Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Rumit Tiga Sekawan

Cinta Rumit Tiga Sekawan

Setelah kondisi kesehatannya berangsur membaik, Wenny Sanjaya dihadapkan pada pilihan penting mengenai perjodohan masa kecilnya yang diatur oleh keluarga. Melalui sambungan telepon, sang ibu, Maya Sanjaya, menawarkan opsi untuk membatalkan rencana pernikahan tersebut jika Wenny keberatan pulang ke Kota Jintara. Namun, secara tak terduga Wenny menyetujui perjodohan itu. Ia hanya meminta waktu selama dua minggu untuk menuntaskan segala urusan pribadinya di Kota Hanis sebelum melangsungkan pernikahan.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Wenny, sejak kamu kecil, keluarga kita sudah menjodohkanmu. Sekarang kan penyakitmu sudah hampir sembuh, apakah kamu mau pulang ke Kota Jintara dan menikah? Kalau kamu tetap nggak mau, aku akan bicara lagi sama ayahmu untuk membatalkan perjodohan ini."

Di dalam kamar yang remang-remang, Wenny Sanjaya hanya bisa mendengar keheningan. Saat orang di ujung telepon hampir menyerah untuk membujuknya lagi, tiba-tiba dia berkata, "Aku mau pulang untuk menikah." Bu Maya Sanjaya tertegun di seberang telepon, seperti tidak menyangka, "Kamu ... kamu setuju?"

"Wenny menjawab dengan tenang, "Ya, aku setuju. Tapi, aku masih butuh waktu untuk menyelesaikan urusanku di Kota Hanis. Aku akan kembali dalam dua minggu. Ibu, kalian siapkan saja dulu pernikahannya."

Setelah mengucapkan beberapa pesan tambahan, dia menutup telepon.

Begitu telepon terputus, terdengar suara musik keras dari lantai bawah, dan samar-samar terdengar juga suara orang yang sedang menyanyikan lagu ulang tahun.

Itu adalah pesta ulang tahun yang diadakan oleh Yoga dan Sandro untuk Hana.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari luar. Entah sejak kapan, Hana sudah berjalan masuk sembari tersenyum dan membawa sepotong kue black forest.

"Matanya yang indah berkedip beberapa kali, wajahnya yang cantik dihiasi riasan yang halus, tetapi ada sedikit noda krim yang agak mencolok. Dia pun berkata, "Kak Wenny, ayo turun dan main denganku?"

"Wenny yang bisa melihat jelas ada topeng di balik wajahnya, berkata dengan suara dingin, "Masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan, jadi aku nggak bisa ikut. Selamat bersenang-senang."

Seketika, mata Hana penuh dengan air mata. "Kak Wenny, apa kamu nggak suka padaku, makanya kamu menolak?"

Wenny refleks mengerutkan dahinya. Dia tidak melakukan apa-apa, tetapi kenapa malah kelihatannya seperti dia yang menyakiti Hana?

Dalam hati, dia tersenyum sinis, tidak ada niat untuk terus mendengarkan omong kosongnya. "Simpan saja pertunjukan ini untuk Yoga dan Sandro, nggak ada gunanya untukku."

Begitu selesai berbicara, dia langsung ingin menutup pintu.

"Kak Wenny, jangan ...."

Tiba-tiba Hana mengulurkan satu tangannya untuk menahan pintu.

Akibatnya, seluruh tangannya terjepit dengan keras pada saat pintu tertutup.

Seketika muncul bercak kebiruan pada punggung tangannya yang putih.

"Sss …."

Yoga dan Sandro kebetulan naik ke lantai atas, dan mereka langsung melihat kejadian ini.

Kedua pria itu hampir bersamaan berlari mendekat, satu di antaranya memeluk Hana dengan penuh kasih, dan memeriksa tangannya dengan hati-hati.

Melihat luka di punggung tangan Hana, Sandro ikut merasa cemas hingga matanya mulai merah.

Dengan kepribadiannya yang agak kasar, Sandro langsung menyalahkan Wenny. "Kalau kamu nggak suka Hana, ya sudah. Kenapa harus melakukan hal rendahan begini? Wenny, sejak kapan kamu berubah jadi begini?"

Yoga yang biasanya dingin, saat itu menatap Wenny dengan mata yang juga penuh kekecewaan.

"Wenny, hari ini ulang tahun Hana, nggak seharusnya kamu bersikap berlebihan."

Namun, ketika dia menundukkan kepala melihat Hana, nada suaranya langsung berubah.

"Hana, masih sakit nggak? Biar aku antar kamu mengambil obat."

