku membukanya. Laptop itu menyala, dan layar menampilkan halaman login. Gambar latar belakangnya adalah foto matahari terbenam di atas lautan. Foto yang kuambil saat bulan madu kami. Sebuah kenangan yang kini ternoda, busuk dari dalam.
Dia selalu ceroboh dengan kata sandi. Aku mencoba tanggal lahirnya. Tidak berhasil. Ulang tahun pernikahan kami. Ditolak. Lalu, sebuah pikiran dingin merayap ke dalam benakku. Anak laki-laki itu. Daffa. Kapan ulang tahunnya? Rania "meninggal" lima tahun yang lalu. Anak itu terlihat berusia sekitar empat tahun.
Aku mencoba beberapa tanggal lagi—ulang tahun ibunya, tanggal berdirinya perusahaan—semuanya ditolak. Frustrasiku memuncak. Saat aku hampir menyerah, mataku menangkap sebuah catatan kecil berwarna kuning yang terselip di bawah sudut alas mejanya. Hampir tersembunyi. Di atasnya, dengan tulisan tangan Bima yang kukenal, ada tiga kata: `Kode D: 0828`.
Kode D? Kode militer? Tidak masuk akal. Lalu aku sadar. D... untuk Daffa. 28 Agustus. Aku teringat sesuatu yang diteriakkan Rania padaku saat bertengkar bertahun-tahun yang lalu: "28 Agustus adalah hari terpenting di dunia! Kamu tidak akan mengerti!" Aku mengabaikannya sebagai drama. Sekarang...
Aku mengetikkan angka-angka itu. 0828.
Akses diberikan.
Wallpaper desktop yang muncul membuat perutku mulas menjadi simpul yang kencang dan menyakitkan. Itu mereka. Bima, Rania, dan Daffa kecil, duduk di depan kue ulang tahun dengan empat lilin. Mereka tampak seperti keluarga yang sempurna. Bahagia. Nyata.
Dengan tangan gemetar, aku menavigasi ke file-filenya. Ada folder tersembunyi di dalam folder, sebuah labirin digital dari kehidupan rahasianya. Aku menemukan semuanya.
Foto. Ratusan foto. Langkah pertama Daffa. Natal pertama mereka sebagai sebuah keluarga. Liburan ke pantai yang tidak kukenali. Bima ada di setiap foto, berseri-seri dengan jenis kegembiraan tanpa beban yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat.
Lalu aku menemukan laporan bank. Transfer bulanan dari rekening gabungan. Rekening gabungan atas nama Bima dan... ayahku. Nama ibuku tercantum dalam transaksi untuk hadiah-hadiah mewah yang dikirim ke sebuah kotak pos di dekat vila itu. Mainan. Pakaian anak-anak bermerek. Sebuah dana perwalian yang disiapkan untuk Daffa Adiwijaya.
Mereka tidak hanya menyembunyikan Rania. Mereka telah mendanainya. Mereka telah merangkul anaknya sebagai anak mereka sendiri. Cucu sejati mereka.
Aku merasakan sakit yang hampa di dadaku, sebuah lubang menganga di tempat jantungku dulu berada. Setiap kata cinta yang pernah diucapkan orang tuaku, setiap gestur kasih sayang, terulang kembali di benakku, kini terpelintir menjadi ejekan yang kejam.
Aku teringat janji Bima di pernikahan kami. "Aku berjanji untuk membangun hidup kita di atas fondasi kejujuran dan kepercayaan." Kata-kata itu bergema di ruangan yang sunyi, hantu yang pahit dan ironis. Dia tidak membuat janji itu untukku. Dia membuatnya untuk Rania, untuk mereka.
Gelombang pusing menyergapku, dan aku terhuyung mundur dari meja, menjatuhkan setumpuk kertas ke lantai. Aku harus keluar. Aku tidak bisa bernapas di rumah ini, dikelilingi oleh hantu-hantu kehidupan yang tidak pernah nyata.
Saat aku berbalik untuk pergi, sebuah notifikasi muncul di layar laptop. Pesan baru. Layarnya masih terbuka, sebuah jendela ke dunia mereka.
Itu dari Rania.
`Nggak sabar nunggu kamu sampai sini. Daffa kangen ayahnya. Cepat kembali ke keluarga aslimu.`
Kata-kata itu adalah tusukan yang langsung dan disengaja. Dia tahu. Dia pasti tahu Bima sedang bersamaku. Itu adalah sebuah ejekan. Sebuah pertunjukan kemenangan terakhir yang menghancurkan.
Ponselku berdering, dan wajah tersenyum Bima memenuhi layar. Aku menatapnya, pandanganku kabur.
"Hai, Sayang," suaranya ceria, normalnya menjijikkan. "Baru saja meninggalkan 'makam' sekarang. Lalu lintasnya gila. Aku akan segera pulang. Aku mencintaimu."
Aku menutup telepon tanpa sepatah kata pun. Penemuan pasif sudah berakhir. Sekarang, aku butuh rencana. Aku tidak akan menjadi korban dalam cerita mereka. Aku tidak akan dihapus.
Aku menyambar kunciku, pikiranku badai kemarahan dingin yang penuh perhitungan. Aku harus kembali ke vila itu. Aku harus melihat semuanya, untuk terakhir kalinya.
Dan kali ini, aku akan mendapatkan bukti yang akan membakar dunia mereka hingga rata dengan tanah.
Anda Mungkin Juga Suka

![Sampul Novel Call Girl [21+]](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/ffe4449b5001834806830391065/vgrIANGZosEA.webp!15491.webp)



