Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Menjadi Dendam

Cinta Menjadi Dendam

Nimas rela menahan rasa sakit luar biasa demi mendonorkan dua per tiga hatinya untuk sang kekasih, Bima Arya, yang divonis kanker. Namun, pengorbanan tulus itu hancur saat ia mendengar kebenaran pascaoperasi. Bima rupanya sengaja memanfaatkan momen ini sebagai aksi balas dendam atas kegagalan ujian Vivi yang terpaksa kuliah di luar negeri. Begitu Vivi pulang sebulan lagi, Bima berencana mencampakkan Nimas sepenuhnya setelah merampas organ tubuhnya demi dendam.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah menjalani pemulihan selama setengah bulan di tempat pemulihan, tubuhku akhirnya hampir pulih sepenuhnya.

Selama masa itu, Bima hanya menghubungiku sekali lewat telepon, dan setelah itu tidak ada kabar lagi darinya.

Melihat hari yang sudah disepakati dengan ibuku makin dekat, aku memaksakan diri yang masih belum sepenuhnya sembuh untuk pulang ke rumah dan membereskan barang-barang.

Tak kusangka, begitu pintu terbuka, aku justru melihat Bima sedang mengadakan pesta dengan teman-temannya.

Semua orang yang melihatku langsung tertegun.

Ekspresi Bima tampak bingung dan ragu. Dia secara refleks melangkah ke depan dan mengernyitkan dahinya.

"Nimas, kenapa kamu nggak balas pesanku?"

Namun, pandanganku justru tertuju pada gadis yang dia lindungi di belakangnya.

Gadis itu mengenakan gaun putih dengan rambut panjangnya yang terurai. Gadis itu adalah Vivi Halim, cinta lama Bima yang tak pernah padam di hatinya.

Melihat aku diam tak bergerak sambil menatap tajam ke arah Vivi, Bima jadi canggung dan menggaruk hidungnya.

"Vivi pulang ke tanah air lebih awal. Karena aku baru saja selesai operasi, aku nggak bisa buat acara besar, jadi cuma mengadakan penyambutan kecil buat dia di rumah."

Setelah mengatakan itu, dia malah menatapku dengan emosi.

"Masa kamu marah cuma karena hal sepele begini?"

Aku menggenggam ujung bajuku erat-erat.

Selama lima tahun bersama Bima, aku selalu merasa terusik dengan hubungannya yang dulu bersama Vivi.

Jadi, setiap kali aku mendengar dia menyebut nama itu, aku langsung merasa tidak nyaman dan mulai mempertanyakan siapa yang sebenarnya lebih penting baginya.

Namun, sekarang, pertanyaan itu sudah tak lagi berarti apa-apa bagiku.

Aku mengangguk pelan.

"Selamat datang kembali. Kalian lanjutkan saja acara kalian. Aku pulang cuma mau ambil sesuatu."

Sikapku ini membuat Bima tak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening.

Dia memang selalu senang menyebut-nyebut Vivi di depanku, hanya demi melihatku tersiksa secara emosional, kehilangan kendali, dan berlarut dalam kesedihan.

Namun, aku yang sekarang, sudah terlalu tenang untuk terpancing.

Tepat saat aku berbalik hendak pergi, suara Vivi yang mengeluh terdengar.

"Nimas, aku sudah nggak menyalahkanmu soal kejadian waktu itu. Kenapa kamu masih bersikap dingin seperti ini?"

"Tinggallah sebentar. Ayo ikut merayakannya bareng kita, oke?"

Bima memang paling tidak tahan melihat Vivi bersedih.

Begitu mendengar ucapannya, dia langsung menarik lenganku dan memaksaku duduk di meja.

"Vivi sendiri sudah bilang nggak menyalahkanmu, jadi jangan pasang wajah jutek. Temani dia."

Begitu aku duduk, teman-teman Bima langsung mengerubungiku.

"Sebagai tanda ketulusanmu, Kak Nimas harus habiskan segelas ini dulu."