Melihat Yoga menggandeng tangan Hana sambil pergi, Sandro juga mengejar Hana dan buru-buru ikut menghiburnya, "Hana, jangan sedih, mobil sport baruku akan aku berikan padamu. Setelah pesta selesai, aku akan bawa kamu jalan-jalan, biar suasana hatimu jadi lebih baik!"

Dikelilingi oleh dua pria yang memanjakannya, akhirnya Hana berhenti menangis, hanya suaranya masih sedikit tersendat. "Terima kasih, Yoga."

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Yoga, dia kembali menatap Sandro. Dengan mata berkaca-kaca, dia memohon, "Sandro, jangan pergi balapan, itu sangat berbahaya, aku akan khawatir."

Melihat Hana berhenti menangis dan tersenyum, Sandro segera menjawab, "Baik, baik, Nona Besar, asalkan kamu senang, apa pun yang kamu bilang aku turuti!"

Melihat mereka menuruni tangga, Wenny berdiri di depan pintu, sejenak merasa seolah-olah dia berada dalam mimpi.

Dia masih ingat dulu, orang yang berdiri di antara Yoga dan Sandro adalah dirinya.

Sejak kecil tubuhnya lemah dan sering sakit-sakitan, juga menderita asma. Sayang sekali, Kota Jintara yang lembap dan sering hujan tidak cocok untuk kesehatannya.

Pada usia lima tahun, orang tuanya mengirimnya dari Kota Jintara ke kota pesisir yang selalu cerah, Kota Hanis, untuk dirawat di rumah tantenya yang bekerja sebagai dokter.

Di sanalah Wenny mengenal Yoga dan Sandro yang tinggal di sebelah rumah tantenya.

Mereka bertiga tumbuh bersama, menjadi sahabat masa kecil.

Begitu melihatnya pertama kali, kedua anak laki-laki itu langsung terpesona. Setiap hari mereka selalu ada di dekatnya, menjadi kesatria yang melindunginya.

Dulu, mereka mengantarnya pergi dan pulang sekolah setiap hari, membelikannya sarapan, membawakan susu, merobek semua surat cinta yang diterimanya, dan melarang pria mana pun mendekatinya.

Setelah dewasa, salah satu dari mereka menjadi CEO dari bisnis keluarga yang diwarisinya, sementara yang lainnya menjadi pembalap internasional terkenal. Meskipun keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka sama-sama membeli rumah di kedua sisi rumah Wenny. Mereka menghubungkan rumah-rumah itu lalu tinggal bersamanya, memasak untuknya setiap hari.

Bahkan ketika Wenny sudah makin pulih dari penyakitnya dan keluarganya mendesaknya untuk kembali ke Kota Jintara, dengan mata berkaca-kaca, mereka memohon agar dia tidak pergi. Jika tidak, mereka juga akan meninggalkan segalanya di kota ini dan ikut pergi bersamanya.

Mereka selalu berkata, di mana pun Wenny berada, mereka akan ikut.

Karena mereka berdualah, Wenny menunda kepulangannya ke Kota Jintara meskipun kondisi kesehatannya sudah stabil.

Namun, sejak kehadiran Hana Susilo, segalanya berubah.

Hana adalah anak magang di bawah bimbingan Wenny.

Hari pertama Hana mulai bekerja, dia merasa canggung dan tidak mau bergabung dengan teman-teman lain untuk makan siang. Itu berlangsung setiap hari, sampai Wenny bertemu dengannya saat dia sedang mengunyah roti kukus dan acar sayuran, sendirian di salah satu sudut kantor. Setelah ditanya, barulah dia tahu bahwa Hana berasal dari desa terpencil dan berhasil lulus ujian untuk masuk ke kota besar. Kondisi keluarganya sangat terbatas, sehingga dia mencoba menghemat sebanyak mungkin.

Sebagai putri sulung Keluarga Sanjaya, Wenny tumbuh dalam lingkungan yang serba mewah. Setelah mendengar cerita itu, dia merasa kasihan dan dengan kebaikan hatinya, dia pun selalu berusaha menjaga dan merawat gadis itu.

Kadang-kadang saat makan dengan Yoga dan Sandro, dia juga mengajak Hana ikut.

Karena itulah, Hana bisa mengenal Yoga dan Sandro.

Yoga yang biasanya tenang, tidak menyukai pesta yang ramai seperti ini, sekarang melanggar prinsipnya untuk Hana.

Begitu juga Sandro. Satu kalimat sederhana dari Hana, cukup untuk membuat Sandro yang sangat mencintai balap mobil dan tidak mudah dipengaruhi itu menyerah.

