
Cinta Karena Kesalahan
Bab 2
Tiupan angin menerjang helaian surai hitam Keira yang tengah berdiri bersandar pada pagar atap gedung SMA Halstead. Ia menikati suasana sunyi yang menenangkan dan melepaskan penat sejenak setelah dilanda badai kehidupan. Ini hiburan sederhana setelah ia sibuk menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya yang berubah drastis. SMA Halstead sekolah elit yang berisikan anak-anak orang kaya, memaksanya menutup diri dengan banyak pergaulan di luar nalar murid-murid di sini. Kebanyakan dari mereka bermain kasta tentang keluarga siapa yang lebih kaya merekalah yang berkuasa. Perundungan ada di mana-mana, pelecehan sexu*l merajalela dan semua belum tentu mendapatkan keadilan jika menyuarakan kemalangan mereka. Uang berkuasa atas segalanya di sini.
Keira Kastari Khair terpaksa harus pindah ke sekolah tidak memanusiakan manusia karena paksaan Ayah. Keira baru saja pindah pada awal semester tahun ajaran ketiga. Sebelumnya ia tinggal di desa yang jauh dari perkotaan bersama Ibu.
Orang tua Keira bercerai 12 tahun lalu dan memaksanya memilih untuk tinggal dengan salah satu pihak. Kini Keira hanya memiliki Ayah sebagai orang tua tunggal karena Ibu telah meninggal dunia 3 bulan yang lalu. Padahal hubungannya dengan Ayah tidak pernah berjalan baik namun tuntutan untuk menyambung hidup dan biaya pendidikan yang mahal memaksanya untuk rela tinggal bersama lelaki itu. Lagi dan lagi ia harus menyesuaikan diri, meski hatinya menjerit lelah namun apalah daya.
Beruntung hatinya perlahan pulih dengan kesendirian ini walaupun hanya sementara. Ya, memang hanya bersifat sementara sih, sebelum si perundung Kiv datang, mereka telah membuat jani untuk bertemu di atap sekolah secara diam-diam. Mengapa?
"Ini," Kiv memberikan setumpuk kunci kepada Keira yang menerimanya secara ragu-ragu. "Itu kunci semua pintu yang ada di rumah, termasuk pintu belakang. Aku akan pulang larut malam hari ini karena ada urusan, sebaiknya kau cepatlah pulang kar__"
"__ Karena aku harus mengangkat telepon dari Ayahmu dan berbohong tentang keadaanmu yang sebenarnya." Keira langsung memotong kalimat Kiv dengan intonasi bosan. Bagaimana gadis berusia 17 tahun itu tidak bosan, sudah 2 bulan lebih Kiv selalu memintanya melakukan tugas yang sama. Mengangkat telepon dan berbohong.
"..... Ya," Jawab Kiv agak lambat.
Keira mendengus kesal. "Kalau hanya itu urusanmu berhentilah mengajakku bertemu disini," Lalu ia mengangkat kunci-kunci yang baru saja diberikan Kiv. "Kau pikir kunci-kunci tidak berguna ini bisa dijadikan alasanmu untuk bertemu seperti ini? Kau hanya membuat gosip tentang kita semakin terdengar, Kiv." Sinis Keira.
Ya, murid-murid mendapatkan gosip tentang mereka yang mengatakan kalau keduanya sedang menjalin hubungan asmara. Entah siapa orang pertama yang menyebarkan gosip tidak masuk akal tersebut namun yang jelas Keira merasa risih.
Kiv menanggapi perkataan Keira dengan seringai tipis yang lebih terkesan seperti merendahkan. "Lalu bagaimana dengan aksi sok pahlawanmu? Kau pikir jika aku tidak mengajakmu bertemu disini, gosip tentang kita akan lenyap? Berkacalah." Tukas Kiv yang berhasil membuat Keira meradang.
"Cepat katakan apa maksudmu memberiku semua kunci ini?"
"Aku memberikan semua kunci agar kau bisa masuk melalui pintu belakang. Aku tidak ingin ada murid yang melihatmu masuk ke rumahku melalui pintu depan dan berpikir yang tidak-tidak tentangku," Ucap Kiv lagi.
"Bodoh!" Keira menaikan intonasi suaranya. "Pintu gerbang rumah kita hanya ada satu! Mereka tetap bisa melihatku masuk ke rumah karena aku harus melewati pintu gerbang terlebih dahulu sebelum pintu masuk!"
"Aku tahu,"
"Lalu?"
"Ya, paling tidak mereka bisa berpikir kalau kau salah satu pelayan di rumahku." Ujar Kiv meledek Keira, menekankan kata 'pelayan' pada kalimatnya.
"Si*lan kau!"
"Jangan marah, nanti kau cepat tua."
Kiv melenggang pergi begitu saja tanpa memperdulikan tatapan kesal Keira akan perkataanya yang dirasa menyudutkan. Hati Keira berkecamuk menatap punggung Kiv yang segera menghilang. Ada rasa kesal dan sedih yang bersatu. Di tangannya kini ada kunci-kunci yang tak tahu untuk apa dan aksesorisnya yang lucu.
Keira menatap aksesoris berupa gantungan kunci bentuk boneka kelinci yang seharusnya berwarna putih bersih kalau saja tidak pudar. Tapi bagaimana bisa tidak memudar, kelinci ini telah menggantung disana selama lebih dari 10 tahun. Menjadi saksi bisu Keira akan kisahnya 10 tahun lalu, di mana ia masih merasakan kehangatan keluarga yang utuh untuk yang terakhir.
Anda Mungkin Juga Suka