Melihat ekspresi mereka yang menyeringai penuh niat buruk, aku hanya bisa mencibir dingin dalam hati.

Mereka tahu betul aku baru saja menjalani operasi hati, tetapi masih saja membawakan alkohol. Apa mereka tidak merasa itu sudah terlalu keterlaluan?

Yang paling konyol adalah, aku yang dulu benar-benar tidak menyadari apa-apa, malah mengira mereka benar-benar merasa bahagia untukku.

Aku mendorong minuman itu, menolaknya.

"Dokter bilang aku nggak boleh minum alkohol sekarang."

"Sedikit saja, nggak akan kenapa-kenapa kok."

Beberapa dari mereka langsung menarik lenganku tanpa memberiku kesempatan bicara dan memaksa menuangkan minuman itu ke mulutku.

Aku terbatuk hebat karena tersedak.

Saat aku mencoba mundur, seseorang mendorongku dengan keras hingga aku jatuh tepat ke atas kue di depanku.

Krim yang lengket langsung menutupi hidung dan mulutku.

Rasa sesak yang sangat kuat menghantamku, sementara suara tawa tajam dan keras menggema dari orang-orang di sekitarku.

Ketika aku dengan susah payah bangkit kembali, wajahku terasa panas dan perih seperti terbakar.

Dengan susah payah aku membuka mataku dan yang kulihat adalah dasar kue yang seharusnya lembut dan empuk, ternyata penuh dengan deretan paku besi yang mencolok.

Vivi tertawa terbahak-bahak saat melihat keadaanku yang menyedihkan.

Salah satu pria di sana bahkan berkata kepadaku tanpa sedikit pun rasa bersalah.

"Maaf, ya, Kak Nimas, krim kue ini agak lembek, jadi aku sudah minta mereka untuk menaruh penyangga. Tapi, siapa sangka kamu serakus itu sampai wajahmu nempel semua di atasnya."

Seseorang di belakang bahkan bisik-bisik mengejek, bilang aku seperti sapi.

Mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak sambil menepuk meja.

Aku menyeka krim dari wajahku, menahan amarah dan bersiap untuk pergi.

Namun, Vivi masih belum mau melepaskanku.

Dia menarik rambutku dengan kasar. Sorot matanya penuh rasa puas dan ejekan, lalu memberi isyarat kepada orang-orang di belakangnya.

"Eh, si Nimas cemberut tuh. Ayo kita bantu bersihkan mukanya. Jangan sampai dia marah ke Bima."

Mereka langsung setuju, lalu dengan tawa jahat, mereka kompak menyerangku.

Ketakutan yang sulit dijelaskan menghantamku.

Dulu, saat kecil, aku pernah diculik. Karena terus menangis, aku ditekan ke dalam air dan hampir mati tenggelam.

Sejak saat itu, aku punya ketakutan terhadap air.

Namun, walau aku sudah berjuang sekuat tenaga, Vivi tetap berhasil menyeretku ke dapur.

Kepalaku ditekan ke dalam bak cuci sayur.

Aliran air dingin menghantamku, aku menangis kesakitan.

Namun, tangan-tanganku diikat kuat di belakang, sementara mereka tertawa kejam dengan puas.

"Harus bersih total dong! Perempuan kotor sepertimu nggak pantas ada di sini!"

Karena terlalu lama kehabisan napas, kesadaranku mulai kabur.

Tepat saat aku hampir pingsan, Bima yang sejak tadi hanya menonton tiba-tiba angkat suara.

"Berhenti!"

Satu teriakan keras langsung menghentikan tindakan kejam itu.

Mereka buru-buru melepaskanku.

Bima berjalan ke arahku dan dengan lembut menyibak rambut panjangku.

"Maaf, Sayang. Kamu pasti kaget, ya?"

Namun, aku hanya diam dan menepis tangannya yang ingin memelukku, lalu dengan suara parau berkata, "Aku nggak apa-apa."

