
Cinta sang tuan muda
Bab 2
Joan Hendra Setiawan, lelaki kelahiran 2001 yang kini sedang menempuh pendidikan kuliah di fakultas Brawijaya dengan jurusan hukum dan sudah di semester 7, semester yang lagi sibuk-sibuknya untuk mempersiapkan skripsi dan melakukan KKN.
Sehari-hari ia memang tinggal sendirian di rumah yang cukup besar itu, kedua orang tuanya berada di luar kota untuk mengurus perusahaan dan hanya pulang di hari-hari tertentu seperti saat lebaran atau libur di akhir tahun.
Joan memilih tinggal di rumah peninggalan neneknya itu karena di rumah orang tuanya ia hanya di temani oleh bibi dan supir yang sering kali mengaturnya karena suruhan dari ayahnya. Ia ingin hidup bebas dengan aturannya sendiri, melakukan segala hal tanpa perizinan dari siapapun.
Sementara itu, Joan kini kelabakan karena bayi itu menangis sangat keras. Ia bingung harus berbuat apa, di kardus itu hanya terdapat secarik kertas dan sebuah gelang polos berwarna hitam. mana bisa lelaki dengan keseharian bersama alkohol merawat seorang bayi?
"Shut … dedek bayi diam dulu, kita tunggu kakak Kiana datang ya … astaga! Kiana kenapa belum datang juga," Joan masih berusaha menenangkan bayi itu. namun hasilnya nihil, entah apa yang harus ia lakukan di rumah yang sepi itu.
Selang beberapa menit Sebuah ide pun muncul di otak Joan, ia kembali meletakkan bayi itu di sofa lalu melepas kaos putih polosnya, Memperlihatkan otot sixpacknya dengan beberapa tatto kecil di tubuhnya.
Perlahan Joan kembali mengangkat tubuh mungil bayi itu lalu menyandarkan kepalanya tepat di dada kanan dan anehnya bayi itu perlahan-lahan diam, Tangan kecilnya memeluk dada bidang milik Joan.
"Diam? Bayi kecil, apa kau suka tubuh hangat ku? Apa sekarang aku adalah seorang ayah? Ayah …," Joan salting sendiri mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya, bagaimana bisa seorang mahasiswa semester 7 tiba-tiba menjadi seorang ayah muda.
Suara motor matic terdengar berhenti di halaman rumah, Joan segera keluar masih menggendong bayi kecil itu tanpa menggunakan baju.
Kiana segera menghampiri Joan, melihat bayi kecil yang di gendong oleh tangan kekar sahabatnya itu. "Joan!? Kau benar-benar tak bercanda tentang bayi ini? Siapalah orang tua yang membuangnya? Kasihan sekali kamu dek, padahal kamu tidak minta untuk dilahirkan ke dunia ini," Kiana dengan suara serak dan mata berkaca-kaca menatap dalam bayi kecil yang tak berdosa itu, Jiwa keibuannya tiba-tiba muncul begitu saja.
"Kau menangis? Ada apa denganmu, Kiana? Kenapa tiba-tiba menangis, ayo masuk. Jangan seperti ini,"Joan segera menuntun Kiana untuk masuk ke dalam rumah, ia takut ada orang yang salah paham melihat mereka.
Didalam Kiana sedikit menyapu air matanya dengan lengan Hoodienya yang kepanjangan.
"Ingin coba menggendong bayinya?" Joan perlahan memindahkan posisi bayi itu ke tangan Kiana. gadis itu tersenyum bahagia sembari menatap wajah imut bayi itu.
"Kenapa kau tak memakai bajumu? Kau pikir aku ini seorang laki-laki?" Pekik Kiana menatap Joan yang hanya menggunakan celana pendek berwarna hitam dengan ekspresi datar. Apa dia pikir Kiana gadis yang tak normal?
"Aku melepaskan baju ku karena bayi itu, sepertinya dia kedinginan. Saat ku letakkan di dadaku, suara tangisannya langsung hilang, luar biasa bukan?" Joan dengan bangganya mengucapkan kalimat itu pada Kiana.
"Kalau begitu pergi sana, kau pasti belum mandi, kan?" Pekik Kiana sembari mengelus-elus lembut kepala bayi itu.
"Tepat sekali! Jaga bayi itu untukku, boleh?" Pinta Joan dengan wajah memelas.
"Jangan lama ya? Aku takut dia menangis lagi, aku tidak tahu terlalu tahu cara menjaga seorang bayi," Kiana dengan nada ketus mengingatkan Joan. Lelaki itu jika sedang mandi sangat lama, entah apa saja yang ia lakukan di ruangan kecil itu.
"Tak perlu khawatir, kau hanya perlu melepas bajumu untuk memberikannya kehangatan," kata-kata Joan terdengar sangat mesum di telinga Kiana, Gadis itu bergidik ngeri.
"Joan, jaga kata-kata mu! Sudah, sana pergi!"pekik Kiana dengan suara berbisik, ia tak ingin bayi itu terbangun karena suara teriakannya pada Joan.
"Hahaha … iya, iya bunda. Ayah mandi dulu ya," ujar Joan lalu mengambil handuk yang ada di dekat sofa beralih mengelus-elus kepala Kiana membuat gadis itu risih.
"Idih, aku gak akan mau nikah sama cowok kayak kamu," dengan lantang Kiana mengatakan hal itu, tapi Joan santai saja. Ia tau betul Kiana, dari dulu gadis itu tak pernah terpikat dengan ketampanannya.
Anda Mungkin Juga Suka