Hal seperti ini sudah berulang kali terjadi dalam sebulan terakhir.

Dulu, mereka tidak pernah menyembunyikan perasaan mereka terhadap Wenny, dan sering kali mereka membuat suasana tegang dengan memaksa Wenny untuk memilih salah satu di antara mereka.

Wenny memang pernah merasa tertarik pada mereka dan berpikir untuk memilih salah satu dari mereka.

Namun, sekarang dia menerima perjodohan yang sudah diatur oleh keluarganya sepertinya tidak buruk juga.

Wenny tersenyum tipis dan mengatur hitung mundur keberangkatannya di ponselnya.

Mulai sekarang, dia tidak akan mengganggu mereka bertiga lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO 1 Miliar Won
9.5
Kim Liu, pengacara muda yang selalu berbakti, terpaksa menyetujui perjodohan demi ibunya yang sakit parah. Ia menikah dengan Jung Jisung, CEO TJ Group yang kaya namun trauma akibat penculikan masa kecil. Meski awalnya dingin dan penuh rumor, Jisung perlahan luluh oleh ketulusan Liu. Namun, pernikahan rahasia mereka diguncang oleh kebencian ibu mertua, gangguan mantan kekasih Liu, serta intrik Song Minseo yang ambisius. Bisakah cinta tumbuh di tengah rahasia dan tekanan harta?
Sampul Novel Dia yang Dibawa Pulang, Aku yang Dilupakan
7.9
Sejak Siti Kusuma hadir di hari ulang tahunnya yang ke-16, hidup gadis ini berubah drastis. Sikap ketiga saudara laki-lakinya berbalik dingin; Jason mendorongnya hingga jatuh dari tangga, sementara Anto mengusirnya dari rumah. Kepergiannya secara diam-diam dianggap remeh oleh keluarganya yang justru pergi berlibur ke Franzia. Namun, mereka tidak tahu bahwa ia telah menandatangani kontrak mati sebagai ahli kimia termuda di perusahaan saingan berat mereka, memicu penyesalan yang terlambat.
Sampul Novel Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
8.6
Hari pernikahan yang seharusnya indah berubah menjadi mimpi buruk. Secara sepihak, orang tua dan tunanganku memutuskan untuk mengganti posisi mempelai wanita dengan kakak kandungku yang sedang sakit keras. Karena aku menolak mentah-mentah keputusan tidak adil ini, mereka tega mengikatku di dalam rumah agar pernikahan tetap berjalan tanpa hambatan. Namun, kemalangan tidak berhenti di situ. Saat mereka pergi merayakan pesta, seorang penjahat menyusup dan menghabisi nyawaku dengan kejam. Ketika keluargaku akhirnya kembali untuk melepaskanku, mereka hanya mendapati jasadku yang telah membusuk.
Sampul Novel Istri Yang Berjuang Sendiri
9.1
Kehidupan pernikahan ini terasa sangat hambar karena suamiku enggan menafkahiku dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Puncak penderitaanku bermula saat dia mendesakku mengambil utang bank demi membelikannya sebuah mobil. Meski sudah berkorban, pengabdianku justru dibalas dengan pengkhianatan pahit saat aku memergokinya berselingkuh dengan wanita lain. Kini, aku berdiri di persimpangan jalan, mempertanyakan nasib rumah tangga kami yang hancur.
Sampul Novel Jangan Tinggalkan Aku
9.3
Pasca kecelakaan maut yang merenggut orang tuanya, Alvira harus menanggung biaya pengobatan kakaknya yang koma. Di tengah himpitan ekonomi, ia nekat menjual diri di klub malam demi uang cepat. Tak disangka, ia bertemu Damian Verrell, Presdir dingin yang menawarinya kontrak sebagai simpanan dengan bayaran tinggi. Demi keselamatan sang kakak, Avi rela mengorbankan kehormatannya dan terjebak dalam dunia Damian yang penuh kuasa namun memiliki hati yang tertutup rapat.
Sampul Novel Kembalinya Sang Mantan
9.7
Dua tahun berlalu sejak putus, Cica yang kini berusia dua puluh tahun harus menghadapi kenyataan pahit bertemu kembali dengan Soleh, mantan kekasihnya saat SMA. Pertemuan mereka jauh dari kata romantis karena Cica terperosok ke selokan berlumpur akibat asyik bermain ponsel. Alih-alih langsung menolong, Soleh justru menggoda Cica dengan gombalan receh yang memancing emosi. Tak terima, Cica menarik Soleh hingga mereka berdua sama-sama kotor oleh lumpur busuk itu.