Mengabaikan ekspresinya yang tampak terluka, aku berbalik dan kembali ke kamar tidur.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BERONDONG PERKASA
9.8
Danny Sasmita sering mengintip tetangga barunya, Camelia, menggunakan teropong. Suatu hari, ia bergegas menolong Camelia yang histeris karena kecoak. Namun, warga salah paham hingga memaksa mereka menikah meski terpaut usia jauh. Di tengah tekanan sosial dan tanda tanya mengenai status Camelia, mantan tunangannya muncul kembali setelah dua tahun berpisah. Kini Camelia terjebak dalam dilema antara suami mudanya atau pria dari masa lalu yang datang kembali.
Sampul Novel Bidan
9.7
Menjadi bidan tak pernah ada dalam rencana hidupku, apalagi profesi ini sering dianggap judes. Namun, seiring waktu, aku justru jatuh cinta pada pekerjaan ini hingga usiaku menginjak 25 tahun. Kini, Mama mendesakku mencari jodoh, bahkan sampai meminta bantuan sahabatku sendiri. Kesibukan di Puskesmas membuatku sulit bertemu pria, sampai akhirnya sosok mempesona muncul dan membuatku bertingkah konyol. Hidupku kini mulai berwarna di luar ruang persalinan.
Sampul Novel Bukan Istri Yang Lemah
7.8
Elara tidak akan menyerah pada kemewahan hidupnya dan bertekad mempertahankan status pernikahannya. Di sisi lain, Vesper justru menyusun rencana licik agar sang istri segera meminta cerai demi menikahi kekasih rahasianya. Setelah tujuh bulan membina rumah tangga, perselisihan hebat antara pasangan ini pun pecah. Mereka terjebak dalam pusaran pengkhianatan, ambisi besar, dan konflik cinta yang menguji ketahanan Elara di tengah tekanan sang suami.
Sampul Novel Cinta Palsu, Fakta Tersembunyi
8.3
Kehilangan ibu dan dikhianati Charles di hari pemakaman membuat duniaku runtuh. Di tengah hinaan karena Charles memilih Chelsea, Sugi hadir menyelamatkanku dengan lamaran tulusnya. Tiga tahun membina rumah tangga tanpa anak, aku merasa beruntung memiliki suami penyabar seperti Sugi. Namun, kenyataan pahit terungkap saat aku mendengar pembicaraannya dengan dokter tentang pil KB rahasia. Sugi sengaja mencegahku hamil demi Chelsea. Sadar pernikahan ini hanya tipu daya, aku bertekad pergi.
Sampul Novel Kelakuan Suami dan Ibu Mertuaku di Balik Pintu
8.9
Sebuah kebenaran mengerikan menghancurkan hidup seorang wanita ketika ia mengetahui bahwa anak yang selama ini ia besarkan dengan penuh kasih sayang merupakan hasil hubungan sedarah. Di sisi lain, anak kandungnya sendiri telah meninggal secara tragis. Alih-alih menyerah pada keputusasaan, ia memilih jalan pembalasan dendam yang dingin. Langkah hukum ia ambil demi menjebloskan ibu mertuanya ke dalam penjara, sekaligus membongkar seluruh aib suaminya ke hadapan publik sebelum ia melangkah pergi memulai lembaran hidup yang baru.
Sampul Novel Memikat Hati Pangeran Kelas
9.2
Vindreya Sanjaya, gadis 17 tahun yang ceria namun sedikit urakan, bertekad menaklukkan hati dua pangeran di kelasnya. Ada Kenzo yang dingin dan antisosial, serta Elvano yang populer dan berbakat seni. Perjuangan cintanya penuh aksi kocak hingga momen berbahaya yang mengancam nyawa. Saat takdir mendekatkan mereka, Kenzo dan Elvano justru berbalik mencintai Vindreya. Terjebak dalam cinta segitiga rumit, mereka harus memilih antara pengorbanan atau kebahagiaan sejati.